Lompat ke isi

Persitara Jakarta Utara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Persitara Jakarta Utara
Nama lengkapPersatuan Sepakbola Indonesia Jakarta Utara
JulukanLaskar Si Pitung
Nama singkatPSTR
PTR
Kota/KabupatenJakarta Utara
Berdiri29 December 1979; 46 tahun lalu (29 December 1979)
StadionStadion Tugu
Jakarta Utara, Indonesia
(Kapasitas: 4,000)
PemilikPT. Persitara Sejahtera
Presiden ClubIndonesia M. Nuh
ManajerIndonesia Suaib
PelatihIndonesia Robby Darwis
LigaLiga Nusantara
2024–25Liga 4, Babak Provinsi: Tempat ke-3 (Zona DKI Jakarta)
Babak Nasional: Ronde ke-3 Grup A, ke-1 dari 4 (promosi)
Kelompok suporterNJ Mania
Kostum kandang
Kostum tandang
Kostum ketiga
Musim ini

Persatuan Sepak bola Indonesia Jakarta Utara atau disingkat sebagai Persitara Jakarta Utara adalah sebuah klub sepak bola Indonesia yang bermarkas di Stadion Tugu, Jakarta Utara. Persitara didirikan pada 1979. Sekarang tim yang berjuluk Laskar Si Pitung ini menjadi salah satu kontestan berkompetisi di Liga Nusantara mulai musim 2025–26, setelah promosi dari Liga 4 di 2024–25.

Kesebelasan Persitara Jakarta Utara saat menghadapi Persebaya Surabaya pada 11 November 2009 di Stadion Soemantri Brodjonegoro.

Sejarah pendirian Persitara sendiri tak bisa dilepaskan dari peran Persija sebagai induk sepak bola Jakarta. Pada 1970-an, Persija yang masih gabung dengan Komisi Daerah (Komda) PSSI Jawa Barat menggagas pembentukan Komda tersendiri di Jakarta. Pasalnya, Macan Kemayoran kesulitan menampung klub-klub lokal yang menjamur.

Pembentukan Komda Jakarta beriringan dengan didirikannya “Persija-persija lain”, yaitu Persijatimut (Timur-Utara) dan Persijaselbar (Selatan-Barat). Persijatimut pecah lalu Persitara resmi berdiri sendiri dengan nama Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta Utara pada 1985.

Persitara Jakarta Utara adalah salah satu klub sepak bola di Jakarta. Persitara adalah singkatan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta Utara. Awalnya klub berjuluk Laskar Si Pitung ini berdiri pada tahun 1979 (beberapa sumber mengatakan 1975) menggunakan nama Persija Timur Utara (Persijatimur) dan baru kemudian pada tahun 1985 klub ini resmi memakai nama Persitara Jakarta Utara yang dianggap benar-benar mewakili masyarakat Jakarta Utara. Tim berjuluk Laskar Si Pitung adalah salah satu kontestan Liga Super 2008/09, kompetisi paling elit di Indonesia pada saat itu.

Di era perserikatan, prestasi terbaik Persitara terjadi pada musim 1985/86, ketika sukses menembus Divisi Utama Perserikatan. Sama halnya dengan tim asal Jakarta lainnya, Persitara hidup dari sokongan dana APBD DKI Jakarta. Hanya saja, sejak berdirinya, Persitara tidak mendapatkan kucuran dana rakyat sama seperti yang diterima saudara tuanya yaitu Persija Jakarta.[1]

Puncaknya ketika tampuk kepemimpinan di DKI Jakarta dipegang Sutiyoso selama dua periode. Persitara sama sekali tidak diperhitungkan dan hanya dianggap sebagai tim pelengkap. Terlebih dengan munculnya wacana "Jakarta Satu". Yakni hanya satu tim sepak bola yang tampil mewakili Jakarta. Itu dilihat dari dana APBD yang diperoleh. Persija mendapat dana APBD sekitar Rp 22 miliar, sementara Persitara hanya kebagian Rp 3 miliar.[2][3]

Tak kunjung mendapat perhatian dari Pemprov DKI, prestasi Persitara pun terjun bebas, hingga berada di kasta terendah Divisi Dua pada musim 2002. Dari situlah tim yang diterima menjadi anggota PSSI sejak 1980 ini mulai merajut prestasi, hingga akhirnya bisa menembus Superliga, yang kali ini merupakan musim keduanya digelar.

