Kebaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kebaya
GKR Hayu 2.jpg
Kebaya Jawa klasik mempunyai blus tipis yang halus dan dikenakan setelah kemben, pembungkus tubuh wanita berkain batik. Seperti yang diperlihatkan di sini, sebuah kebaya dikenakan oleh GKR Hayu, Putri Yogyakarta.
JenisPakaian blus tradisional
Tempat asalIndonesia[1][2][3][4] and Malaysia[3][4][5][6][7][8]

Kebaya[n 1] adalah sejenis pakaian bagian atas yang secara tradisional dikenakan oleh wanita di Asia Tenggara, terutama di Indonesia,[9] Malaysia,[8] Brunei,[10] dan Singapura.[11] Selain itu, kebaya juga dikenakan di daerah di luar Asia Tenggara, yakni pemakaian oleh orang Orang Jawa, Melayu dan orang Eurasia Portugis di Kepulauan Cocos, Pulau Natal, pesisir India dan Sri Lanka, Makau serta Afrika Selatan.

Kebaya adalah pakaian bagian atas yang memiliki karakteristik terbuka di bagian depan dan dibuat secara tradisional dari kain ringan seperti brokat, katun, kasa, renda, atau voile, dan terkadang dihiasi dengan sulaman. Bagian depan diamankan dengan kancing, pin, atau bros. Sedangkan pakaian bagian bawah untuk pakaian ini biasanya dikenal sebagai sarung, kemben atau sepotong kain panjang yang dililitkan di pinggang dan dapat berupa batik, ikat, songket atau tenun

Kebaya secara resmi diakui sebagai pakaian nasional dan juga ikon busana[12] Indonesia,[9][13] meskipun penggunaan kebaya hanya dipakai oleh Jawa, Sunda dan orang Bali secara berkala. Di Malaysia, Singapura dan Brunei, kenaya diakui sebagai salah satu pakaian etnis terutama di kalangan komunitas etnis Melayu dan Peranakan[n 2], dan kebaya biasanya dikenal di wilayah ini sebagai "sarung kebaya" yang berasal dari penamaan komponen lengkapnya.[6] Sementara, gaya sarung kebaya bervariasi antara satu tempat dengan tempat lainnya didalam cangkupan wilayah tersebut.

Kebaya telah menjadi ikon mode Asia Tenggara, dengan banyak maskapai penerbangan berbendera Asia Tenggara termasuk Singapore Airlines, Malaysia Airlines, Royal Brunei Airlines dan Garuda Indonesia telah mengadopsi pakaian tradisional ini sebagai seragam untuk pramugari perempuan maskapai tersebut.[14]

Etimologi

Istilah "kebaya" diyakini berasal dari kata serapan Arab kaba atau qaba yang berarti "pakaian",[15][16] istilah ini mungkin berhubungan dengan kata Arab abaya (bahasa Arab: عباءة‎) yang berarti jubah atau garmen longgar. Istilah tersebut kemudian diperkenalkan ke Nusantara melalui kata serapan dari bahasa Portugis, cabaya.[15][17]

Sejarah

Latar belakang

Dari Timur-Tengah

Ada kemungkinan besar bahwa asal-usul kebaya berasal dari Timur Tengah dikarenakan komposisi akar budayanya. Hal ini dibuktikan dengan adanya keterkaitan kebaya dengan qaba dari Arab yang merupakan sejenis jubah panjang kendur yang dikemukakan oleh orientalis Henry Yule dan Arthur Burnell pada tahun 1886. Pakaian-pakaian dari tanah Arab memang sudah dikenal sejak abad ke-7 masehi, beberapa jejak sejarah bahkan menunjukkan bahwa Nabi Islam Muhammad mendapatkan hadiah berupa aqbiya (yang merupakan bentuk jamak dari qaba) dalam beberapa kejadian. Banyak ahli berpendapat bahwa orang Persia merupakan asal-usul utama dari qaba. Selain itu dengan adanya penyebaran agama Islam melalui proses perdagangan dan sebagainya, tata busana seperti ini tidak lagi hanya ditemukan di tanah Arab, tetapi juga di tanah Persia, Turki, dan Urdu.[18] Dikarenakan bentuk fisiknya, banyak sumber yang meyatakan bahwa kebaya berasal dari busana Muslim yang dinamai sebagai qaba, habaya, al akibiya al turkiyya dan djubba. Klaim bahwa kebaya kemungkinan berasal dari Dunia Arab sangatlah mungkin, sebagaimana Islam merambah ke Dunia Melayu pada abad ke-15 masehi dan para wanita Melayu mulai mengikuti norma busana Islamik.[5][8] Sebelum adanya Islam, para penduduk wanita memang memakai pakaian dengan helai yang lebih sedikit karena kelembapan dan iklim yang panas dan agama pra-Islamik di tanah Melayu tidak melarang hal seperti itu.[19]

