Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Syech bin Abdul Qadir Assegaf
Nama lahir Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf
Nama lain Habib Syech
Lahir 20 September 1961 (umur 57)
Bendera Indonesia Surakarta, Indonesia
Pekerjaan Uztadz
Tahun aktif 2004-sekarang

Habib Syech Abdul Qodir Assegaf (lahir di Kota Surakarta, 20 September 1961; umur 57 tahun)merupakan putra Habib Abdul qadir bin Abdurrahman Assegaf, seorang tokoh alim yg pernah berguru terhadap sejumlah habaib di Kota Surakarta yaitu Al Habib Anis bin Alwi al-Habsyi beliau juga adik kandung dari imam Masjid Jami' Assegaf di Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta yaitu Al Habib Muhammad Jamal bin Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf. Beliau merupakan penyanyi sholawat religius bersama grup Ahbaabul Musthofa.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Habib Abdulqodir Abdurrahman Assegaf mempunyai 16 putra salah satunya Habib Syech. Profil Habib Syech memulai pendidikannya saat diberikan oleh guru besarnya sekaligus sebagai ayahanda tercintanya. Di saat itulah habib mendalami agama Islam dan akhlak luhur Nabi Muhammad Saw.

Semasa kecil, Habib Syech tidak pernah bermukim di sebuah pondok. Pendidikan Habib Syech lebih terjun ke masyarakat langsung melalui majelis taklim di masjid-masjid terutama Masjid Assegaf, Wiropaten, Pasar Kliwon, Solo.

Di situlah Habib kecil seusai Magrib menjelang Isya senantiasa istiqomah mengikuti halaqah keilmuan, belajar al Quran, membaca wirid-wirid bersama ayahanda tercinta. Di masjid Assegaf itu pulalah habib kecil dengan segala pengabdiannya menggunakan umur-umur SD- nya untuk berkhidmad membersihkan masjid, menyapu dan mengepel lantai masjid.

Mengutip dari wawancara Majalah Langitan, beliau menjelaskan bahwa orang yang paling menginspirasi dalam hidupnya tidak lain adalah ayah dan ibunya sendiri. Ayahnya bukanlah orang yang masyhur, namun ayahnya adalah seseorang yang sangat mencintai masjid.

Bagaimanapun keadaannya, baik sehat maupun dalam kondisi sakit beliau tetap mengimami. “Masjid adalah ‘istriku’ yang pertama,” itulah yang diucapkan dari seorang ayah yang kini putranya menjadi pengemban dakwah akhlak Rosulullah Saw.

Kata-kata itulah yang muncul tulus dari seorang yang sangat mencintai masjid, rumah Allah yang senantiasa digunakan sholat lima waktu. Hingga akhirnya, saat ayahanda Habib Syech menjadi Imam, Allah memberikan kasih sayang dengan mengambil sang ayahanda saat sujud dalam shalat Jumat terakhir. Subhanallah, sebuah akhir yang menyejukkan.

Selain dari ayahanda tercintanya, Habib Syech juga mendapat lanjutan pendidikan dari paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Habib Ahmad adalah sosok yang berjasa dalam membangun mental Habib kecil. Pendidikan yang diberikan paman dari Hadramaut tersebut sangat berkesan bagi Habib Syech.

Pasalnya, sewaktu Habib Syech dibimbing Habib Ahmad, Habib Syech selalu dicaci, disalahkan meskipun Habib kecil waktu itu tidak melakukan kesalahan. Dalam pemaparannya, Habib kecil tidak tahu menahu mengenai sikap dari Habib Ahmad dalam membimbingnya. Bahkan, Habib kecil waktu itu hampir tidak kuat.

Ketika Habib kecil menghubungi salah satu teman yang mendampingi kedatangan pamannya ke Indonesia, barulah Habib Kecil menyadari bahwa apa yang dilakukan pamannya Habib Ahmad bin Andurrahman semata-mata hanya sebagai pembelajaran agar kedepannya Habib kecil menjadi sosok yang kuat secara mentalnya, sabar dan teguh dalam pendirian.

