Persib Bandung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Persib Bandung
Logo Persib
Nama lengkapPersatuan Sepak Bola Indonesia Bandung
JulukanMaung Bandung
Pangeran Biru
Berdiri14 Maret 1933 (1933-03-14) (86 tahun lalu)
StadionSi Jalak Harupat,
Bandung,Jawa Barat,Indonesia
(Kapasitas: 27.000)
Direktur UtamaBendera Indonesia Glenn Sugita
ManajerBendera Indonesia Umuh Muchtar
PelatihBendera Belanda Robert Rene Alberts
Asisten PelatihBendera Indonesia Budiman
LigaLiga 1
Liga 1 2018Peringkat 4
Situs webSitus web resmi klub
Kelompok suporterBobotoh, VPC, Bomber
Kostum Kandang
Kostum Tandang
Kostum Ketiga
Soccerball current event.svg Musim ini

Persib Bandung (Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung) (Aksara Sunda Baku: ᮕᮦᮁᮞᮤᮘ᮪ ᮘᮔ᮪ᮓᮥᮀ, Pérsib Bandung) adalah klub sepak bola Indonesia yang berdiri pada 14 Maret 1933, berbasis di Bandung, Jawa Barat. Persib saat ini bermain di Liga 1 2019 Indonesia. Julukan mereka adalah Maung Bandung dan Pangeran Biru. Sponsor utama dan terbesar masih di pegang Indofood dan apparel jersey yang terbaru adalah Sportama.

Sebagai tim yang dikenal baik, Persib Bandung juga sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik junior maupun senior. Sederet nama seperti Ade Dana, Emen Suwarman, Aang Witarsa, Max Timisela, Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Herry Kiswanto, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur'alim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan, Eka Ramdani, Gian Zola, dan Febri Hariyadi, merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib Bandung.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masa-masa Awal[sunting | sunting sumber]

Sebelum hadirnya Persib Bandung, di Kota Bandung berdiri klub sepakbola Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot. Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara, Jakarta.[1]

Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.[1]

1930-1994 : Era Perserikatan[sunting | sunting sumber]

Pada keikutsertaannya yang pertama, Persib kalah dari VIJ Jakarta dalam kompetisi Perserikatan 1933. Pencapaian ini terulang di tahun 1934 juga dengan lawan yang sama. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis dengan skor 2-1 di Stadion Sriwedari, Solo. Berdasarkan sejumlah catatan yang ditemukan, sejumlah nama pemain yang memperkuat Persib di partai tersebut antara lain Enang Durasid, Komar, Jasin, Arifin, Kucid, Edang, Ibrahim Iskandar, Saban, Sugondo, dan Adang.

Setahun kemudian Persib gagal mempertahankan gelarnya. Dalam kejuaraan yang kembali dipentaskan di Solo, VIJ Jakarta tampil sebagai kampiun setelah menjungkalkan Persebaya Surabaya. Pada tahun 1939, dalam kejuaraan yang digelar di Yogyakarta, nama Persib kembali muncul, meski hanya menempati peringkat ketiga di bawah Persis dan tuan rumah PSIM. Sejumlah nama pemain yang tercatat memperkuat Persib ketika itu adalah Jasin, Komar, Sugondo, Enang, Durasid, Ana dan Z. Arifin.

Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah-olah Persib merupakan perkumpulan "kelas dua". VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG.

Persib memenangkan "perang dingin" dan menjadi perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.

Dekade 1940an[sunting | sunting sumber]

Memasuki awal dekade 40-an, situasi politik dalam negeri ketika itu mengganggu jalannya Kompetisi Perserikatan. Saat itu, kompetisi hanya bisa digelar pada tahun 1941, 1942, 1943. Pada tahun 1941, Persib gagal menjadi yang terbaik, meski kompetisi digelar di Bandung. Ketika itu, Persib kalah bersaing dengan Persis dan Persebaya yang akhirnya tampil sebagai juara dan runner-up. Dalam dua tahun berikutnya, ketika kejuaraan dipentaskan di Surabaya dan Yogyakarta, nama Persib tidak masuk ke posisi “2 Besar” dan Persis kembali menjadi jawara secara berturut-turut.

Di era pendudukan Jepang, pemerintahan kolonial membredel seluruh perkumpulan sepak bola yang ada di tanah air, termasuk PSSI. Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu, yakni Rengo Tai Iku Kai.

Setelah Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945, kompetisi belum juga bisa digulirkan, karena pemerintah kolonial Belanda kembali masuk ke Indonesia dengan mendompleng tentara sekutu (NICA). Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibu kota perjuangan Yogyakarta.

Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, dan Perserikatan kembali digelar untuk pertama kalinya setelah kemerdekaan. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia, meskipun akhirnya upaya tersebut tidak berhasil. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dr. Musa, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Munadi sebagai ketua.

Dekade 1950an[sunting | sunting sumber]

Pada dekade 50-an, prestasi Persib tidak begitu mencuat. Tahun 1950, Persib hanya menjadi runner-up dalam kejuaraan yang bersamaan dengan Kongres PSSI di Semarang. Persib gagal tampil sebagai juara setelah dikalahkan Persebaya. Beberapa nama pemain yang membela Persib saat itu antara lain Aang Witarsa, Amung, Anda, Ganda, Freddy Timisella, Sundawa, Toha, Leepel, Smith, Jahja, dan Wagiman. Anas dan Aang adalah anggota skuad Timnas Indonesia dalam Asian Games 1951.[1] Karena gagal bersaing dengan Persija di tingkat zona, pada tahun 1951, Persib gagal lolos ke final.

Setelah hanya mampu menempati peringkat ketiga pada tahun 1952 di Surabaya, 1954 di Jakarta dan 1957 di Padang, Persib mulai menggeliat pada tahun 1959. Sayang, kesempatan untuk meraih gelar juara hilang ketika pada pertandingan terakhir dikalahkan PSM Makassar 1-2 di Lapangan Ikada, Jakarta. Dalam pertandingan itu, Persib sempat unggul lebih dulu lewat gol cepat Omo Suratmo, sebelum PSM membalikkan keadaan melalui dua gol Ramang dan Suwardi Arlan[2]. Sebelum pertandingan penentuan melawan PSM itu, Persib tampil mengesankan dengan membekap Persija 3-1 melalui gol-gol Kiat Shek (menit 7), Parhim (17), Omo Suratmo (72), dan mencukur Persebaya 6-0 lewat sumbangan gol Aang Witarsa, Ade Dana, Kiat Shek, Omo (2 gol) dan Atik di Lapangan Ikada Jakarta.

Selanjutnya, ketika bertanding di Padang, Persib mempermalukan tuan rumah PSP 3-2. Namun, pada saat memainkan partai home di Stadion Siliwangi melawan PSIS Semarang, Persib justru menyerah 1-2. Gol Omo pada menit 40, tidak mampu membantu Persib meraih kemenangan atas PSIS. Persib kembali membuka persaingan dengan PSM yang belum terkalahkan setelah mencukur PSMS Medan 8-1 lewat dua gol yang masing-masing dicetak Omo dan Unang, hattrick Parhim serta satu gol tambahan dari Kiat Shek. Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu klub yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 50-an ini pun mencatat kejadian penting.

Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.

Dekade 1960an[sunting | sunting sumber]

Pada awal masa ini, materi pemain Persib antara lain Hehanusa, Iwan (kiper), Sulaeman, Hafid, Akbar, Rukma, Nandang, Atik, Parhim, Kiat Shek, Omo Suratmo, Sukarna, Aang Witarsa, Ade Dana, dan Unang. Penantian panjang Persib untuk kembali menjuarai Kompetisi Perserikatan berakhir pada tahun 1961.[3] Berbeda dengan musim sebelumnya, kali ini Persib memenangkan persaingan dengan PSM. Di putaran final yang diikuti tujuh kontestan, Persib mencatat 5 kali menang dan sekali imbang untuk mengumpulkan nilai 11, atau satu angka lebih baik ketimbang PSM. Anggota skuat Persib saat itu adalah Simon Hehanusa, Hermanus, Juju (kiper), Ishak Udin, Iljas Hadade, Rukma, Fatah Hidayat, Sunarto, Him Tjhiang, Ade Dana, Hengki Timisela, Wowo Sunaryo, Nazar, Omo Suratmo, Suhendar, dan Pietje Timisela[1]

Lima kemenangan yang diraih Persib pada putaran final dicatat pada saat menghantam Persema Malang 7-1 di Makassar, PSMS Medan 5-3, PSIS Semarang 6-2 di Bandung, Persebaya 2-1 dan Persija 3-1 di Semarang. Satu-satunya hasil imbang yang dicatat Wowo Sunaryo dan kawan-kawan adalah ketika bermain 0-0 dengan PSM dalam sebuah pertandingan yang diwarnai kerusuhan di Makassar. Pertandingan melawan PSM ini terpaksa dihentikan pada menit 85, karena penonton tuan rumah tidak bisa menerima keputusan wasit yang memberikan hukuman penalti setelah seorang pemain belakang mereka menyentuh bola dengan tangan di kotak terlarang.

Setelah itu, prestasi Persib kembali melorot dan gagal mempertahankan gelar pada Kompetisi Perserikatan 1964 dan 1965 di Jakarta. Setahun berikutnya, Persib harus puas menjadi runner up, karena harus kembali mengakui keunggulan PSM Makassar di Jakarta.[1]

Dekade 1970an[sunting | sunting sumber]

Memasuki dekade 1970-an, catatan paling kelam harus dialami Persib. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, praktis tidak ada prestasi membanggakan yang diraih. Pada tahun 1971, Persib kalah bersaing dengan PSMS Medan yang akhirnya tampil sebagai juara, Persebaya Surabaya (runner-up), Persija Jakarta (peringkat 3), PSM Makassar (4), PSL Langkat, Persema Malang dan Persipura Jayapura sehingga terlempar dari posisi “4 Besar”. Akibatnya, Persib tidak berhak tampil di Turnamen “Piala Soeharto” yang hanya diikuti oleh empat tim terbaik.

Dua tahun kemudian di Jakarta, Persib hanya mengakhiri kompetisi di peringkat ketujuh dari delapan kontestan dengan rekor sekali menang, sekali imbang dan 5 kali kalah. Satu-satunya kemenangan Persib dicatat pada partai pembuka ketika menjungkalkan juara bertahan, PSMS 3-1. Sedangkan lima kekalahan Persib dialami dari Persija 0-2 yang akhirnya tampil sebagai juara, Persipura Jayapura 0-2, Persebaya Surabaya 0-1, dan PSBI Blitar 0-1. Hasil imbang dicatat ketika bermain 2-2 dengan PSL Langkat. Kegagalan Persib sedikit terobati ketika salah seorang bintang muda Persib, Risnandar Soendoro dinobatkan sebagai pemain terbaik Kompetisi Perserikatan 1973.

Pada Kompetisi Perserikatan 1975, Persib benar-benar kehilangan tempat di jajaran elit sepak bola nasional. Saat itu, Persib tidak mampu meloloskan diri ke putaran final karena hanya menempati peringkat ketiga Pool D babak “18 Besar”. Dari 4 partai yang dimainkan di Stadion Menteng Jakarta, Persib hanya mencatat dua kemenangan dari PSM Makassar 2-0 lewat gol Encas Tonif pada menit 74 dan Teten menit 81 serta Gasko Kolaka 4-0 melalui hattrick Dedi Sutendi dan Akub.

Prestasi Persib kembali meningkat pada musim 1975-1978. Setelah menjuarai babak kualifikasi Grup B di Stadion Siliwangi Bandung dan Stadion Bima Cirebon, Persib lolos ke putaran final. Pada babak kualifikasi ini, Persib mencatat rekor tak terkalahkan dan tak pernah kebobolan dalam empat partai yang dimainkannya. Pada pertandingan pertama, gol-gol yang disumbangkan Atik (menit 29), Nandar Iskandar (41-pen.), Max Timisela (43), Teten (44) dan Herry Kiswanto (60) membawa Persib menundukkan PSKB Binjai 5-0.

Selanjutnya, Persib membantai Persisum Sumbawa 6-0 dan membekap PSM Makassar 3-0 lewat dua gol Tjetjep pada menit 16 dan 59 serta Zulham Effendi, empat menit menjelang pertandingan usai. Pada pertandingan penutup, Persib mengalahkan Perseban Banjarmasin 2-0 melalui gol yang diciptakan Zulham Effendi dan Nandar Iskandar sekaligus memastikan diri lolos ke babak “8 Besar”.

Namun, pada putaran final yang digelar di Jakarta, Persib harus mengubur impiannya lolos ke semifinal. Meski sempat mencatat kemenangan 2-0 atas Persipura lewat gol Atik dan Nandar Iskandar, namun dalam dua pertandingan terakhir, Persib dibekap Persebaya 0-2 dan tuan rumah Persija 0-3. Catatan sekali menang dan 2 kali kalah ini menempatkan Persib di peringkat ketiga Grup G.

Mulai tahun 1979, PSSI mulai menerapkan pembagian divisi buat tim-tim perserikatan yang mengharuskan sistem promosi dan degradasi diberlakukan. Ketika itu PSSI menetapkan, Divisi Utama Perserikatan hanya dihuni 5 tim dan tiga tim terbawah di putaran final kompetisi 1978 harus terdegradasi ke Divisi I. Karena hanya menempati peringkat ketiga Grup G, Persib harus menghadapi peringkat ketiga Grup F, Persiraja Banda Aceh untuk mencari tim ketiga yang terlempar ke Divisi I. Dua tim yang otomotis terdegradasi adalah tim juru kunci Grup F PSBI Blitar dan Grup G Persipura Jayapura. Pada partai play-off ini, Persib menyerah 1-2 dari Persiraja yang memaksanya bertarung dari “kampung ke kampung” pada musim kompetisi berikutnya.

Pada musim pertamanya di Divisi I, Persib menjuarai Grup V yang merupakan babak kualifikasi pertama (tingkat zona). Di babak kedua tingkat nasional, Persib bergabung di Grup B bersama Perseden Denpasar, Persigowa Gowa dan PSP Padang. Persib memastikan diri lolos ke babak “6 Besar” setelah mencatat sekali menang, sekali imbang dan sekali kalah di Stadion Sriwedari Solo. Sebagai runner-up Grup B, Persib lolos bersama Perseden.