Yang paling tragis tentunya adalah Persijatim Jakarta Timur, yang merupakan pecahan dari Persitara. Karena merasa kurang mendapat perhatian di ibu kota akhirnya tim ini dijual ke Pemprov Sumatera Selatan, yang kemudian berubah nama menjadi Sriwijaya FC (SFC).

Dualisme yang terjadi di kompetisi Indonesia pada 2011-2013, antara Indonesia Primer League (IPL) yang dikelola PT Liga Prima Indonesia Sportindo milik PSSI dan PT Liga Indonesia operator Indonesia Super League (ISL) semakin meruncing.

Era-2010an adalah masa-masa sulit bagi Persitara, Setelah terdegradasi dari kasta tertinggi, Dualisme kompetisi kala itu, ISL dan IPL pada 2011-2013 kian memanas, kemunculan Batavia Union di kompetisi IPL membuat klub ini terbelah, Batavia Union sendiri merupakan klub pecahan dari Persitara Jakarta Utara yang berdiri pada tahun 2010.[4] Selain itu, krisis finansial akut yang menggerogoti Laskar Si Pitung mulai menampakkan efeknya. Di Divisi Utama 2014, Persitara menunggak gaji pemain. Mereka bahkan sempat tak mampu menyewa Stadion Tugu sehingga gagal menggelar laga kandang. Persitara kemudian didegradasi ke Divisi Ketiga.

Situasi semakin kacau bagi Persitara. Ketiadaan manajemen yang kompeten membuat mereka terkatung-katung di Liga 3.

Pada tanggal 14 Mei 2025, Persitara memastikan promosi ke Liga Nusantara untuk pertama kalinya dalam sejarah dari musim depan setelah mengalahkan PS Mojokerto Putra dengan skor tipis 1–0 di Stadion Sultan Agung, Bantul dalam Babak Nasional Ronde ke-3 Grup A yang pertandingan terakhir di Liga 4.

Rivalitas

[sunting | sunting sumber]

Derby Jakarta

[sunting | sunting sumber]

Derbi Jakarta pertama terjadi pada era Perserikatan. Awalnya, hanya Persija (pusat) yang jadi klub paling mapan sejak era awal Perserikatan.

Namun, sejak musim Perserikatan 1987-1988, Persija Utara (Persitara), klub asal Jakarta Utara, berhasil promosi ke Divisi Utama.

Hal itu membuat Jakarta memiliki dua tim andalan dalam ajang Perserikatan level nasional. Kebetulan, ketika itu keduanya berada di grup yang sama.

Derbi ibu kota pertama antara Persija kontra Persitara ini akhirnya terjadi pada Rabu, 9 Desember 1987. Stadion Utama Senayan jadi saksi derbi tersebut. Persitara unggul cepat di menit ke-3 lewat gol Mansyur Ngawaro yang memanfaatkan umpan tendangan bebas Ranny Ngawaro. Skor 1–0 bertahan hingga babak pertama usai. Memasuki babak kedua, Persija terus menekan tetapi kesulitan menembus pertahanan Persitara. Perubahan strategi dengan tendangan jarak jauh akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-67, ketika tembakan Patar Tambunan yang sempat membentur Syaiful Ramadhan membuat skor imbang 1–1 hingga peluit akhir dibunyikan.[5]

Sejak saat itu, kedua tim sama-sama memperebutkan gengsi status ibu kota.[6][7][8][9]

Akhir dekade 2000an adalah periode bergairah bagi sepak bola ibukota. Bukan karena Persija kerap meraih kejuaraan, melainkan karena dua tim Jakarta, Persitara dan Persija rutin bersua di divisi teratas Liga Indonesia. Rivalitas dua tim itu mewarnai gelaran Divisi Utama hingga musim pertama Liga Super.

Derbi Jakarta edisi terakhir digelar pada 2010 silam. Setelah itu, Laskar Si Pitung terdegradasi dan mengalami krisis finansial yang membuat mereka terkatung-katung di Liga 3. Keberhasilan menembus Divisi Utama adalah prestasi membanggakan bagi Persitara. Pasalnya, Laskar Si Pitung bukanlah klub besar. Juga, mereka selalu dianaktirikan oleh Pemprov Jakarta, misalnya saat mereka tak mendapat dukungan memadai sebagaimana tim berjuluk Macan Kemayoran (Persija Jakarta).

