Tabuik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tabuik di Kota Solok (tahun 1910-1920)
Monumen Tabuik di pusat Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia.

Tabuik (Indonesia: Tabut) adalah perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Muhammad, yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di daerah pantai Sumatra Barat, khususnya di Kota Pariaman. Festival ini termasuk menampilkan kembali Pertempuran Karbala, dan memainkan drum tassa dan dhol. Tabuik merupakan istilah untuk usungan jenazah yang dibawa selama prosesi upacara tersebut. Walaupun awal mulanya merupakan upacara Syi'ah, akan tetapi penduduk terbanyak di Pariaman dan daerah lain yang melakukan upacara serupa, kebanyakan penganut Sunni. Di Bengkulu dikenal pula dengan nama Tabot.

Tabuik diturunkan ke laut di Pantai Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia

Upacara melabuhkan tabuik ke laut dilakukan setiap tahun di Pariaman pada 10 Muharram sejak 1831.[1] Upacara ini diperkenalkan di daerah ini oleh Pasukan Tamil Muslim Syi'ah dari India, yang ditempatkan di sini dan kemudian bermukim pada masa kekuasaan Inggris di Sumatra bagian barat.

Tahapan[sunting | sunting sumber]

Ritual pembuatan tabuik dimulai dengan pengambilan tanah dari sungai pada tanggal 1 Muharram. Tanah tersebut diletakkan dalam periuk tanah dan dibungkus dengan kain putih, kemudian disimpan dalam lalaga yang terdapat di halaman rumah tabuik. Lalaga adalah tempat berukuran 3x3 meter yang dipagari dengan parupuk, sejenis bambu kecil. Tanah yang dibungkus dengan kain putih adalah perumpamaan kuburan Husain. Tempat Ini akan diatapi dengan kain putih berbentuk kubah. Tanah tersebut akan dibiarkan disana sampai dimasukkan ke dalam tabuik pada tanggal Muharram.

Pada tanggal 5 Muharram dilakukan proses menebang batang pisang dengan cara sekali tebas pada malam hari. Ini melambangkan perumpamaan keberanian salah satu putra Imam Husain yang menuntut balas kematian bapaknya. Prosesi dilanjutkan pada tanggal 7 dan 8 muharram yang disebut Maatam dan Maarak sorban. Maatam merupakan personifikasi membawa jari-jari Husain yang berserakan ditebas pasukan Raja Yazid. Sedangkan Maarak Sorban melambangkan diaraknya bekas sorban untuk menyiarkan keberanian Husain memerangi musuh.

Pada tanggal 10 Muharram pagi, diadakan prosesi Tabuik naik pangkat, yaitu pemasangan bagian atas tabuik. Kemudian Tabuik diarak hingga akhirnya dibuang ke laut.[2]

Festival Tabuik[sunting | sunting sumber]

Festival Tabuik merupakan bagian dari cara masyarakat merayakan tradisi Tabuik secara tahunan. Ketika upacara adat ini sudah diakui oleh pemerintah sebagai bagian berharga dari kehidupan berbangsa, maka festival Tabuik pun menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Festival Tabuik sudah berlangsung sejak puluhan tahun, disebutkan bahwa festival ini sudah berlangsung sejak abad ke-19 Masehi. Festival Tabuik ini kini tidak hanya menjadi bagian dari adat masyarakat setempat semata melainkan juga menjadi salah satu bagian dari komoditi pariwisata daerah. Fetival Tabuik dilaksanakan dalam satu rangkaian untuk menghormati atau sebagai hari perayaan peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yang bernama Hussein bin Ali. Peringatan ini selalu dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram sesuai dengan hari wafatnya cucu nabi Muhammad SAW Hussein Bin Ali yang meninggal dalam perang di padang Karbala.[3]