Lolosnya Persib ke babak “6 Besar” ditentukan pada partai terakhir ketika mengalahkan Perseden 3-0 lewat gol Risnandar melalui titik penalti pada menit 8, Tjetjep (35) dan Ismawadi (42). Dalam dua pertandingan sebelumnya, Persib dikalahkan PSP 0-1 dan bermain imbang 1-1 dengan Persigowa. Gol Persib ke gawang Persigowa dicetak Itang pada menit 42.

Namun, Persib yang tergabung di Grup D babak “6 Besar:, gagal kembali ke Divisi Utama, karena hanya mampu bermain imbang 0-0 dengan PSKB Binjai dan dikalahkan Persipura 1-2. Dalam pertandingan ini, dua gol Persipura dicetak Panus Korwa menit ke-2 dan Hengky Heipon menit 4. Sedangkan gol balasan Persib dicetak Atik pada menit 75.

Pada musim berikutnya, pengurus Persib mendatangkan pelatih asal Polandia, Marek Janota. Ketika itu, Janota ditugasi untuk membina para pemain muda Persib secara berkesinambungan. Sobur, Boyke Adam, Adeng Hudaya, Bambang Sukowiyono, Giantoro, Encas Tonif, Dede Iskandar, dan Irwan Sunarya adalah para pemain yang diorbitkan Janota[4]. Kelak, pemain-pemain tersebut akan menjadi tulang punggung Persib senior. Sementara itu, tim Persib senior yang dipimpin Manajer H.M. Ruchiyat dan pelatih Risnandar serta dibantu dua sistennya, Wowo Sunaryo dan Suhendar terus berusaha bangkit.

Juara Surya Cup (Surabaya) 1978 digapai usai mematahkan perlawanan Persija 1-0. Gol emas itu disumbangkan Max Timesela. Dua tahun sebelumnya, gelar yang sama juga dipetik jagoan Bandung. Yusuf Cup 1975 dan 1977 juga dipuncaki anak-anak Bandung. Bahkan, usai jadi runner-up Yusuf Cup VIII/1979, setahun kemudian Persib mencuri gelar juara di turnamen kebanggaan masyarakat Ujung Pandang. Masih pada tahun yang sama, Piala Gubernur Sumatera Selatan juga masuk ke lemari prestasi Persib meski jagoan Bandung berada di peringkat 3.

“Sepanjang ingatan saya, hanya turnamen Marah Halim Cup (Medan) yang tidak pernah bisa di raih Persib. Tapi di turnamen lainnya yang tersebar di banyak daerah, macam Yusuf Cup (Makasar) dan Tugu Muda (Semarang), Persib sempat tampil sebagai juara,” cerita Encas Tonif, mantan pemain Persib era 70-an/80-an.

Dekade 1980an[sunting | sunting sumber]

Setelah berjuang dari tingkat zona, wilayah dan nasional, dengan materi pemain di antaranya Sobur, Adeng Hudaya, Suryamin, Encas Tonif, dan Iwan Sunarya, pada tahun 1980 Persib akhirnya kembali ke Divisi Utama bersama PSIS Semarang, Persema Malang dan PSP Padang untuk melengkapi 6 tim lain di Divisi Utama yaitu Persija Jakarta, PSMS Medan, Persipura Jayapura, PSM Makassar, Persebaya Surabaya dan Persiraja Banda Aceh.

Setelah kembali ke Divisi Utama pada Kompetisi Perserikatan 1983, Persib langsung unjuk gigi. Meski pada putaran pertama Wilayah Barat di Stadion Imam Bonjol, Padang, hanya mencatat sekali kemenangan atas PSP Padang 2-1 (sisanya kalah 1-2 dari PSMS serta bermain imbang 2-2 dengan PSMS dan 0-0 dengan Persija), Persib memastikan diri lolos ke babak “4 Besar”, setelah mencetak 3 kemenangan dan sekali imbang di putaran kedua di Stadion Siliwangi.

Pada pertandingan pertama, gol-gol yang disumbangkan Adeng Hudaya (30), Wolter Sulu (52), Encas Tonif (66) dan Bambang Sukowiyono (72) mengantarkan Persib meraih kemenangan 4-0 atas Persiraja. Selanjutnya, PSP dibabat 5-0 lewat hattrick Adjat Sudradjat pada menit 18, 38 dan 55, serta gol tambahan dari Bambang Sukowiyono (8) dan Robby Darwis (68). PSMS yang akhirnya tampil sebagai juara Wilayah Barat juga ditaklukan dengan skor 3-1 melalui gol Bambang Sukowiyono (12-pen.) dan dua gol Adjat Sudradjat pada menit 22 dan 66. Pada partai pamungkas Wilayah Barat, Persib bermain imbang tanpa gol dengan Persija.

Di babak “4 Besar” yang berlangsung di Stadion Utama Senayan, Persib dan PSMS bergabung dengan dua wakil Wilayah Timur, Persebaya Surabaya dan PSM Makassar. Persib akhirnya lolos ke grandfinal setelah mengalahkan Persebaya 2-1 lewat gol Wawan Karnawan (40) dan Wolter Sulu (60); kembali membekap PSMS 2-1 melalui dua gol yang diborong Adjat Sudradjat dan menghancurkan PSM Makassar 3-0 lewat gol Djafar Sidik (10), Yana Rodiana dan Bambang Sukowiyono (74).

Persib dikenal bersaing ketat dengan PSMS Medan dalam perebutan gelar juara Perserikatan. Pertemuan mereka yang pertama di laga pamungkas Perserikatan terjadi pada tahun 1983. Tiada gol tercipta pada 90 menit pertandingan dan tambahan waktu, namun PSMS mampu mengalahkan Persib dengan keunggulan 3-2. Final tahun 1985 yang dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang saat itu masih bernama Stadion Senayan pada 23 Februari 1985 dikenang sebagai partai yang ditonton 150.000 orang, catatan yang hingga kini belum dapat tersaingi.[5] Persib kembali ditekuk PSMS lewat adu penalti lagi-lagi yang berakhir 3-2 setelah skor 2-2 hingga akhir perpanjangan waktu laga itu.[6]

Dua kegagalan pada musim 1982/1983 dan 1983/1984, tidak membuat Persib patah arang. Pada tahun 1986, Adeng Hudaya dan kawan-kawan akhirnya bisa membumikan Piala Presiden di Bandung setelah di final mengalahkan Perseman Manokwari 1-0 lewat gol tunggal Djadjang Nurdjaman.[7]

Para pemain yang sukses mengakhiri penantian panjang Persib selama seperempat abad itu sebagian besar merupakan hasil binaan Marek Janota. Ketika itu skuat Persib dihuni Sobur, Boyke Adam, Wawan Hermawan (penjaga gawang), Wawan Karnawan, Ade Mulyono, Suryamin, Ujang Mulyana, Sarjono, Adeng Hudaya, Robby Darwis, Yoce Roni, Kornelis, Ajid Hermawan, Ajat Sudradjat, Yana Rodiana, Sam Triawan, Iwan Sunarya, Dede Rosadi, Djadjang Nurdjaman, Bambang Sukowiyono, Suhendar, Kosasih dan Djafar Sidik. Pemain-pemain berbakat itu ditangani pelatih Nandar Iskandar.

Sayang, Piala Presiden gagal dipertahankan Persib pada musim berikutnya, 1986/1987. Setelah lolos ke babak “6 Besar”, Persib gagal lolos ke grandfinal karena hanya berada di peringkat ketiga klasemen akhir. Nilai yang dikumpulkan Persib yaitu 6, hasil sekali menang dan 4 kali seri, sebenarnya sama dengan PSIS Semarang. Namun, karena buruknya produktivitas gol, Persib harus memberikan tempat di grandfinal kepada PSIS yang akhirnya tampil sebagai juara dengan mengalahkan Persebaya 1-0. Dari 5 pertandingan yang dimainkan, Persib hanya mencetak dua gol melalui Adjat Sudradjat ketika bermain imbang 1-1 dengan Persipura dan Adeng Hudaya saat mengalahkan PSIS 1-0.

Tahun 1986, usai Persib memuncaki kompetisi Perserikatan Divisi Utama, Piala Sultan Hassanal Bolkiah berhasil dibawa pulang ke Bumi Pajajaran. Di partai final, Persib yang mendapat tenaga tambahan dari libero terbaik Indonesia saat itu Herry Kiswanto, mengalahkan tim nasional Malaysia. Gol kemenangan jagoan Bandung dilesakan Yusuf Bachtiar, yang kemudian melegenda sebagai dirijen utama Persib di Liga Indonesia.

“Kita bisa menjadi juara di Piala Sultan Hassanal Bolkiah karena Persib memang sedang di puncak prestasi. Dan memenuhi pra syarat sebagai tim juara. Di semua lini permainan tidak ada sama sekali celah yang bisa mengandaskan impian kami dalam mengibarkan sepak bola prestasi. Teknis dan non teknis jempolan. Tidak ada sama sekali ganjalan untuk menjadi the champion. Juara memang tinggal menunggu waktu saja,”

Bambang Sukowiyono (1986)

Persib menerima kunjungan klub Belanda PSV Eindhoven pada 11 Juni 1987 di Stadion Siliwangi dalam sebuah laga persahabatan. Klub yang nantinya akan menjuarai Piala Champions 1987-88 itu memenangkan laga dengan skor 6-0 dengan gol dari Rene van der Gijp (menit 8), hattrick Eric Viscaal ('15, '40, '51) dan Jurrie Koolhof ('58, '63).[8][9][10]

Pada musim berikutnya, 1987/1988, Persib mencatat hasil serupa. Ketika itu, Persib kalah bersaing dengan Persebaya yang akhirnya tampil sebagai juara dan Persija. Namun, pada musim 1989/1990, Persib kembali unjuk gigi. Di bawah besutan pelatih Ade Dana dan dua asistennya Dede Rusli dan Indra M. Thohir, Persib tampil sebagai kampiun setelah pada babak grand final di Stadion Utama Senayan mengalahkan PSM Makassar 2-0 lewat gol bunuh diri Subangkit dan Dede Rosadi.[4]

Dekade 1990an[sunting | sunting sumber]

Mengawali dekade 90-an, Persib mengawali Kompetisi Perserikatan dengan kegagalan. Namun, setelah lolos dari babak reguler Wilayah Barat ke babak “6 Besar” bersama PSMS dan PSDS Deli Serdang, Persib masih sempat lolos ke semifinal berkat kemenangan 2-1 atas Persebaya lewat gol Kekey Zakaria menit ke-7 dan Robby Darwis menit 30 dan menjinakkan PSDS 1-0 melalui gol tunggal Dede Rosadi pada menit 62. Namun, di semifinal, Persib harus mengakui keunggulan PSM Makassar 1-2. Gol Robby Darwis melalui titik penalti pada menit 65 tidak mampu menyelamatkan Persib karena PSM mampu mencetak dua gol melalui Alimudin Usman pada menit 54 lewat titik penalti dan Kaharudin menit 79.

Kegagalan Persib makin lengkap ketika pada pertandingan perebutan tempat ketiga pun dikalahkan Persebaya 1-2. Bagi Persib, peringkat keempat ini menjadi prestasi terburuk sejak kebangkitan di awal dekade 80-an.

Persib kembali jadi kampiun disertai catatan sejarah, karena musim 1993/1994 merupakan Kompetisi Perserikatan terakhir, sebelum dilebur menjadi Liga Indonesia (LI) pada musim 1994/1995. Persib berhasil membumikan Piala Presiden di Bandung untuk selamanya, setelah di final menjungkalkan PSM Makassar 2-0 pada tanggal 17 April 1994.[4] Dua gol kemenangan Persib pada partai final yang disaksikan lebih dari 100.000 penonton itu dicetak Yudi Guntara menit ke-26 dan Sutiono Lamso menit 71. Pada partai final itu, pelatih Indra M. Thohir yang didampingi Asisten Pelatih Djadjang Nurdjaman dan Emen Suwarman menurunkan formasi terbaiknya yaitu Aris Rinaldi (kiper); Robby Darwis, Roy Darwis, Yadi Mulyadi (belakang); Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara (gelandang), Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso (striker).[11]

1994-2007: Bergulirnya Liga Indonesia[sunting | sunting sumber]

Sebuah catatan sejarah dibuat PSSI pada pertengahan dekade 90-an. Setelah bertahun-tahun terjadi dualisme kompetisi yaitu Perserikatan (amatir) dan Galatama (semiprofesional), mulai musim 1994-1995, PSSI memutuskan menggabungkan kedua kompetisi sepak bola di tanah air tersebut dan membuka keran bagi pemain asing. Sebanyak 34 tim, terdiri dari 16 eks Galatama dan 18 eks Perserikatan, tampil dalam kompetisi Liga Indonesia (LI).

Ke-34 peserta dibagi ke dalam dua wilayah, Barat dan Timur. Di Wilayah Barat bercokol Arseto Solo, Bandung Raya, BPD Jateng, Mataram Putra, Medan Jaya, Pelita Jaya Jakarta, Persib Bandung, Persija Jakarta, Persijatim Jakarta Timur, Persiku Kudus, Persiraja Banda Aceh, Persita Tangerang, PS Bengkulu, PSDS Deli Serdang, PSMS Medan, Semen Padang, dan Warna Agung. Sedangkan di Wilayah Timur, ada Arema Malang, Assyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS), Barito Putra, Gelora Dewata, Mitra Surabaya, Persebaya Surabaya, Persegres Gresik, Persema Malang, Persiba Balikpapan, Persipura Jayapura, Petrokimia Putra Gresik, PSIM Yogyakarta, PSIR Rembang, PSIS Semarang, PSM Makassar, Pupuk Kaltim Bontang, dan Putra Samarinda.

17 tim yang berada di masing-masing wilayah harus bertarung secara reguler dalam 32 pertandingan home and away. Empat tim teratas berhak lolos ke babak “8 Besar”, dan dua tim terbawah di masing-masing wilayah degradasi ke Divisi I.

Liga Indonesia/1994-95[sunting | sunting sumber]

Kendati keran pemain asing sudah dibuka lebar-lebar oleh PSSI, namun Persib tetap mengandalkan pemain lokal pada LI I/1994-95. Meskipun demikian, dominasi Persib yang sudah dipancangkan sejak pertengahan dekade 80-an, belum tergoyahkan. Dalam kompetisi gaya baru ini, Robby Darwis dan kawan-kawan tetap menjadi yang terbaik.