Hal paling kentara saat klub-klub Indonesia masih disokong dana APBD. Persija dilaporkan mendapat kucuran dana sekitar 22 miliar dari Pemprov. Sedangkan Persitara hanya diberi kira-kira 3 miliar atau tujuh kali lebih kecil. Semasa Gubernur Sutiyoso menjabat, pemerintah pun seakan menyepelekan kehadiran Persitara. Pada 2009, pemerintah daerah mewacanakan slogan Jakarta Satu yang berarti hanya akan ada satu klub yang mewakili ibu kota. Persitara hendak dimerger ke dalam Persija. Wacana ini tentu ditolak kalangan suporter hingga akhirnya rencana merger dibatalkan.

Hilangnya Persijatim dari kancah persepak bolaan ibukota pun dijawab oleh Persitara. Laskar Si Pitung seperti tak ingin Jakarta hanya diwakili satu klub. Persitara meraih promosi pada 2005 dan menemani Persija di Divisi Utama. Pada 30 Januari 2006, pertandingan bersejarah digelar di Stadion Tugu. Untuk pertama kalinya sejak 1988, Persitara menghadapi Persija dalam kompetisi resmi. Waktu itu, Laskar Si Pitung harus mengakui keunggulan saudara tuanya. Dua gol dari Francis Wewengkang dan Roger Batoum hanya mampu dibalas sekali oleh Persitara melalui gol dari Jean Paul Boumsong.

Semusim kemudian, tepatnya pada 17 Februari 2007, sesuatu yang dinanti-nanti Persitara terjadi. Bermain di Stadion Tugu, Laskar Si Pitung membungkam Persija dengan skor 2-1. Dua striker yang pernah memperkuat Timnas Indonesia, Gendut Doni dan Kurniawan Dwi Yulianto mencetak gol Persitara dalam pertandingan tersebut. Kemenangan fenomenal diraih Persitara di musim pertama Liga Super Indonesia. Bertandang ke markas darurat Persija di Stadion Gajayana, Malang pada 6 Juni 2009, Laskar Si Pitung tampil meyakinkan dan menang 2-4.

Kemenangan tersebut menegaskan daya saing Persitara atas sang saudara tua. Pada masa itu, Laskar Si Pitung memang diperkuat pemain-pemain bintang yang membuat mereka mampu bersaing di papan atas. Pemain sekaliber Kurniawan, John Trakpor, hingga Alfredo Figueroa sempat membela Persitara.

Hingga sejak 2010, Persitara terus mengalami penurunan. Pada 2014, mereka teregradasi dari Divisi Utama 2014 karena masalah keuangan.[10]

Persitara Jakarta Utara memiliki beberapa stadion kandang, salah satunya Stadion Tugu.

Lokasi stadion ini di Jalan Pegangsaan Dua, nomor 9, RT/RW: 9/4, Tugu Selatan, Kecamatan Koja. Stadion Tugu dibangun pada 1987.

Arena sepak bola tanpa lintasan atletik ini berkapasitas 4.000 penonton. Persitara Jakarta Utara yang kini berkompetisi di Liga 3 DKI Jakarta identik dengan stadion ini.

Mereka saat main di kasta kedua Liga Indonesia era Divisi Utama memakai Stadion Tugu sebagai markas. Saat Persitara promosi ke Indonesia Super League, stadion ini juga sempat jadi markas mereka.

Bahkan, Persija Jakarta kalah 1-2 dari Persitara di Stadion Tugu pada Indonesia Super League 2007. Kala itu, duet striker Persitara adalah Kurniawan Dwi Yulianto dan Gendut Doni Christiawan

Hingga saat ini Persitara masih menggunakan Stadion Tugu sebagai markas mereka.

Selain Stadion Tugu, tim berjuluk Laskar si Pitung menggunakan Stadion Kamal Muara yang juga berada di wilayah Jakarta Utara sebagai kandang. Stadion ini merupakan stadion alternatif Persitara Jakarta Utara saat berkompetisi di Indonesia Super League dan Divisi Utama.

Stadion Kamal Muara terletak di Jalan Kamal Muara nomor 7, RT/RW: 7/1, Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan.

