GO-JEK

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
PT Aplikasi Karya Anak Bangsa
Sektor Teknologi informasi
Transportasi
Didirikan 2010 (2010)
Pendiri
Markas Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Wilayah operasi
50 kota di Indonesia, sekarang juga sudah tersedia di Thailand (sebagai GET (Aplikasi)) dan Vietnam (sebagai Go-Viet)[1]
Tokoh
  • Nadiem Makarim (Co-Founder)
  • Michaelangelo Moran (Co-Founder)
  • Kevin Aluwi (Co-Founder)
  • Andre Soelistyo (President)
  • Rohan Monga (COO)
  • Ajey Gore (Group CTO)
  • Piotr J (CMO)
  • Thomas Husted (Group CFO)
  • Monica Oudang (CHRO)
Situs web www.go-jek.com

PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau yang lebih dikenal dengan GO-JEK merupakan sebuah perusahaan teknologi asal Indonesia yang melayani angkutan melalui jasa ojek. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2010 di Jakarta oleh Nadiem Makarim.[2][3] Saat ini, GO-JEK telah tersedia di 50 kota di Indonesia.[1] Hingga bulan Juni 2016, aplikasi GO-JEK sudah diunduh sebanyak hampir 10 juta kali di Google Play pada sistem operasi Android.[4] Saat ini juga ada untuk iOS, di App Store. Go-jek Juga menyediakan layanan pembayaran digital yaitu Go-pay, Layanan Go Jek juga memenuhi kebutuhan setiap hari, Saat ini Go-jek sedang Terus melakukan Ekspansi ke Negara - Negara di Asia Tenggara, dan kini sudah ada di Thailand dan Vietnam kabarnya Gojek akan merilis di Singapura dan Flipina selanjutnya.

Sejarah

GO-JEK didirikan oleh Nadiem Makarim, warga negara Indonesia lulusan Master of Business Administration dari Harvard Business School. Ide mendirikan GO-JEK muncul dari pengalaman pribadi Nadiem Makarim menggunakan transportasi ojek hampir setiap hari ke tempat kerjanya untuk menembus kemacetan di Jakarta.[5]  Saat itu, Nadiem masih bekerja sebagai Co-Founder dan Managing Editor Zalora Indonesia dan Chief Innovation Officer Kartuku. [6]

Sebagai seorang yang sering menggunakan transportasi ojek, Nadiem melihat ternyata sebagian besar waktu yang dihabiskan oleh pengemudi ojek hanyalah sekadar mangkal menunggu penumpang. [7] Padahal, pengemudi ojek akan mendapatkan penghasilan yang lumayan bila banyak penumpang. Selain itu,Ia melihat ketersediaan jenis transportasi ini tidak sebanyak transportasi lainnya sehingga seringkali cukup sulit untuk dicari.[7] Ia menginginkan ojek yang bisa ada setiap saat dibutuhkan. Dari pengalamannya tersebut, Nadiem Makarim melihat adanya peluang untuk membuat sebuah layanan yang dapat menghubungkan penumpang dengan pengemudi ojek. [7]

Pada tanggal 13 Oktober 2010, GO-JEK resmi berdiri dengan 20 orang pengemudi.[8] Pada saat itu, GO-JEK masih mengandalkan call center untuk menghubungkan penumpang dengan pengemudi ojek. Pada pertengahan 2014, berkat popularitas Uber kala itu, Nadiem Makarim mulai mendapatkan tawaran investasi.[8] Pada 7 Januari 2015, GOJEK akhirnya meluncurkan aplikasi berbasis Android dan IOS untuk menggantikan sistem pemesanan menggunakan call center. [8]

Pendanaan

GO-JEK pertama kali mendapatkan kucuran dana dari NSI Ventures pada Juni 2015 dengan besaran dana yang tidak dipublikasikan.[9] Pada Oktober 2015, GO-JEK kembali mendapatkan kucuran dana.[9] Kali ini dari Sequoia Capital dan DST Global yang juga tidak disebutkan jumlahnya. Pada Agustus 2016, GO-JEK secara resmi mengumumkan pendanaan senilai US$550 juta atau sekitar Rp7,2 triliun dari KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital, dan Capital Group Private Markets dan investor-investor sebelumnya.[10] [11]Dengan adanya pendanaan tersebut, GO-JEK resmi berstatus sebagai unicorn pertama di Indonesia, yaitu startup dengan valuasi lebih dari US$1 miliar. Pada saat itu, valuasi GO-JEK telah mencapai US$1,3 miliar (sekitar Rp17 triliun).[12]