Persib memulai kompetisi dengan hasil buruk. Pada partai pembuka, Persib dikalahkan Pelita Jaya 0-1 melalui gol tunggal pemain asing asal Yugoslavia (sekarang Serbia), Dejan Gluscevic.Di babak reguler, dengan mengalami tiga kekalahan, Persib pun hanya lolos ke babak “8 Besar” sebagai runner-up di bawah Pelita Jaya. Setelah lolos ke Senayan, Persib membuka pertandingan Grup B, 20 Juli 1995, dengan hasil imbang tanpa gol dengan Petrokimia Putra. Dalam pertandingan ini, Petrokimia Putra menurunkan dua pemain asing andalannya, Jacksen Tiago (Brasil) dan penjaga gawang asal Trinidad & Tobago, Darryl Sinerine. Sementara pada pertandingan lain, ASGS membekap Medan Jaya 2-1.

Persib baru membuka peluang lolos ke semifinal setelah pada partai kedua, 23 Juli 1995, menundukkan Medan Jaya 2-1 dan pada pertandingan lain, Petrokimia Putra kembali bermain imbang 2-2 dengan ASGS. Hasil ini membuat persaingan perebutan dua tiket dari Grup B semakin panas, terutama tiga tim yang masih punya peluang yaitu Persib, ASGS dan Petrokimia Putra.

Pada partai penentuan, 26 Juli 1995, Persib tampil luar biasa ketika membekap pimpinan klasemen sementara, ASGS dengan skor telak 3-0, sekaligus menempatkan diri di babak semifinal sebagai juara Grup B. Persib akhirnya didampingi Petrokimia Putra yang menang 3-0 atas Medan Jaya.

Di babak semifinal, 28 Juli 1995, Persib bertemu Barito Putra yang menjadi runner-up Grup A. Dalam pertandingan yang berlangsung sengit, Persib akhirnya berhasil mematahkan perlawanan keras Barito Putra lewat gol tunggal Kekey Zakaria. Dengan seabreg tudingan Persib diselamatkan wasit pada babak semifinal, Robby Darwis dan kawan-kawan melenggang ke partai puncak untuk kembali berhadapan dengan Petrokimia Putra yang menyingkirkan Pupuk Kaltim 1-0 berkat gol tunggal Widodo Cahyono Putro.

Pada partai puncak, 30 Juli 1995, Persib masuk ke lapangan di bawah sorak sorai puluhan ribu bobotoh yang memadati Stadion Utama Senayan Jakarta. Seperti partai-partai sebelumnya, pada pertandingan final, pelatih Indra M. Thohir menurunkan skuad terbaiknya; Anwar Sanusi (kiper), Mulyana, Robby Darwis, Yadi Mulyadi (belakang), Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yudi Guntara, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar (tengah), Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso (depan).

Persib akhirnya kembali menorehkan sejarah dengan menjuarai LI I, setelah Sutiono Lamso menjebol gawang Petrokimia Putra pada menit 76. Penyerang Petrokimia Jacksen F. Tiago sempat mencetak gol di menit 30, namun dianulir oleh wasit Zulkifli Chaniago.[12] Hingga pertandingan usai, Petrokimia Putra gagal membuat gol balasan, yang membuat ribuan bobotoh berpesta pora di Stadion Utama Senayan.[13] Pesta serupa juga terjadi di Bandung dan seantero Jawa Barat. Bagi Sutiono Lamso, golnya ke gawang Petrokimia Putra itu melengkapi koleksi golnya pada musim itu menjadi 21 gol. Sebuah rekor yang hingga saat ini belum terpecahkan oleh striker Persib lainnya.

Berkat keberhasilannya menjadi juara LI, Persib menjadi wakil Indonesia di kancah Piala Champions Asia (kini menjadi Liga Champions Asia). Pada gelaran musim 1995 aksi anak-anak Bandung pun gilang-gemilang. Tim besutan Indra M. Thohir membukakan mata sepak bola internasional. Bermodalkan dua kemenangan atas Bangkok Bank (Thailand) dan Pasay City (Filipina) pesaingnya di babak awal Persib yang datang dengan status tim amatir, di antara para raksasa Asia dengan sepak bola profesionalnya, mampu merangsek hingga babak perempatfinal wilayah Timur yang digelar di Stadion Siliwangi.[14]

Sayang, tim pujaan masyarakat Tatar Pasundan tidak mampu berbuat lebih banyak lagi. Langkah raksasa mereka pun terhenti sampai di situ, setelah Verdy Kawasaki (Jepang) memberi luka 1-3, ditundukan Thai Farmers Bank (Thailand) 2-3, dan dihempas Ilhwa Chunwa (Korea Selatan) 1-4[14]. Kendati begitu, Persib masih bisa tersenyum, karena Indra M Thohir terpilih sebagai pelatih terbaik Asia versi AFC (Asosiasi Sepak bola Asia).

“Kalah dan terhenti di babak perempatfinal Wilayah Timur memang sudah diprediksi. Lawan yang kita hadapi, kualitasnya jauh di atas lawan-lawan Persib di babak penyisihan sebelumnya. Tapi, apapun adanya, langkah Persib sudah terekam dalam sejarah perhelatan Piala Champion Asia. Tim amatir tetapi mentalnya sangat profesional, sulit dilahirkan lagi dalam waktu yang relatif pendek,”

— Asep Kustiana, pencetak gol Persib ke gawang Ilhwa Chunma (sekarang Seongnam FC)

Persib tercatat pernah menghadapi AC Milan dalam laga persahabatan tanggal 4 Juni 1994 di Stadion Utama Senayan (kini SUGBK). Pasukan pimpinan pelatih legendaris Italia Fabio Capello menghajar Pangeran Biru 0-8 lewat gol Dejan Savićević ('17, '18), Gianlugi Lentini ('26), Paolo Baldieri ('27, '48, '58), Christian Antigori ('68), dan Stefano Desideri ('78).[15][16]

Liga Indonesia 1995-96[sunting | sunting sumber]

Pada LI II/1995-96, pengurus Persib melakukan pergantian pelatih. Setelah mengantarkan Persib menjuarai LII/1995-96 dan perempatfinal Piala Champions Asia, Indra M. Thohir lengser. Sebagai penggantinya, Risnandar Soendoro melakukan langkah-langkah regenerasi dengan menyelipkan sejumlah pemain muda seperti Yaris Riyadi, Imam Riyadi dan Dadang Hidayat ke dalam skuat yang masih didominasi muka-muka lama.

Adapun pasukan Risnandar pada LI/II 1995-96 adalah Anwar Sanusi, Gatot Prasetyo (kiper), Nandang Kurnaedi, Hendra Komara, Roy Darwis, Mulyana, Robby Darwis, Nana Supriatna, Yadi Mulyadi, Dadang Hidayat (belakang), Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara, Asep Kustiana, Asep Sumantri, Yaya Sunarya, Imam Riyadi, Yaris Riyadi, Mustika Hadi, Gengen (tengah), Sutiono Lamso, Kekey Zakaria, Asep Dayat, Asep Poni, dan Dadang Rusmana (depan).

Setelah menyelesaikan 28 pertandingan di babak reguler Wilayah Barat, Persib menempati peringkat ketiga klasemen akhir dengan catatan 13 menang, 11 seri dan 4 kali kalah. Dari wilayah Barat, Persib lolos ke babak “12 Besar” bersama Mastrans Bandung Raya, Pelita Jaya Jakarta, Persita Tangerang, Persikab Kab. Bandung dan Mataram Indocement. Sedangkan 6 tim yang lolos dari Wilayah Timur adalah PSM Makassar, Mitra Surabaya, Pupuk Kaltim Bontang, Gelora Dewata, Persipura Jayapura dan Putra Samarinda.

Di babak “12 Besar” yang dibagi ke dalam tiga grup, Persib bergabung di Grup C bersama tuan rumah PSM, Persipura dan Mataram Indocement. Pada pertandingan pembuka di Stadion Mattoangin, Makassar, 24 September 1996, Persib langsung ditekuk Persipura 1-2. Sementara pada pertandingan lain, PSM membekap Mataram Indocement 1-0.

Dua hari kemudian, 26 September 1996, Persib bangkit sekaligus membuka peluang untuk lolos ke babak semifinal sebagai runner-up terbaik, setelah memukul Mataram Indocement 2-0. Tiket semifinal di grup ini akhirnya menjadi milik PSM setelah pada hari yang sama mencatat kemenangan 1-0 atas Persipura.

Sayang, Persib akhirnya harus gagal mempertahankan gelar juara yang direbut tahun sebelumnya, karena pada partai penentuan, 28 September 1996, Robby Darwis dan kawan-kawan harus mengakui keunggulan PSM 0-1. PSM akhirnya didampingi Persipura ke babak semifinal setelah menjadi runner-up terbaik usai membantai Mataram Indocement 4-0.

Liga Indonesia 1996-97[sunting | sunting sumber]

Pergantian pelatih Persib kembali terjadi di awal perhelatan Liga Indonesia (LI) III/1996-97. Pengurus Persib kali ini menunjuk Nandar Iskandar sebagai arsitek “Maung Bandung”. Ketika itu, pengurus Persib juga memutuskan mengontrak Nandar untuk dua musim sekaligus.

Berbeda dengan dua musim sebelumnya, LI III dibagi ke dalam tiga wilayah, Barat, Tengah dan Timur, masing-masing diikuti 11 klub. Bermaterikan pemain yang tidak jauh berbeda dengan musim sebelumnya, Nandar sukses membawa Persib menjuarai Wilayah Tengah dengan catatan 8 kali menang, 10 imbang dan 2 kali kalah. Sebagai juara Wilayah Tengah, Persib lolos ke babak “12 Besar” bersama Pelita Jaya Mastrans, Mitra Surabaya dan Barito Putra. Dari wilayah lain, tim-tim yang lolos ke babak “12 Besar” adalah Persebaya Surabaya, Bandung Raya, Arema Malang, Persiraja Banda Aceh (Barat), PSM Makassar, Gelora Dewata, Persma Manado dan Persipura Jayapura (Timur).

Sebagai juara Wilayah Tengah, Persib mendapat jatah tuan rumah di babak “12 Besar”. Robby Darwis dan kawan-kawan menjadi tuan rumah Grup B menjamu tiga kontestan lainnya, Bandung Raya, Persma Manado dan Barito Putra.

Sayang, Persib gagal memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah. Setelah menang 1-0 dari Barito Putra pada partai pembuka, 13 Juli 1997, Persib hanya mampu bermain imbang tanpa gol dengan Bandung Raya, 15 Juli 1997, dan Persma, 17 Juli 1997. Akibatnya, Persib harus merelakan tempatnya di semifinal kepada rival sekotanya, Bandung Raya yang membekap Persma 3-0 dan Barito Putra 2-0. Dengan nilai 5, hasil sekali menang dan 2 seri, Persib harus puas menjadi runner-up Grup B di bawah Bandung Raya yang mengumpulkan nilai 7.

Bandung Raya yang merupakan juara bertahan akhirnya terus melaju hingga partai puncak sebelum ditundukkan Persebaya Surabaya 1-3 di Stadion Utama Senayan, Jakarta, 28 Juli 1997.

Liga Indonesia 1997-98[sunting | sunting sumber]

Kendati masih “mengharamkan” pemain asing, pada Liga Indonesia (LI) IV/1997-98, Persib mulai membuka keran bagi pemain yang bukan binaan sendiri. Ketika itu, pelatih Nandar Iskandar memboyong beberapa pemain dari luar Jawa Barat untuk memperkuat skuat yang ada. Maka, bergabunglah dua pemain PSMS Medan, M. Halim (kiper) dan Khair Rifo, striker Bandung Raya, Peri Sandria dan Surya Lesmana, gelandang asal Persijatim Jakarta Timur, Iskandar dan mantan striker Petrokimia Putra dan Barito Putera, Gatot Indra.

Namun, kedatangan para pemain dari luar Jawa Barat itu justru menimbulkan persoalan yang mengganggu keharmonisan tim. Akibat perlakuan yang berbeda antara pemain pendatang dan pemain binaan Persib, gap di antara para pemain pun terjadi. Pemain lokal binaan Persib mulai cemburu dengan perbedaan perlakuan pengurus. Pemain Kamerun Kisito Piere Olinga ‘Kopa’ Atangana sempat menunjukkan ketertarikannya membela Persib namun akhirnya tidak terpenuhi.

“Saya memang banyak memperkuat klub yang beredar di Liga Indonesia. Tapi terasa tidak lengkap karier sepak bola saya karena tidak bisa menjadi bagian Persib. Padahal, saya begitu bernafsu ingin membela Persib setelah sukses bersama Bandung Raya. Entah kenapa manajemen tim Persib tidak sekalipun mau memalingkan pilihan pada diri saya,”

- mantan pemain Bandung Raya Pierre Olinga "Kopa" Atangana

Akibatnya, perjalanan Persib di LI IV pun mulai gontai. Tergabung di Wilayah Tengah, Persib mengalami lima kekalahan dalam 15 partai awal yang dimainkannya. Catatan terburuk dalam empat musim terakhir. Ini membuat posisi Nandar terancam. Bahkan, ratusan bobotoh sempat menghadiahkan karangan bunga kematian buat Nandar.

Namun, Nandar selamat dari kecaman yang lebih hebat. Pasalnya, PSSI akhirnya memutuskan untuk menghentikan kompetisi pada tanggal 25 Mei 1998, akibat kerusuhan sosial yang melanda Indonesia. Ketika itu, Persib baru memainkan 15 partai dengan catatan 6 kali menang, 4 seri dan 5 kali kalah dan tertahan di peringkat kelima klasemen sementara.

Liga Indonesia 1998-99[sunting | sunting sumber]

Memasuki LI V/1998-99, persiapan Persib diwarnai konflik internal yang berkepanjangan. Lantaran ketidakjelasan manajemen tim, sejumlah pilar Persib, khususnya yang bukan pemain binaan seperti M. Halim, Iskandar, Surya Lesmana, Giman Nurjaman, Khair Rifo dan Gatot Indra memilih hengkang.

