PSM Makassar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
PSM Makassar
Logo PSM Makasar Baru.png
Nama lengkapPersatuan Sepak bola Makassar
JulukanJuku Eja (Ikan Merah)
Pasukan Ramang
Ayam Jantan dari Timur
Berdiri2 November 1915 dengan nama Makassar Voetbal Bond (MVB)
StadionAndi Mattalatta,
Makassar, Indonesia
(Kapasitas: 15.000)
Ketua UmumBendera Indonesia Munafri Arifuddin
PelatihBendera Kroasia Bojan Hodak
Asisten PelatihBendera Indonesia Herrie Setyawan, Syafril Usman, Bahar Muharram, Ferry Picaulima (Papi Glenn) Bendera Indonesia Hendro Kartiko
Dokter TimBendera Indonesia dr. Hardiansyah Muslimin Bendera Indonesia Physio Wahyu Iriandi
LigaLiga 1
Liga 1 2019Peringkat 12
Situs webSitus web resmi klub
Kostum Kandang
Kostum Tandang
Kostum Ketiga
Soccerball current event.svg Musim ini

Persatuan Sepak bola Makassar (disingkat PSM Makassar) adalah sebuah tim sepak bola Indonesia yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, yang dikenal pasukan Ramang atau Juku Eja. PSM Makassar saat ini bermain di Shopee Liga 1, setelah sebelumnya pernah bermain di Liga Primer Indonesia. PSM Makassar merupakan salah satu tim terkuat di Indonesia dan telah mewakili Indonesia dalam Liga Champions Asia sebanyak tiga kali. PSM Makassar merupakan tim dengan catatan prestasi paling stabil di pentas Liga Indonesia, dengan sekali menjadi juara, delapan kali runner up, dan hanya sekali gagal masuk putaran final. PSM Makassar adalah tim tertua di Indonesia. Pada tahun 2014, PSM Makassar kembali ke Liga Super Indonesia setelah lolos play-off unifikasi liga PSSI.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Persatuan Sepak bola Makassar atau lebih populer dengan sebutan PSM Makassar, adalah sebuah tim sepak bola Indonesia yang berbasis di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Tim berjuluk Juku Eja yang juga biasa dijuluki Ayam Jantan dari Timur, merupakan salah satu tim terkuat di pentas sepak bola nasional. Kisah terbentuknya PSM Makassar dimulai pada 2 November 1915 yang dinyatakan sebagai berdirinya sebuah perkumpulan sepak bola bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) yang di kemudian tercatat sebagai embrio PSM. Dalam perjalanannya, MVB menampilkan putra-putra pribumi di jajaran elite persepak bolaan Hindia Belanda, seperti Sagi dan Sangkala sebagai pemain andal dan cukup disegani. Pada masa itu, sekitar 1926-1940, MVB sudah melakukan pertandingan dengan beberapa kesebelasan dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya dari Jawa, seperti Quick, Excelcior, HBS, sejumlah klub dari Sumatra, Kalimantan, dan Bali. Sedang dari luar negeri kesebelasan dari Hongkong dan Australia. Pendek kata, MVB langsung melejit sebagai klub ternama. Sayang pada usianya yang ke-25, kegiatan MVB mulai surut seiring dengan kedatangan pasukan Jepang di Makassar. Itu karena orang-orang Belanda yang tergabung dalam MVB ditangkap, sedangkan pemain-pemain pribumi dijadikan Romusa. Sebagiannya lagi dikirim ke Myanmar. MVB praktis lumpuh total, sebagaimana klub-klub sepak bola di Indonesia kala itu. Apalagi Jepang menerapkan aturan segala yang berbau Belanda harus dimusnahkan. Tak terkecuali itu adalah klub sepak bola. Sebaliknya, untuk mencari dukungan penduduk setempat, Jepang membiarkan masyarakat menggunakan nama-nama Indonesia. MVB pun berubah menjadi Persatuan Sepak bola Makassar (PSM Makassar). Pada dekade 1950, PSM mulai melakukan ekspansi ke Pulau Jawa untuk menjalin hubungan dengan PSSI. Bintang-bintang PSM pun bermunculan. Salah satunya yang paling fenomenal tentunya adalah Ramang. Bahkan kehebatan Ramang yang menjadi ikon PSM dan tercatat dalam sejarah sepak bola nasional sebagai legenda itu tetap dikenang hingga saat ini. Mungkin itu pula yang membuat tim ini terkadang dijuluki Pasukan Ramang. PSM pertama kali menjadi juara perserikatan pada 1957 dengan mengalahkan PSMS Medan di partai final yang digelar di Medan. Sejak saat itu PSM menjadi kekuatan baru di jagad sepak bola Indonesia. Lima kali gelar juara perserikatan mereka raih serta beberapa kali runner-up di era sepak bola profesional, tim ini pernah mencatat prestasi mengesankan dengan menjadi The Dream Team ketika mengumpulkan sejumlah pilar tim nasional seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santoso, Miro Baldo Bento, Kurniawan Dwi Julianto, yang dikombinasikan dengan pemain asli Makassar seperti Ronny Ririn, Syamsudin Batola, Yusrifar Djafar, dan Rachman Usman, ditambah Carlos de Mello, dan Yosep Lewono. Hebatnya, PSM kala itu hanya dua kali menelan kekalahan dari 31 pertandingan yang mereka mainkan.