Pada Januari 2018, Google melalui situs blog resminya mengumumkan bahwa mereka telah memberikan pendanaan untuk G0-JEK[13][14]. Ini merupakan investasi pertama Google kepada startup di Asia.[15] Kucuran dana tersebut merupakan bagian dari seri pendanaan yang diikuti oleh Tencent, JD, Temasek, dan Meituan-Dianping yang mencapai angka US$1,2 miliar (sekitar Rp16 triliun). Dalam pengumumannya, Google tidak merinci besaran jumlah investasinya kepada GO-JEK namun sebuah sumber dari Reuters menyebutkan totalnya sekitar 100 juta dollar AS (sekitar 1,3 triliun).[15][16]

Tidak lama setelah Google, pada 12 Februari 2018 Astra Internasional yang merupakan salah satu perusahaan otomotif nasional mengumumkan investasinya kepada GO-JEK senilai US$ 150 juta atau sekitar Rp2 triliun.[17] Suntikan tersebut merupakan investasi terbesar sepanjang sejarah Astra di sektor digital dan yang terbesar di GO-JEK bila dibandingkan dengan investor-investor lainnya sampai pada saat itu.[18] Pada hari yang sama, Djarum Grup melalui PT Global Digital Niaga (GDN) yang merupakan anak usaha perusahaan modal ventura Global Digital Prima (GDP) milik Djarum, juga mengumumkan investasinya kepada GO-JEK. Dalam pengumuman tersebut. GDN tidak bersedia mengungkapkan berapa dana yang mereka investasikan ke GO-JEK.[19]

Akuisisi

Dalam upaya melakukan pengembangan aplikasinya, GO-JEK mengakuisisi beberapa perusahaan di India dan membuka kantor di Bengaluru, sebuah daerah yang terkenal sebagai "Silicon Valley nya India".[20] Hubungan GO-JEK dengan India bermula pada April 2015, saat GO-JEK menyewa C42 Engineering, sebuah perusahaan rekayasa perangkat lunak selama dua bulan di Jakarta untuk membereskan kekutu (bug) dalam aplikasi mereka.[20] Hubungan ini tercipta berkat Sequoia Capital yang merupakan salah satu investor GO-JEK.

Februari 2016, GO-JEK akhirnya mengakuisisi C42 Engineering beserta CodeIgnition, perusahaan pengembangan aplikasi di New Delhi yang sebelumnya juga pernah bekerja untuk GO-JEK.[21] Kedua perusahaan teknologi ini ditugaskan membantu meningkatkatkan sistem IT untuk menanggulangi jumlah pengguna yang semakin banyak.[22] Pada saat itu, pertumbuhan GO-JEK melaju dengan cepat. Jumlah pengunduh aplikasinya mencapai 11 juta dengan 200 ribu sopir GO-JEK. Pada tahun yang sama, tepatnya pada September 2016 GO-JEK mengakusisi Pianta, sebuah startup lokal di India yang menyediakan layanan kesehatan seperti terapi fisik, perawat, hingga pengumpulan sampel untuk pemeriksaan di laboratorium.[23] Menutup tahun 2016, GO-JEK mengakuisisi startup keempatnya di India yaitu LeftShift, perusahaan yang bergerak di bidang aplikasi Android, iOS, dan situs internet.[24]

GO-JEK tidak ingin berhenti hanya sebagai perusahaan transportasi berbasis daring, namun bertransformasi sebagai sebuah perusahaan financial technology (fintech) melalui GO-PAY.[25] Pada akhir tahun 2016 GO-JEK mengakuisisi Ponselpay, sebuah perusahaan keuangan milik MVComerce yang telah memiliki lisensi uang elektronik (e-money) dari Bank Indonesia.[26] GO-JEK membutuhkan lisensi tersebut guna mengembangkan GO-PAY yang telah mereka kembangkan untuk menjadi e-money layaknya Flazz milik BCA, Brizzi milik BRI, T-Cash milik Telkomsel dan lain-lain. [27][28]

Pada 15 Desember 2017, GO-JEK mengumumkan akuisisinya terhadap tiga perusahaan financial technology yaitu Kartuku, Midtrans, dan Mapan untuk mendukung ekspansi GO-PAY di luar ekosistem GO-JEK. [29] Kartuku merupakan sebuah perusahaan penyedia Prosesor Pihak Ketiga atau Third Party Processor (TPP) dan Penyedia Layanan Pembayaran (PSP).[30] Kartuku yang telah mengoperasikan lebih dari 150 ribu alat pembayaran di gerai luring (offline) dan telah bekerjasama dengan sembilan bank acquirer ini, akan difokuskan untuk pengembangan penggunaan GO-PAY secara luring. [31]