Tidak hanya itu, para pemain binaan sendiri yang selama ini menjadi ikon Persib turut kabur. Para pemain yang terpaksa pergi dengan hati terluka, akibat perselisihan dengan manajemen tim itu adalah Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Gatot Prasetyo, Asep Dayat dan Hendra Komara.

Akibat kehilangan banyak pilar, Persib yang ketika itu ditangani pelatih debutan M. Suryamin dan Manajer H.M. Sanusi tampil di LI V dengan kekuatan compang-camping. Plus kondisi internal tim yang sudah tidak kondusif, serta munculnya faktor klenik dalam mempersiapkan tim, Persib mengalami keterpurukan dan harus kehilangan tempat di jajaran elit sepak bola nasional.

Bahkan, setelah memainkan 6 dari 8 pertandingan yang harus dijalani, Persib yang tergabung di Wilayah Barat Grup B nyaris terlempar ke Divisi I. Dalam enam pertandingan itu, Nana Priatna dan kawan-kawan hanya mencatat hasil 2 kali menang, sekali seri dan 3 kali kalah. Beruntung, Persib masih bisa menghindari degradasi setelah mencatat kemenangan 3-1 atas Persita Tangerang di Stadion Benteng, Tangerang, 7 Februari 1999. Meski pada partai terakhir kembali kalah 1-3 dari Persija di Stadion Siliwangi, Persib tetap selamat dan tiket degradasi menjadi milik Persita.

Liga Indonesia 1999-00[sunting | sunting sumber]

Meski nyaris terdegradasi, pelatih M. Suryamin masih dipertahankan Persib pada LI VI/1999-00. Namun, karena besarnya pengaruh faktor klenik dalam perjalanan tim serta buruknya prestasi Nandang Kurnaedi dan kawan-kawan dalam lima pertandingan awal, Suryamin akhirnya harus lengser. Akibat tekanan publik, pers, dan pengurus, Suryamin akhirnya menyatakan mengundurkan diri. Suryamin mundur setelah Persib dikalahkan Persita dan Persikab 0-1, dua kali imbang lawan Indocement Cirebon dan Medan Jaya serta dibekap Semen Padang 0-3.

Pada saat konferensi pers pengunduran dirinya di Sekretariat Persib, Jalan Gurame Bandung, Suryamin menyatakan ia terpaksa menanggalkan jabatannya sebagai pelatih Persib karena merasa didzalimi semua orang, termasuk pers yang dinilai selalu memojokkannya. “Celakalah bagi orang-orang yang telah berbuat dzalim,” hardik Suryamin yang ketika itu terlihat sangat emosional.

Menyusul pengunduran diri Suryamin di tengah jalan, pengurus Persib akhirnya menunjuk Indra M. Thohir sebagai penggantinya. Inilah kejadian pertama kali pengurus Persib melakukan pergantian pelatih di tengah jalan sepanjang sejarah perjalanan LI.

Ditangani pelatih yang membawa Persib menjuarai LI I/1994-95, prestasi Persib secara perlahan mulai menanjak. Kendati demikian, hampir sepanjang kompetisi, bayang-bayang degradasi masih tetap menghantui Persib. Mulyana dan kawan-kawan baru bisa keluar dari ancaman degradasi dalam empat pertandingan terakhir.

Kemenangan dalam menahan PSP Padang 0-0 di Padang (18/5/00), Persib mencatat tiga pertandingan kandang secara beruntun yaitu dengan membekap Persijatim 2-0, (28/5/00), PSBL 3-0 (1/6/00) dan Indocement Cirebon 1-0 (8/6/00), sekaligus mengamankan tempat di Divisi Utama musim berikutnya. Di akhir kompetisi reguler Wilayah Barat, Persib berada di posisi 8 dengan nilai 32, hasil 8 kali menang, 8 seri dan 10 kali kalah.

Liga Indonesia 2001[sunting | sunting sumber]

Berhasil menyelamatkan Persib dari ancaman degradasi, Indra M. Thohir kembali dipercaya menangani “Maung Bandung” pada LI VII/2001. Untuk memperkuat skuatnya, Indra Thohir merekrut beberapa pemain anyar seperti Abdus Shobur, Luis Simoes, Nana Setia dan mantan pemain Pelita Jakarta. Yang sedikit menghebohkan, Indra Thohir juga memanggil kembali gelandang mungil, Yusuf Bachtiar yang sudah lama absen membela Persib.

Meski sempat mengundang pertanyaan di kalangan bobotoh, namun Thohir tetap pada keputusannya. Hasilnya, Persib kembali masuk ke jajaran elit sepak bola nasional setelah memastikan diri lolos ke babak “8 Besar”. Yaris Riyadi dan kawan-kawan lolos ke babak “8 Besar” setelah menempati peringkat ketiga klasemen akhir Wilayah Barat dengan catatan 15 kali menang, 2 seri dan 9 kali kalah.

Di babak “8 Besar” Persib bergabung di Grup A bersama tuan rumah PSMS Medan, Persebaya Surabaya dan Barito Putra. Bertanding di Stadion Teladan Medan, Persib sempat membuka harapan untuk lolos ke semifinal, ketika pada pertandingan pembuka, (26/9/01), membekap Barito Putra 2-1 lewat gol Mulyana dan Yaris Riyadi.

Namun, pada partai kedua, (28/9/01), Persib harus mengakui keunggulan tuan rumah PSMS Medan 0-1. Kekalahan itu membuat Persib harus menjalani partai hidup-mati melawan Persebaya yang juga mencatat hasil sekali menang 1-0 atas Barito Putra dan kalah 1-2 dari PSMS. Dalam pertandingan penentuan itu, baik Persib maupun Persebaya wajib meraih kemenangan untuk mendampingi PSMS lolos ke semifinal.

Tapi, dalam pertarungan yang berlangsung sengit, (30/9/01), Persib dan Persebaya bermain imbang 0-0 dalam waktu 2 x 45 menit. Karena sama-sama mengumpulkan nilai 4 dengan selisih gol yang sama 2-2, pertandingan terpaksa harus diselesaikan melalui perpanjangan waktu. Petaka buat Persib akhirnya datang pada menit 115, ketika Reinold Pieters menjebol gawang Persib yang dikawal Anwar Sanusi. Gol Reinald itu tak bisa disamakan hingga pertandingan usai dan Persib harus merelakan tempatnya di babak semifinal kepada Persebaya.

“Gol itu terasa sangat menyakitkan. Sebab, gol itu membuat kita gagal berangkat ke Senayan,” kenang penjaga gawang Persib, Anwar Sanusi.

Liga Indonesia 2002[sunting | sunting sumber]

Pada LI VIII/2002, gerakan regenerasi dilakukan pengurus terhadap jajaran pelatih. Indra M. Thohir yang mengantarkan Persib lolos ke babak “8 Besar” LI VII/2001 tidak dipertahankan. Sebagai gantinya, pengurus Persib menunjuk trio pelatih muda, Denny Syamsudin, Dedi Sutendi dan Lukas Tumbuan.

Berdasarkan prestasi Persib pada musim sebelumnya, untuk LI VIII/2002, pengurus Persib membebankan target kepada Denny Syamsudin yang bertindak sebagai pelatih kepala untuk lolos ke babak “8 Besar”. Untuk menopang target tersebut, Persib pun mendatangkan sejumlah pemain bintang seperti Ansyari Lubis, Budiman, Widiantoro, Heri Rafni Kotari dan Hari Saputra. Ketiga pemain tersebut melengkapi muka-muka lama macam Yaris Riyadi, Sujana, Ruhiat, Dadang Hidayat, Asep Dayat dan Suwita Pata.

Dengan materi pemain yang dimilikinya, Denny sebenarnya bisa melanjutkan tradisi yang dibuat Indra M. Thohir sebelumnya, yaitu tak pernah kalah di kandang sendiri. Dari 11 partai kandang yang dimainkannya, Persib mencatat rekor 8 kali menang dan 3 seri. Sayang, hasil mengesankan pada partai home itu berbanding terbalik dengan hasil-hasil di luar kandang. Kekalahan demi kekalahan yang dialami Persib pada pertandingan away membuat Persib terpuruk dan bahkan hantu degradasi mulai membayangi sejak pertengahan musim.

Persib baru bisa menghindarkan diri dari ancaman degradasi pada tanggal 5 Mei 2002, setelah mencatat kemenangan dengan “skor aneh” 5-0 atas tetangganya, Persikab Kab. Bandung di Stadion Siliwangi. Lima gol Persib yang disumbangkan Ansyari Lubis, Sujana (2 gol), Ruhiat dan Yaris Riyadi dengan mudah menjebol gawang Persikab yang dikawal kiper Jajang Sinar Surya.

Tuduhan adanya “main mata” pun mencuat. Pasalnya, ketika itu Persikab sudah dipastikan degradasi ke Divisi I menyusul hasil buruk sepanjang kompetisi. “Ketika itu, memang ada pembicaraan tingkat tinggi di antara para pengurus Persib dan Persikab untuk menyelamatkan Persib dari ancaman degradasi,” kata salah seorang pemain Persikab yang meminta namanya dirahasiakan. Meski sudah ada pengakuan dari kubu Persikab, namun tudingan tersebut tentu saja dibantah kubu Persib.

Setelah lepas dari ancaman degradasi, pada partai pamungkas, Persib akhirnya bisa menghindari rekor buruk tak pernah menang di kandang lawan. Pada tanggal 12 Mei 2002, dua gol Sujana dan Heri Rafni Kotari ke gawang PSBL Bandar Lampung di Stadion Pahoman, mengantarkan Persib untuk pertama kalinya mencatat kemenangan tandang. Persib mengakhiri LI VIII/2002 di peringkat ke-8 dari 12 kontestan Wilayah Barat dengan rekor sekali menang, 2 seri dan 8 kali kalah pada partai tandang.

Liga Indonesia 2003[sunting | sunting sumber]

Revolusi besar-besaran yang cenderung spekulatif dilakukan pengurus Persib pada LI IX/2003. Setelah delapan musim selalu mengandalkan pelatih dan pemain lokal, pengurus Persib melakukan langkah bersejarah dengan merekrut pelatih dan pemain asing. Terinspirasi kesuksesan pelatih asal Polandia, Marek Janota, yang melahirkan banyak bintang Persib di awal dekade 80-an, pengurus menunjuk Marek Andrejz Sledzianowski sebgai pelatih.

Sejarah lain yang dibuat Persib pada LI IX/2003 adalah dibukanya keran bagi pemain asing. Marek yang pada awalnya diproyeksikan untuk menangani pemain Persib U-23 yang akan tampil di Pekan Olahraga Daerah (Porda) IX/2003 di Indramayu, memboyong pemain asing yang juga berasal dari Polandia. Kwartet Polandia, Mariusz Mucharski, Pawel Bocian, Piotr Orlinski dan Maciej Dolega menjadi pemain asing pertama yang berkostum Persib.

Keberanian Marek memasukan nama-nama pemain muda yang masih hijau seperti Yosef Nandang, Rahman F., Jaenal Abidin, Jaja Hidayat dan Eka Santika ternyata tak membuahkan hasil. Keputusan mendepak Yaris Riyadi, Suwita Pata, Cecep Supriatna, Sujana dan sejumlah pemain lain yang merupakan ikon Persib malah membawa Persib pada kehancuran. Pada masa “kepemimpinan” Marek, Persib mencatat sejarah paling kelam sepanjang sejarah; melewati 12 pertandingan beruntun tanpa kemenangan.

Hasil buruk itu membuat kepanikan melanda Persib. Bobotoh yang kecewa dengan prestasi Dadang Hidayat dan kawan-kawan langsung berteriak; “Ganti Marek!”. Meski terkesan ragu, atas desakan bobotoh, setelah sempat melarang mendampingi tim dalam empat partai away melawan PSS Sleman, Persijatim Solo FC, Arema Malang dan Perseden Denpasar, pengurus dan manajemen tim akhirnya memecat Marek. Sebagai gantinya, untuk sementara pengurus mempercayakan kepada dua asisten Marek, Bambang Sukowiyono dan Iwan Sunarya.

Ketika duet Suko-Iwan menangani tim, pengurus dan manajemen tim sudah mendapatkan pengganti Marek. Dia adalah pelatih asal Cili, Juan Antonio Paez. Awalnya ia hanya mendampingi tim sebagai Direktur Teknik yang bertugas memberikan masukan kepada duet pelatih Suko-Iwan. Baru setelah pengurus dan manajemen tim akhirnya mencopot Suko dan Iwan menjelang akhir putaran pertama, Paez mulai menangani tim secara langsung.

Setelah Suko dan Iwan dicopot, Paez praktis bekerja sendirian menangani tim. Dalam setengah putaran, Paez mengemban misi sulit; mengangkat Persib dari posisi paling buncit, sekaligus menyelamatkan diri dari ancaman degradasi. Setelah menunjuk Yaya Sunarya dan Kun Syanto sebagai asisten pelatih, Paez dan manajemen tim langsung mengambil langkah cepat dengan melakukan perombakan tim. Pemain-pemain yang dinilai tidak berguna dicoret dan digantikan dengan pemain anyar.

Kendati sempat menyisakan masalah menyangkut pembayaran sisa kontrak, manajemen tim akhirnya memutus kontrak tiga pemain Polandia yang masih tersisa, Mariusz Mucharski, Piotr Orlinski dan Maciej Dolega di penghujung putaran pertama. Pemain lokal yang turut terdepak adalah Yosep Nandang, Jaja Hidayat, dan Rahman F. Sebagai gantinya, manajemen Persib mengimpor pemain asing baru asal Cili, Alejandro Tobar, Rodrigo Lemunao (kemudian dicoret lagi), Rodrigo Alejandro Sanhueza dan Claudio Lizama. Untuk pemain lokal, Paez merekrut pemain yang sudah jadi macam Marwal Iskandar, Suwandi H.S., Mulyono Geroda, dan penjaga gawang Agus Setiawan.

Dengan kekuatan baru, yang jauh berbeda dengan putaran pertama, Persib mulai bangkit. Setelah sempat tertatih-tatih di awal putaran kedua, Persib benar-benar bangkit memasuki bulan Juli. Setelah bermain imbang dengan PSS Sleman 1-1, Dadang Hidayat dan kawan-kawan membekap Persijatim Solo FC. Berikutnya, Persib membuat catatan tak terkalahkan dalam delapan partai selanjutnya, termasuk sukses menahan juara bertahan Petrokimia Putra dan mengalahkan Barito Putra di kandangnya.

