Persebaya 1927

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Persebaya
Logo Persebaya
Julukan
  • Bajul Ijo
  • Green Force
Berdiri18 June 1927; 91 tahun lalu (18 June 1927), as S.I.V.B
StadionGelora Bung Tomo
(Kapasitas: 55,000)
PemilikPT. Persebaya Indonesia[1]
PresidenBendera Indonesia Azrul Ananda
Head coachBendera Indonesia Djajang Nurjaman
LigaLiga 1
2018Liga 1, 5th
Situs webSitus web resmi klub
Kostum kandang
Kostum tandang
Kostum ketiga
Soccerball current event.svg Musim ini

Persebaya Surabaya yang sempat merubah namanya menjadi Persebaya 1927 [2] adalah sebuah klub Sepak bola profesional di Indonesia yang berbasis di Surabaya yang berdiri pada 18 Juni 1927 dengan nama Soerabajasche Indische Voetbal Bond (SIVB) dan sudah malang melintang dikancah sepak bola Indonesia. Sempat di bekukan oleh PSSI dan disahkan kembali oleh PSSI sebagai anggota di Kongres Tahunan PSSI Bandung pada tanggal 8 Januari 2017.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Jun 1927. Pada awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabajasche Indische Voetbal Bond (SIVB)[3]. Pada saat itu di Surabaya juga ada klub bernama Soerabajasche Voebal Bond (SVB), bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.

Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (sekarang Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M. Pamoedji. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. SIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1938 meski kalah dari VIJ Jakarta.

Ketika Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB yang hampir semua pemainnya adalah pemain pribumi dan sebagian kecil keturunan Tionghoa melejit dan kembali mencapai final sebelum dikalahkan oleh Persis Solo. Akhirnya pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi. Kala itu, Persibaja berhasil meraih gelar juara pada tahun 1951 dan 1952.

Tahun 1959, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga istimewa. Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta. Dua kali Persebaya menjadi kampiun pada tahun 1978 dan 1988, dan lima kali menduduki peringkat kedua pada tahun 1965, 1971, 1973, 1987, dan 1990.

Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi profesional bertajuk Liga Indonesia sejak 1994. Persebaya merebut gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1996-97. Bahkan Persebaya berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali menjadi juara Liga Indonesia ketika pada tahun 2004 Green Force kembali merebut gelar juara. Kendati berpredikat sebagai tim klasik sarat gelar juara, Green Force juga sempat merasakan pahitnya terdegradasi pada tahun 2002 lalu. Pil pahit yang langsung ditebus dengan gelar gelar juara Divisi I dan Divisi Utama pada dua musim selanjutnya.

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Pertandingan[sunting | sunting sumber]

Selain itu, dalam perjalanannya, Persebaya beberapa kali mengalami kejadian kontroversial. Saat menjuarai Kompetisi Perserikatan pada tahun 1988, Persebaya pernah memainkan pertandingan yang terkenal dengan istilah "sepak bola gajah" karena mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12[4], untuk menyingkirkan saingan mereka PSIS Semarang yang pada tahun sebelumnya memupuskan impian Persebaya di final kompetisi perserikatan. Taktik ini setidaknya membawa hasil dan Persebaya berhasil menjadi juara perserikatan tahun 1988 dengan mengalahkan Persija 3 - 2 di final

Pada Liga Indonesia 2002, Persebaya melakukan aksi mogok tanding saat menghadapi PKT Bontang dan diskors pengurangan nilai. Kejadian tersebut menjadi salah satu penyebab terdegradasinya Persebaya ke divisi I. Tiga tahun kemudian atau tahun 2005, Persebaya menggemparkan publik sepak bola nasional saat mengundurkan diri pada babak delapan besar sehingga memupuskan harapan PSIS dan PSM untuk lolos ke final. Atas kejadian tersebut Persebaya diskors 16 bulan tidak boleh mengikuti kompetisi Liga Indonesia. Namun, skorsing diubah direvisi menjadi hukuman degradasi ke Divisi I Liga Indonesia.