Festival Tabuik sendiri merujuk pada penggunaan bahasa arab ‘tabut’ yang berarti peti kayu. Nama tersebut mengacu kepada legenda paska kematian cucu nabi, muncul makhluk seekor kuda bersayap dengan kepa manusia. Makhluk itu disebut Buraq. Dalam legenda itu dikisahkan bahwa peti kayu yang dibawa oleh kuda berkepala manusia itu berisi potongan jenazah Hussein. Berdasarkan legenda tersebutlah, maka dalam festival Tabuik selalu muncul makhluk tiruan buraq untuk mengusung peti kayu ‘tabut’ di atas punggungnya. Ritual ini sendiri baru muncul sekitar tahun 1826-1828 Masehi. Tabuik pada tahun-tahun tersebut kental dengan pengaruh Timur Tengah yang dibawa oleh keuturnan India penganut Syuah. Kemudian pada tahun 1910 terjadi perubahan bentuk perayaan guna menyesuaikan dengan adat istiadat masyarakat Minangkabau. Oleh karenanya, festival Tabuik menjadi seperti yang anda lihat saat ini. Festival Tabuik awalnya hanya ada satu yakni tabuik pasa. Perubahan itu terjadi sekitar tahun 1915 ketika ada segolongan masyarakat mengajukan supaya terwujud tabuik dalam bentuk lain. terjadilah kesepakatan tabuik di buat di dua daerah, satu di daerah Pasa sehingga disebtu dengan tabuik Pasa dan Tabuik Subarang yang dilaksanakan di seberang Sungai Pariaman.[3]

Tabuik Pasa berada di sisi selatan sungai yang membelah kota sampai ke tepian Pantai Gandoriah. Wilayah Pasa dianggap sebagai asal muasal tradisi Tabuik dibentuk. Sedangkan Tabuik Subarang yang terletak di seberang utara Sungai Pariaman disebut sebagai kampung Jawa karena penduduk di sana merupakan pendatang dari Jawa. Dalam sebuah riwayat yang bertarik tahun 1916 dan sekitar tahun 1930an disebutkan bahwa Tabuik Subarang dalam tata cara pelaksanaannya tidak mengikuti tata cara Tabuik yang dilaksanakan di wilayah Pasa. Meski demikian, acara tetap berlangsung karena memiliki satu tujuan yang sama yakni memuliakan arwah cucu Nabi Muhammad SAW, Hussein Bin Ali. Festival Tabuik mulai masuk ke dalam kalender pariwisata tahunan Kabupaten Pariaman mulai tahun 1982. Oleh karenanya, pelaksanaan Festival Tabuik di dua wilayah tersebut dipromosikan juga ke luar daerah untuk mendatangkan turis domestik dan asing. Tujuannya agar pelaksanaan festival bukan hanya sekedar untuk tradisi dan upacara adat, melainkan juga agar nilai adat ini menjadi dikenal secara lebih luas. Pantai Gandoriah menjadi titik pusat acara festival Tabuik. Titik puncak acara festival ini berupa arak-arakan tabut sampai ke pantai dan dilarung. Kemeriahan acara dan tata upacara ini menarik perhatian masyarakat luas, dan kini menjadi salah satu dari agenda wisata budaya tahunan Kabupaten Pariaman. [3]

Prosesi Upacara dan Makna[sunting | sunting sumber]

Dalam setiap upacara adat di Indonesia, pasti ada makna di balik setiap rangkaian upacaranya. Rangakaian upacara Tabuik memiliki prosesi atau ritual yang disebut dengan Maarak Jari-jari. Makna dari ritual ini pernah dijelaskan oleh tokoh tetua Tabuik Nagari Subarang Nasrun Jon Travel.Tempo.co. Dikutip dari sumber, makna dari ritual Maarak Jari-Jari ialah pengumpamaan jasad cucu Nabi Muhammad SAW yang wafat karena terbunuh. Dalam prosesi tersebut diadakan replika atau bentuk tiruan jari-jari manusia yang dimasukkan ke dalam panja atau wajah. Tiruan ini kemudian diarak ke seluruh wilayah kota. Upacara ini dilanjutkan dengan upacara pertemuan atau prosesi yang disebut dengan ritual Basalisiah. Acara ini merupakan pertemuan kedua belah pihak antar pelaksana Tabuik.[4]

jadi, dalam pelaksanaan ritual Tabuik akan ada dua belah pihak, katakanlah pihak selatan dan utara dari satu wilayah. Keduanya akan saling bertarung dalam saat Basalisiah berlangsung. Kedua kubu akan saling menyerang, mereka melemparkan gendang tasa sampai terjadi bentrokan. Tradisi ini sebagai pengingat perang yang pernah terjadi dan menewaskan Hussein bin Ali cucu Nabi Muhammad SAW. Dalam pelaksanaan Basiliah sekilas seolah-olah masyarakat saling mendendam karena terjadi bentrokan. Sesungguhnya tidaklah demikian, karena pelaksanaannya hanyalah bagian dari upacara untuk menggambarkan cerita kematian Hussein. Sebelum Ritual Maarak Jari-jari dilaksanakan, sehari sebelumnya dilaksanakan Prosesi ritual maradai. Prosesi ini berisikan kegiatan masyarakat dalam meminta sumbangan. Dalam ritual ini masyarakat Tabuik akan melibatkan masyarakat untuk memberikan sumbangan seikhlasnya. Sumbangan yang didapatkan kemudian digunakan untuk pelaksanaan acara sampai selesai. [4]