Namun, akibat kekalahan 0-4 dari Persik Kediri dan 0-1 dari PSIS Semarang dalam dua partai terakhir, Persib gagal keluar dari zona degradasi. Persib mengakhiri kompetisi di peringkat ke-16 dari 20 tim yang mengikuti kompetisi satu wilayah. Kalau mengacu kepada aturan awal PSSI yang menyebutkan enam tim terbawah langsung terdegradasi, mestinya riwayat Persib di Divisi Utama sudah berakhir.

Beruntung buat Persib, pada pertengahan musim, PSSI sudah mengubah aturan tim yang terdegradasi dari 6 menjadi 4 tim. Dua tim yang menempati peringkat 15 dan 16 masih diberi kesempatan melalui babak play-off dengan peringkat dua tim Divisi II di Stadion Manahan Solo, untuk memperebutkan dua tiket di Divisi Utama. Ada kabar, diadakannya babak play-off ini merupakan salah satu upaya PSSI untuk menyelamatkan Persib dari ancaman degradasi. Isu tersebut tentu saja dibantah oleh Trie Goestoro, Sekjen PSSI ketika itu.

Setelah memainkan tiga partai play-off, Persib akhirnya selamat dari aib besar terlempar ke Divisi I seperti yang pernah terjadi pada tahun 1978. Persib lolos dari degradasi setelah mencatat kemenangan 1-0 atas Persela Lamongan dan PSIM Yogyakarta serta bermain imbang 4-4 dengan Perseden Denpasar.

Liga Indonesia 2004[sunting | sunting sumber]

Sukses menyelamatkan Persib dari ancaman degradasi di babak play-off, Juan Antonio Paez dianggap sebagai pahlawan oleh bobotoh. Meski sebagian pengurus tidak setuju dengan sebutan pahlawan, karena menilai lolosnya Persib dari degradasi berkat lobi mereka ke PSSI, namun Paez tetap dipercaya menangani Persib pada LI X/2004. Sebagian besar pemain yang dianggap berjasa menyelamatkan Persib pada LI IX/2003 pun tetap dipertahankan, termasuk Alejandro Tobar dan Claudio Lizama.

Untuk melengkapi lima kuota pemain asing, Paez mendatangkan striker haus gol asal PSIS Semarang, Julio Lopez, serta Angelo Andres Espinoza dan Adrian Colombo. Dari jajaran pemain lokal, manajemen Persib juga merekrut dua mantan pemain nasional, Alexander Pulalo dan Imran Nahumaruri. Selain itu, Persib pun memulangkan sejumlah ikon Persib yang sempat hengkang pada LI IX/2003 seperti Suwita Pata (PSS Sleman), Yaris Riyadi (Pelita KS) dan Cecep Supriatna (Persijatim Solo FC). Pemain binaan Persib lainnya yang berhasil dipulangkan adalah Usep Munandar, Deden Hermawan (Barito Putra), Erik Setiawan (Persebaya Surabaya) dan Andi Supendi (Persija Jakarta).

Berbeda dengan musim sebelumnya, kali ini materi pemain Persib dinilai sangat menjanjikan. Dengan format kompetisi satu wilayah, prestasi Persib mulai menanjak. Hantu degradasi yang selalu membayangi Persib dalam dua musim terakhir tidak lagi muncul. Meski tidak terlalu fantastis, Persib mulai bisa bersaing di papan atas lagi. Namun, di tengah perjalanan, badai besar mulai menerpa kapal bernama Persib. Disertai berbagai intrik, sejumlah masalah mulai mencuat ke permukaan. Insiden mundurnya pelatih kiper, Boyke Adam dari tim menjadi awal munculnya gesekan antara Paez, pengurus dan manajemen tim Persib. Paez merasa, pencoretan Boyke merupakan intrik tingkat tinggi dalam upaya menjatuhkan dirinya.

Gesekan Paez dengan pengurus dan manajemen tim semakin meruncing, ketika Manajer H.M. Sanusi menyatakan mengundurkan diri menjelang putaran pertama berakhir. Alasan H. Uci, sapaan akrabnya, adalah kesibukannya. Tapi, sejumlah pemain dan ofisial tim Persib ketika itu mengakui kalau Paez dan H. Uci sempat terlibat “perang mulut” di Wisma Puri Asri, mes Persib pada malam sebelum pengunduran dirinya.

“Pada malam harinya (sebelum mundur), Paez dan H. Uci sempat dor dar di sini (Wisma Puri Asri). Ketika itu terdengar ada ancaman dari Paez, dia (Paez) yang mundur atau H. Uci,” kata salah seorang pilar Persib di LI X/2004.

Perseteruan terselubung di dalam tim membuat suasana tidak kondusif. Langkah Persib pun mulai limbung dihantam berbagai persoalan yang seharusnya tidak terjadi ketika prestasi tim sedang menanjak. Menjelang akhir putaran pertama, persoalan semakin meruncing ketika di luar dugaan Persib memulangkan Julio Lopez dan Adrian Colombo. Padahal, kinerja duet striker Persib itu pada putaran pertama sangat baik. Colombo dan Lopez merupakan pencetak gol tersubur dengan masing-masing 9 dan 7 gol. Ketika itu, Paez beralasan, pencoretan Colombo karena cedera yang dialaminya, sedangkan Lopez karena persoalan pribadinya.

Selain Colombo dan Lopez, Paez mendepak juga tiga pemain lainnya yaitu Andi Supendi, Dadang Sudradjat dan Angelo Andres Espinoza. Sebagai gantinya, Persib mendatangkan duet striker baru, Osvaldo Moreno (Paraguay) dan Cristian Molina (Cili). Mantan pemain Bandung Raya dan tim nasional, Nur'alim, juga turut direkrut untuk memperkuat lini pertahanan.

Setelah itu, Paez sendiri sempat menyatakan mundur dari tim usai Persib mengalahkan Persipura Jayapura 1-0 di Stadion Siliwangi (8/8/04), karena merasa dirinya sudah tidak mendapat dukungan lagi dari pengurus. “Semuanya menyerang saya. Lebih baik saya mundur dari tim, demi kebaikan Persib,” kata Paez.

Namun, setelah diadakan pembicaraan tingkat tinggi di Hotel Grand Hyatt, pengurus meminta Paez untuk melanjutkan tugasnya, setidaknya hingga akhir musim. Paez memang melunak, tetapi karena kondisi tim sudah tidak kondusif, akibat terus diterpa berbagai persoalan dan intrik hampir di sepanjang musim, langkah Persib mulai gontai di putaran kedua. Beruntung, dalam situasi seperti itu, Persib mampu bertahan untuk mengakhiri kompetisi di peringkat keenam dengan nilai 49, hasil; 12 kali menang, 13 seri dan 9 kalah.

Sebenarnya, prestasi yang diraih Persib kali ini jauh lebih baik ketimbang musim sebelumnya. Sayang, prestasi lumayan itu tercoreng oleh rekor tak pernah menang dalam partai away. Sesuatu yang baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah LI. Dari 17 partai tandang dimainkan, Persib hanya bisa meraih nilai 8, hasil dari 8 kali seri dan 9 kali kalah.

Liga Indonesia 2005[sunting | sunting sumber]

Kendati masih ingin menangani Persib pada LI XI/2005, Juan Antonio Paez akhirnya terdepak. Sebagai gantinya, pengurus kembali menunjuk pelatih lokal. Meski demikian, pelatih yang ditunjuk itu tetap muka lama. Dia adalah Indra M. Thohir, pelatih yang dianggap bertangan dingin karena sukses membawa Persib menjuarai LI I/1994-95 dan lolos ke babak “8 Besar” LI VII/1999-00.

Penunjukan Indra Thohir sebagai pelatih tidak terlepas dari harapan ia bisa kembali mengangkat prestasi Persib ke puncak tertinggi. Seperti halnya pengurus yang sudah rindu gelar juara, bobotoh pun punya harapan serupa. Mereka berharap, di bawah penanganan Thohir, setidaknya Persib bisa kembali lolos ke babak “8 Besar” yang menjadi simbol jajaran elit persepak bolaan nasional.

Di bawah penanganan Thohir dan Manajer Ir. Chandra Solehan, Persib nyaris tanpa gejolak. Kecuali isu munculnya gerakan “Asal Bukan Cili” yang membuat Paez dan dua pemain asal Cili, Alejandro Tobar, Claudio Lizama dan Cristian Molina terdepak. Alex Pulalo, Imran Nahumarury, Nuralim dan Suwandi H.S. memilih hengkang ke klub lain.

Dalam menyusun skuatnya, seperti di LI I dan LI VII, Thohir lebih percaya pada kekuatan lokal. Karena itu, muka-muka lama seperti Yaris Riyadi, Suwita Pata, Dadang Hidayat, Cecep Supriatna, Erik Setiawan, Usep Munandar, Deden Hermawan, Asep Dayat, Imral Usman dan Gilang Angga dipertahankannya. Di luar itu, Thohir juga memulangkan Boy Jati Asmara (Persipura Jayapura), Eka Ramdani (Persijatim Solo FC), Aceng Juanda (PSS Sleman), Edi Hafid Murtadho (Persitara Jakarta Utara) dan Cucu Hidayat (Persikad Depok) ke Bandung. Untuk memperkuat materi pemain lokal yang dimilikinya, Thohir dan manajemen tim tetap mengoptimalkan kuota lima pemain asing dari PSSI. Setelah sempat membidik dua pemain tim nasional Singapura asal Nigeria, Itimi Dickson dan Agu Casmir, Persib akhirnya mendapatkan Antonio “Toyo” Claudio, Uilian Souza Da Silva (Brasil), Pradith Taweetchai (Thailand), Ekene Michael Ikenwa (Nigeria), dan Chioma Kingsley (Burkina Faso) yang masuk belakangan.

Dibantu duet asisten pelatih Bambang Sukowiyono dan Encas Tonif, Thohir mulai menyulap pasukannya menjadi tim yang disegani. Dengan filosofi simple football-nya, Thohir berhasil mempertahankan rekor tak terkalahkan dalam partai kandang yang dibuat Juan Antonio Paez pada musim sebelumnya. Hingga menjelang akhir kompetisi, Persib pun terus bersaing di papan atas Wilayah Barat dan bahkan nyaris lolos ke babak “8 Besar”.

Tapi, harapan bobotoh untuk melihat kembali Persib bertarung di babak “8 Besar” akhirnya harus sirna, ketika Persib harus kehilangan angka pada saat bermain imbang 1-1 dengan PSMS Medan di Stadion Siliwangi. Kegagalan Persib masuk ke jajaran elit nasional benar-benar musnah, ketika dalam dua pertandingan terakhir di kandang lawan dibekap Arema Malang 0-1 dan dinyatakan kalah walk over (WO) dari Persija Jakarta, karena Dadang Hidayat dan kawan-kawan tidak bisa hadir di Stadion Lebak Bulus gara-gara teror berlebihan The Jakmania. Akhirnya, Persib harus puas berada di peringkat kelima klasemen akhir Wilayah Barat dengan catatan 10 kali menang, 8 seri dan 8 kekalahan. Persib kalah bersaing dengan Persija Jakarta, Arema Malang, PSIS Semarang dan PSMS Medan yang akhirnya mewakili Wilayah Barat ke babak “8 Besar”.

Liga Indonesia 2006[sunting | sunting sumber]

Pada LI XII/2006, Risnandar Soendoro kembali naik tahta menggantikan Indra M. Thohir. Sayang, prestasi Risnandar yang sempat membawa Persib lolos ke babak “12 Besar”, gagal terulang. Malahan, Risnandar harus mengalami nasib tragis, karena harus menanggalkan jabatannya sebagai pelatih, ketika baru memimpin Persib dalam dua pertandingan awal. Risnandar menorehkan rekor sebagai pelatih tersingkat yang menangani Persib, memecahkan catatan Suryamin di LI VI/1999-00.

Risnandar terpaksa harus mengundurkan diri karena desakan ribuan bobotoh yang melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di Stadion Siliwangi, sesaat setelah Charis Yulianto dan kawan-kawan mengalami kekalahan kedua dari Persijap Jepara 0-1. Pada pertandingan pembuka LI XII di Stadion Siliwangi, Persib juga dibekap PSIS Semarang dengan skor 1-2.

Kendati sebelumnya sempat mengungkapkan bakal mundur jika Persib mengalami tiga kekalahan beruntun, namun Risnandar mengambil keputusan lebih cepat. “Demi kebaikan Persib, saya tidak harus menunggu hingga pertandingan ketiga,” kata pelatih yang juga mengalami hal yang sama ketika menangani Persikab Kab. Bandung di LI VI/1999-00.

Sebagai bentuk rasa tanggung jawab, keputusan mundur Risnandar juga diikuti asistennya, Encas Tonif. Untuk mengisi kekosongan pelatih saat menjalani pertandingan away di Medan dan Deli Serdang, untuk sementara pengurus Persib menunjuk pelatih Persib U-23, Djadjang Nurdjaman untuk mendampingi Dedi Sutendi, asisten pelatih Risnandar yang masih tetap berada di tim.

Setelah mengalami kekalahan 2-1 dari PSMS Medan dan 4-1 dari PSDS Deli Serdang, pengurus Persib akhirnya merekrut mantan pelatih Persija Jakarta, Arcan Iurie Anatolievici untuk melanjutkan tugas Risnandar. Sedangkan Djadjang dan Dedi dipercaya menjadi asistennya. Pengurus dan manajemen tim Persib berharap, pelatih asal Moldova yang sukses membawa Persija menjadi runner-up LI XI/2005. Untuk memperkuat skuatnya, Iurie merekrut dua tambahan pemain asing yaitu penjaga gawang Kosin Hattahairathanakool (Thailand) dan striker Reduoane Barkaoui (Maroko). Dua legiun asing tersebut melengkapi tiga pemain asing yang dimiliki Persib sebelumnya yaitu Antonio Claudio (Brasil), Nipont Chanrawut dan Pradith Taweetchai (Thailand).