Dari Sub-benua India dan Portugis

Vimaladharmasuriya dan Spilbergen, 1602. Disini, ditunjukkan bahwa cabaya dikenakan sebagai jaket tubuh bagian atas.[20]

Deskripsi rinci dari cabaya dapat dilihat pasa kamus abad ke-19 Hobson-Jobson.[15] Selain itu, dalam kamus Anglo-India, cabaya merupakan sebuah kata dengan asal-usul dari Asia dan bermakna sebuah helai penutup dari tunik panjang yang dikenakan oleh orang India kelas atas. Istilah ini kemungkinan diperkenalkan oleh bangsa Portugis yang pernah singgah di sub-benua India.[18] Terdapat juga banyak catatan sejarah yang dipublikasikan oleh orang Portugis pada abad ke-16 dan ke-17 yang mencatat bahwa caba, cabaya dan cabaia sebagai jubah panjang Muslim yang dikenakan oleh kelas penguasa India serta Timur Tengah. Penggunaan pertama daru bahasa ini digunakan oleh Fernão Mendes Pinto saat dia singgah di India pada tahun 1540-an. Kemudian, disebutkan bahwa Pangeran Dharmapala dari Kotte merupakan orang pertama yang memperkenalkan cabaya pada bangsa Portugis dan setelah itu, pakaian tersebut dikenaian oleh petinggi Portugis untuk urusan bangsawan.[20] Kemudian, Raja Vimaladharmasuriya dari Kandy menetapkan cabaya sebagai pakaian bagian atas untuk bangsawan Sri Lanka yang menandakan perubahan sikap dan kesetiaan kepada Portugis.[20] Setelah kerajaan Goa dikuasai oleh Portugis pada tahun 1510, pengaruh Portugis meluas dari Anak Benua India hingga Kepulauan Melayu.[21] Istilah ini kemudian diperkenalkan ke Nusantara untuk merujuk pada mantel katun ringan yang dikenakan oleh pria dan wanita Eropa.[22]

Sultana Khadijah dari Johor dengan garis yang tidak diketahui namanya. Disini dapat dilihat bwahwa kebaya digunakan bersama dengan baju kurung oleh petinggi ataupun bangsawan tanah Melayu, sekitar tahun 1900.

Setelah penaklukan Malaka pada 1511 oldh bangsa Portugis, cabaya yang dikenakan oleh pada bangsa Portugis di Malaka (1511–1641) menarik perhatian para penduduk wanita Melayu, terutama di Johor dan pesisir bagian timur semenanjung Malaka.[4][6][8] Pakaian ini kemudian semakin dipopulerkan oleh "Peranakan Tionghoa" di tanah Malaka.[10] Hal ini kemungkinan didorong oleh faktor bahwa suami Tionghoa mereka beranggapan bahwa berpakaian ini dianggap pantas dan tidak jauh berbeda dengan pakaian gaya Tionghoa.[19] Kemudian, penjelajah Malaka-Portugis, Manuel Godinho de Erédia, bahkan mengaggap bahwa pemakaian cabayas (jamak dari cabaya) dibawa ke Asia Tenggara oleh pedagang Arab dan Mesir pada awal 1618.[5][18][23] Selain itu, Peter Mundy, seorang penulis Inggris yang mengunjungi wilayah Goa pada tahun 1630-an, juga menyatakan bahwa wanita di Malaka berpakaian mirip dengan wanita di Goa.[23] Pengaruh Portugis dan India dapat dilihat dari kebaya yang dikenakan di Malaka, sehingga kemungkinan istilah "cabaya" dan pemakaian gaun tersebut diperkenalkan ke Malaka oleh orang Portugis atau Portugis Eurasia dari India yang memiliki strata tingkat lebih tinggi, daripada kemungkinan bahwa pakaian ini langsung dibawa oleh orang Arab atau Tionghoa.[18][23]