Urutan Upacara Tabuik[sunting | sunting sumber]

Dalam pelaksanaan upacara Tabuik ada urutan upacara yang harus dilaksanakan. Pertama, ritual mengambil tanah atau disebut juga dengan maambiak tanah. Ritual ini dimulai tanggal 1 muharram. Dalam prosesi ini, tetua upacara Tabuik akan mengambil segumpal tanah dari sungai. Aktivitas ini dilaksanakan di sore hari dan harus pada tanggal 1 Muharram. Upacara ini dimulai dengan arak-arakan yang diiringi dengan gendang tasa. Ritual mengambil tanah di sungai ini dilaksanakan oleh kedua kelompok Tabuik, baik itu Tabuik Pasa maupun Tabuik Subarang. Masing-masing tetua pelaksanaan upacara Tabuik mengambil tanah di wilayah yang berlawanan. Pemimpin upacara Tabuik Pasa mengambil dari sisi selatan sungai, sedangkan pemimpin dari Tabuik Subarang mengambil dari sisi utara sungai. Terkait dengan lokasi sungai, Tabuik Pasa mengambil sungai kecil yang berlokasi di Galombang. Sedangkan Tabuik Subarang mengambil tanah sungai yang Batang Piaman yang berlokasi di daerah Pauh.  Pengambilan tanah dilakukan oleh pemimpin upacara yang disebut dengan Tuo Tabuik. Di adalah seorang laki-laki yang mengenakan jubah putih. Jubah warna putih dipilih sebagai lambang kejujuran dan kesucian Husein. Waktu pengambilan tanah di sungai ialah sebelum shalat maghrib kemudian tanah dimasukkan yang dalam Daraga yang merupakan simbol Kuburan Husein. Pengambilan tanah ini memiliki makna berupa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. [5]

Seperti yang sudah disebutkan, dalam prosesi ini ada sebuah wadah yang disebut dengan Daraga. Daraga ini dibuat oleh warga sebelum dilaksanakan prosesi Maambiak Tanah. Kedua kelompok pelaksanaan Tabiak melaksanakan ritual membuat Daraga terlebih dahulu. Daraga adalah sebuah tempat yang dilingkari oleh pagar bambu. Pagar tersebut berbentuk segi empat dengan luas urang lebih 5 meter. kemudian dililit dengan kain putih. Prosesi kedua, setelah mengambil tanah atau disebut dengan ritual maambiak tanah, dilaksanakan prosesi kedua yang berupa menebang Batang Pisang atau disebut juga dengan istilah Manabang Batang Pisang. Pelaksanaan ritual menebang batang pisang dipersepsikan sebagai ketajaman pedang yang digunakan selama perang. Mebang batang pisang juga menjadi simbol untuk menuntut kematian Husein tersebut. ritual menebang batang pohon pisang ini dilakukan oleh seorang pria dengan pakaian silat. Batang pisang harus ditebang dalam sekali tebas. Tidak boleh dilakukan dengan dua sampai tiga kali tebas. Ada versi makna lain dari aktivitas menebas pohon ini bahwa ritual ini diibaratkan sebagai simbol tentara Yazid yang telah mengambil nyawa dan harga Husain. Batang pisang yang sudah ditebang kemudian disimpan di dalam Daraga. [5]

Setelah proses kedua dilaksanakan, dilanjutkan proses ketiga yang berupa bacakak, ini berupa ritual tari perkelahian yang dilakukan oleh dua kelompok tabuik. Ritual ini sebagai representasi dua kelompok yang saling berperang. Upacara ini akan diiringi oleh gendang tansa. Tarian perkelahian ini merupakan simbol perang yang terjadi di Karbala, tempat di mana Husein terbunuh. Tarian yang menjadi simbol peperangan ini kemudian diakhiri di sore hari dan dilanjutkan dengan upacara selanjutnya yang disebut dengan Maatam yang jatuh tanggal 7 Muharram. Prosesi Maatam akan dilaksanakan setelah shalat dhuzur. Upacara Maatam dilaksanakan oleh para perempuan. mereka akan berjalan mengelilingi daraga sambil membawa peralatan ritual yang terdiri dari jari-jari, sorban, pedang, dan sesaji. Mereka mengiringi daraga sambil menangis dan meratap. Ritual ini sebagai simbol kesedihan dan meratapi kematian korban perang, tidak hanya kematian Husein yang diratapi tetapi juga seluruh keluarga yang telah ikut berperang dan gugur.[5]