Dualisme[sunting | sunting sumber]

Pada musim 2009/2010 merupakan awal mula dualisme Persebaya Surabaya. Persebaya Surabaya (PT Persebaya Indonesia) mengalami degradasi ke Divisi Utama akibat dipaksa melakukan pertandingan ulang sebanyak 3 kali melawan Persik Kediri dengan tempat yang berbeda yaitu di Kediri, Yogyakarta[5], dan Palembang[6]. Pada pertandingan ulang ketiga pihak Persebaya menolak melakukan pertandingan ulang, pihak manajemen tidak terima dan tidak mau ikut Divisi Utama kemudian mengikuti liga ilegal "Liga Primer Indonesia" dari sebelumnya bernama Persebaya Surabaya (PT Surabaya Indonesia) diubah menjadi Persebaya 1927 (PT Persebaya Indonesia). Kemudian Divisi Utama musim selanjutnya, Persikubar Kutai Barat diambil oleh Wisnu Wardhana dan diubah nama menjadi Persebaya Surabaya (kini Bhayangkara FC) untuk bisa mengikuti Liga Indonesia, kemudian berhasil promosi kembali ke Liga Super Indonesia pada musim 2014. Kemudian pada musim 2015 sayangnya liga diberhentikan setelah tidak diakui oleh Pemerintah dan kemudian Indonesia di Banned oleh FIFA.

Pada musim 2015 Persebaya Surabaya (kini Bhayangkara FC) merubah nama menjadi Bonek FC dan Surabaya United dikarenakan Persebaya 1927 (PT Persebaya Indonesia) memenangkan gugatan hak paten nama dan logo,[7] yang mana secara otomatis legalitas Persebaya Surabaya adalah dibawah PT.Persebaya Indonesia.

Pada musim 2016 Surabaya United melakukan merger dengan PS Polri dan kemudian kembali merubah namanya menjadi Bhayangkara Surabaya United dan berlanjut sampai dengan mengikuti kompetisi Indonesia Soccer Championship, di paruh kedua kompetisi tepat pada bulan Mei 2016 Polri resmi membeli 100% saham Bhayangkara Surabaya United dan menghapus nama belakang klub sehingga sekarang bernama Bhayangkara FC, pada bulan yang sama hasil rapat Exco yang digelar di Solo, Persebaya 1927 disahkan kembali sebagai anggota PSSI dan akan disahkan pada KLB di Makassar dan akan kembali berkompetisi di Divisi Utama musim 2017. Namun, pada kongres PSSI yang dilakukan di Jakarta pada 10 November 2016 membatalkan agenda pengesahan tersebut. Ketua PSSI terpilih, Edy Rahmayadi menjanjikan akan menyelesaikan permasalahan Persebaya pada kongres selanjutnya di Bandung.

Pada musim 2017 Persebaya Surabaya kembali berkompetisi di Liga 2, dan berhasil menjadi juara dengan mengalahkan PSMS Medan di final, lalu promosi ke Liga 1, akhirnya pada musim 2018 Persebaya berhasil menduduki peringkat 5 di klasemen akhir Liga 1.

Legenda[sunting | sunting sumber]

Tee San Liong, Rusdy Bahalwan, Liem Tiong Hoo, Djoko Malis, Rae Bawa, Yongki Kastanya, I Gusti Putu Yasa, Muharrom Rusdiana, Nuryono Haryadi, Maura Hally, Budi Johannis, Aji Santoso, Syamsul Arifin, Andik Vermansyah, Mustaqim, Jacksen F.Tiago, Eri Irianto, Yusuf Ekodono, Anang Ma’ruf, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi dan masih banyak lagi lainnya. Mereka adalah talenta-talenta besar yang pernah membawa kejayaan buat Persebaya.

Daftar Pemain[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah daftar sementara pemain Persebaya Surabaya musim 2019[8] yang mengarungi kompetisi Liga 1 yang dahulu dikenal dengan nama Divisi Utama Liga Indonesia/Liga Super Indonesia

Per 5 Februari 2019.[9]

Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.