Pra kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Kisah sejarah PSM Makassar dimulai pada tanggal 2 November 1915 yang dinyatakan sebagai berdirinya sebuah perkumpulan sepak bola bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) yang di kemudian hari tercatat sebagai embrio Persatuan Sepak bola Makassar (PSM Makassar). Dalam perjalanan prestasinya, MVB menampilkan orang-orang bumi putera di jajaran elite persepak bolaan Hindia Belanda seperti Sagi dan Sangkala sebagai pemain andal sekaligus promotor yang disegani kalangan Belanda. Pada masa itu, sekitar tahun 1926-1940, MVB sudah melakukan pertandingan dengan beberapa kesebelasan dari dalam negeri dan luar negeri, di antaranya dari Jawa, seperti Quick, Excelcior, HBS, sejumlah klub dari Sumatra, Kalimantan, dan Bali. Sedang dari luar negeri kesebelasan dari Hongkong dan Australia.

Pada usianya ke-25, kegiatan MVB mulai surut seiring dengan kedatangan pasukan Jepang di Makassar. Orang-orang Belanda yang tergabung dalam MVB ditangkap. Pemain-pemain pribumi dijadikan Romusa, dan sebagian dikirim ke Burma (kini Myanmar). MVB praktis lumpuh total, sebagaimana klub-klub sepak bola di Indonesia. Di Makassar, ketika itu segala yang berbau Belanda mutlak dilenyapkan, sebaliknya untuk mencari dukungan penduduk, Jepang membiarkan masyarakat menggunakan nama-nama Indonesia. Dan MVB pun berubah menjadi Persatuan Sepak bola Makassar (PSM).

Pasca kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Saat Indonesia terlepas dari penjajahan, Persatuan Sepak bola Makassar (PSM Makassar) mengadakan reorganisasi dan reformasi di bawah pimpinan Achmad Saggaf yang terpilih menjadi sebagai Ketua PSM. Meskipun sederhana, roda kompetisi PSM mulai bergulir dengan baik dan teratur. Udara kemerdekaan ikut memberi napas baru bagi PSM. Tahun 1950, PSM mulai mengadakan ekspansi ke Pulau Jawa untuk menjalin hubungan dengan PSSI. Bintang-bintang PSM pun bermunculan. Dan yang paling fenonemal adalah Ramang. Bahkan, kehebatan Ramang yang menjadi ikon PSM hingga kini masih jadi legenda dan tercatat indah dalam sejarah persepak bolaan nasional. Roh dan semangat Ramang pula yang tetap ada dan hidup di tubuh PSM dan membuat kesebelasan ini sempat dijuluki Pasukan Ramang.

PSM pertama kali menjadi juara perserikatan tahun 1957 dengan mengalahkan PSMS Medan pada partai final yang digelar di Medan. Sejak itu PSM yang dijuluki menjadi kekuatan baru sepak bola Indonesia. PSM menjelma menjadi tim elite. Total lima kali gelar juara perserikatan diraih tim yang lebih sering disebut sebagai Juku Eja atau Ikan Merah, julukan yang diberikan berdasar pada warna kostum yang mereka kenakan. PSM meraih juara perserikatan pada tahun 1959, 1965, 1966, dan 1992.

Liga Indonesia[sunting | sunting sumber]

Ketika tim-tim Perserikatan digabung dengan tim-tim Galatama menjadi Liga Indonesia sejak tahun 1994, PSM selalu masuk jajaran papan atas hingga sekarang. Setiap musim, PSM selalu diperhitungkan dan menjadi salah satu tim dengan prestasi paling stabil di Liga Indonesia. Meski demikian, baru sekali klub ini menjadi juara yakni pada Liga Indonesia tahun 2000, dan selebihnya empat kali menjadi tim peringkat dua pada Liga Indonesia 1995/1996, 2001, 2003, dan 2004.