Di samping itu, pada tanggal 7 muharram dilaksanakan upacara Maarak Jai-jari. Upacara ini disebut juga dengan Maarak panja. Upacara ini berupa tiruan jari-jari tangan yang menjadi simbol tubuh dan jari-jari tangan Husein serta pejuang lain yang tercincang. Hal ini juga menjadi simbol bukti kekejaman raja zalim. Upacara ini akan diiringi dengan hoyak tabuik lenong dan iringan bunyi gendang tasa.  Hoyak tabuik lenong sendiri merupakan tabuik berukuran kecil yang diletakkan di atas kepala para laki-laki. Setelah upacara ini selesai akan dilaksanakan upacara Maarak saroban yang diadakan di petang hari tanggal 8 Muharram. Ritual ini merupakan momen di mana para pelaksana upacara akan menginformasikan ke masyarakat kalau Husein sudah terbunuh dalam perang Karbala. Upacara ini juga diiringi dengan miniature tabuik lenong dan diiringi dengan gemuruh bunyi gendang tasa. [6]

Selanjutnya, hampir memasuki prosesi terakhir, di mana pelaksana upacara melaksanakan ritual tabuik naik pangkat yang dilaksanakan pada dini hari tanggal 10 Muharram. Upacara ini dilaksanakan menjelang fajar, di mana ada dua bagian tabuik yang sudah dibangun mulai disatukan menjadi tabuik utuh. Acara ini disebut sebagai tabuik naik pangkat karena tabuik yang sudah disatukan kemudian diusung ke jalan untuk dibawa ke pantai. Sebelumnya akan ada pesta hoyak tabuik yang dilaksanakan tepat ketika matahari terbit di tanggal 10 muharram. Dimulai sekitar pukul 09.00 Wib, para pelaksana tabuik akan membawa tabuik sepanjang jalan diiringi oleh bunyi gendang. Peristiwa ini akan mengundang masyarakat yang belum terlibat upacara dapat terlibat secara langsung. Acara ini hoyak tabuik akan berlansung sampai sore hari karena perjalanan menuju pantai akan berlangsung sampai turunnya matahari. Tepat saat itulah akan terjadi prosesi upacara tabuik dibuang ke laut. Pelaksanaannya tepat pada tanggal 10 muharram petang. Tabuik akan dilepas ke laut oleh kelompok nagari Pasa dan Subarang di antara warga yang menyaksikan yang sekaligus menjadi peserta upacara tabuik. Upacara terakhir ini bermakna, orang yang meninggal akan memiliki tempat kembali, masyarakat harus melepaskan mereka yang sudah meninggal dengan rela.[6]

Alat Musik Gendang Tabuik[sunting | sunting sumber]

Dalam setiap upacara adat selalu ada alat pengiring untuk mengiringi tiap ritual. Hal yang sama juga ada di dalam upacara adat Tabuik. Alat yang digunakan untuk mengiringi upacara adat ini adalah alat musik gendang tasa atau dikenal secara luas sebagai gendang tabuik. Alat upacara ini digunakan untuk mengiringi acara yang berlangsung sejak tanggal 1 sampai 10 Muharam. Setiap kali acara dimulai, gendang tabuik atau gendang tasa akan ditabuh secara terus menerus. Ada formasi khusus selama gendang ditabuh, formasinya terdiri atas 7 orang penabuh dan formasinya berlapis karena gendang harus dibunyikan. Jika salah satu lelah, akan digantikan secara terus menerus oleh orang lain. formasi ini menimbulkan suara riuh. Ketukan gendang disesuaikan dengan prosesi upacara. Misalnya, jika ritual peperangan sedang berlangsung maka gendang akan ditabuh seolah-olah benar-benar terjadi peperangan besar di sekitar mereka. Gendang ini tidak hanya merefleksikan semangat dan keberanian Husein tetapi juga mengantarkan mereka menuju medan perang agar tidak pernah menyerah.[7]

Bentuk dan Ukuran Gendang Tabuik[sunting | sunting sumber]