No. Pos. Pemain
2 Bendera Indonesia DF Novan Setya Sasongko
5 Bendera Brasil DF Otavio Dutra
6 Bendera Indonesia MF Misbakus Solikin (3rd-captain)
8 Bendera Indonesia FW Oktafianus Fernando
9 Bendera Guinea-Bissau FW Amido Baldé
10 Bendera Bolivia MF Damián Lizio
12 Bendera Indonesia MF Rendi Irwan (Vice-captain)
13 Bendera Indonesia DF Rachmat Irianto
14 Bendera Indonesia DF Ruben Sanadi (Captain)
20 Bendera Indonesia FW Osvaldo Haay
22 Bendera Indonesia DF Abu Rizal Maulana
23 Bendera Indonesia DF Hansamu Yama
No. Pos. Pemain
27 Bendera Indonesia MF Fandi Eko Utomo
29 Bendera Indonesia DF Mokhamad Syaifuddin
33 Bendera Indonesia GK Miswar Saputra
41 Bendera Indonesia FW Irfan Jaya
44 Bendera Indonesia DF Andri Muliadi
88 Bendera Indonesia MF Alwi Slamat
90 Bendera Indonesia MF Nelson Alom
96 Bendera Indonesia MF Muhammad Hidayat
82 Bendera Indonesia GK Imam Arief Fadillah
17 Bendera Indonesia MF Elisa Basna
1 Bendera Indonesia GK Abdul Rohim
63 Bendera Tajikistan FW Manuchekhr Dzhalilov

Formasi[sunting | sunting sumber]

Formasi 4-3-3

Soccer Field Transparant.svg

Indonesia
Miswar Saputra
Indonesia
Hansamu Yama
Brasil
Otavio Dutra
Indonesia
M. Syaifuddin
Indonesia
Ruben Sanadi
Indonesia
Misbakus Solikin
Indonesia
Fandi Eko Utomo
Bolivia
Damian Lizio
Guinea-Bissau
Amido Balde
Indonesia
Irfan Jaya
Indonesia
Osvaldo Haay

Suporter[sunting | sunting sumber]

Bonek yang merupakan akronim dari Bondo Nekat adalah pendukung Persebaya. Loyalitas dan totalitas Bonek dalam mendukung Persebaya sudah melegenda. Bonek yang dikoordinir oleh Jawa Pos adalah pionir tradisi awaydays di Indonesia. Selain itu, kesetiaan Bonek pada Persebaya tak lekang oleh waktu.

Prestasi[sunting | sunting sumber]

Di lobi Wisma Eri Irianto, Karanggayam Surabaya, berjajar puluhan trofi dan piala yang pernah diraih Persebaya. Trofi dan Piala tersebut adalah saksi kejayaan Persebaya. Di kompetisi teratas, tercatat Persebaya telah 6 kali juara, dan 9 kali runner up, belum kejuaraan-kejuaraan lainnya.

Kompetisi Domestik[sunting | sunting sumber]

Liga Nasional[sunting | sunting sumber]

Piala Nasional[sunting | sunting sumber]

Kompetisi Internasional[sunting | sunting sumber]

Kompetisi AFC[sunting | sunting sumber]

Musim[sunting | sunting sumber]

Klasemen liga 1 2018[sunting | sunting sumber]


Pos Tim Main M S K MG KG SG Poin Kualifikasi atau degradasi
3 Bhayangkara 34 15 8 11 41 39 +2 53 Kemungkinan kualifikasi untuk Piala AFC Putaran Play-off
4 Persib 34 14 10 10 49 41 +8 52
5 Persebaya 34 14 8 12 60 48 +12 50[a]
6 Arema 34 14 8 12 53 42 +11 50[a]
7 Borneo 34 14 6 14 50 49 +1 48[b]
Sumber: GO-JEK Liga 1 2018, Soccerway, FIFA
Aturan peringkat: 1) Nilai; 2) Head-to-head; 3) Selisih Gol; 4) Jumlah Gol; 5) Pengundian.
Catatan:
  1. ^ a b Hasil head-to-head: Persebaya 1–0 Arema; Arema 1–0 Persebaya
  2. ^ Hasil head-to-head: Madura United 1–2 Borneo, Borneo 2–2 Madura United

Piala Indonesia 2018[sunting | sunting sumber]

[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]