Tanah Malaka dan Majapahit

Kartini muda bersama keluarganya. Di sini kebaya dikenakan oleh perempuan bangsawan Jawa pada abad ke-19.

Beberapa sumber lain menyatakan bahwa bentuk paling awal kebaya berasal dari istana Kerajaan Majapahit yang dikenakan para permaisuri atau selir raja, sebagai sarana untuk memadukan pakaian kemben perempuan yang sudah ada–yaitu kain pembebat dan penutup dada perempuan bangsawan–menjadi lebih sopan dan dapat diterima.[15] Sebelum adanya pengaruh Islam, masyarakat Jawa pada abad ke-9 telah mengenal beberapa istilah untuk mendeskripsikan jenis pakaian, seperti kulambi (bahasa Jawa: klambi, baju), sarwul (bahasa Jawa: sruwal, celana), dan ken (kain atau kain panjang yang dililit di pinggang).[15] Selama periode terakhir Kerajaan Majapahit, pengaruh Islam mulai berkembang di kota-kota pesisir utara Jawa sehingga perlu penyesuaian busana Jawa dengan agama Islam yang baru dipeluknya. Blus yang dirancang khusus, sering dibuat dari kain tipis yang halus, dikenakan setelah kemben untuk menutupi bagian belakang, bahu dan lengan, agar wanita istana terlihat lebih sopan. Adopsi busana yang lebih sopan dikaitkan dengan pengaruh Islam di Nusantara.[15] Aceh, Riau, Johor, dan Sumatra Utara mengadopsi gaya kebaya Jawa sebagai sarana ekspresi status sosial dengan penguasa Jawa yang lebih alus atau halus.[24]

Nama kebaya sebagai pakaian tertentu telah dicatat oleh Portugis saat mendarat di Indonesia. Kebaya dikaitkan dengan jenis blus yang dikenakan oleh wanita Indonesia pada abad ke-15 atau 16. Sebelum tahun 1600, kebaya di pulau Jawa dianggap sebagai pakaian khusus yang hanya untuk dikenakan oleh keluarga kerajaan, bangsawan, dan priyayi.

Kemudian, kebaya juga diadopsi oleh masyarakat umum, khususnya para petani wanita di Jawa. Hingga hari ini di desa-desa pertanian di Jawa, para petani wanita masih menggunakan kebaya sederhana, khususnya di kalangan wanita tua. Kebaya sehari-hari yang dikenakan oleh petani terbuat dari bahan sederhana dan dikancingkan dengan jarum sederhana atau peniti.[butuh rujukan]

Kebaya perlahan-lahan menyebar ke daerah-daerah tetangga melalui perdagangan, diplomasi, dan interaksi sosial ke Malaka, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kesultanan Sulu, dan Mindanao.[25][26][27] Kebaya Jawa seperti yang ada sekarang telah dicatat oleh Thomas Stamford Bingley Raffles pada tahun 1817, sebagai sutra, brokat dan beludru, dengan pembukaan pusat dari blus diikat oleh bros, bukan tombol dan tombol-lubang di atas batang tubuh bungkus kemben, kainnya — pembungkus tanpa jahitan yang panjangnya beberapa meter, keliru diberi istilah sarong di Inggris (sarung, aksen Malaysia: sarong) yang dijahit untuk membentuk tabung, seperti pakaian Barat.[28][29]