Persitara sempat menjamu timnas Indonesia di Stadion Kamal Muara. Itu adalah laga uji coba skuad Garuda asuhan Peter Withe sebelum ke Piala AFF 2007.

Sayang, Stadion Kamal Muara kini tak ada kabar terbaru yang menyenangkan. Arena dengan kapasitas awal 10 ribu penonton ini tak terurus.[11]

Stadion Lebak Bulus sempat menjadi stadion kandang bagi Persitara kala berkompetisi di Liga Super Indonesia, Persitara adalah salah satu peserta Liga Super yang tidak memiliki markas tetap.

Setelah dua stadion di Jakarta Utara ditolak Liga karena tidak memenuhi syarat, Persitara harus menggelar pertandingan di luar Jakarta. Ditambah dengan larangan menggelar pertandingan di Jakarta dari kepolisian karena alasan keamanan, sepanjang putaran kedua musim 2008/2009, Persitara pun hengkang dari Jakarta.

Di Liga Super Indonesia 2008, Persitara harus terusir dari kandangnya karena dua stadion yang jadi markasnya, Stadion Tugu dan Stadion Kamal Muara, tidak lolos verifikasi BLI (Badan Liga Indonesia). Di pertandingan terakhir, Persitara diberi izin untuk menggunakan Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Stadion Soemantri Brodjonegoro juga sempat menjadi stadion kandang Persitara Jakarta Utara, kala itu Persitara harus memindahkan lapangan untuk pertandingan kandang mereka dari Stadion Lebak Bulus ke Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta guna menjalani lanjutan kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2009/2010.

Pemindahan lapangan pertandingan itu karena ada kendala beberapa hal di antaranya adalah tidak mendapatkan izin dari pihak kepolisian dan Stadion Lebak bulus dalam perbaikan.

Musim 2009/2010 merupakan musim terakhir Persitara tampil di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Terdampar di posisi ke-18 dan harus terdegradasi ke divisi utama. Selain Stadion Kamal Muara pertandingan kandang Persitara biasa dimainkan di Stadion Soemantri Brodjonegoro kala itu, stadion ini menjadi saksi bisu Persitara Jakarta Utara terdegradasi dari kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Logo Persitara Jakarta Utara sempat mengalami beberapa perubahan :

  • Tidak ditemukan arsip logo yang digunakan

Persija Timur Utara (1979-1985)

Warna Perlengkapan

[sunting | sunting sumber]
Jersey kandang Persitara yang digunakan musim 1998/1999

Warna biru yang dikenakan oleh Persitara Jakarta Utara bukanlah sekadar pilihan estetika, melainkan sebuah representasi mendalam dari identitas dan jati diri klub yang terikat erat dengan lokasi markasnya. Sebagai tim yang berakar di kawasan pesisir Jakarta Utara yang berbatasan langsung dengan Perairan Teluk Jakarta, warna biru dipilih sebagai simbol dari elemen air yang menjadi ciri khas dan napas wilayah tersebut. Dengan demikian, biru menjadi lebih dari sekadar warna ia adalah pengejawantahan geografis di mana Persitara berasal. Dalam sejarahnya Persitara juga menggunakan warna kebesaran putih yang digunakan untuk jersey away mereka, sedangkan untuk jersey third sering menggunakan warna kuning dan hitam.

Apparel dan Sponsor

[sunting | sunting sumber]

Berikut merupakan apparel resmi Persitara Jakarta Utara dari musim ke musim:

Periode Penyedia Kit
1998/1999 Jerman Adidas
2004-2014 Indonesia UNO
2014-2017 Indonesia MBB Apparel
2017–2018 No Apparel
2018-2019 Indonesia MBB Apparel
2019-2020 Indonesia Nafigo
2020-2023 Indonesia Adhoc Apparel
2023-2024 Indonesia XTEN Apparel
2024-2025 Indonesia Antri Apparel

Indonesia HKB Apparel

2025 –
sekarang
Indonesia Arafs Apparel

Official Sponsor & Partner

[sunting | sunting sumber]

Rekor musim & prestasi

[sunting | sunting sumber]

Pendukung

[sunting | sunting sumber]
NJ Mania di Stadion Kamal Muara, Jakarta pada tahun 2009

