The Jakarta Post

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
The Jakarta Post
The Jakarta Post logo 2016.svg
Jakarta Post Front Page 2009-07-09.jpg
Halaman depan The Jakarta Post pada tanggal 9 Juli 2009
Tipe Koran harian
Format Lembar lebar
Pemilik PT Bina Media Tenggara
Didirikan 1983
Pusat Jl. Palmerah Barat 142–143
Jakarta, Indonesia
ISSN 0215-3432
Situs web www.thejakartapost.com

The Jakarta Post adalah sebuah harian berbahasa Inggris di Indonesia. Harian ini dimiliki oleh PT Bina Media Tenggara yang berkantor pusat di Jakarta.

The Jakarta Post didirikan oleh gabungan antara empat media Indonesia atas desakan dari Menteri Penerangan Ali Moertopo dan politikus Jusuf Wanandi. Setelah pertama kali terbit tanggal 25 April 1983, The Jakarta Post selama beberapa tahun dapat bertahan hanya dengan beberapa iklan dan sirkulasinya makin meningkat. Setelah pergantian kepala editor tahun 1991, harian ini mulai mengambil posisi pro-demokrasi. The Jakarta Post adalah salah satu harian Indonesia berbahasa Inggris yang selamat dari krisis keuangan Asia 1997 dan saat ini memiliki sirkulasi sebesar 40.000 eksemplar.

The Jakarta Post juga memiliki edisi Minggu (Sunday) dan Daring (Online), yang isinya tidak diterbitkan di edisi cetak harian. Sasaran pembaca harian ini adalah masyarakat asing dan masyarakat Indonesia yang berpendidikan, meskipun jumlah pembaca Indonesia dari kelas menengah juga terus meningkat. Dikenal sebagai tempat latihan para wartawan lokal dan internasional, The Jakarta Post telah memenangkan sejumlah penghargaan dan dijuluki sebagai "harian berbahasa Inggris paling terkemuka di Indonesia".[1] The Jakarta Post adalah anggota dari Asia News Network.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pendirian dan pengembangan[sunting | sunting sumber]

Mantan logo The Jakarta Post. Digunakan sampai 31 Maret 2016.

The Jakarta Post merupakan gagasan dari Menteri Penerangan Ali Moertopo dan politikus Jusuf Wanandi. Moertopo dan Wanandi kecewa pada bias yang dirasakan terhadap Indonesia dalam sumber-sumber berita asing.[2] Pada saat itu, ada dua harian berbahasa Inggris, Indonesia Times dan Indonesian Observer.[3] Namun, karena persepsi publik yang negatif mengenai koran yang ada mereka memutuskan untuk membuat yang baru. Dalam rangka untuk memastikan kredibilitas, keduanya sepakat untuk meyakinkan sekelompok koran yang bersaing (Suara Karya yang didukung Golkar, Kompas milik Katolik, Sinar Harapan milik Protestan, dan mingguan Tempo) untuk menyokong koran yang baru lahir ini.[2] Koran ini diharapkan menjadi kertas berkualitas berbahasa Inggris, mirip dengan The Straits Times di Singapura, Bangkok Post di Thailand, dan New Straits Times di Malaysia.[4]

Setelah mendirikan PT Bina Media Tenggara untuk mendukung koran ini,[5] Wanandi menghabiskan beberapa bulan menghubungi tokoh-tokoh berpengaruh di koran yang ditargetkan. Untuk menerima kerja sama mereka, Kompas meminta bagian 25 persen di surat kabar baru, untuk menangani operasi bisnis sehari-hari, seperti pencetakan, sirkulasi, dan iklan. Tempo menawarkan untuk membantu dengan manajemen dengan imbalan 15 persen, sementara Sabam Siagian dari Sinar Harapan dipekerjakan sebagai pemimpin redaksi pertama, untuk itu Sinar Harapan menerima saham. Pembentukan koran selanjutnya dibantu oleh Menteri Penerangan Harmoko, yang menerima bunga 5 persen untuk perannya dalam memperoleh lisensi. Secara total, biaya awal mencapai Rp500 juta (US$700.000 pada saat itu).[6] Muhammad Chudori, ko-pendiri The Jakarta Post yang sebelumnya menjadi wartawan untuk Antara, menjadi manajer umum pertama dari koran ini.[7]

Edisi dan terbitan lain[sunting | sunting sumber]

Edisi Minggu[sunting | sunting sumber]

Edisi Minggu The Jakarta Post pertama diterbitkan pada tanggal 18 September 1994. Edisi Minggu meliputi artikel-artikel yang diulas secara lebih dalam, hiburan serta fiksi yang tidak diterbitkan di edisi harian.[8]

Edisi daring[sunting | sunting sumber]

The Jakarta Post juga memiliki edisi daring, yang meliputi terbitan cetak dan internet dan yang dapat diakses secara gratis. Ada pula sejumlah cuplikan berita yang setiap saat diperbarui. Harian ini bertujuan untuk mendigitalisasikan semua berita cetak , yang sejauh ini baru 50.000 artikel sejak Juni 1994.[9]

Bali Daily[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 9 April 2012, The Jakarta Post meluncurkan Bali Daily, sebuah harian empat lembar yang dicetak di Bali setelah mengetahui bahwa 4.900 pelanggannya tinggal di pulau ini.[10]

Pasar[sunting | sunting sumber]

The Jakarta Post ditargetkan untuk pebisnis Indonesia, warga Indonesia berpendidikan, dan warga asing.[1][11] Pada tahun 1991, 62 persen pembaca harian ini adalah ekspatriat. Di bawah kepemimpinan Pudjomartono, harian ini mulai menargetkan lebih banyak pembaca Indonesia.[12] Pada 2009, sekitar separuh dari 40.000 pembacanya adalah warga Indonesia kelas menengah.[13]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]