Saat juara Liga Indonesia PSM mencatat prestasi mengesankan dengan hanya menderita 2 kali kekalahan dari total 31 pertandingan. Saat itu PSM mengumpulkan pilar-pilar tim nasional seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santoso, Miro Baldo Bento, Kurniawan Dwi Yulianto yang dikombinasikan dengan pemain asli Makasar seperti Ronny Ririn, Syamsudin Batola, Yusrifar Djafar, dan Rachman Usman, ditambah Carlos de Mello, dan Yosep Lewono. PSM merajai pentas Liga Indonesia dengan menjuarai Wilayah Timur, dan di babak 8 besar menjuarai Grup Timur. Di semifinal, PSM mematahkan perlawanan Persija Jakarta, sebelum mengatasi perlawanan gigih Pupuk Kaltim di final yang berkesudahan 3-2.

Sementara itu di level internasional, PSM tercatat satu kali berlaga di Piala Winners Asia dan tiga kali mewakili Indonesia di laga Liga Champions Asia. PSM merupakan klub Indonesia yang stabil hingga saat ini. Bahkan PSM Makassar pernah menjadikan Makassar sebagai tuan rumah Perempat Final Liga Champions Asia pada tahun 2000, di mana saat itu untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah Perempat Final LCA yang menghadirkan klub-klub lain dari Asia Timur yakni Jubilo Iwata (Jepang), Shandong Luneng Taishan (China), dan Suwon Samsung Bluewings (Korea).

Salah satu yang menjadi ciri PSM hingga selalu menjadi tim papan atas adalah permainan keras dan cepat yang diperagakan pemainnya, dan dipadu dengan teknik tinggi. Tak hanya itu, pemain PSM juga terkenal tangguh dan tidak cengeng dalam kondisi lapangan apa pun. PSM juga didukung oleh regenerasi yang berkelanjutan dan melahirkan pemain-pemain andalan di tim nasional. Tak hanya itu, kiprah para pemain di lapangan juga didukung oleh deretan pengusaha asal Sulawesi Selatan yang bergantian mengurusi PSM.

PSM Makassar yang juga dijuluki Ayam Jantan Dari Timur memiliki sekitar 24 kelompok suporter, diantaranya adalah The Macz Man, Laskar Ayam Jantan (LAJ), Mappanyuki, Ikatan Suporter Makasar (ISM), Suporter Hasanuddin, Suporter Dealos, Suporter Reformasi, Komando, Suporter Bias, Suporter Kubis, Karebosi, Gunung Lokong, Suporter PKC (Pongtiku, Kalumpang, dan Cumi-cumi, Red Gank (Pattene), KVS, Zaiger, Antang Communitty.

Liga Primer Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pada Desember 2010, PSM Makassar memutuskan untuk mengundurkan diri dari Liga Indonesia. PSM kemudian memutuskan untuk bergabung ke Liga Primer Indonesia dengan melakukan merger dengan Makassar City FC yang sudah lebih dulu menjadi anggota LPI. Nama yang kemudian dipergunakan adalah PS Makassar (tetap disebut sebagai PSM Makassar dalam berbagai pemberitaan).[1]

Liga Super Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2014, PSM Makassar kembali ke Liga Super Indonesia setelah lolos play-off unifikasi liga PSSI yang pada musim 2015 berganti nama menjadi QNB League, setelah terjadi kesepakatan PT. Liga Indonesia dengan QNB Group dari Qatar.

Stadion[sunting | sunting sumber]

Stadion Andi Mattalata, dahulu bernama Mattoangin didirikan tahun 1955 dan merupakan pusat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional yang ke-4 pada tahun 1957 dan saat ini merupakan markas PSM Makassar. Stadion ini memiliki kapasitas untuk 20.000 orang. Sebelum Stadion Utama Gelora Bung Karno dibangun tahun 1962, stadion ini termasuk salah satu stadion terbesar di Indonesia dan sering dipakai untuk menggelar pertandingan sepak bola internasional.

Stadion ini pernah menjadi tuan rumah babak 8 besar Piala Champions Asia 2001 dimana semua pertandingan di grup Asia Timur termasuk PSM dihelat di stadion ini dan untuk pertama kalinya Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah di kancah asia di stadion Andi Mattalatta Mattoanging Makassar.