Bukti fotografi paling awal tentang kebaya yang dikenal saat ini berasal dari tahun 1857 yang bergaya Jawa, Peranakan, dan Oriental.[24] Pada kuartal terakhir abad ke-19, kebaya telah diadopsi sebagai busana yang disukai wanita di Hindia Belanda yang beriklim tropis, baik dikenakan oleh pribumi Jawa, kolonial Europa dan orang Indo, serta Tionghoa Peranakan.[30]

Variasi kebaya

Seorang nyonya Belanda berkebaya di Bogor pada tahun 1904.

Sekitar tahun 1500-1600, di Pulau Jawa, kebaya adalah pakaian yang dikenakan keluarga kerajaan Jawa saja. Kebaya juga menjadi pakaian yang dikenakan keluarga Kesultanan Cirebon, Kesultanan Mataram dan penerusnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Selama masa kendali Belanda di pulau itu, wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Selama masa ini, kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni.

Ada sebuah pakaian mirip kebaya, ini disebut "nyonya kebaya" dan awalnya pakaian ini diciptakan oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. Mereka mengenakannya dengan sarung dan sepatu cantik bermanik-manik yang disebut "kasut manek". Kini, nyonya kebaya sedang mengalami pembaharuan, dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Variasi kebaya yang lain juga digunakan keturunan Tionghoa Indonesia di Cirebon, Pekalongan, Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya.

Kebaya dan politik

Penggunaan kebaya juga memainkan peran politik yang cukup penting. Kebaya telah dinyatakan sebagai busana nasional Indonesia[31] meskipun ada kritik bahwa kebaya hanya digunakan secara luas di Jawa dan Bali. Kebaya sebenarnya juga ditemukan di Sumatra, Sulawesi dan NTT dengan corak daerah. Tokoh politik seperti Kartini memakai kebaya. Dan peringatan hari Kartini dilakukan dengan menggunakan kebaya. Para istri Presiden RI mulai dari Soekarno dan Soeharto menggunakan kebaya di berbagai kesempatan.

Penggunaan kebaya masa kini

Kebaya pada masa sekarang telah mengalami berbagai perubahan desain, mulai dari rancangan yang lebih modern hingga dipadukan dengan jilbab bagi wanita Muslim. Pada umumnya Kebaya sering digunakan pada pesta perayaan tertentu. Dari mulai pesta formal dengan rekan bisnis,pernikahan, perayaan acara tradisional, hingga perayaan kelulusan sekolah seperti wisuda. Kebaya digunakan sebagai seragam resmi pramugari Singapore Airlines, Malaysia Airlines dan Garuda Indonesia.[32] Sejumlah perancang yang turut menciptakan desain baru kebaya diantaranya adalah Anne Avantie dan Adjie Notonegoro

Catatan

  1. ^ Jawa: ꦏꦼꦧꦪ; Sunda: ᮊᮘᮚ; aksara Bali: ᬓᭂᬩᬬ; Jawi: کباي; Pegon: كبيا
  2. ^ Peranakan adalah sebutan untuk keturunan asing hibrida, termasuk Baba Nyonya, Chetti Melaka, Indo, Jawi Pekan, Kristang, Samsam dan Melayu Cocos