Di bawah penanganan Iurie, Persib yang memiliki materi pemain cukup bagus, langsung menggeliat. Pada pertandingan perdananya, Iurie sukses memberikan kemenangan, ketika membekap PSIM Yogyakarta 2-0 di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, lewat dua gol Zaenal Arief dan Gendut Doni Christiawan. Euforia kebangkitan Persib terasa semakin kencang pada saat Persib memainkan dua partai kandang berikutnya. Meski dengan susah payah, Salim Alaydrus dan kawan-kawan membekap Arema Malang 1-0 dan Persekabpas Pasuruan 3-2. Pada pertandingan away, Persib pun berhasil menahan Persija Jakarta di Stadion Lebak Bulus dan Persikota Tangerang di Stadion Benteng.

Namun, memasuki partai keenamnya di bawah besutan Iurie, kinerja Persib kembali melorot. Bermain imbang tanpa gol dengan Sriwijaya FC. Dalam sebuah pertandingan tanpa penonton di lapangan Pusdikpom Cimahi. Kemenangan 1-0 atas Semen Padang melalui tendangan penalti Barkaoui pada pertandingan berikutnya mulai memunculkan keraguan banyak kalangan menyangkut kinerja Iurie. Dalam dua partai penutup putaran pertama, Persib juga dibekap Persita 2-1 dan Persitara Jakarta Utara 3-1.

Memasuki putaran kedua, Iurie memutuskan mendepak Pradith Taweetchai dan Nipont Chanarwut yang dinilai kurang memberikan kontribusi terhadap tim. Selain dua pemain Thailand itu, Boy Jati Asmara dan Anwarudin ikut hengkang karena gerah selalu diparkir di bangku cadangan. Sebagai gantinya, Iurie mendatangkan dua pemain asing baru, Brahima Traore dari Burkina Faso dan Ayouck Loius Berty dari Kamerun.

Namun, kehadiran dua pemain asing itu tidak membuat kinerja Persib meningkat. Malahan, Ayouck dan Brahima lebih banyak duduk di bangku cadangan karena sering dibekap cedera dan gagal bersaing dengan pemain lainnya. Dalam enam pertandingan awal putaran kedua, empat di antaranya partai kandang, Persib tak sekalipun mencatat kemenangan. Akibat kegagalan meraih kemenangan dalam delapan partai secara berturut-turut, Persib terjerembab ke posisi juru kunci. Meski sempat menang 2-1 atas Persikota Tangerang di Stadion Siliwangi, namun kekalahan 1-3 dari Arema dan 0-1 dari Persekabpas membuat Persib berada di ujung tanduk.

“Sekarang, bobotoh sudah tahu kalau Persib elehan (kalah terus). Karena itu, kita sudah pasrah menerima kenyataan pahit Persib akan terdegradasi ke Divisi I. Meski demikian, kita tidak akan menarik dukungan terhadap Persib,” kata Heru Joko, Ketua Umum Viking Persib Fans Club.

Pada tanggal 27 Mei 2006, gempa bumi mengguncang Yogyakarta dan sejumlah kota lain di Jawa Tengah. Akibat bencana tersebut, kota Yogyakarta porak-poranda. Dua tim Divisi Utama asal Yogyakarta, PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman serta satu tim Divisi I, Persiba Bantul pun terkena dampaknya. Ketiga tim tersebut akhirnya menyatakan mundur dari kompetisi sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Yogyakarta yang dilanda bencana. Sebagai bentuk keprihatinan dan rasa solidaritas, setelah melalui perdebatan sengit, PSSI dan Badan Liga Indonesia (BLI) akhirnya mengambil sebuah keputusan kontroversial dengan menghapuskan sistem degradasi pada LI XII/2006. Meski dengan malu-malu, keputusan PSSI dan BLI itu disambut senyum tipis kubu Persib. “Inilah yang namanya bencana membawa berkah,” kata Manajer Persib, Yossi Irianto.

Setelah keputusan itu diambil dan kompetisi berjalan tanpa tekanan, Persib akhirnya bisa keluar dari zona degradasi setelah mencatat hasil imbang 0-0 dengan Sriwijaya FC di Stadion Gelora Sriwijaya dan membekap Semen Padang 1-0 di Stadion H. Agus Salim. Meski ditutup dengan kekalahan 0-1 dari Persitara Jakarta Utara di Stadion Siliwangi, namun Persib mengakhiri kompetisi di peringkat 12 dari 14 tim di Wilayah Barat, atau satu strip di luar zona degradasi dengan catatan 7 kali menang, 8 seri dan 11 kali kalah.

Liga Indonesia 2007[sunting | sunting sumber]

Kendati dianggap gagal, duet pelatih Arcan Iurie Anatolievici dan Manajer Yossi Irianto tetap dipercaya pengurus Persib untuk melanjutkan tugasnya di LI XIII/2007. Tidak mau mengulangi kesalahan yang dilakukan pada musim sebelumnya, terutama dalah hal rekrutmen pemain, Yossi dan Iurie langsung melakukan perburuan pemain yang mereka nilai berkualitas dan bakal mendukung target juara yang dibebankan Ketua Umum Persib, Dada Rosada.

Dari jajaran pemain asing, Persib merekrut Nyeck Nyobe Georges Clement (Kamerun), Patricio Jimenez Diaz, Lorenzo Cabanas (Cili) dan Christian Bekamenga (Kamerun). Keempat pemain itu bergabung dengan Reduoane Barkaoui yang menjadi satu-satunya pemain asing yang dipertahankan. Untuk deretan pemain lokal, Persib memboyong Tema Mursadat (Persikota Tangerang), Nova Arianto (Persebaya Surabaya), Sonny Kurniawan (Persija Jakarta), Bayu Sutha (Persema Malang) dan memulangkan Suwita Pata dari PSIS Semarang serta Aji Nurpijal dari Mitra Kukar.

Kendati demikian, sebagian besar pemain yang memperkuat Persib pada LI XII/2006 tetap dipertahankan. Mereka adalah Cecep Supriatna, Edi Kurnia (kiper), Edi Hafid Murtado, Gilang Angga Kusuma, Cucu Hidayat, Dicky Firasat, Yaris Riyadi, Eka Ramdani, Erik Setiawan, Salim Alaydrus dan Zaenal Arief. Namun, Persib gagal mempertahankan Usep Munandar yang memilih hengkang ke PSMS Medan. Sedangkan Charis Yulianto, Gendut Dony Christiawan, Try Sutrisno, Deden Hermawan, Enjang Ruhiman, Andi Hidayat, Angga Syatari, Antonio Claudio, Ayouck Louis Berty, dan Brahima Traore didepak karena dinilai tidak memberikan kontribusi positif buat tim.

Eka Ramdani mengatakan “Kami memang sudah lama merindukan prestasi manis. Menjejaki langkah para senior kami yang sudah pernah mencium tropi Presiden. Musim ini, dengan berserinya prestasi tim, semoga harapan yang terus bertalu di dada bisa kesampaian.”

“Kami memang sudah menorehkan hasil yang membanggakan. terus bertahan di posisi empat besar sejak kompetisi digulirkan. Tapi, kompetisi masih panjang. Pemain tidak boleh puas dengan hasil yang sudah diraih. Untuk sampai ke tangga juara, masih banyak jalan terjal yang harus dilalui,” tegas Yossi.

Persib berada di posisi 5 klasemen yang memastikan tempat di di Liga Super Indonesia dengan raihan 54 poin dari hasil 15 menang, 9 seri dan 10 kalah.

Liga Super Indonesia (2008-2015)[sunting | sunting sumber]

Liga Indonesia mengalami perubahan setelah dibentuknya Liga Super Indonesia (LSI) sebagai liga divisi teratas menggantikan Divisi Utama yang menjadi liga tingkat kedua. Musim 2008–2009 menjadi yang pertama dalam tajuk LSI. Klub tidak lagi diperbolehkan menerima bantuan dana dari pemerintah daerah, dan didirikanlah PT. Persib Bandung Bermartabat sebagai perusahaan yang menaungi Persib.[17] Jaya Hartono membawa dua anak asuhnya di Deltras FC, Hariono dan Waluyo ke dalam tim. Dua pemain muda, Irwan Wijasmara dan Wildansyah, bergabung dari tim Diklat Persib. Persib mampu berada di peringkat 3 klasemen akhir dengan raihan 66 poin, hasil dari 20 menang, 6 seri dan 8 kalah.

Musim selanjutnya, yaitu 2009-10 Persib ditinggal Eka Ramdani yang menerima tawaran Persisam. Kepindahannya ini sempat memicu kemarahan suporter. Lorenzo Cabanas, Rafael Alves Bastos, Nyeck Nyobe, Edi Kurnia, Zaenal Arief, Suwita Pata, Hari Salisburi dan Waluyo juga meninggalkan klub. Sebagai gantinya, Budi Sudarsono, Cucu Hidayat, Aji Nurpijal dan Christian Rene direkrut serta Dedi Haryanto dipromosikan dari tim Diklat. Dua pemain timnas Thailand Sinthaweechai Hathairattanakool dan Suchao Nuchnum direkrut Persib dengan status pinjaman. Meskipun tidak lama bermain untuk Persib, penampilan keduanya dipuji para suporter. Persib mengakhiri musim dengan duduk di peringkat 4.

Untuk musim Liga Super Indonesia 2014, legiun asing Persib diisi oleh Vladimir Vujović, Djibril Coulibaly, dan Makan Konaté. Dalam sebuah laga ujicoba tanggal 14 Mei 2014 di Stadion Si Jalak Harupat, Persib menahan imbang raksasa Belanda, Ajax Amsterdam dengan skor 1-1.[18]

Pada musim reguler, Persib berada dibawah juara grup A Arema dengan 41 poin, berbanding dengan 44 poin yang diraih Arema. Persib kemudian memasuki Babak 8 Besar, tergolong ke dalam grup B bersama PBR, Mitra Kukar dan Persebaya. Dengan raihan 4 kemenangan, dan masing masing 1 seri dan kekalahan, Persib melaju ke semi-final untuk menghadapi Arema. Laga yang berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya mampu dimenangkan Persib dengan skor 3-1 setelah perpanjangan waktu, lewat gol Vujovic di menit 84, Atep di menit 91, dan Konate di menit 114 yang hanya dibalas Alberto Gonçalves Da Costa di menit 46.[19]

Persipura adalah lawan Persib di laga final yang juga dilakoni di Gelora Sriwijaya pada 7 November 2014. Ian Kabes membuka skor dengan golnya di menit 5, namun Imanuel Wanggai menyarangkan gol ke gawangnya sendiri di menit 45+1. Persib berbalik unggul lewat M. Ridwan di menit 52, sebelum akhirnya kembali imbang oleh Boaz Solossa di menit 79. Adu penalti dimainkan setelah tiada gol tercipta di masa perpanjangan waktu. Boaz, Yohanes Pahabol, dan Robertino Pugliara dari Persipura serta Konate, Ferdinand Sinaga, Tony Sucipto dan Supardi Nasir berhasil melesakkan bola ke gawang. Kegagalan Nelson Alom dan keberhasilan Ahmad Jufrianto menaklukkan Yoo Jae-hoon memastikan Persib merengkuh titel Juara LSI 2014 dengan skor 2-2 (3-5) di laga final.[20] Striker Persib Ferdinand Sinaga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik LSI 2014.[21]

Keberhasilan Persib menjuarai LSI 2014 disambut sangat meriah oleh Bobotoh yang turun ke jalan "membirukan" jalanan kota Bandung. Ribuan orang termasuk Bobotoh dan warga biasa seakan melumpuhkan Kota Kembang pada selebrasi kemenangan yang berlangsung di Lapangan Gasibu, dengan para pemain Persib, pelatih, dan staf menaiki bus Bandros yang dikawal ketat oleh polisi.[22]

Liga 1 (2017-sekarang)[sunting | sunting sumber]

Musim pertama Persib di era Liga 1 dikejutkan dengan kedatangan mantan pemain timnas Ghana yang pernah menjadi bintang bersama Chelsea, Real Madrid dan AC Milan, Michael Essien yang didatangkan dari klub top Yunani Panathinaikos FC sebagai marquee player.[23][24] Carlton Cole yang pernah bermain untuk West Ham juga berseragam Persib, bersama Shohei Matsunaga yang kembali direkrut setelah bermain di Persib pada rentang tahun 2011-2012. Cole dilepas di pertengahan musim setelah gagal menyarangkan satupun gol ke gawang lawan[25], dan pemain timnas Chad Ezechiel N'Douassel direkrut dari klub Israel Hapoel Tel Aviv pada 7 Agustus 2017[26]. Karena hasil yang tidak memuaskan, Djajang Nurjaman mengundurkan diri dari posisinya sebagai pelatih pada 16 Juli 2017 dan Herrie Setyawan menjadi pelatih sementara atau caretaker[27]. Persib terlempar dari papan atas klasemen ke papan tengah sejak pekan ke-11 dan tak beranjak hingga akhirnya harus puas menyudahi musim di peringkat 13, yang terburuk sejak musim 2006.