Midtrans adalah salah satu perusahaan penyedia jasa pemprosesan pembayaran secara daring yang telah menjalin kemitraan dengan bank-bank di Indonesia, maskapai penerbangan, retail e-commerce dan perusahaan-perusahaan fintech.[32] Sementara Mapan adalah jaringan layanan keuangan berbasis komunitas yang memungkinkan penggunanya mencicil barang yang mereka ingin beli dalam katalog barang Arisan Mapan.[33][34] Mapan yang telah tersedia di 100 kota tersebut difokuskan oleh GO-JEK untuk mengakselerasi inklusi keuangan bagi masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan (unbanked).[35]

Pada 8 Agustus 2017, GO-JEK mengakuisisi LOKET, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang event management & ticketing.[36] LOKET menghadirkan layanan pemesanan tiket secara daring, sampai menyediakan gelang RFID untuk pengunjung acara.[37] Langkah ini diambil GO-JEK untuk mendorong perkembangan fitur penjualan tiket bioskop dan acara yang telah mereka miliki melalui GO-TIX. [38] Pada tahun 2018, setelah sukses berekspansi ke Vietnam GO-JEK memperluas jaringan bisnisnya ke sektor periklanan. Kali ini, GO-JEK mengakuisisi Promogo, sebuah layanan pemasangan iklan di kendaraan pada September 2018. [39][40]

Kerja sama

GO-JEK mengumumkan kerja sama dengan perusahaan taksi Blue Bird pada Mei 2016.[41] Melalui kerja sama tersebut GO-JEK membuatkan aplikasi untuk pengemudi Blue Bird dan mulai Januari 2017 pengemudi Blue Bird bisa menerima pemesanan dari layanan GO-CAR milik GO-JEK. [42] Pada Maret 2017, kedua perusahaan tersebut meningkatkan kerja samanya dengan meluncurkan fitur GO-Blue Bird. Melalui fitur tersebut, pengguna bisa langsung memesan taksi Blue Bird di aplikasi GO-JEK, tidak akan mendapatkan mitra pengemudi lain seperti hal nya ketika melalui GO-CAR.

Dampak

Sebuah riset yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyebut GO-JEK telah memberi kontribusi Rp8,2 triliun per tahun bagi perekonomian Indonesia melalui penghasilan mitra pengemudi. GO-JEK juga berkontribusi Rp1,7 triliun per tahun bagi perekonomian Indonesia melalui penghasilan mitra UMKM. Penelitian yang melibatkan 3.315 responden di 9 wilayah tersebut menunjukkan rata-rata penghasilan mitra pengemudi mencapai Rp3,31 juta lebih tinggi dari UMK 9 wilayah itu yang hanya Rp2,8 juta.[43]

Ekspansi

Pada 24 Mei 2018, GO-JEK mengumumkan kepastiannya untuk berekspansi ke empat negara di Asia Tenggara yaitu Vietnam, Thailand, Singapura, dan Filipina. GO-JEK mengaku menyiapkan dana sebesar USD500 juta atau sekitar Rp7,1 triliun untuk memuluskan langkahnya tersebut.[44] Sebulan kemudian tepatnya pada 25 Juni 2018, GO-JEK memperkenalkan GO-Viet di Vietnam dan GET di Thailand sebagai bagian dari ekspansinya.[45]

Selain tidak menggunakan nama merek nya seperti yang dilakukan Uber atau Grab, GO-JEK juga lebih memilih menggandeng tim lokal untuk menjalankan layanannya di luar negeri dan memberi kekuatan penuh untuk menetapkan kebijakan sesuai dengan karakteristik masing-masing negara.[46] Namun, mereka tetap mendapatkan dukungan teknologi, pengetahuan operasional, dan tentu saja pendanaan dari Go-Jek. Sementara itu, kedua perusahaan tersebut berperan memberikan pengetahuan tentang kondisi pasar lokal.

