Royal Brunei Airlines

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Royal Brunei Airlines
20130904120115!Royal Brunei Airlines.png
IATA
BI
ICAO
RBA
Kode panggil
BRUNEI
Pendiri 18 November 1974
Mulai beroperasi 14 Mei 1975
Penghubung Bandar Udara Internasional Brunei
Program penumpang setia Royal Skies
Lounge bandara Sky Lounge
Armada 10
Tujuan 14
Perusahaan induk Pemerintah Brunei
Kantor pusat Bandar Seri Begawan, Brunei
Tokoh utama

[1]

  • Dato Paduka Awang Haji Bahrin bin Abdullah (Chairman/Deputi Menteri Keuangan Brunei)
  • Dermot Mannion (Deputi Chairman)
Situs web http://www.bruneiair.com

Royal Brunei Airlines (Melayu: Penerbangan DiRaja Brunei, Jawi: ﻓﻧﺭﺑﺎڠن ﺩﻴﺮﺍﺝ ﺑﺮﻮﻧﻲ) adalah maskapai penerbangan nasional milik Kesultanan Brunei Darussalam. Berdiri dengan tujuan untuk mewakili negara yang akan merdeka, maskapai ini menjadi duta yang (pada saat itu) bertugas untuk menyampaikan pengakuan kemerdekaan Brunei dari Inggris pada tahun 1984. Maskapai yang akan berulang tahun ke 40 ini setidaknya akan menjadi pemain regional yang berfokus di arena ASEAN.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Tahun 1974-1997: Awal pendirian, ekspansi regional dan melanglang buana[sunting | sunting sumber]

Boeing 737-200 milik Royal Brunei baru saja lepas landas.
Boeing 757-200 Royal Brunei berada di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia.

Brunei Darussalam, kerajaan yang berada di bagian timur Malaysia, diberi kelonggaran oleh Inggris untuk mempersiapkan kemerdekaannya, salah satunya yaitu, mendirikan perusahaan transportasi udara yang bernama Royal Brunei Airlines. Didirikan pada tanggal 18 November 1974 dengan 2 armada pesawat Boeing 737-200, maskapai meluncurkan rute penerbangan perdana secara marathon dari Singapura, Kuching dan Kota Kinabalu serta Hong Kong yang dibuka pada Tahun 1975. Di tahun-tahun berikutnya, pengembangan rute juga diperluas dengan dimasukkannya Manila yang dibuka pada Tahun 1976 dan Bangkok pada Tahun 1977. Memasuki dekade 1980an, Royal Brunei menerima armada Boeing 737 yang ketiga yang saat itu juga digunakan untuk membuka rute baru ke Kuala Lumpur pada Tahun 1981 dan Darwin di Tahun 1983. Masuknya pesawat ini membuat maskapai semakin yakin akan arah ekspansi yang lebih terlihat. Hal ini terbukti dengan lengkapnya daftar rute yang dibuka oleh maskapai di area ASEAN dan Laut China Selatan.

Setelah merdeka dari Inggris pada 1 Januari 1984, maskapai semakin giat melakukan ekspansi dengan dibukanya rute menuju Jakarta pada tanggal 3 Januari dan tidak hanya itu saja, pada Tahun 1988 maskapai juga mendatangkan armada Boeing yang lebih besar yaitu, 2 armada Boeing 757-200 ER menuju Taipei dan Dubai. Pada dekade 1990an, ekspansi yang cepat dan masif membuat armada yang ada mengalami kelebihan kapasitas dibanding dengan armada yang ada. Sehingga maskapai harus menjual seluruh armada Boeing 737 dan diganti oleh Boeing 767-300ER yang dipesan oleh maskapai sebanyak 7 armada. Secara keseluruhan armada berkembang dengan signifikan dengan armada yang terdiri dari 8 Boeing 767 dan 2 Boeing 757.maskapai masuk ke ruang Eropa dengan rute menuju London dengan pemberhentian melalui Singapura dan Dubai pada Tahun 1990 dan ekspansi maskapai ke Perth, Jeddah mulai dibuka pada Tahun 1991, bulan Maret 1993 diadakan penambahan rute menuju Abu Dhabi dan Frankfurt melalui Abu Dhabi. Pada Denpasar, Bali menjadi kota ketiga di Indonesia yang masuk dalam rute, penerbangan menuju Eropa juga ditambah dengan tujuan Zürich melalui Kuala Lumpur dan juga tujuan baru ke Bahrain. Sebelum akhir tahun, rute menuju Beijing, dibuka pada bulan Oktober dan rute Kairo dibuka dengan melewati Kuala Lumpur dan Bahrain pada bulan November. Sementara itu Brisbane mulai dilayani pada Tahun 1994 dan Surabaya menjadi rute penutup untuk tahun ekspansi Royal Brunei.

Tahun 2003-Sampai saat ini: Restrukturisasi keseluruhan dan menuju maskapai regional ASEAN[sunting | sunting sumber]

Boeing 767-300ER Royal Brunei berada di Bandara Internasional Zurich.

Setelah mengalami tahun tahun tanpa keuntungan, Royal Brunei mempersiapkan rencana restrukturisasi besar-besaran pada tahun 2003. Rencana ini juga akan memasukkan strategi utamanya salah satunya yaitu, menambah jumlah armada yang sebelumnya hanya 9 pesawat menjadi 24 pesawat pada tahun 2013. dengan mengubah pola susunan jumlah pesawat dari 6 Boeing 767 akan dikonversi melalui serangkaian penjualan dan leasing menjadi 15 pesawat berbadan sempit dan 8 pesawat berbadan lebar. Perencanaan ini juga termasuk membahas tentang arah ekspansi penambahan kota ke Auckland, Tokyo, Sydney, Seoul dan Ho Chi Minh serta meningkatkan frekuensi penerbangan. Pada tahun 2004 hingga 2008, Royal Brunei akan menginvestasikan dana sebesar USD 400 juta untuk pesawat berbadan sempit. Untuk tahun 2008 hingga 2013 akan diadakan investasi sebesar USD 800 juta untuk membeli pesawat berbadan lebar sebagai pengganti dari armada 767. Kemungkinan besar pesawat badan lebar yang masuk adalah Airbus A340, A330 dan Boeing 777.

Codeshare agreement dan destinasi[sunting | sunting sumber]

Berikut daftar codeshare agreement Royal Brunei:

Armada[sunting | sunting sumber]

Armada Royal Brunei pada Agustus 2006

Jumlah Tipe Registrations/Configuration
2 Airbus A319-132 (V8-RBP,V8-RBR) (8J/114Y)
2 Airbus A320-232 (V8-RBS,V8-RBT) (12J/132Y)
4 Boeing 767-33AER (V8-RBF,V8-RBG,V8-RBH,V8-RBJ) (23J/182Y)
1 Boeing 767-33AER (V8-RBL) (13J/185Y)
1 Boeing 767-33AER (V8-RBK) (18J/231Y)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]