Perusahaan rintisan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Siklus keuangan perusahaan rintisan

Perusahaan rintisan (Inggris: startup company atau start-up company) adalah istilah yang merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat pada ranah tehnologi tentunya. Perusahaan rintisan termasuk dalam kategori usaha kecil menengah yang menyangkut atau berusaha dalam bidang tehnologi atau minimalnya menggunakan tehnologi sebagai pendamping dan Perangkat keras, perangkat lunak sebagai alat penunjang usahanya. Manfaat mendirikan perusahaan rintisan adalah untuk memperluas kapasitas investasi dalam produk baru.[1] Istilah "startup" menjadi populer secara internasional pada masa gelembung dot-com. Pada saat itu banyak perusahaan dot-com didirikan secara bersamaan.

Menurut Salamzadeh dan Kawamorita (2015) terdapat tantangan umum yang biasanya dialami oleh perusahaan rintisan yaitu sebagai berikut:[2]

  1. keuangan, keuangan merupakan bagian integrasi dari proses perusahaan rintisan dimana setiap perusahaan rintisan akan menghadapi masalah keuangan karena beberapa alasan dan dalam tahapan berbeda.
  2. Sumber daya manusia, proses dari mulai berdirinya perusahaan rintisan hingga membuat tim manajemen dan memperkerjakan karyawan sangatlah penting untuk berhasil bagi pendiri.
  3. Mekanisme dukungan, sejumlah mekanisme dukungan antara lain investor, akselerator, dan lainnya. kurangnya akses terhadap mekanisme dukungan akan meningkatkan risiko kegagalan.
  4. unsur-unsur lingkungan, yaitu seperti tren, keterbatasan pasar, masalah hukum, politik, dan lainnya.

Menurut Yudhanto (2019) Start-Up adalah bisnis model baru dalam mendirikan usaha dengan memaksimalkan fasilitas teknologi dengan didukung perencanaan matang, idealisme individu, dan juga tema usaha yang unik.[3]

Fenomena Bubble burst[sunting | sunting sumber]

Bubble burst adalah pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan nilai pasar yang naik dengan cepat terutama harga aset. Inflasi yang cepat ini kemudian diikuti penurunan nilai yang cepat. Hal itulah yang disebut bubble burst atau ledakan gelembung. Umumnya, gelembung disebabkan lonjakan harga aset yang didorong perilaku pasar yang tinggi. Aset diperdagangkan pada harga atau dalam kisaran harga yang melebihi nilai intrinsik aset.

Fenomena bubble burst terjadi setiap kali harga barang naik jauh di atas nilai riil barang. Bubble burst biasanya dikaitkan dengan perubahan perilaku investor.

Gelembung di pasar ekuitas dan ekonomi menyebabkan sumber daya ditransfer ke area dengan pertumbuhan yang cepat. Pada akhir gelembung, sumber daya ditarik dengan cepat juga sehingga nilai aset yang menggelembung anjlok. [4]

Berikut daftar startup yang melakukan PHK karena terdampak Bubble burst :

Robinhood

Aplikasi investasi ini memangkas 300 karyawan di akhir April lalu. CEO Vlad Tenev menuliskan untuk meningkatkan beberapa hal, perusahaanya harus melakukan perubahan. Pertumbuhan karyawan perusahaan juga cukup signifikan. Yakni dari 2019 hanya 700 orang menjadi hampir 3.800 karyawan pada 2021 lalu.

Cameo

PHK yang dilakukan Cameo berselang setahun setelah perusahaan menyandang status unikorn. Jumlah pekerja yang di-PHK adalah 87 karyawan. Kebijakan ini berdampak pada semua organisasi, termasuk beberapa anggota C-suite.

Thrasio

Thrasio melakukan PHK pada 20% pegawainya. Perusahaan brand agregator ini juga mengumumkan penggantian CEO.

Netflix

Netflix menghentikan staf editorial perusahaan media miliknya Tudum hanya berselang 5 bulan setelah diluncurkan. Tech Crunch melaporkan 25 orang terdampak dari PHK ini. Namun perusahaan memastikan tidak punya rencana menutup Tudum.

Zenius

Di tanah air ada Zenius yang memangkas 200 karyawannya. Perusahaan mengatakan langkah itu diambil karena dampak kondisi makro ekonomi terburuk yang terjadi dalam beberapa dekade.

Link Aja

Link Aja melakukan re-organisasi sumber daya manusia (SDM) karena dampak pada perubahan fokus dan tujuan bisnis. Dalam responnya kepada CNBC Indonesia, pihak perusahaan mengatakan jumlah pegawai yang terdampak re-organisasi jauh lebih sedikit dari kabar yang beredar.

JD.ID

Kabar PHK juga menghinggapi JD.ID. Director General Management JD.ID, Jenie Simon mengatakan sedang mengambil keputusan seperti tindakan restrukturisasi di dalamnya juga ada pengurangan jumlah karyawan. [5]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Google Cendekia". scholar.google.com. Diakses tanggal 2021-06-28. 
  2. ^ "(PDF) Startup Companies: Life Cycle and Challenges". ResearchGate (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-30. 
  3. ^ Yudhanto, Yudho (2019). Information Technology Business Start-up. Jakarta: Elexmedia Komputendo. hlm. 3. ISBN 978-602-04-8721-2. 
  4. ^ "Lebih Dekat dengan Istilah Bubble Burst di Startup". IDX Channel. 2022-06-07. Diakses tanggal 2022--06-12. 
  5. ^ Bestari, Novina Putri (2022-05-28). "Diguncang Bubble Burst, Ini Daftar Startup yang Lakukan PHK". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2022-06-12.