Pada musim 2018, terjadi perubahan skuad yang cukup signifikan. Essien dilepas, Vujovic pindah ke Bhayangkara FC, Matsunaga ke Persela, sementara itu Ardi Idrus, Ghozali Siregar, Jonathan Bauman, Bojan Mališić, dan Oh In-Kyun masuk menggantikan. Selain itu, Eka Ramdani dan Airlangga Sutjipto kembali didatangkan. Pelatih Mario Gomez asal Argentina ditunjuk untuk menangani tim di musim ini[28]. Laga Derbi Indonesia di paruh musim kedua ternodai dengan meninggalnya Haringga Sirla, seorang suporter yang dianiaya oknum suporter lain sebelum laga dimulai.[29] Akibat tragedi itu, Persib dihukum tak boleh bermarkas di wilayah Jawa Barat termasuk di Stadion GBLA maupun Jalak Harupat, sehingga harus memainkan laga kandang di Stadion Kapten I Wayan Dipta. Persib sempat menghuni posisi 2 klasemen menuju akhir kompetisi, namun kekalahan-kekalahan dialami dan penurunan performa ini membuat Persib hanya bisa berada di peringkat 4 klasemen akhir. Ardi Idrus terpilih masuk Tim Terbaik Liga 1 2018.[30] Eka Ramdani memutuskan pensiun di akhir musim.[31]

Untuk musim 2019, Mario Gomez yang dipecat digantikan Miljan Radović[32][33]. Akan tetapi, hasil turnamen pramusim Piala Presiden 2019 yang tak memuaskan membuatnya didepak, dan manajemen mendatangkan Robert Rene Alberts yang pernah mengantarkan Arema juara LSI 2009-10.[34] Striker Artur Geworkýan direkrut untuk menggantikan Bauman, dan Rene Mihelic asal Slovenia melengkapi jatah legiun asing[35][36]. Beckham Putra Nugraha pun dipromosikan dari Persib U19 setelah membawa tim tersebut juara Liga 1 U19 2018.[37] Di pertengahan musim, Mihelic bersama Geworkyan diputus kontrak dan Malisic dilepas ke Badak Lampung F.C.[38] Sebagai gantinya, Persib mendatangkan Kevin van Kippersluis dan Nick Kuipers dari Belanda serta Omid Nazari asal Filipina.[39] Karena kiper utama Deden Natshir mengalami cedera tulang kering di laga melawan Persija (10/7) dan absen hingga akhir musim, kiper PSS Sleman asal Kuningan Dhika Bayangkara ditransfer ke Persib.[40][41]

Stadion dan Mess[sunting | sunting sumber]

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA)
Stadion Si Jalak Harupat

Persib sempat menggunakan lapangan-lapangan di kota Bandung seperti di Ciroyom dan Tegallega untuk bermain di era awal berdirinya. Stadion Sidolig (yang kini bernama Stadion Persib) mulai digunakan setelah terjadi merger klub-klub lokal seperti UNI, SIDOLIG dan VBBO. Setelah itu, Persib bermarkas di Stadion Siliwangi hingga dekade 2000an.

Pada Liga Super Indonesia 2008, Persib terpaksa harus meninggalkan Stadion Siliwangi setelah terjadi kerusuhan ketika menjamu Persija Jakarta pada pekan kedua. Ditambah situasi politik yang sedang memanas akibat berlangsungnya Pemilu 2009, Kepolisian Kota Bandung tidak lagi mengeluarkan surat izin menyelenggarakan pertandingan di Stadion Siliwangi bagi Persib. Sebagai alternatif, dipilihlah Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, sebagai "home-base" hingga akhir musim kompetisi.

Untuk lapangan latihan, Persib menggunakan Stadion Persib di Jl. Ahmad Yani. Di stadion tersebut terdapat lapangan latihan dengan rumput baru dan trek berlari serta di sampingnya terdapat mess untuk tempat tinggal para pemain dan staff Persib serta untuk kantor. Letak Stadion Persib yang berada di Jl. Ahmad Yani yang merupakan pusat keramaian juga membuat istirahat para pemain terganggu dan mudahnya para bobotoh untuk masuk ke dalam stadion.

Selain Stadion Persib, Persib pun memakai Sport Jabar Arcamanik. Tim Persib sendiri mengaku cocok berlatih di stadion tersebut, karena selain memiliki lapangan yang cukup baik termasuk kondisi rumputnya. Selain itu tempat tersebut lokasinya dekat dengan mess Persib di Stadion Sidolig. Terkadang jika dibutuhkan, lapangan di jalan Lodaya pun jadi tempat berlatih.[42]

Pada Juni 2016 hingga September 2018 Persib menggunakan Stadion GBLA untuk memainkan laga kandangnya. Untuk Liga 1 2019 Stadion GBLA tak dapat digunakan akibat kondisinya yang memburuk,[43] sehingga Persib bermarkas kembali di Stadion Si Jalak Harupat.

Rekor musim ke musim[sunting | sunting sumber]

Musim Liga Piala IIC Asia Topskor tim
Komp. Main M S K GM GK Poin Pos Nama Gol
2008-09 ISL 34 20 6 8 63 40 66 3 Bendera Argentina Christian Gonzales 28
2009-10 ISL 34 16 5 13 50 36 53 4 8 Besar

Piala Indonesia

Bendera Argentina Christian Gonzales 19
2010-11 ISL 28 11 6 11 44 43 39 7
2011-12 ISL 34 14 7 13 49 49 49 8 Bendera Montenegro Miljan Radović 11
2013 ISL 34 18 9 7 72 43 63 4 Bendera Indonesia Sergio van Dijk 21
2014 ISL 28 18 6 4 58 29 60 1 Bendera Mali Makan Konaté 13
2015 ISL 16 Besar Piala AFC Bendera Indonesia Atep Rizal 3
2016 ISC A 34 15 10 9 45 33 55 5 Bendera Indonesia Sergio van Dijk 10
2017 Liga 1 34 9 14 11 39 36 41 13 Bendera Indonesia Raphael Maitimo 9
2018 Liga 1 34 14 10 10 49 41 52 4 Bendera Chad Ezechiel N'Douassel 17
Juara Peringkat kedua Promosi Degradasi

Prestasi[sunting | sunting sumber]

Domestik[sunting | sunting sumber]

Liga (kasta Tertinggi)[sunting | sunting sumber]

  • Perserikatan (1931-1994)
    • Juara : 1937, 1961, 1986, 1989-90, 1993-94
    • Runner-up : 1933, 1934, 1936, 1959, 1965-66, 1966-67, 1983, 1985

Kompetisi Piala/Turnamen[sunting | sunting sumber]

  • Turnamen Kongres PSSI
    • Juara (1): 1950
  • Piala Presiden
  • Lainnya
    • Siliwangi Cup (4): 1981, 1989, 1994, 2000
    • Jusuf Cup (1): 1957
    • Marah Halim Cup (1): 1988
    • Surya Cup (1): 1978
    • Soeratin Cup (2): 2003, 2006
    • Piala Pers (1): 1993
    • Piala Johnny Pardede International Hotel (1): 1992
    • Piala Persija Cup (1): 1991
    • Piala Jawa Pos (1): 1990
    • Piala Wali Kota Bogor (1): 1978
    • Piala General Rehearsal Asian Games (1): 1962
    • Kang Dada Cup (1): 2008
    • Celebes Cup (1):2012
    • Piala Wali Kota Padang (1): 2015

Kejuaran Asia[sunting | sunting sumber]

Internasional[sunting | sunting sumber]

  • Pesta Sukan (Sultan Brunei Cup)
  • Queen's Cup (Bangkok Thailand)
    • Babak Penyisihan (1): 1978
  • Aga Khan Gold Cup (Pakistan Timur)
    • Perempat Final (1): 1962
  • King's Cup (Bangkok Thailand)
    • Babak Penyisihan (1): 1978

Skuat[sunting | sunting sumber]

Tim utama[sunting | sunting sumber]

Berikut daftar skuat yang dirilis untuk kompetisi Liga 1 2019

Per 28 Agustus 2019.[44]

Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.

No. Pos. Pemain
1 Bendera Indonesia GK M. Natshir Mahbuby
30 Bendera Indonesia GK Aqil Savik
78 Bendera Indonesia GK I Made Wirawan
81 Bendera Indonesia GK Dhika Bayangkara
2 Bendera Belanda DF Nick Kuipers
12 Bendera Indonesia DF Henhen Herdiana
16 Bendera Indonesia DF Indra Mustafa
22 Bendera Indonesia DF Supardi Nasir (Kapten)
3 Bendera Indonesia DF Ardi Idrus
17 Bendera Indonesia DF Zalnando
16 Bendera Indonesia DF Ahmad Jufrianto
11 Bendera Indonesia MF Dedi Kusnandar
13 Bendera Indonesia MF Febri Haryadi
No. Pos. Pemain
24 Bendera Indonesia MF Hariono (Wakil Kapten)
77 Bendera Indonesia MF Ghozali Siregar
23 Bendera Indonesia MF Kim Kurniawan
7 Bendera Indonesia MF Beckham Putra Nugraha
32 Bendera Indonesia DF Alfeandra Dewangga
59 Bendera Indonesia FW Ilham Qolba
15 Bendera Indonesia MF M. Syafril Lestaluhu
8 Bendera Indonesia MF Abdul Aziz
93 Bendera Indonesia MF Erwin Ramdani
9 Bendera Indonesia MF Esteban Vizcarra
18 Bendera Indonesia MF Gian Zola
91 Bendera Filipina MF Omid Nazari
10 Bendera Chad FW Ezechiel N'Douassel
21 Bendera Indonesia FW Frets Listanto Butuan
20 Bendera Belanda FW Kevin van Kippersluis

Pemain Naturalisasi[sunting | sunting sumber]

Pemain dipinjamkan[sunting | sunting sumber]

Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.

Negara Pemain
Bendera Jerman Jerman Kim Kurniawan
Bendera Argentina Argentina Esteban Vizcarra
BRA|}} Brazil Fabiano Beltrame
No. Pos. Pemain
Bendera Indonesia MF Agung Pribadi (Dipinjamkan ke Persela Lamongan)[45]

Pemain cadangan dan akademi[sunting | sunting sumber]

Skuat U21[sunting | sunting sumber]

Untuk informasi lebih lanjut: Persib Bandung U-21 Untuk informasi lebih lanjut: Persib Bandung U-19

Berikut daftar pemain Persib U21.[46] Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.

No. Pos. Pemain
1 Bendera Indonesia GK Mochamad Fauzan Zauhar Malik
2 Bendera Indonesia DF Sugiarto
4 Bendera Indonesia MF Muhammad Jeffri
6 Bendera Indonesia MF Hanif Abdurrauf Sjahbandi
8 Bendera Indonesia MF Abdul Aziz
7 Bendera Indonesia FW Rizky Alam
9 Bendera Indonesia FW Angga Febryanto Putra
12 Bendera Indonesia DF Henhen Herdiana
14 Bendera Indonesia DF Rifki Fauzi Adam
15 Bendera Indonesia MF Untung Wibowo
16 Bendera Indonesia MF Adilla Adnan Saputra
17 Bendera Indonesia MF Heri Herawan
No. Pos. Pemain
18 Bendera Indonesia GK Dikri Yusron Afafa
19 Bendera Indonesia MF Ahmad Subagja Basith
20 Bendera Indonesia FW Gatot Wahyudi
21 Bendera Indonesia FW Agung Mulyadi
22 Bendera Indonesia MF Alfath Faathier
23 Bendera Indonesia DF Ary Ahmad Syafari
24 Bendera Indonesia MF Agil Munawar
28 Bendera Indonesia MF I Gusti Rustiawan
30 Bendera Indonesia DF Sahat Marojahan Siregar
74 Bendera Indonesia GK Sidik Permana
Bendera Indonesia FW Rendi Ridwan Januar

Transfer 2016[sunting | sunting sumber]

Daftar pelatih dan pemain asing[sunting | sunting sumber]

Pelatih Liga Indonesia[sunting | sunting sumber]

Berikut daftar pelatih Persib sejak musim kompetisi 1994/1995:

Tahun Pelatih
1994/1995 Bendera Indonesia Indra Thohir
1995/1996 Bendera Indonesia Risnandar Soendoro
1996/1997 Bendera Indonesia Nandar Iskandar
1997/1998 Bendera Indonesia Nandar Iskandar
1998/1999 Bendera Indonesia M. Suryamin
1999/2000 Bendera Indonesia M. Suryamin
Bendera Indonesia Indra Thohir
2000/2001 Bendera Indonesia Indra Thohir
2001/2002 Bendera Indonesia Deny Syamsudin
2003/2004 Bendera Polandia Marek Andreiz Sledzianowski
Bendera Indonesia Bambang Sukowiyono & Iwan Sunarya (caretaker)
Bendera Chili Juan Antonio Paez
2004/2005 Bendera Chili Juan Antonio Paez
2005/2006 Bendera Indonesia Indra Thohir
2006/2007 Bendera Indonesia Risnandar Soendoro
Bendera Indonesia Djajang Nurjaman & Dedi Sutendi (caretaker)
Bendera Moldova Arcan Iurie Anatolievichi
2007/2008 Bendera Moldova Arcan Iurie Anatolievichi
Bendera Indonesia Djajang Nurjaman & Robby Darwis (caretaker)
2008/2009 Bendera Indonesia Jaya Hartono
2009/2010 Bendera Indonesia Jaya Hartono
Bendera Indonesia Robby Darwis (caretaker)
2010/2011 Bendera Prancis Daniel Darko Jankovic
Bendera Serbia Jovo Cucković
Bendera Indonesia Daniel Roekito
2011/2012 Bendera Kroasia Drago Mamić
Bendera Indonesia Robby Darwis (caretaker)
2012-2016 Bendera Indonesia Djajang Nurjaman
2016 Bendera Serbia Dejan Antonić
Bendera Indonesia Herrie Setyawan (caretaker)
Bendera Indonesia Djajang Nurjaman
2017 Bendera Indonesia Djajang Nurjaman
Bendera Indonesia Herrie Setyawan (caretaker)
Bendera Indonesia Emral Abus
2017-2018 Bendera Argentina Roberto Carlos Mario Gómez
2019- Bendera Belanda Robert Rene Albert

Mantan Pemain[sunting | sunting sumber]

Daftar pemain asing[sunting | sunting sumber]

Berikut daftar pemain asing yang pernah bermain untuk Persib. Nama yang tercetak tebal masih memperkuat Persib.

