Dataran Tinggi Minangkabau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Dataran Tinggi Minangkabau atau juga disebut Darek adalah wilayah pegunungan yang terletak di bagian tengah Bukit Barisan dengan tiga puncak tertinggi yang dijuluki sebagai puncak Tri Arga. Wilayah yang kini menjadi bagian dari provinsi Sumatera Barat ini terdiri dari tiga lembah utama atau juga disebut luhak, yaitu: Luhak Agam, Luhak Limopuluah, dan Luhak Tanah Data.[1] Wilayah ini merupakan kampung halaman bagi orang Minangkabau; mereka menyebutnya sebagai Alam Minangkabau.[2]

Di wilayah ini diketahui telah terbentuk banyak kerajaan setidaknya sejak abad ke-7, mulai dari Kerajaan Malayu, Kerajaan Dharmasraya, hingga Kerajaan Pagaruyung.[3] Besar kemungkinan budidaya padi sawah awalnya berkembang di Minangkabau jauh sebelum bermuncul di bagian lain di pulau Sumatera, bahkan mendahului kontak kebudayaan asing yang besar.[4] Sejumlah prasasti yang ditemukan di Minangkabau tercatat sebagai peninggalan Adityawarman (1347–1375).[5]

Belanda mulai mengeksploitasi cadangan emas di Minangkabau sekitar tahun 1680-an.[6] Pada awal abad ke-19, pedagang-pedagang Eropa termasuk Belanda mendominasi perdagangan di Minangkabau. Belanda juga membatasi aktivitas pedagang Minangkabau yang menuju pantai timur pulau Sumatera, dan mengalihkannya menuju pelabuhan di pantai barat antara tahun 1820 sampai 1899, yang menyebabkan produksi padi mengalami penurunan tajam.[7]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Backshall, Stephen (1 June 2003). Rough Guide to Indonesia. Rough Guides. pp. 404–. ISBN 978-1-85828-991-5. Diakses tanggal 8 August 2012. 
  2. ^ Ooi, Keat Gin (2004). Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor. ABC-CLIO. p. 887. ISBN 978-1-57607-770-2. Diakses tanggal 7 August 2012. 
  3. ^ Wink, André (1 January 2004). Indo-Islamic Society, 14th–15th Centuries. BRILL. p. 47. ISBN 978-90-04-13561-1. Diakses tanggal 7 August 2012. 
  4. ^ Miksic, John (2004). "From megaliths to tombstones: the transition from pre-history to early Islamic period in highland West Sumatra.". Indonesia and the Malay World 32 (93): 191. doi:10.1080/1363981042000320134. 
  5. ^ Barnard, Timothy P. (2004). Contesting Malayness: Malay Identity Across Boundaries. NUS Press. p. 66. ISBN 978-9971-69-279-7. Diakses tanggal 7 August 2012. 
  6. ^ Borschberg, Peter (2004). Iberians in the Singapore-Melaka Area and Adjacent Regions (16th to 18th Century). Otto Harrassowitz Verlag. p. 156. ISBN 978-3-447-05107-1. Diakses tanggal 7 August 2012. 
  7. ^ Schneider, David Murray; Gough, Kathleen (1961). Matrilineal Kinship. University of California Press. p. 476. ISBN 978-0-520-02529-5. Diakses tanggal 7 August 2012.