Jamaluddin Akbar al-Husaini

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Imam Sayyid Maulana
Jamaluddin al-Husain
Azmatkhan
Nama asalجمال الدين الحسين
Lahirحسين
1310
Malabar, India
Meninggal1453
Tosora, Wajo dan Lampung Sriwijaya islam
MakamTosora, Wajo dan campang tiga.
Nama lainSyeikh Jumadil Kubro
PekerjaanWali, Ulama, Da'i,
Dikenal atasWaliyullah, Datuk Azmatkhan Indonesia
Anak
  1. Maulana Muhammad al-Maghribi
  2. Maulana Ahmad
  3. Maulana Ali Akbar
  4. Maulana Muhammad Baqir
  5. Maulana Wali Islam
  6. Pangeran Pebahar
  7. Fadhal (Sunan Lembayung)
  8. Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung)
  9. Syekh Yusuf Shiddiq (Ayah dari Syekh Quro, [[[Karawang]])
  10. Maulana Ibrahim Zainuddin (Asmoroqondi)
  11. ’Abdul Malik
  12. ‘Ali Nurul ‘Alam
  13. Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma)
  14. Muhammad Barakat Zainal Alam
  15. Muhammad Kebungsuan
Orang tuaAhmad bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahih Mirbath bin Ali Khali Qasam bin Alawi Ats Tsani bin Muhammad Shahib Shaumah bin Alawi Al Awwal bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad Al Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Ja'far Al Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali

Jamaluddin al-Husain (1310-1453M) dikenal sebagai seorang mubaligh terkemuka, dia menyebarkan Islam di Nusantara. Wali Songo yang terkenal kemudian berasal dari keturunannya. Ia dilahirkan pada tahun 1310 M di negeri Malabar, di dalam wilayah Kesultanan Delhi. Ayahnya adalah seorang amir negeri Malabar, yang bernama Amir Ahmad Syah Jalaluddin.

Silsilah[sunting | sunting sumber]

  1. Jamaluddin al-Husain bin
  2. Ahmad Syah Jalaluddin bin
  3. Amir Abdullah Azmatkhan bin
  4. Abdul-Malik Azmatkhan bin
  5. Alwi ‘Ammil Faqih bin
  6. Muhammad Shohib Mirbath bin
  7. Ali Khali' Qasam bin
  8. Alwi Shohib Baiti Jubair/'Alwi Ats Tsani bin
  9. Muhammad Shohibus Saumah bin
  10. Alawi bin
  11. Ubaidillah
  12. Ahmad al-Muhajir bin
  13. Isa bin
  14. Muhammad an-Naqib bin
  15. Ali bin
  16. Imam Ja’far ash-Shadiq bin
  17. Imam Muhammad al-Baqir bin
  18. Imam Ali bin Husain bin
  19. Imam Husain Asy-Syahid bin
  20. Ali bin Abu Thalib

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Maulana Husain lahir di Malabar India 1310, ibu dari Samarkand, Uzbekistan, memiliki banyak saudara di antaranya: adik bungsu HUSEIN lahir 1326 di AGRA sewaktu dilantik jadi raja 1351 bergelar JAMALUDDIN di champa sekitarnya mendapat gelar ALKABIR; AHMAD JUMADIL KUBRO LAHIR 1311 DIDELHI DARI IBU BINTI NIZAMULMULK; Aludeen Abdullah, Amir Syah Jalalluddeen (Sultan Malabar), Alwee Khutub Khan, Hasanuddeen, Qodeer Binaksah, Ali Syihabudeen Umar Khan, Syeikh Mohamad Ariffin Syah (Datuk Kelumpang Al Jarimi Al Fatani) dan Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera) .

Maulana Muhammad dianggap memiliki beberapa nama panggilan yg salah, diantaranya Sayyid Husain Jamaluddin, Syekh Maulana Al-Akbar atau Syekh Jamaluddin Akbar Gujarat, ia tercatat memiliki 6 istri, yaitu:

  1. Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Maroko), memperoleh seorang anak, yang kemudian dikenal dengan nama Maulana Muhammad Al-Maghribi.
  2. Puteri Nizam Al Mulk dari Delhi, memperoleh 4 anak yaitu: Maulana Ahmad Jumadil Kubra (maqom Terboyo Semarang), Maulana Muhammad ‘Ali Akbar, Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subakir), Syaikh Maulana Wali Islam.
  3. Puteri Linang Cahaya, (menikah tahun 1350 M), memperoleh 3 anak, yaitu: Pangeran Pebahar, Fadhal (Sunan Lembayung), Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung), Syekh Yusuf Shiddiq (Ayah dari Syekh Quro, Karawang).
  4. Puteri Ramawati (Puteri Jeumpa/Pasai) (Menikah tahun 1355 M), memperoleh seorang anak yang bernama Maulana Ibrahim Al Hadrami.
  5. Puteri Syahirah dari Kelantan (Menikah tahun 1390 M) memperoleh 3 anak. yaitu ’Abdul Malik, ‘Ali Nurul ‘Alam dan Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma.
  6. Puteri Jauhar (Diraja Johor), memperoleh anak bernama Muhammad Berkat Nurul Alam dan Muhammad Kebungsuan

Keempat isterinya yang terakhir, ia nikahi selepas tiap-tiap seorang daripadanya meninggal dunia

Sejarah Dakwah[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1349 M besama adiknya Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera), tiba di Kelantan dalam menjalankan misi dakwahnya.

Dari Kelantan ia menuju Samudra Pasai, dan ia kemudian bergerak ke arah Tanah Jawa. Di Jawa ia menyerahkan tugas dakwah ke anakanda tertuanya Maulana Malik Ibrahim. Jamaluddin Akbar al-Husaini sendiri bergerak ke arah Sulawesi dan mengislamkan Raja Lamdusalat (La Maddusila Toappasawe' Datu Tanete) pada tahun 1380 M.

Pada awal abad ke-15, Maulana Husain mengantar puteranya Maulana Ibrahim Al Hadrami ke tanah Jawa.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk bermukim di Sulawesi, hal ini dikarenakan, sebagian besar orang Bugis ketika itu belum masuk Islam. Ia wafat pada tahun 1453, dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]