Minimum viable product

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Minimum viable product (MVP) adalah sebuah istilah untuk standar minimum dari kelayakan produk atau inovasi. Dengan kata lain, MVP adalah sebuah produk yang hanya memiliki fitur-fitur penting utama yang memenuhi kebutuhan dasar dari target pasar yang dituju namun tetap memiliki nilai guna yang tinggi. Istilah ini diciptakan dan didefinisikan pertama kali oleh Frank Robinson pada tahun 2001, tetapi dipopulerkan oleh Steve Blank dan Eric Ries.

Elemen-elemen penting[sunting | sunting sumber]

Dalam pembuatan MVP harus menyertakan elemen-elemen ini dalam kualitas produksi:[1]

  • Functionality. Serangkaian fitur atau bahan harus memberikan nilai kepada pelanggan atau target pasar yang dituju,
  • Design. Desain dari MVP ini dapat memenuhi standar industri yang tertinggi,
  • Reliablity. Standar kualitas produk perlu dicapai dengan pengujian yang ketat,
  • Usability. MVP harus mudah digunakan dan intuitif.

Ilustrasi alur presentasi[sunting | sunting sumber]

Dalam proses pembuatan MVP, perlu adanya sebuah presentasi sederhana tentang produk ke pelanggan agar dapat mudah dipahami secara konsep dan penggunaan.

Prototipe[sunting | sunting sumber]

Hal yang pertama kali dapat dilakukan adalah dengan membuat gambaran akhir (Prototype) dari produk yang akan diciptakan. Mulai dari elemen dasar apa saja yang akan digunakan sampai ke elemen penting lainnya. Sehingga dapat tergambar dan dipahami dengan jelas.

MVP[sunting | sunting sumber]

Tahap selanjutnya adalah membuat MVP dari prototipe yang sudah dibuat sebelumnya, namun hanya sebatas produk dengan elemen-elemen penting utamanya saja, tanpa tambahan elemen lain. Sehingga dapat tergambar dengan jelas tentang bentuk dasar dan nilai guna dari produk tersebut. Hal ini dapat menjadi bahan evaluasi dasar sebelum mengembangkan produk sampai tahap akhir.

Produk Akhir[sunting | sunting sumber]

Setelah mendapat feedback dari pelanggan dan melakukan evaluasi dasar sebelumnya, maka selanjutnya adalah membuat produk akhir sampai produk tersebut jadi dan dapat dipasarkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Manfaat[sunting | sunting sumber]

  • Mampu menguji hipotesis produk dengan sumber daya minimal
  • Mempercepat pembelajaran
  • Mengurangi waktu produksi menjadi lebih efisien
  • Dapat memberikan produk ke pelanggan secepat mungkin
  • Dapat menjadi acuan dasar untuk produk lain
  • Dapat menciptakan standar kualitas produk tersendiri
  • Membangun brand dengan cepat dan efektif.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

  1. Lean Startup
  2. YAGNI

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hasa, Marek (6th January 2020). "MVP – what is it and why is it crucial for your business?". Pixelfield blog. Diakses tanggal 1st September 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. Minimum Viable Product (MVP)
  2. Minimum Viable Product: a guide
  3. Minimum Viable Product (MVP)