Nahdlatul Wathan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Nahdlatul Wathan
SingkatanNW
PendahuluNU Sunda Kecil
Tanggal pendirian1 Maret 1953
PendiriT.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Didirikan diPancor, Lombok Timur
StatusAktif
TipeOrganisasi
TujuanPendidikan, dakwah, dan sosial
Situs webnw.or.id

Nahdlatul Wathan (Arab: نهضة الوطن Nahḍah al-Waṭan, terj. har. "Kebangkitan Bangsa"), disingkat NW, adalah organisasi massa Islam dari Nusa Tenggara Barat. Organisasi ini didirikan pada 1 Maret 1953 oleh T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Nahdlatul Wathan memiliki madrasah-madrasah dan beberapa perguruan tinggi yang tersebar di Nusa Tenggara Barat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pendirian NWDI dan NBDI[sunting | sunting sumber]

Pada 1934, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Saulatiyah Makkah mendirikan Pondok Pesantren Al-Mujahidin di Lombok. Setelah memimpin pesantren tersebut selama tiga tahun, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) bagi murid laki-laki pada 22 Agustus 1937. Pada 21 April 1943, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang dikhususkan bagi murid perempuan. Kedua madrasah ini kemudian memperluas jaringannya ke seluruh Lombok.[1]

Pada zaman penjajahan, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid bersama guru-guru madrasah NWDI dan NBDI membentuk gerakan yang diberi nama Gerakan Al-Mujahidin yang bertindak sebagai sayap kelaskaran NWDI dan NBDI.[1]

Nahdlatul Wathan sebagai organisasi massa[sunting | sunting sumber]

T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri Nahdlatul Wathan

NWDI dan NBDI pada awalnya merupakan bagian dari Nahdlatul Ulama yang sudah masuk ke Sunda Kecil sejak 1930. T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid diangkat sebagai Konsulat NU Sunda Kecil pada 1950, menggantikan Syekh Abdul Manan yang sudah menduduki jabatan tersebut sejak pendirian NU Sunda Kecil. Melalui NU yang waktu itu masih tergabung ke dalam Masyumi, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid juga menjadi pimpinan Dewan Syuriah Masyumi.[2]

Ketika NU memutuskan untuk menjadi partai politik terpisah dari Masyumi pada 1952, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid berada di kubu yang tidak mengikuti keputusan tersebut. T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid kemudian meletakkan jabatannya sebagai Konsulat NU Sunda Kecil dan menyerahkan jabatan tersebut kepada muridnya, T.G.H. Lalu Faisal Abdul Manan. Pada 15 Jumadil Akhir 1372 atau 1 Maret 1953, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan Nahdlatul Wathan sabagai wadah bagi jaringan NWDI dan NBDI yang tidak terikat dengan Nahdlatul Ulama.[2]

Pada Pemilu 1955, Nahdlatul Wathan menjadi pendukung utama Masyumi di Lombok dan T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid terpilih sebagai anggota Konstituante dari Masyumi. Dukungan tersebut berlanjut ke Parmusi ketika Masyumi dibubarkan pada 1960. Afiliasi politik Nahdlatul Wathan berubah lagi pada masa Orde Baru ketika T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid memilih untuk mendukung Golkar.[2]

Sampai 1997, tercatat sebanyak 647 lembaga pendidikan telah didirikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.[1]

Perpecahan[sunting | sunting sumber]

Perpecahan di dalam Nahdlatul Wathan bermula dari penetapan salah satu putri pendiri NW, Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, sebagai Ketua Umum PBNW di Muktamar X di Praya, Lombok Tengah pada 1998. Akan tetapi hasil muktamar tersebut ditolak oleh pihak Pancor karena tidak menyetujui pemimpin perempuan padahal dalam muktamar sudah ditanyakan permasalahan hukumnya kepada beberapa masayikh. Pihak NW yang mendukung Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid memindahkan pusat gerakan mereka ke Anjani setelah singgah beberapa waktu dikalijaga di karenakan mendapat intimidasi dari pihak yang menolak sehingga NW terbagi menjadi NW Anjani dan NW Pancor.[1]

Pada 23 Maret 2021, dua kubu NW melakukan mediasi di Mataram. Kubu Anjani dipimpin oleh R.T.G.B. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, sedangkan kubu Pancor dipimpin oleh T.G.B. Muhammad Zainul Majdi. Dari pertemuan tersebut, kubu Anjani meneruskan nama Nahdlatul Wathan, sedangkan kubu Pancor memutuskan untuk keluar dari NW dan membuat organisasi baru bernama, Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Jatuh Bangun Nahdlatul Wathan". Republika. 15 Agustus 2016. Diakses tanggal 4 November 2021. 
  2. ^ a b c Tim Penyusun Dinas Sosial NTB (2017). Dari Nahdlatul Wathan untuk Indonesia: Perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (1908-1997). Mataram: Dinas Sosial NTB. 
  3. ^ "Demi Kemaslahatan, Dua Cucu Pendiri NW Sepakat Berdamai". Suara NTB. 23 Maret 2021. Diakses tanggal 19 November 2021.