Begitulah pendidikan pamannya, perasaan kagum dan cinta kepada Habib kecil digunakan sebagai media pembelajaran akhlak.

Selain itu, pendidikan dan perhatian penuh juga diberikan Habib Syech dari Alm. Al Imam, Al Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin Alwiy Al-Habsy seorang Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom al Habsyi. Berkat ketulusan, kesabaran dan kebesaran guru-gurunya itulah hingga saat ini Habib Syech masih setia menjalani dakwah mahabbaturrosul.

Seiring waktu berjalan, berkat keistiqomahan serta penyampaian komunikasi dakwah yang sederhana dan mudah dipahami, hingga saat ini terdapat lebih dari ribuan jamaah yang tergabung dalam Majelis Ahbabul Musthofa. Di majelis tersebut jamaah bersama-sama menyelami kisah-kisah rosul dan mengajarkan cinta kepada Allah lewat Rosulullah.

Adapun sholawat rutinan yang diadakan di kediaman Habib Syech berlangsung setiap Rabu Malam dan Sabtu Malam Bakda Isya.

Dakwah sholawat ala Habib Syech[sunting | sunting sumber]

Komunikasi dakwah adalah cara penyampaian seorang dai kepada mad’u-nya. Komunikasi dakwah juga merupakan bentuk seruan yang dilakukan oleh komunikator dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah agar pesan yang disampaikan kepada jamaah dapat dipahami dan diamalkan.

Menarik bila membahas komunikasi dakwah yang disampaikan Habib Syech, Harold D laswell mengungkapkan bahwa terpenuhinya komunikasi secara umum meliputi who say, what to whom, in what channel, with what effect.

Bila dalam pandangan komunikasi dakwah, maka dapat dikriteriakan secara sederhana meliputi:

Who: Habib Syech what to whom: Masyarakat kalangan akar rumput sampai petinggi negara Says what: Sirah Nabi Muhammad dan teladan-teladan akhlak mulia In what channel: Seni Qosidah, shalawat With what effect: Menyelami pribadi Rosulullah, mencintai dan menjadikan idola dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenai who, penulis telah menjelaskan secara singkat biografi di atas. Menginjak sasaran dakwah, setiap kali acara diselenggarakan mad’u-nya sangat beragam. Tak heran di setiap pengajiannya selalu ramai mencapai ribuan jamaah di manapun berada. Bukan hanya dari kalangan orang tua, kakek-nenek, muda-mudi hingga anak-anak pun menjadi satu dalam mejelis yang penuh berkah tersebut.

Gaya komunikasi yang hidup melalui sapaan-sapaan kerinduan kepada Rosulullah Saw menambah suasana teduh dalam majelis tersebut. Dalam penyampaian komunikasinya, Habib Syech menggunakan gaya komunikasi yang sederhana dengan alur yang teratur. Gaya komunikasi itulah yang membuat jamaah betah berjam-jam bahkan tanpa hidangan makanan sekalipun alias malaikatan hehe.

Ahbaabul Musthofa, pengiring sholawat Habib Syech[sunting | sunting sumber]

Ahbabul Musthofa adalah salah satu majelis taklim yang di dalamnya taklimnya bertujuan untuk mempermudah jamaahnya meneladani Rosulullah. Ahbabul Musthofa berdiri sekitar tahun 1998 berawal dari majelis Rotibul Haddad, Burdah serta Maulid Simthudduror Habib Syech bin Abdulqadir Assegaf di Kota Solo, tepatnya di kampung Mertodranan.