Pada 12 September 2018, GO-Viet secara resmi diluncurkan di Vietnam setelah sebelumnya mulai beroperasi di Kota Ho Cin Minh sejak 1 Agustus 2018. [47][48] Pemilihan Vietnam sebagai negara pertama dari rencana ekspansi GO-JEK bukannya tanpa alasan. Negara ini memiliki jumlah penduduk yang cukup besar yaitu sekitar 107 juta orang dengan penetrasi internetnya sekitar 54%.[49] [50]

GO-Viet dipimpin oleh Duc Nguyen yang pernah bekerja pada Uber sebagai International Launcher untuk membantu melakukan riset pasar, menjalin kemitraan, analitik pasokan, integrasi pembayaran, hubungan masyarakat, dan rekrutmen. [51]

Daerah layanan

GO-JEK telah tersedia di Vietnam dengan nama Go-Viet, dan Thailand dengan nama GET secara resmi pada tanggal 25 Juni 2018. Di sisi lain, GO-JEK kini telah tersedia di lima puluh kota di Indonesia dan beberapa kota di Vietnam dan Thailand.

Beberapa kota di Indonesia:

Beberapa kota di Thailand:

Beberapa kota di Vietnam:

Kontroversi

Menjamurnya penggunaan jasa GO-JEK membuat adanya kecemburuan di antara tukang ojek pangkalan. Pada tanggal 9 Juni 2015 seseorang dalam akun Path menuliskan insiden bahwa pengemudi GO-JEK yang dipesannya diusir oleh tukang ojek pangkalan di Kuningan, Jakarta Selatan yang tidak terima rezekinya dirampas.[52] Dua kali dia memanggil sopir GO-JEK, dua kali pula pengemudi GO-JEK lari karena takut dipukuli tukang ojek pangkalan. Akhirnya dia naik ojek pangkalan dengan tarif jauh lebih mahal dibanding tarif sopir GO-JEK. Sekadar diketahui, tarif ojek GO-JEK lebih pasti karena ditentukan lewat aplikasi sehingga tidak perlu tawar-menawar.[52]

Kontroversi GO-JEK dengan ojek pangkalan terjadi karena adanya perbedaan logika. Ojek pangkalan memegang teguh logika "sopan-santun". Di dalam pangkalan ojek ada banyak norma-norma sosial yang harus dipatuhi, seperti harus antre ketika akan mengambil penumpang dan tidak diperbolehkan mengambil penumpang di wilayah yang bukan area-nya. Sementara itu, logika GO-JEK adalah logika korporasi yang semua harus serba teratur dan pasti, baik dari segi harga, pelayanan, dan asuransi. Ketika driver GO-JEK datang mengambil penumpang tanpa antre dan tanpa mematuhi batas-batas wilayah, ojek pangkalan menganggapnya sebagai tindakan yang tidak mematuhi norma sosial pangkalan. Hal ini yang menyebabkan keduanya seringkali berkonflik.

Legalitas Ojek Daring

Munculnya ojek daring sebagai salah satu transportasi umum juga menuai pro dan kontra dari aspek hukum. Secara tradisional, ojek memang sudah menjadi salah satu pilihan transportasi umum masyarakat di Indonesia meski keberadaannya tidak diakui secara hukum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ), kendaraan roda dua tidak termasuk sebagai sarana transportasi umum.[53] Karena alasan itulah Kementerian Perhubungan yang pada saat itu dijabat Ignasius Jonan sempat melarang beroperasinya ojek daring pada 9 November 2015, meski larangan itu hanya berlaku selama kurang lebih 12 jam.[54]

Larangan yang tertuang dalam Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 itu langsung mendapatkan protes keras dari pengguna ojek daring. Lebih dari 12 ribu orang menandatangi petisi daring untuk memprotes kebijakan Kemenhub tersebut.[55] Presiden Jokowi Dodo yang mendengar kabar tersebut, memanggil Ignasius Jonan ke Istana. Setelah pemanggilan tersebut, keputusan melarang ojek daring pun dibatalkan.

Tanggapan

Menjamurnya penggunaan layanan GO-JEK di Jabodetabek membuat perusahaan layanan transportasi pemesanan taksi asal Malaysia, Grab (aplikasi), meluncurkan aplikasi yang serupa GO-JEK yaitu Grab.[56] Layanan tersebut diluncurkan pada bulan Mei 2015.[56]