Referensi

  1. ^ Steele, Valerie (2005). Steele Valerie, ed. Encyclopedia of Clothing and Fashion (dalam bahasa Inggris). Charles Scribner's Sons. ISBN 978-0-684-31395-5. 
  2. ^ Welters, Linda; Lillethun, Abby (2018-02-08). Fashion History: A Global View (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-4742-5365-9. 
  3. ^ a b Annette Lynch-Mitchell D. Strauss, ed. (2014-10-30). Ethnic Dress in the United States: A Cultural Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 9780759121508. 
  4. ^ a b c Phromsuthirak, Maneepin; Chavalit, Maenmas (2000). Costumes in ASEAN Volume 1, Part 1 of ASEAN studies publication series (dalam bahasa Inggris). National ASEAN Committee on Culture and Information of Thailand. ISBN 9789747102833. 
  5. ^ a b c Setiawan, Ferry (2009). 50 Galeri Kebaya Eksotik Nan Cantik. Niaga Swadaya. ISBN 9789793927909. 
  6. ^ a b c World Eco-Fiber & Textile (W.E.F.T) Forum 2003, Kuching, Sarawak, Malaysia (dalam bahasa Inggris). Atelier. 2002-09-19. 
  7. ^ Forshee, Jill (2006). Culture and Customs of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Greenwood Publishing Group. ISBN 9780313333392. 
  8. ^ a b c d Haziyah. "Evolusi dan Topologi Pakaian Wanita Melayu di Semenanjung Malaysia" (dalam bahasa Melayu). Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 February 2021. 
  9. ^ a b "Kebaya: Identitas Nasional Indonesia". Research Center for Society and Culture, Indonesian Institute of Science (LIPI). 3 November 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-02-12. 
  10. ^ a b Muzium Brunei (1995). "Costume and Textiles of Brunei: History and Evolution" (dalam bahasa Inggris). 
  11. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Koh
  12. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Harsianti
  13. ^ "Women promote 'kebaya' wearing at MRT station". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-10-10. 
  14. ^ Khor, Samantha (23 March 2020). "The Origin of the Kebaya and How It Became an ASEAN Icon". www.ourdaily.co. Ourdaily. Diakses tanggal 17 December 2020. [pranala nonaktif permanen]
  15. ^ a b c d e f Triyanto (29 December 2010). "Kebaya Sebagai Trend Busana Wanita Indonesia dari Masa ke Masa" (PDF). 
  16. ^ Denys Lombard (1990). Le carrefour javanais: essai d'histoire globale. Civilisations et sociétés (dalam bahasa French). École des hautes études en sciences sociales. ISBN 2-7132-0949-8. 
  17. ^ Times, I. D. N.; Khalika, Nindias. "Sejarah Kebaya, Pakaian Perempuan Sejak Abad ke-16". IDN Times. Diakses tanggal 2019-10-10. 
  18. ^ a b c d Lee, Peter (2014). Sarong Kebaya: Peranakan Fashion in an Interconnected World, 1500-1950 (dalam bahasa Inggris). University of Hawaii Press. ISBN 9789810901462. 
  19. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Datin
  20. ^ a b c Karunaratne. "Meanings of Fashion: Context Dependence" (dalam bahasa Inggris). 
  21. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama artsandculture
  22. ^ "Hobson-Jobson". dsal.uchicago.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-03-15. 
  23. ^ a b c Thienny (March 2016). "Dress and Visual Identities of the Nyonyas in the British Straits Settlement" (dalam bahasa Inggris). 
  24. ^ a b Maenmas Chavalit, Maneepin Phromsuthirak: Costumes in ASEAN: ASEAN Committee on Culture and Information: 2000: ISBN 974-7102-83-8, 293 pages
  25. ^ S. A. Niessen, Ann Marie Leshkowich, Carla Jones: Re-orienting Fashion: the globalization of Asian dress Berg Publishers: 2003: ISBN 978-1-85973-539-8, pp. 206-207
  26. ^ Cattoni Reading The Kebaya; paper was presented to the 15th Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia in Canberra 29 June-2 July 2004.
  27. ^ Michael Hitchcock Indonesian Textiles: HarperCollins, 1991
  28. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-01-08. Diakses tanggal 2014-01-08. 
  29. ^ http://www.tempo.co/read/news/2013/04/25/110475801/Kebaya-Sebuah-Catatan-Perjalanan//
  30. ^ "Sejarah Kebaya di Masa Kolonial: Busana Perempuan Tiga Etnis". tirto.id. Diakses tanggal 2019-10-10. 
  31. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-03-10. Diakses tanggal 2014-01-08. 
  32. ^ http://female.kompas.com/read/2010/09/26/11502730/Terbang.Bersama.Kebaya//

Pranala luar