Bentuk gendang Tabuik memiliki dua muka yang dapat ditabung. Muka gendang tabuik atau gendang tasa dibuat dari kulit kambing. Tinggi gendang sekitar 54 centimeter dengan diameter mencapai 46 centimeter. Bentuknya benar-benar mirip dengan bedug, dapat juga dikatakan mirip dengan gendang biasa, yang membedakannya ialah hiasan di sekitar gendang yang berwarna-warni, dan ketika ditabuh suaranya sangat nyaring. Cara memainkan gendang dengan pola ritmis dan cenderung monoton. Variasi permainannya muncul ketika ada perubahan ritual dan lagu yang dibawakan. Beberapa lagu wajib dalam pelaksanaan upacara Tabuik ialah Oyak Tabuik, Katidiang Sompong, dan Kereta Mandaki. Nyanyian lagu-lagu tersebut diiringi dengan tabuhan gendang ini, selama itu pula tetua adat akan memimpin upacara. Gendang tabuik dapat ditabuh sedemikian rupa ketika mengiringi upacara Maatam, saat di mana para perempuan meratapi kematian Husein dan para laki-laki yang gugur dalam perang. Bunyi yang terdengar dari tabuhan gendang ini bisa terasa sangat menyedihkan hingga memberikan kesan sedih yang amat mendalam. Dapat dikatakan gendang tasa adalah perkusi yang kaya irama, penabuhnya harus pandai memainkan gendang ini agar bisa menimbulkan irama yang bervariasi. Keberadaan alat musik ini sangat penting untuk pelaksanaan upacara karena merupakan instrumen penting untuk mengiringi jalannya upacara. Dengan alat ini, upacara bisa berjalan lebih hikmat. [7]

Peralatan Upacara Tabuik[sunting | sunting sumber]

Dalam setiap upacara adat pasti akan peralatan upacara yang digunakan. Upacara Tabuik juga memiliki peralatan upacara khusus yang dijaga karena memiliki simbol yang besar di balik keberadaan peralatan itu. peralatan tabuik yang nampak antara lain Daraga atau bisa juga dilihat sebagai keranda oleh orang awam. Kemudian Daraga ini akan dihias dengan bunga-bunga tujuh warna. Untuk membuat Daraga diperlukan kayu, rotan, dan bambu. Di samping itu, untuk jalannya upacara Maatam diperlukan adanya senjata perang, pakaian, sorban, pedang, dan lain sebagainya yang dibawa oleh para perempuan. Di tambah satu alat yang sangat penting dalam upacara ini ialah gendang tabuik. Di samping itu, beberapa sebelum prosesi tabuik dilaksanakan, para penduduk sudah bersiap dengan menghias rumah mereka dengan sebuah gambar empat persegi di dalam lingkaran. Hal ini menjadi tanda atau simbol makam. [6]

Tabuik Menjadi Pesta Budaya[sunting | sunting sumber]

Jika awalnya, pelaksanaan Upacara Tabuik merupakan adat dari orang-orang Madras dan Bengali yang berpaham Syi’ah, kini upacara tabuik telah menjadi bagian dari masyarakat umumnya. Sehingga penyebutannya pun ada dua macam, upacara Tabuik bagi orang-orang Madras dan Bengali, sedangkan masyarakat umum menyebutnya pesta Budaya. Pesta atau festival budaya ini akhirnya tidak hanya dinikmati oleh orang-orang yang berkepentingan dengan inti upacara. Melainkan, dinikmati dan dirayakan pula bersama-sama oleh seluruh unsur masyarakat. Mereka bahkan mempromosikannya sebagai bagian dari wisata daerah. Kemeriahan dan kebersamaan itu ditunjukkan dari pelaksanaan upacara. Dua minggu sebelum tanggal 1 Muharram, masyarakat sudah membantu persiapan sekaligus menyiapkan rumahnya sendiri untuk menyambut upacara. Warga Pariaman membuat aneka cemilan, seperti kue-kue khas Pariaman. Ketika wisatawan datang ke sini pada saat upacara Tabuik dilaksanakan, mereka akan dengan mudah menemukan kue-kue khas Pariaman yang jarang ada di hari-hari biasa. Di samping itu, selama prosesi upacara berlangsung, masyarakat akan membantu membuat tabuik. Seperti yang sudah diungkap bahwa tabuik merupakan peti mati, namun karena para pelaksana upacara ini beragama islam maka peti mati itu berwujud mirip dengan keranda.[8]