Pada musim 2014, PSM Makassar terpaksa harus berlaga diluar Sulawesi Selatan yakni menggunakan Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, setelah Stadion Andi Mattalata tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk mengikuti Liga Super Indonesia 2014. Setahun kemudian, dilakukan renovasi stadion setelah manajemen PSM mengadakan kesepakatan dengan pihak Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS) selaku pengelola stadion. Di Liga Super Indonesia 2015, PSM kembali bermarkas di Makassar.

Prestasi[sunting | sunting sumber]

Liga Domestik[sunting | sunting sumber]

Piala Domestik[sunting | sunting sumber]

Kejuaraan Asia[sunting | sunting sumber]

  • Supercup Asia
    • Juara (1): 2018
  • Piala AFC
    • Semifinalis Zona ASEAN (1): 2019

Internasional[sunting | sunting sumber]

  • Ho Chi Minh City Cup
    • Juara (1): 2001

Lambang dan kostum[sunting | sunting sumber]

Semenjak tahun 1950-an, klub-klub yang dulunya merupakan bentukan Belanda mutlak mesti di bawah kendali pemerintah daerah. Ini karena saat bertarung di kejuaraan nasional mereka membawa panji-panji daerah. Jadi seperti halnya klub sepak bola lain di era Perserikatan, maka PSM Makassar juga mengadopsi logo pemda sebagai identitas dari diri klub.

Berdasarkan itulah maka warna utama PSM adalah merah, termasuk dalam hal kostum. Untuk kostum kandang, setiap musim PSM menggunakan warna merah. Sedangkan untuk kostum tandang, menggunakan warna yang berbeda. Pada musim 2016, PSM menggunakan warna hitam dengan aksen putih, sedangkan pada musim 2015 menggunakan warna biru dengan aksen putih.

[sunting | sunting sumber]

Kit apparel[sunting | sunting sumber]

Period Kit manufaktur
1994–1998 Bendera Jerman Adidas
1999–2000 Bendera Amerika Serikat Reebok
2000–2006 Bendera Jerman Adidas
2006–2007 Bendera Italia Diadora
2008–2009 Bendera Indonesia Specs
2011–2013 Bendera Indonesia Vilour[2]
2013–2016 Bendera Amerika Serikat Nike[3]
2017 Bendera Spanyol Kelme
2018-sekarang Bendera Inggris Umbro

Suporter[sunting | sunting sumber]

PSM Makassar dikenal memiliki beberapa kelompok suporter fanatik yang jumlahnya cukup banyak. Terdiri dari sekitar 22 kelompok suporter, diantaranya adalah:

  1. The Macz man
  2. Red Gank
  3. Laskar Ayam Jantan (LAJ)
  4. PSM Fans 1915
  5. Komunitas VIP Utara (KVU)
  6. Komunitas VIP Selatan (KVS)
  7. Ramang Mania
  8. Komunitas Dottoro Suporter
  9. Mappanyuki
  10. Ikatan Suporter Makasar (ISM)
  11. Suporter Hasanuddin
  12. Suporter Dealos
  13. Suporter Reformasi
  14. Komando
  15. Suporter Bias
  16. Suporter Kubis
  17. Karebosi
  18. Gunung Lokong
  19. Suporter PKC
  20. Zaiger
  21. Antang Community
  22. CSM 1915 (Curva Sud Mattoanging)

Suporter terbesar yang dikenal di media massa dan terkenal sangat fanatik adalah The Macz Man.

Daftar Pelatih[sunting | sunting sumber]

Tahun Nama
1999–2000 Bendera Indonesia Syamsuddin Umar
2004–2005 Bendera Ceko Miroslav Janů
2005–2006 Bendera Jerman Fritz Korbach
2006–2007 Bendera Brasil Carlos De Mello
2007–2008 Bendera Bulgaria Radoy Minkovski
2008–2009 Bendera Malaysia Raja Isa
2009–2010 Bendera Indonesia Hanafing
2010 Bendera Indonesia Tumpak Sihite
2010–2011 Bendera Belanda Robert Rene Alberts[4]
2011 Bendera Belanda Wim Rijsbergen[5]
2011–2013 Bendera Kroasia Petar Segrt[6]
2013 Bendera Indonesia Imran Amirullah[7]
2013–2014 Bendera Jerman Jörg Steinebrunner[8]
2014 Bendera Indonesia Rudy Keltjes[9]
2014–2015 Bendera Indonesia Assegaf Razak[10]
2015 Bendera Austria Alfred Riedl[11]
2015 Bendera Austria Hans-Peter Schaller[12]
2015–2016 Bendera Indonesia Assegaf Razak[13]
2016 Bendera Brasil Luciano Leandro
2016–2019 Bendera Belanda Robert Rene Alberts[14]
2019 Bendera Bosnia dan Herzegovina Darije Kalezić[15]
2020–sekarang Bendera Kroasia Bojan Hodak[16]

Pemain[sunting | sunting sumber]

Pemain saat ini[sunting | sunting sumber]

Per 12 Januari 2020.[17][18]

Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.

