Sepak Bola Gajah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sepak Bola Gajah
Pemain Persebaya 1988.jpg
Pemain Persebaya sebelum pertandingan melawan Persipura pada lanjutan kompetisi Divisi Utama PSSI 1987–88 tanggal 21 Februari 1988 di Stadion 10 November, Surabaya yang kemudian hari dikenal dengan sebutan pertandingan sepak bola gajah.
Tanggal21 Februari 1988; 34 tahun lalu (1988-02-21)
TempatStadion Gelora 10 November, Surabaya
JenisKontroversi pertandingan sepak bola
Peserta/Pihak terlibat
HasilKemenangan 12-0 Persipura atas Persebaya

Sepak Bola Gajah adalah sebuah peristiwa kontroversi pertandingan sepak bola yang terjadi dalam lanjutan putaran kedua wilayah timur kompetisi Divisi Utama PSSI 1987–88 yang mempertemukan antara Persebaya Surabaya vs Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 November, Surabaya pada hari Minggu 21 Februari 1988.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 21 Februari 1988 pada lanjutan pertandingan grup wilayah timur kompetisi Perserikatan Divisi Utama musim 1987-88 ini merupakan peristiwa yang menghebohkan pada saat itu. Persebaya yang bermain di hadapan suporter fanatiknya di Stadion Gelora 10 November kala itu kalah saat melawan Persipura Jayapura dengan skor 0-12, namun kekalahan itu bukan murni karena ketidakmampuan tim Persebaya menghadapi tim Persipura tetapi karena memang sengaja mengalah. Kekalahan tersebut memang sudah direncanakan oleh manajer Persebaya saat itu yaitu Agil H. Ali dan rencana tersebut juga didukung sepenuhnya oleh suporter bahkan oleh seluruh warga Kota Surabaya.[1]

Ada dua versi yang mengiringi skandal sepak bola gajah tersebut. Versi pertama adalah karena Persebaya menyimpan dendam terhadap PSIS Semarang yang mengalahkan Persebaya di final Divisi Utama PSSI 1986–87, jadi Persebaya sengaja mengalah saat melawan Persipura sebagai bagian dari usaha untuk menjegal PSIS Semarang maju ke babak 6 kompetisi Divisi Utama PSSI 1987–88. Dengan kalah margin gol yang besar akhirnya membuat Persipura menjadi 3 tim dari wilayah timur yang lolos ke babak 6 besar bersama Persebaya dan Persiba Balikpapan.

Versi kedua adalah, diketahui bahwa pada saat itu ada dua tim dari wilayah Indonesia timur yang mengikuti kompetisi yaitu Persipura Jayapura dan Perseman Manokwari, di akhir klasemen Perseman Manokwari dipastikan akan degradasi sehingga tinggal Persipura Jayapura untuk itu dibuatlah skenario agar Persipura Jayapura sebagai wakil Irian Jaya dan Indonesia timur bisa bertahan di kompetisi Perserikatan agar penduduk Indonesia timur tetap memiliki hiburan olahraga. Dan skenario tersebut berhasil dengan sempurna, selain bisa membuat Persipura bertahan di kompetisi Persebaya juga berhasil menyingkirkan PSIS Semarang gagal lolos babak 6 besar dan akhirnya Persebaya keluar sebagai juara setelah mengalahkan Persija Jakarta di pertandingan final yang dihelat di Stadion Utama Senayan, Jakarta pada tanggal 27 Maret 1988 dengan skor 3-2 setelah melalui babak tambahan waktu.

Pasca peristiwa[sunting | sunting sumber]

Bledug ijo[sunting | sunting sumber]

PSSI tidak menjatuhkan hukuman kepada Persebaya atas skandal tersebut karena pada waktu itu belum ada regulasi yang mengatur skandal semacam itu. hanya kebencian dari warga Kota Semarang dan Jawa Tengah yang didapat oleh Persebaya Surabaya. Setelah pertandingan kontroversial ini Persebaya mendapat julukan baru yang sebenarnya merupakan sebuah sindiran atau olok-olok yaitu "Bledug Ijo" (bahasa Indonesia: Anak gajah hijau) dan julukan tersebut sempat populer pada tahun 1990an.[2]

Munculnya Bonek[sunting | sunting sumber]

Setelah Persebaya berhasil maju ke babak final kompetisi Divisi Utama PSSI 1987–88 yang tak bisa dilepaskan dari peristiwa sepak bola gajah ini, ribuan pendukung Persebaya dengan dikoordinasi oleh pimpinan koran Jawa Pos saat itu yaitu Dahlan Iskan berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk mendukung Persebaya. Kedatangan ribuan suporter Persebaya yang kebanyakannya hanya membawa uang pas-pasan ini akhirnya memunculkan celetukan perkataan "bonek" singkatan dari bondo nekat yang maksudnya adalah modal nekat. Dan dari peristiwa itulah kemudian istilah bonek atau bondo nekat ini dipakai untuk menyebut kelompok suporter Persebaya Surabaya hingga sekarang.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sepak Bola Gajah terheboh dalam sejarah. jawapos.com. Diakses tanggal 30/09/2019
  2. ^ "Sepak Bola Gajah demi bumi Cendrawasih". historia.id. Diakses tanggal 30/09/2019. 
  3. ^ Asal usul sebutan Bonek. Historia.id. Diakses tanggal 5/10/2019.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]