Hasan bin Ali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Hasan bin Ali
Bismillahirahmanirahim
Amirul Mu’minin
Hasan bin Ali
الحسن ابن علي ابن أبي طالب
Name of Hasan in Arabic in Hagia Sophia, April 2013.jpg
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar (Islam) Amirul Mu’minin
Nama
Nama Hasan bin Ali
Nama (arabic) الحسن ابن علي ابن أبي طالب
Kelahirannya
Tanggal lahir (M) 1
Bulan lahir (M) Desember
Tahun lahir (M) 624
Nama ayah Ali bin Abi Thalib
Nama ibu Fatimah az-Zahra
Agama, Identitas, Kebangsaan
Agama Islam
Etnis (Suku bangsa)
Etnis
(Suku bangsa)
Suku Quraisy
Kebangsaan Bani Hasyim
Bantuan kotak info

Amirul Mu’minin (Arab: أمـيـر الـمـؤمـنـيـن‎, Pemimpin orang beriman) Hasan bin Ali bin Abu Thalib (Bahasa Arab: حسن بن علي بن أﺑﻲ طالب)‎ (c. 624669) adalah anak dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, dan cucu pertama dari Muhammad. Menurut hampir seluruh sekte Syi'ah, Ia merupakan Imam kedua, sedangkan sekte lainnya menyebut bahwa Imam kedua adalah saudaranya Husain bin Ali. Walaupun begitu, ia merupakan salah seorang figur utama baik dalam Sunni dan Syi'ah karena ia merupakan Ahlul Bait dari Nabi Muhammad SAW. Ia juga sangat dihormati kaum Sufi karena menjadi Waliy Mursyid yang ke-2 setelah ayahnya terutama bagi tarekat Syadziliyyah.

Kelahiran[sunting | sunting sumber]

Hasan dilahirkan dua tahun setelah Hijrah ke Madinah pada tanggal 1 Desember 624 Masehi (15 Ramadhan 3 Hijriyah) di Madinah Shabbar, S.M.R. (1997). Story of the Holy Ka’aba. Muhammadi Trust of Great Britain. Diakses tanggal 30 October 2013. </ref>[1], orang tuanya adalah Imam Ali bin Abi Thalib , sepupu Rasulullah Muhammad SAW dan orang kepercayaannya, dan Fatimah putri Muhammad. Al Imam Hasan adalah cucu pertama Nabi Muhammad SAW. Menurut tradisi Syi'ah, ia dinamakan seperti nama kakeknya. Hasan berarti "gagah/ handsome" dalam Bahasa Arab.

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Adapun garis silsilahnya adalah seperti di bawah ini:

Abdul-Muththalib
(lahir 497)
 
 
 
 
 
Fatimah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Aminah
 
 
 
 
 
Abdullah
(lahir 545)
Abu Thalib
 
 
 
 
 
Fatimah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
MUHAMMAD saw
(lahir 570)
 
 
 
 
 
Khadijah
Ali
(lahir 599)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Fatimah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Hasan
(lahir 625)
Husain
(lahir 626)


Pernikahan & keluarga[sunting | sunting sumber]

Istri-istri[sunting | sunting sumber]

Hasan menikahi sembilan orang wanita[2]::

  1. Ummu Farwa (ibu dari Qasim bin Hasan)
  2. Khaulah binti Mansur al Fazariyah (ibu dari Hasan al Mutsanna)
  3. Ummu Bashir binti Ibnu Masud (ibu dari ummul Hassan, Ummul Husain, Zaid)
  4. Saqfia
  5. Ramlah (ibu dari Abu Bakar bin Hasan)
  6. Ummul Hassan
  7. Binti Umrul qais
  8. Ju'dah binti Asy'ath bin Qays
  9. UmmuIshaq binti Talhah (ibu dari Talhah bin Hasan)

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Keturunan

Diriwayatkan bahwa Hasan memiliki 15 orang anak, diantaranya adalah:

  1. ZAID, bergelar al-Ablaj mempunyai putra bernama:
    1. Hasan bergelar al-Anwar. Hasan al-Anwar sempat menjadi Gubernur Madinah diangkat tahun 150 H oleh Abu Ja'far al-Mansur Khalifah ke-2 Bani Abbasiyah.
  2. AL-HASAN, bergelar al-Mutsanna, ibunya bernama Khaulah binti Manshur al-Fazariyah, mempunyai 7 orang putra:
    1. Abdullah, yang oleh kaum Suni dan kaum Sufi bergelar al-Mahdi, oleh kaum Syi'ah digelari al-Kamil, dari Abdullah inilah yang kemudian menurunkan dinasti Hasyimiyah yang berkuasa atas Yordania sekarang dan pernah berkuasa atas Iraq dan sebagai pemimpin kota Mekkah, Syarif Mekkah.[3] Abdullah tercatat mempunyai 4 putra yaitu:
      1. Muhammad yang sangat terkenal dengan gelar Al Nafs Az Zaky,
      2. Musa bergelar Al-Jaun memiliki anak bernama :
        1. Abdullah Syekh Asholah bin Musa bin Abdullah, yang keturunannya sampai kepada Syekh Abdul Qadir Jilani pendiri tarekat Qadiriyyah.
      3. Idris bin Abdullah. Ia merupakan pendiri negara Maroko dan mempunyai banyak keturunan di Maroko baik kaum bangsawan (Dinasti Idrissi di Maroko) juga kaum ulamanya di seluruh Maghribi.
      4. Ibrahim,
    2. Ibrahim Al Qhamri, yang dari sinilah menurunkan gelar Thobathoba'i, keturunannya yakni bernama:
      1. Ismail bin Ibrahim Al Qhamri, kemudian
          1. Ibrahim bin Ismail bin Ibrahim yang merupakan orang yang pertama dijuluki Thobathoba'i yang tersebar di Yaman, Mesir, Iran, Irak, India dst. Ia memiliki keturunan 4 putra yakni :
            1. Hassan (yang keturunannya tersebar di Mesir) memiliki anak bernama Ali, dst
            2. Abdullah memiliki anak bernama Ahmad,
            3. Ahmad (yang keturunannya tersebar di Iran) memiliki anak Mohammed, dst
            4. Al Qasim memiliki anak yaitu
              1. Yahya bin Qasim bin Ibrahim bin Ismail
              2. Hussein bin Qasim bin Ibrahim bin Ismail
    3. Al Hasan Mutsallits
    4. Daud
    5. Ja'far
    6. Muhammad
    7. Ali bin al-Hasan mempunyai putra bernama:
      1. Husayn, yang sangat terkenal dengan gelar al-Fukhkhiy
  3. QASIM;
  4. ABDULLAH, merupakan salah satu keturunan yang Syahid bersama Al Imam Husain di Karbala, Abdullah diketahui sempat mempunyai 3 putra sebelum wafat yaitu:
    1. Yahya bin Abdullah
    2. Muhammad bin Abdullah. Ia mempunyai putra bernama:
      1. Abdullah dengan gelar al-Asytar.
  5. HUSAIN;
  6. THALHA;
  7. UMAR;
  8. AQIL;
  9. HAMZAH;
  10. ISMAIL;
  11. AHMAD;
  12. ABDURRAHMAN;
  13. UMMUL AL HASAN, yang dijuluki al-Astram;
  14. RUGAYYAH;
  15. FATIMAH BINTI HASAN AL MUJTABA, merupakan Ibu dari Imam Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husain).

Sebagai Imam dan Waliy Mursyid[sunting | sunting sumber]

Bagian dari artikel tentang
Imam Syi'ah
Dua Belas Imam


Ali bin Abi Thalib
Hasan al-Mujtaba
Husain asy-Syahid
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja'far ash-Shadiq
Musa al-Kadzim
Ali ar-Ridha
Muhammad al-Jawad
Ali al-Hadi
Hasan al-Askari
Muhammad al-Mahdi


Bagi kaum Syi'ah ia adalah Imam ke-2 dari 12 Imam, sementara bagi kaum Sufi khususnya tarekat Syadziliyah (Shadiliyya) ia adalah Waliy Mursyid generasi ke-2 setelah ayahnya Ali bin Abi Thalib. Hingga saat ini sebagian besar tarekat sufi telah mencapai Waliy Mursyid generasi yang ke 40.

Ia juga menjadi datuk (leluhur) bagi sebagian Waliy Mursyid besar dan sangat utama seperti Syekh Abu Hasan Syadzili keturunan ia dari Isa bin Muhammad bin Hasan bin Ali. Juga Syekh Abdul Qadir Jaelani keturunannya dari Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali. Dan tak terhitung juga menjadi datuk bagi banyak Waliy Mursyid pada zaman sekarang terutama dari tarekat Syadziliyyah.

Kewafatan[sunting | sunting sumber]

Hasan bin Ali bin Abu Thalib wafat pada 1 April 670 (umur 45) (5 Rabiulawal 50 H) di Madinah [4][5] dan dimakamkan di Pemakaman Jannatul Baqi.[butuh rujukan]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Shaykh Mufid. Kitab Al Irshad. p.279-289.
  2. ^ Naqoosh-e-Ismat by Allama Zeeshan Haider Jawadi p. 217-218
  3. ^ http://www.4dw.net/royalark/Arabia/mecca1.htm
  4. ^ Hasan b. 'Ali b. Abi Taleb, Encyclopedia Iranica.
  5. ^ Suyuti, Jalaluddin. تاریخ الخلفاء. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]