No. Pos. Pemain
3 Bendera Indonesia DF Zulkifli Syukur
5 Bendera Lebanon DF Hussein El Dor
6 Bendera Indonesia FW Ferdinand Sinaga
7 Bendera Indonesia MF Zulham Zamrun
9 Bendera Brasil FW Giacarlo Lopes Rodrigues
11 Bendera Indonesia FW Osas Saha
14 Bendera Indonesia MF Asnawi Mangkualam
15 Bendera Indonesia DF Hasyim Kipuw
17 Bendera Indonesia MF Rasyid Bakri
19 Bendera Indonesia MF Rizky Pellu
22 Bendera Indonesia DF Leo Guntara
23 Bendera Indonesia MF Bayu Gatra
24 Bendera Indonesia MF Rizky Eka Pratama
No. Pos. Pemain
27 Bendera Indonesia DF Dedi Gusmawan
28 Bendera Indonesia DF Abdul Rahman Sulaeman
29 Bendera Indonesia DF Firza Andika
30 Bendera Belanda FW Ezra Walian
33 Bendera Indonesia GK Miswar Saputra
35 Bendera Indonesia DF Wasyiat Hasbullah
45 Bendera Indonesia GK Reza Arya Pratama
48 Bendera Indonesia MF Muhammad Arfan
55 Bendera Indonesia MF Takwir
51 Bendera Indonesia GK Syaiful Samsuddin
71 Bendera Indonesia DF Aji Kurniawan
77 Bendera Indonesia MF Fajri Ardiansyah
80 Bendera Belanda MF Wiljan Pluim (Kapten)
88 Bendera Indonesia FW Irsyad Maulana
97 Bendera Indonesia GK Hilman Syah
99 Bendera Indonesia FW Saldi Amiruddin
  1. ^ bola/read/2011/01/04/113923/1538725/76/psm-tetap-pakai-robert-albert PSM Tetap Pakai Robert Albert
  2. ^ "PSM Tetap Pakai Jersey Vilour" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 31 October 2014. 
  3. ^ "Nike Jadi Sponsor PSM" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 31 October 2014. 
  4. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama lpi
  5. ^ "Wim Minta Mundur dari Kursi Pelatih PSM Makassar" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 30 October 2014. 
  6. ^ "Petar Segrt Pergi dari PSM" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 30 October 2014. 
  7. ^ "Pelatih PSM Makassar Tunggu Nasib di Salatiga" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 30 October 2014. 
  8. ^ "Pelatih PSM Makassar Mundur" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 30 October 2014. 
  9. ^ "Rudy Keltjes Ungkap Alasan Pilih PSM" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 30 October 2014. 
  10. ^ "Pelatih PSM: 90 Persen Pemain Pantas Dipertahankan" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 30 October 2014. 
  11. ^ "Alfred Riedl Mendarat di Makassar ,15 Januari" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 8 January 2015. 
  12. ^ "PSM Makassar Patenkan Peter Gantikan Riedle" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 10 April 2015. 
  13. ^ "Assegaf Razak, Peramu Kekuatan PSM di 8 Besar Piala Presiden" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 14 September 2015. 
  14. ^ "RESMI: Robert Rene Alberts Jadi Pelatih PSM Makassar" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 1 June 2016. 
  15. ^ "RESMI: Robert Darije Kalezic Jadi Pelatih PSM Makassar" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 2 February 2019. 
  16. ^ "PSM Makassar Ditangani Bojan Hodak | Goal.com". www.goal.com. Diakses tanggal 2020-02-14. 
  17. ^ "Daftar Pemain PSM Makassar Liga 1". Diakses tanggal 5 April 2018. 
  18. ^ "Nasib Eero Markkanen, Apa Susul Zulkifli, Reva, & Hendra? Ini Kata CEO PSM, Lalu Bayu Gatra & Hasyim". Tribun Timur. Diakses tanggal 2019-08-16.