Majelis taklim ini mengajak seluruh jamaahnya untuk mengenal Rosulullah Saw lebih dekat, meneladani dan menjadikan idola dalam kegiatan sehari-hari. Berikut ini jadwal rutin majelis rutin Ahbabul Musthofa:

Setiap Malam Sabtu Kliwon di Purwodadi tepatnya Masjid Agung Makmur Purwodadi Setiap Malam Rabu Pahing di Kudus tepatnya Halaman Masjid Agung Kudus Setiap Malam Sabtu Legi Jepara di Halaman Masjid Agung Jepara Setiap Malam Minggu Pahing di Sragen tepatnya Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen Setiap Malam Jumat Pahing di Jogja tepatnya Halaman PP Minhajuttamyiz, Timoho di belakang Kampus UIN Sunan Kalijaga Setiap Malam Minggu Legi di Solo tepatnya Halaman Masjid Agung Surakarta.

Segi lagu & musik sholawat Habib Syech[sunting | sunting sumber]

Lagu sholawat Habib Syech memang tergolong unik. Dengan arransemen ulang dari kitab sholawat yang berisikan sekitar 500-san syair, Habib Syech mampu mengaransemen lagu sholawat dengan indah dan sesuai harapan jamaah.

Di dalam lagu sholawat Habib Syech sendiri juga tidak melulu berbahasa Arab. Bahkan, ada beberapa lagu yang berbahasa Indonesia dan khususnya berbahasa Jawa. Dengan adanya variasi bahasa tersebut, sholawat Habib Syech menjadi lebih mengena dan pesan yang ada dalam shalawat bisa tersampaikan.

Lagu-lagu sholawat Habib Syech banyak digemari bukan hanya kalangan atas, namun juga kalangan bawah dari santri sampai pejabat. Terlebih bila sholawat diimbuhi dengan variasai bahasa Jawa, masyarakat sangat senang dan lebih terasa jadi orang Jawa.

Bila Anda mencermati music Habib Syech, hal yang paing sering didengar ada dua macam yakni music Habib Syech yang murni rebana, dengan music Habib Syech yang menggunakan alat music moden seperti keyboard dll.

Ada perbedaan penggunaan music di dalam lantunan sholawat Habib Syech. Model alat music rebana lebih digunakan di saat tampil live di atas panggung. Begitu sebaliknya, bila di dalam kaset maupun VCD, dua-duanya digunakan yakni perpaduan antara rebana dan alat music modern.

So, cobalah nikmati perpaduan apik antara alat music rebana dengan alat music modern. Perpaduan music tersebut semakin apik ketika ditambah suara vocal cirri khas Habib Syech dan backing vocal dari Ahbabul Musthofa.

Di tahun 2014, label RPM mempersembahkan sebuah album special ramadhan yakni "The Best Sholawat" yang album tersebut berisikan lagu lagu sholawat Habib Syech yang populer dinyanyikan pada saat konser maupun perform berbagai kota, yang diisikan 9 lagu pilihan dalam bentuk digital maupun fisik yang dirilis dalam Volume 1, 2, 3, 4. Album tersebut dianggap special karena albumnya merupakan album the best sholawat karya karya dari Habib Syech.

Di tahun 2015, dirilislah album sholawat "Untaian Nada Rindu Al Musthofa" yang album nya berisikan 6 lagu dengan lagu utama "Alangkah Indahnya/Ya Rasulallah" yang lagu tersebut re-make dari grup nasyid asal Malaysia yakni Raihan.

Album[sunting | sunting sumber]

  • Qasidah Pilihan, vol. 1 (2004)
  • Qasidah Pilihan, vol. 2 (2005)
  • Qasidah Pilihan, vol. 3 (2006)
  • Qasidah Pilihan, vol. 4 (2007)
  • Qasidah Pilihan, vol. 5 (2008)
  • Qasidah Pilihan, vol. 6 (2009)
  • Qasidah Pilihan, vol. 7 (2011)
  • Qasidah Pilihan, vol. 8 (2012)
  • Qasidah Pilihan, vol. 9 (2013)
  • The Best Sholaat (2014)
  • Untaian Nada Rindu Al Musthofa (2015)
  • Qasidah Terpopuler (2017)
  • Tholama Asyku (2017)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]