Fitur dan layanan GO-JEK

  1. GO-SEND, layanan transportasi barang
  2. GO-RIDE, layanan transportasi penumpang dengan sepeda motor
  3. GO-FOOD, layanan pemesanan makanan
  4. GO-MART, layanan berbelanja
  5. GO-BOX, layanan pengantaran barang berukuran besar
  6. GO-CLEAN, layanan membersihkan rumah
  7. GO-GLAM, layanan kecantikan
  8. GO-MASSAGE, layanan pemijatan
  9. GO-BUSWAY, layanan pengantaran penumpang ke halte TransJakarta
  10. GO-TIX, layanan pemesanan tiket
  11. GO-CAR, layanan transportasi dengan mobil
  12. GO-AUTO, layanan montir
  13. GO-MED, layanan pembelian obat
  14. GO-PULSA, layanan isi pulsa elektronik
  15. GO-SHOP, layanan belanja barang
  16. GO-BLUEBIRD, layanan transportasi dengan taksi reguler Blue Bird Group (kerjasama)
  17. GO-BILLS, layanan bebagai pembayaran
  18. GO-PAY, layanan pembayaran digital
  19. GO-POINTS, Layanan mengumpulkan poin dari transaksi, agar poin bisa ditukar dengan berbagai Diskon, Tiket Bola, dan Souvenir

Anak Usaha Go-jek

Go-viet

GET (Aplikasi)

