Henk Ngantung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Henk Ngantung
HenkNgantung2.png
Gubernur DKI Jakarta ke-6
Masa jabatan
26 Agustus 1964 – 15 Juli 1965
PresidenSoekarno
WakilSoewondo
Satoto Hoepoedio
PendahuluSoemarno Sosroatmodjo
PenggantiSoemarno Sosroatmodjo
Wakil Gubernur DKI Jakarta ke-1
Masa jabatan
1960–1964
PresidenSoekarno
GubernurSoemarno Sosroatmodjo
PenggantiSoewondo
Satoto Hoepoedio
Informasi pribadi
LahirHendrik Hermanus Joel Ngantung
(1921-03-01)1 Maret 1921
Bendera Belanda Manado, Sulawesi Utara, Hindia Belanda
Meninggal dunia12 Desember 1991(1991-12-12) (umur 70)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
PasanganEvie Mamesah

Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau juga dikenal dengan nama Henk Ngantung (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 1 Maret 1921 – meninggal di Jakarta, 12 Desember 1991 pada umur 70 tahun) putra dari pasangan Arnold Rori Ngantung dan Maria Magdalena Kalsun.[1]

Beliau adalah pelukis Indonesia dan Gubernur DKI Jakarta untuk periode 1964-1965. Ia adalah orang non-Muslim asal Manado, Sulawesi Utara pertama yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sebelum dipilih menjadi gubernur, pria suku Minahasa (Sulawesi-Utara) tersebut lebih dulu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta pada periode 1960-1964 dengan gubernurnya Sumarno. Henk menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 27 Agustus 1964 sampai 15 Juli 1965.[2]

Karier[sunting | sunting sumber]

Sebagai pelukis[sunting | sunting sumber]

Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Henk dikenal sebagai pelukis tanpa pendidikan formal atau disebut seniman sketsa otodidak.[3]

1944 - Sketsa Perjuangan

Henk Ngantung membuat karya lukisan “Memanah” dengan Bung Karno sebagai modelnya. Dua karya ini menjadi koleksi Bung Karno. Ia juga membuat sketsa tentang Perundingan Linggarjati, Perundingan Renville dan Perundingan Kaliurang


1946 - Gelanggang Seniman Merdeka

Henk Ngantung menjadi salah satu pendiri "Gelanggang Seniman Merdeka" yang mengihimpun kaum seniman Angkatan 45, termasuk Chairil Anwar, Haruddin M.S., Mochtar Apin, Basuki Resobowo, Asrul Sani, dan lainnya.


1948 - Pada Agustus 1948, Henk Ngantung menggelar pameran di Gedung Taman Siswa Kemayoran & Hotel Des Indes Jakarta. Setelah itu, ia berkeliling ke berbagai tempat di Indonesia meskipun sedang dalam situasi perang

Pada tahun 1955-1958 Henk Ngantung tercatat sebagai pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok

Gubernur DKI[sunting | sunting sumber]

Henk Ngantung (tengah) dalam lawatannya ke Wina, bersama Walikota Wina, Austria pada masa itu, Bruno Marek dan Konsul Indonesia di Wina, A. Kobir Sasradipoera

Sebelum diangkat menjadi gubernur, ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai deputi gubernur di bawah Soemarno. Saat itu banyak kalangan yang protes atas pengangkatan Henk Ngantung. Soekarno ingin agar Henk menjadikan Jakarta sebagai kota budaya. Dan, Ngantung dinilainya memiliki bakat artistik. Salah satu pengalaman yang barangkali menarik adalah tatkala presiden memanggilnya ke istana untuk mengatakan bahwa pohon-pohon di tepi jalan yang baru saja dilewati perlu dikurangi. Masalah pengemis yang merusak pemandangan Jakarta tak lepas dari perhatian Ngantung.

Setelah tidak menjabat[sunting | sunting sumber]

Henk Ngantung tidak sekadar tinggal dalam kemiskinan hingga harus menjual rumah di pusat kota untuk pindah ke perkampungan. Derita Henk Ngantung terus menerpa karena nyaris buta oleh serangan penyakit mata dan dicap sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia tanpa pernah disidang, dipenjara, apalagi diadili hingga akhir hayatnya bulan Desember 1991. Henk Ngantung hingga akhir hayatnya tinggal di gang sempit namun lahan rumahnya cukup luas di jalan Waru, Cawang, Jakarta Timur.

Kesetiaan Henk melukis terus berlanjut meski dia digerogoti penyakit jantung dan glaukoma yang membuat mata kanan buta dan mata kiri hanya berfungsi 30 persen. Pada akhir 1980-an, dia melukis dengan wajah nyaris melekat di kanvas dan harus dibantu kaca pembesar. Sebulan sebelum wafat, saat ia dalam keadaan sakit-sakitan, pengusaha Ciputra memberanikan diri mensponsori pameran pertama dan terakhir Henk.

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Henk beristrikan Hetty Evelyn "Evie" Ngantung Mamesah. Pernikahan mereka dikaruniai 4 orang anak yaitu Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung dan Karno Ngantung. Henk meninggal pada usia 70 tahun karena sakit jantung. Dimakamkan di TPU Menteng Pulo

Karya[sunting | sunting sumber]

Foto koleksi Tropenmuseum Belanda

Tugu Selamat Datang yang menggambarkan sepasang pria dan wanita yang sedang melambaikan tangan yang berada di bundaran Hotel Indonesia merupakan hasil sketsa Henk, dalam rangka menyambut Asian Games 1962 di Jakarta.

Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno dan design awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan wakil Gubernur DKI Jakarta. Henk juga membuat sketsa lambang DKI Jakarta dan lambang Kostrad[4] namun ironisnya, hal tersebut belum diakui oleh pemerintah. Lukisan hasil karya Henk antara lain adalah:

  • Judul : “Gajah Mada”[5]
  • Judul : “Ibu dan Anak” yang merupakan hasil karya terakhirnya.


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Sejarah Hidup Henk Ngantung: Gubernur Jakarta, Seniman Lekra". tirto.id. Diakses tanggal 2019-10-28. 
  2. ^ Liputan6.com (2017-03-21). "Henk Ngantung, Gubernur Non-muslim Jakarta Pertama". liputan6.com. Diakses tanggal 2019-10-28. 
  3. ^ antaranews.com (2010-04-13). "Sketsa Ngantung Masih Menggantung". Antara News. Diakses tanggal 2019-10-28. 
  4. ^ antaranews.com (2010-04-13). "Sketsa Ngantung Masih Menggantung". Antara News. Diakses tanggal 2019-10-28. 
  5. ^ "Gajah Mada". Informasi Lukisan Indonesia. 2018-03-26. Diakses tanggal 2019-10-28. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Soemarno Sosroatmodjo
Gubernur Jakarta
1964–1965
Diteruskan oleh:
Soemarno Sosroatmodjo