NJ Mania merupakan kelompok pendukung fanatik kesebelasan Persitara Jakarta Utara, didirikan pada tanggal 25 Februari 2005. Mereka telah mencatatkan prestasi luar biasa dengan memecahkan dua Rekor MURI yang mengesankan. Pertama, pada September 2007 di Jakarta, 540 anggota NJ Mania melakukan perjalanan menggunakan 11 perahu dari Muara Angke menuju Kamal Muara untuk mendukung tim favorit mereka dalam pertandingan sepak bola, yang memperoleh pengakuan dari MURI sebagai Perjalanan Supporter sepak bola menggunakan perahu terbesar.[13] Rekor MURI kedua mereka adalah saat mereka berhasil bermain futsal selama 3x24 jam tanpa henti di GOR, Jakarta Utara pada bulan Maret 2008.[butuh rujukan] Prestasi ini menunjukkan komitmen dan dedikasi luar biasa mereka dalam mendukung tim favorit mereka.

Peringkat FIFA

[sunting | sunting sumber]
Per November 2025.[14]
Rank Poin
Indonesia AFC FIFA
36 347 2642 1226

Mantan pemain

[sunting | sunting sumber]

Pemain lokal

Pemain asing

AFC

CAF

CONCACAF

  • Kanada Ladislas Kikunda Bushiri

CONMEBOL

UEFA

  • Hungaria László Ivanics
  • Portugal Ernesto Brunhoso

Riwayat Pelatih

[sunting | sunting sumber]
Tahun Nama
1987/1988 Indonesia Willy Daud
1999 Indonesia Benny Dollo
2001-2004 Indonesia Ronny Pattinasarany
2004-2005 Indonesia Dadang Iskandar
2005-2007 Indonesia Abdul Rahman Gurning
2008 Belanda Azreg Richard Rachid
2008 Brasil Jacksen F. Tiago
2008 Indonesia Dadang Iskandar

Indonesia Dodi Sahetapy

2008/2009 Belanda Dick Buitelaar
2009-2011 Indonesia Suimin Diharja
2011/2012 Indonesia Syamsul Bahri
2012 Indonesia Dodi Sahetapy
2012/2013 Indonesia Zainal Abidin
2013/2014 Indonesia Welly Ahmad Podungge
2014/2015 Indonesia Jaelani
2015 Indonesia Dodi Sahetapy
2017 Indonesia Sismadi
2017/2018 Indonesia Eko Prasetyo
2018/2019 Indonesia Rochy Putiray
2019/2020 Indonesia Eko Prasetyo
2021/2022 Indonesia Elly Idris
2023/2024 Indonesia Joko Kuspito
2024/2025 Indonesia Nurjati
2025- Indonesia Robby Darwis

Staf Pengurus

[sunting | sunting sumber]
Posisi Nama
PresidenIndonesia M. Nuh
Manajer timIndonesia Suaib
CEOIndonesia
SekretarisIndonesia
Direktur klubIndonesia Parid

Staf Pelatih

[sunting | sunting sumber]
Posisi Nama
Pelatih KepalaIndonesia Robby Darwis
Asisten PelatihIndonesia Nurjati
Pelatih KiperIndonesia Herman Suherman

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Persija VS Persitara Derby Panas Ibukota Yang Mulai Terlupakan
  2. Kembalinya Persitara Si Anak Tiri Sepakbola Jakarta
  3. Problem Manajemen Yang Membuat Persitara Tenggelam
  4. Batavia Union Mulai Incar Suporter dan Sponsor
  5. 5 Derbi Di Liga Indonesia Yang Kini Tak Ada Lagi
  6. Sejarah Derbi Jakarta, Terakhir Terjadi Satu Dekade Silam
  7. Sejarah Derbi Jakarta Pertama, Persija Dan Persitara Main Keras
  8. Derby Jakarta Pertama
  9. Sejarah Derby Pertama Ibu Kota
  10. "Persitara vs Persija: Menanti Derbi Jakarta Kembali".
  11. JIS dan Saudara Tuanya, Stadion-stadion Milik Pemprov DKI di Jakarta Utara
  12. Persitara Resmi Mundur dari Liga Indonesia
  13. Sarwono, Aylawati (2013). Rekor-Rekor MURI 1990–2008. Jakarta: Elex Media Komputindo. hlm. 278. ISBN 978-602-0403-97-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. "Football / Soccer Club World Ranking".

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]