Referensi

  1. ^ a b https://www.go-jek.com/about/. Diakses tanggal 21 Februari 2018.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  2. ^ "NADIEM MAKARIM, CEO GO-JEK Indonesia". New Cities Summit 2015. Diakses tanggal 20 Juni 2015. 
  3. ^ "Nadiem Makarim, Pendiri Go-Jek yang Sudah Bantu 10 Ribu Sopir Ojek". Diakses tanggal 20 Juni 2015. 
  4. ^ "GO-JEK". http://play.google.com. Google, Inc. Diakses tanggal 20 Juni 2015.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  5. ^ VIVA, PT. VIVA MEDIA BARU - (2016-11-10). "Profil Nadiem Makarim - VIVA". Diakses tanggal 2018-10-03. 
  6. ^ Media, Kompas Cyber (2015-07-28). "Nadiem Makarim, Lulusan Harvard yang Jadi Juragan Go-Jek Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-03. 
  7. ^ a b c "Nadiem Makarim, Pendiri dan CEO Gojek Indonesia: Membangkitkan Gairah Usaha Tukang Ojek | Republika Online". Republika Online. Diakses tanggal 2018-10-03. 
  8. ^ a b c "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-03. 
  9. ^ a b Liputan6.com. "Seluk Beluk Perjalanan Go-Jek Menjadi Startup Unicorn". liputan6.com. Diakses tanggal 2018-10-04. 
  10. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-04. 
  11. ^ "KKR, Warburg Pincus, Farallon and Capital Group Private Markets Make Substantial Investment in GO-JEK, Indonesia's Leading On-Demand Mobile Platform" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-04. 
  12. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-04. 
  13. ^ "Google Konfirmasi Investasi di Gojek - Selular.ID". Selular.ID (dalam bahasa Inggris). 2018-01-29. Diakses tanggal 2018-10-04. 
  14. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-04. 
  15. ^ a b Savithri, Agnes. "Google Akui Investasi ke Gojek". teknologi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-04. 
  16. ^ Media, Kompas Cyber (2018-01-30). "Berapa Dana Segar yang Diberikan Google untuk Go-Jek? - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-04. 
  17. ^ "Mengapa Astra Suntik Gojek Triliunan Rupiah? | Republika Online". Republika Online. Diakses tanggal 2018-10-04. 
  18. ^ Bosnia, Tito. "Nadiem Makarim: Astra Adalah Investor Terbesar Go-Jek". fintech (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-04. 
  19. ^ Ayuwuragil, Kustin. "Djarum Akui Ikut Suntik Dana ke Gojek". teknologi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-04. 
  20. ^ a b Mohan, Rohini. "Go-Jek, Karya Anak Bangsa Blasteran India - Tirto.ID". tirto.id. Diakses tanggal 2018-10-05. 
  21. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  22. ^ Prihadi, Susetyo Dwi. "Perbaiki Sistem IT, Gojek Akuisisi Startup Asal India". teknologi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  23. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  24. ^ Liputan6.com. "Go-Jek Kembali Akuisisi Perusahaan Asal India". liputan6.com. Diakses tanggal 2018-10-05. 
  25. ^ Andreas, Damianus. "Evolusi Gojek Sebagai Fintech Lewat Go-Pay - Tirto.ID". tirto.id. Diakses tanggal 2018-10-05. 
  26. ^ "Setelah Pianta & Halodoc, Go-Jek Gandeng PonselPay | SWA.co.id". SWA.co.id (dalam bahasa Inggris). 2016-10-25. Diakses tanggal 2018-10-06. 
  27. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-06. 
  28. ^ "Setelah Pianta & Halodoc, Go-Jek Gandeng PonselPay | SWA.co.id". SWA.co.id (dalam bahasa Inggris). 2016-10-25. Diakses tanggal 2018-10-06. 
  29. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  30. ^ Ayuwuragil, Kustin. "Mengenal Sekilas 3 Perusahaan Fintech yang Dicaplok Gojek". teknologi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  31. ^ Ayuwuragil, Kustin. "Perkuat Gopay, Gojek Caplok Kartuku, Midtrans dan Mapan". teknologi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  32. ^ Media, Kompas Cyber (2017-12-18). "Menilik Tiga Fintech yang Diakuisisi Go-Pay - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  33. ^ Media, Kompas Cyber (2017-12-18). "Menilik Tiga Fintech yang Diakuisisi Go-Pay - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  34. ^ Ayuwuragil, Kustin. "Mengenal Sekilas 3 Perusahaan Fintech yang Dicaplok Gojek". teknologi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-05. 
  35. ^ "Dari Pembayaran ke Arisan, Ini Profil 3 Fintech yang Diakuisisi GoJek - Katadata News". Diakses tanggal 2018-10-05. 
  36. ^ "Go-Jek Akuisisi Loket, Perkuat Bisnis Ticketing dan Event | Marketeers - Majalah Bisnis & Marketing Online - Marketeers.com". marketeers.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-06. 
  37. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-06. 
  38. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-06. 
  39. ^ Media, Kompas Cyber (2018-09-19). "Go-Jek Akuisisi Promogo, Hadirkan 2 Layanan Baru Go-Ice dan Go-Vend - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-06. 
  40. ^ "Go-Jek Akuisisi Promogo, Startup Penyedia Iklan di Mobil dan Motor". kumparan. Diakses tanggal 2018-10-06. 
  41. ^ "Go-Jek dan Blue Bird Kolaborasi Luncurkan 'Go Blue Bird'". kumparan. Diakses tanggal 2018-10-06. 
  42. ^ "Go-Jek dan Blue Bird Kolaborasi Luncurkan 'Go Blue Bird'". kumparan. Diakses tanggal 2018-10-06. 
  43. ^ Andreas, Damianus. "Go-Jek Sumbang Rp8,2 Triliun Per Tahun ke Perekonomian Indonesia - Tirto.ID". tirto.id. Diakses tanggal 2018-10-06. 
  44. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-08. 
  45. ^ "Tech in Asia Indonesia - Komunitas Online Startup di Asia". id.techinasia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-08. 
  46. ^ JNP. "Ganti Nama Jadi Go-Viet & GET, Gojek Lakukan Pendekatan Lokal". teknologi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-08. 
  47. ^ Andreas, Damianus. "Go-Jek Resmi Luncurkan Go-Viet di Vietnam - Tirto.ID". tirto.id. Diakses tanggal 2018-10-08. 
  48. ^ Times, IDN. "Go-Jek Resmi Berekspansi ke Vietnam". IDN Times. Diakses tanggal 2018-10-08. 
  49. ^ Rahman, Adi Fida. "Alasan Go-Jek Ekspansi ke Vietnam dan Pakai Nama Go-Viet". detikinet (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-11-14. 
  50. ^ "Great potential to help Vietnam realise its digital economy dream" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-11-14. 
  51. ^ "Biografi Nguyen Vu Duc - CEO GO-VIET yang Lulusan Harvard - SEPOSITIF". SEPOSITIF. 2018-09-24. Diakses tanggal 2018-11-14. 
  52. ^ a b "Pengemudinya Diteror, Ini Tanggapan Go-jek". Diakses tanggal 20 Juni 2015. 
  53. ^ Prasetya, Eko. "Resmi, Menteri Jonan larang ojek dan taksi online beroperasi! | merdeka.com". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-12. 
  54. ^ Aliansyah, Muhamad Agil. "Drama 12 jam larangan ojek online Menteri Jonan | merdeka.com". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-12. 
  55. ^ Kusumawati, Utami Diah. "12 Ribu Lebih Orang Dukung Petisi Tolak Larangan Ojek Daring". nasional (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-12. 
  56. ^ a b "GrabTaxi perkenalkan layanan booking ojek GrabBike di Jakarta". Diakses tanggal 20 Juni 2015. 

Pranala luar