Mereka membuat keranda ini memiliki dua bagian, terdiri atas bagian atas dan bagian bawah. Tinggi dari keranda ini sendiri bisa mencapai 12 meter. bagian atas mewakili bentuk menara yang dihiasi dengan bunga-bunga  dan kain beludru berwarna-warni. Sedangkan bagian bawahnya berbentuk seperti tubuh kuda yang memiliki sayap, berekor, dan memiliki kepala manusia. Wujud inilah yang merupakan wujud tabuik yang asli dan disebut dengan Buraq. Pesta budaya Pariaman inipun menjadi bagian dari kesatuan masyarakat Pariaman. Tak hanya itu, tapi juga menjadi kekayaan budaya bangsa yang harus dihormati keberadaannya karena memiliki fungsi laten yang sangat demokratis dan gotong royong di antara masyarakat pun terbentuk dengan baik sesuai dengan identitas bangsa Indonesia. Oleh karenanya, pelestarian upacara Tabuik dengan menjadikannya aset budaya dan dipromosikan sebagai salah satu festival atau wisata budaya di Pariaman tidak hanya akan membantu pelestariannya melainkan juga membantu meningkatkan pendapatan masyarakat dengan arus masuk dan keluar turis ke daerah tersebut. pada kesempatan yang sama masyarakat dapat mempromosikan miniature-miniature hasil karya seni masyarakat sebagai souvenir kepada para turis yang datang. Pada kesempatan yang sama, makanan khas Tabuik juga dapat dipromosikan ke seluruh wisatawan yang datang. Di dalam setiap makanan terkandung kearifan lokal yang layak untuk dipahami seluruh bangsa Indonesia. [8]

Wisata Budaya di Pariaman[sunting | sunting sumber]

Upacara Budaya Tabuik menarik ribuan wisatawan sehingga ditetapkan juga sebagai destinasi wisata budaya ke Pariaman. Festival ini diresmikan sebagai bagian dari pariwisata Indonesia oleh pemerintah dan pemerintah setempat. Dengan demikian, tujuan dari festival Budaya tidak hanya untuk merangkul upacara adat menjadi lebih kukuh sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, melainkan juga untuk merangkul wisatawan domestik dan internasional. Tujuan lebih luasnya, untuk membuat semua orang dapat mempelajari dan menggali budaya Pariaman itu sendiri. Sejak dipromosikan sebagai bagian wisata budaya dari Pariaman, kunjungan wisatawan ke daerah tersebut meningkat. Melihat kesempatan yang baik, maka pemerintah daerah bekerjasama dengan pemerintah pusat melakukan pengembangan dan penambahan fasilitas di sejumlah objek wisata untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan di daerah sekitarnya. Ketika festival budaya Tabuik menjadi salah satu daya tarik, maka tidak menutup kemungkinan bahwa arus turis luar negeri ke daerah ini akan semakin tinggi karena pesta budaya ini semakin populer. Bahkan Festival Budaya Tabuik sudah ikut dipamerkan di Kota Hamburg Jerman 2016 lalu oleh Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara. Pameran itu diselenggarakan sebagai ajang promosi tempat wisata internasional. Maka, jangan heran jika tingkat kunjungan wisatawan internasional ke daerah Pariaman makin tinggi. Selain pernah dipamerkan di Jerman, Festival Budaya Tabuik juga pernah dipamerkan di Amerika Serikat pada 2005.[9]

Festival budaya Tabuik masuk ke dalam agenda wisata setiap tahunnya. Untuk menambah atraksi dan tujuan wisata masyarakat dunia, festival budaya ditegaskan sebagai warisan budaya nasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. Meskipun demikian, memang tidak dapat dipungkiri adanya perdebatan terkait pro dan kontra pelaksanaan budaya Tabuik oleh masyarakat yang berpandangan budaya tersebut memiliki indikasi sebagai budaya yang menyimpang dari ajaran islam. Akan tetapi, pesta budaya tabuik yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan pariwisata di Pariaman karena menjadi tujuan wisata internasional tidak dapat dilepaskan begitu saja. pemaknaan terhadap budaya inilah yang harus jadi perhatian pemerintah agar masyarakat tidak melihat bentuk fisiknya saja melainkan juga memberikan edukasi makna dibalik setiap prosesi acara. Pemahaman terhadap makna ini penting untuk diperhatikan oleh masyarakat luas karena dapat memberikan edukasi etika dan moral yang tinggi ke generasi mendatang. Kini, sebagai bagian yang cukup serius dari Pariwisata nasional, maka Kota Pariaman dan Festival Budaya Tabuik mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintahan. Termasuk juga dalam hal anggaran untuk meningkatkan fasilitas infrastruktur dan sumber daya manusianya. [10]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]