CONMEBOL

Tata kelola[sunting | sunting sumber]

Staff kepelatihan[sunting | sunting sumber]

Posisi Nama
Manajer H. Umuh Muchtar
Pelatih Kepala Robert Rene Albert
Asisten Pelatih Budiman
Pelatih Penjaga Gawang Gatot Prasetyo
Pelatih Fisik Yaya Sunarya
Dokter Mohammad Raffi Ghani
Fisioterapis Benidektus Adi Prianto
Sekretaris Klub Yudiana

Kepengurusan[sunting | sunting sumber]

Badan hukum[sunting | sunting sumber]

PT Persib Bandung Bermartabat

Posisi Nama
Direktur Utama Glenn Sugita
Direktur Teknik H. Umuh Muchtar
Direktur Keuangan Merdi Hazizi
Direktur Pemasaran Veby Permadi
Direktur Pengembangan Ari D. Sutedi
Komisaris Utama Zainuri Hasyim
Wakil Komisaris Utama Kuswara S. Taryono

Sejarah Kepelatihan[sunting | sunting sumber]

Pelatih kepala per tahun (1982–sekarang)

Nama Dari Sampai
Bendera Indonesia Omo Suratmo 1982 1983
Bendera Indonesia Ade Dana 1984 1985
Bendera Indonesia Nandar Iskandar 1985 1986
Bendera Indonesia Ade Dana 1989 1990
Bendera Indonesia Indra Thohir 1993 1995
Bendera Indonesia Risnandar Soendoro 1995 1996
Bendera Indonesia M. Suryamin 1998 2000
Bendera Indonesia Indra Thohir 2000 2000
Bendera Indonesia Deny Syamsudin 2001 2002
Bendera Polandia Marek Andrzej Sledzianowski 2003 2003
Bendera Chili Juan Antonio Paez 2003 2005
Bendera Indonesia Indra Thohir 2005 2006
Bendera Indonesia Risnandar Soendoro 2006 2006
Bendera Moldova Arcan Iurie 2006 2007
Bendera Indonesia Jaya Hartono 2008 2010
Bendera Prancis Darko Janacković 2010 2010
Bendera Serbia Jovo Cuckovic 2010 2010
Bendera Indonesia Daniel Roekito 2010 2010
Bendera Serbia Drago Mamić 2011 2012
Bendera Indonesia Djajang Nurdjaman 2012 2016
Bendera Serbia Dejan Antonić 2016 2016
Bendera Indonesia Djajang Nurdjaman 2016 2017
Bendera Argentina Roberto Carlos Mario Gómez[47] 2017 2018
Bendera Montenegro Miljan Radovic 2018 -

[sunting | sunting sumber]

Apparel[sunting | sunting sumber]

Bobotoh[sunting | sunting sumber]

Kelompok suporter Persib Bandung yang sedang menyaksikan pertandingan di Stadion Si Jalak Harupat

Persib Bandung memiliki penggemar fanatik yang menyebar di seantero provinsi Jawa Barat dan Banten, bahkan hampir di seluruh wilayah Indonesia, mengingat catatan historis sebagai tim kebanggaan dari ibu kota provinsi Jawa Barat. Fans Persib Bandung tersebar di berbagai wilayah khususnya Jawa Barat seperti Bandung, Bogor, Tasikmalaya, Cirebon, Karawang, Depok, Bekasi, Subang bahkan hingga di luar Jawa Barat seperti Surabaya, Mojokerto, Blitar, Jombang, Bojonegoro, Madura, Jember, dan wilayah lainnya di Nusantara dan sekaligus yang memiliki jumlah fans terbanyak di Indonesia mengalahkan Arema Cronus dan Persebaya Surabaya. Penggemar Persib menamakan diri sebagai Bobotoh. Pada era Liga Indonesia, Bobotoh kemudian mengorganisasikan diri dalam beberapa kelompok pecinta Persib seperti Viking Persib Club, Bomber (Bobotoh Maung Bersatu), Flowers City Casuals, Ultras Persib, dan lainnya.

Persib juga memiliki penggemar dari kalangan selebritis, contohnya Ronal Surapradja,[48] Cita Citata, Aura Kasih, Melody Nurramdhani Laksani,[49] Raffi Ahmad,[50] Farhan, Desy Ratnasari,[51] mantan VJ MTV Indonesia Edi Brokoli,[52] vokalis band Mocca Arina Ephipania, grup band Kuburan, Pemuda Harapan Bangsa (PHB), Jeruji, PAS Band, The Milo, Ariel Noah, Melly Goeslaw,[53] Chika Jessica, dan Omesh. Klub ini juga digemari mantan wakil gubernur Jawa Barat Dede Yusuf[54] dan gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.[55]

Redouane Barkaoui, mantan striker Persib asal Maroko memuji dukungan yang diberikan dalam laga Persib “Atmosfer sepak bola di Bandung benar-benar jempolan. Saya begitu kagum melihat dukungan penonton yang hebat dan luar biasa. Tidak hanya di partai sesungguhnya di ajang kompetisi, di partai uji coba pun penonton melimpah dan membludak hingga pinggir lapangan. Hebat.”

Striker asal Kamerun yang pernah berseragam Persib di tahun 2007 dan kemudian menembus Liga 1 Prancis Christian Bekamengapun ikut bersuara: “Atmosfer sepak bola di Bandung memang tiada duanya. Hasrat bobotoh mendukung timnya patut diapresiasi dengan prestasi membanggakan. Dukungan bobotoh yang tidak pernah surut adalah motivator utama saya dalam mengibarkan sepak bola prestasi bersama Persib.”

Suporter Persib memiliki hubungan yang sangat kelam dengan kelompok suporter Persija Jakarta, The Jakmania. Sudah banyak peristiwa maupun insiden-insiden yang terjadi akibat permusuhan abadi dua suporter garis keras ini. Bahkan pihak kepolisian maupun PSSI dan PT Liga Indonesia pun sudah berulangkali meminta Viking dan The Jak untuk berdamai. Setelah kematian suporter Rangga tanggal 29 Mei 2012[56] dalam laga El Clasico melawan Persija, perdamaian antar kedua kelompok suporter sempat dicanangkan. Akan tetapi permusuhan kembali terjadi hingga akhirnya seorang suporter tewas teraniaya kembali sebelum laga di tahun 2018. Pada laga melawan Persija tanggal 10 Juli 2019, tidak ada kerusuhan yang terjadi dan kapten Supardi menilai situasinya aman.[57]

Klub Afiliasi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2019, Persib resmi mengakuisi Blitar United yang berada di Liga 2 dan menjadikannya sebagai klub satelit.[58] Manajemen mengubah nama klub menjadi Bandung United dan memindahkan markas klub dari Blitar ke Bandung. Bandung United memainkan laga kandangnya di stadion Arcamanik dan Stadion Siliwangi.[59]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e "Official Persib Web". persib.co.id. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  2. ^ Pratama, T. Nugraha. "Cerita Panasnya Rivalitas Persib dan PSM di Era Perserikatan". Cerita Panasnya Rivalitas Persib dan PSM di Era Perserikatan. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  3. ^ INDOSPORT.com (2017-11-16). "Persib Era 50an Yang Mengharumkan Nama Timnas". INDOSPORT.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-13. 
  4. ^ a b c digital, pikiran rakyat. "Sejarah Singkat Persib Bandung dari Masa ke Masa". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  5. ^ Bola.com (2017-03-25). "Duel Persib Vs PSMS 1985, Mencuri Perhatian Dunia". bola.com. Diakses tanggal 2019-11-30. 
  6. ^ https://bola.kompas.com/read/2017/03/25/11131398/jelang.psms.vs.persib.kenangan.rekor.150.000.penonton.di.senayan?page=all
  7. ^ digital, pikiran rakyat. "Sejarah Singkat Persib Bandung dari Masa ke Masa". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  8. ^ redaksi (2016-03-14). "Sejarah Persib Bandung dalam 5 Ribu Kata". Pandit Football Indonesia. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  9. ^ Abidin, Ahmad Fadhil (2016-09-25). "Stadion Siliwangi, Tempat Berbagai Sejarah Persib Terukir". infobdg.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-13. 
  10. ^ "Post Match Persib VS PSV Eindhoven (1987): "Bintang Sepakbola Dunia Mencicipi Siliwangi"." | mengbal.com | Lalajo Maung" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-13. 
  11. ^ "17 April, Mengenang Momen Jawara Perserikatan 1994 (Bag I)". Persib Bandung Berita Online | simamaung.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-13. 
  12. ^ Teguh, Irfan. "Kisah Petrokimia Putra Mewarnai Sepakbola Gresik". tirto.id. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  13. ^ digital, pikiran rakyat. "#KlipingPR Persib Juara Liga Indonesia Pertama". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  14. ^ a b VIVA, PT VIVA MEDIA BARU- (2014-12-12). "Kisah Manis Persib Bandung di Liga Champions Asia - VIVA". www.viva.co.id. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  15. ^ digital, pikiran rakyat. "#KlipingPR Mengenang Lagi Pertandingan AC Milan vs Persib". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  16. ^ "Sejarah Hari Ini: Persib Bandung vs AC Milan, 1994 | Goal.com". www.goal.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  17. ^ digital, pikiran rakyat. "Sejarah Singkat Persib Bandung dari Masa ke Masa". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  18. ^ "Hasil Laga Persahabatan Persib vs Ajax Skor 1-1: Konate Hujan Pujian | Bola". Bisnis.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  19. ^ "Ulasan Pertandingan - Semifinal ISL 2014: Persib vs Arema Cronus, 4 November 2014". Labbola Sports Statistics & Data Management (dalam bahasa Inggris). 2014-11-05. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  20. ^ https://bola.kompas.com/read/2014/11/07/21261838/Lewat.Drama.Adu.Penalti.Persib.Juara.ISL.2014
  21. ^ BeritaSatu.com. "Ferdinand Sinaga Pemain Terbaik ISL Musim Ini". beritasatu.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  22. ^ "Persib Juara ISL, Bandung Gelar Pesta Rakyat". Republika Online. 2014-11-09. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  23. ^ Okezone. "Didatangkan dengan Harga Mahal, Essien Takkan Buat Persib Rugi : Okezone Bola". https://bola.okezone.com/. Diakses tanggal 2019-07-13.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  24. ^ setiawan, Kodrat (2017-03-14). "Ini Alasan Michael Essien Bergabung dengan Persib Bandung". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-13. 
  25. ^ "Carlton Cole Resmi Dilepas Persib". kumparan. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  26. ^ "Profil Striker Baru Persib, Ezechiel N'Douassel". Republika Online. 2017-08-08. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  27. ^ Media, Kompas Cyber. "Alasan Djadjang Nurdjaman Mundur dari Kursi Pelatih Persib". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  28. ^ Media, Kompas Cyber. "Lebih Dekat dengan Pelatih Baru Persib, Roberto Carlos Mario Gomez". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  29. ^ https://bola.kompas.com/read/2018/09/24/05350098/persib-vs-persija-44-pelanggaran-10-kartu-kuning-dan-1-korban-jiwa
  30. ^ https://liga-indonesia.id/berita/tim-terbaik-go-jek-liga-1-2018
  31. ^ https://bola.kompas.com/read/2018/12/30/21294638/eka-ramdani-mantap-gantung-sepatu-karena-panggilan-hati
  32. ^ Media, Kompas Cyber. "Resmi, Persib Bandung Tunjuk Miljan Radovic Jadi Pelatih". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  33. ^ Media, Kompas Cyber. "Mario Gomez Dipecat Persib, Johor Darul Takzim Beri Sindiran Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  34. ^ Media, Kompas Cyber. "Robert Rene Alberts Ungkap Proses Gabung ke Persib". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  35. ^ Bolasport.com. "Profil Artur Gevorkyan, Rekrutan Anyar Persib dengan Segudang Prestasi - Bolasport.com". www.bolasport.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  36. ^ Media, Kompas Cyber. "Profil Rene Mihelic, Gelandang Baru Persib". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  37. ^ INDOSPORT.com (2019-06-22). "Keren! Beckham Jadi Pemain Termuda Persib yang Jalani Debut di Liga 1". INDOSPORT.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-13. 
  38. ^ Media, Kompas Cyber. "Tinggalkan Persib, Bojan Malisic Gabung ke Perseru Badak Lampung FC". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-11-30. 
  39. ^ "Tiga Pemain Baru PERSIB Tiba di Bandung | Official Persib Web". persib.co.id. Diakses tanggal 2019-11-30. 
  40. ^ "Alami Patah Tulang, Deden Natshir Cedera Panjang". olahraga (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-11-30. 
  41. ^ Rakyat, Pikiran. "Persib Bandung Rekrut Dhika Bayangkara, Kiper Asal Kuningan - Pikiran-Rakyat.com". www.Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 2019-11-30. 
  42. ^ https://bola.tempo.co/read/1193451/radovic-berharap-persib-punya-lapangan-sendiri-untuk-berlatih
  43. ^ https://www.goal.com/id/berita/manajer-persib-bandung-ingin-stadion-gbla-dibongkar/1gymctucb2s461881h4gfdfrln
  44. ^ "Persib Bandung" (dalam bahasa Indonesian). 
  45. ^ "Persib Bandung resmi pinjamkan M. Agung Pribadi ke Persela Lamongan" (dalam bahasa Indonesian). FourFourTwo. Diakses tanggal 30 March 2017. 
  46. ^ Skuat Persib U21
  47. ^ "Mario Gomez Pelatih PERSIB". www.persib.co.id. 
  48. ^ BobotohID. "Di Depan Markas Real Madrid, Artis Ini Bangga Memake Jersey Persib". BOBOTOH PERSIB. Diakses tanggal 2019-11-30. 
  49. ^ INDOSPORT.com (2018-03-14). "3 Artis Cantik Penggila Persib Bandung". INDOSPORT.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-13. 
  50. ^ "Persib Bandung Menang Lawan Sriwijaya FC di Final Piala Presiden, Raffi Ahmad Ikut Bangga". Tabloidbintang.com. 2015-10-19. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  51. ^ Bola.com (2017-10-11). "Desi Ratnasari Ternyata Jadi Bobotoh Persib sejak Kecil". bola.com. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  52. ^ Ariandi, Rizqi. "Tak Mau Terpuruk Seperti Musim Lalu, Artis Ini Ungkap Harapan untuk Persib". Bolalob - Situsnya Anak Futsal!. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  53. ^ "Artis-artis Tanggapi Kemenangan Persib, Pakai Meme Lucu". suara.com. 2015-10-19. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  54. ^ "Dede Yusuf Beri Dukungan Buat Persib di Dunia Maya". detiknews. Diakses tanggal 2019-07-13. 
  55. ^ Saleh, Nurdin (2019-05-30). "Ridwan Kamil Bentangkan Syal Persib Bandung di Kenya". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-13. 
  56. ^ https://www.jpnn.com/news/kepala-rangga-remuk-dibantai-oknum-the-jak-mania
  57. ^ https://www.idntimes.com/sport/soccer/ilyas-listianto-mujib-1/tandang-ke-jakarta-supardi-puji-the-jak
  58. ^ https://www.pikiran-rakyat.com/persib/2019/06/10/persib-bandung-akuisisi-saham-blitar-united
  59. ^ https://www.pikiran-rakyat.com/persib/2019/07/08/persib-dan-bandung-united-akan-berbagi-kandang

Pranala luar[sunting | sunting sumber]