Buya Yahya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Yahya Zainul Ma'arif
Bismillahirahmanirahim
Buya Yahya
Yahya Zainul Ma'arif
يحيى زين المعارف
Nama dan Gelar
Nama
NamaYahya Zainul Ma'arif
Nama (arabic)يحيى زين المعارف
Nama lainnya
Buya Yahya
Kelahirannya
Tanggal lahir (M)10
Bulan lahir (M)Agustus
Tahun lahir (M)1973
Tempat lahirBlitar
Negara lahir
(penguasa wilayah)
Blitar  Indonesia
Tanggal lahir
10 Agustus 1973 (umur 46)
Tempat lahir
Bendera Indonesia Blitar
Orang tua
Jamzuri
Usia (Tahun hijriyah)
Usia (Tahun masehi)
± 46 Tahun
Agama, Identitas, Kebangsaan
Agama Islam
Etnis (Suku bangsa)
Etnis
(Suku bangsa)
Jawa
KebangsaanIndonesia
Kewarganegaraan
Kewarganegaraan Indonesia
Bantuan kotak info

Yahya Zainul Ma'arif (Arab يحيى زين المعارف) yang lebih akrab disapa Buya Yahya (lahir di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 10 Agustus 1973; umur 46 tahun) adalah pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon.

Mendirikan Pondok Pesantren[sunting | sunting sumber]

Buya Yahya mendirikan Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren dengan nama Al-Bahjah yang pusatnya berada di wilayah Kabupaten Cirebon.

Al-Bahjah memiliki beberapa kampus, kampus utama yang beralamat di Jalan Pangeran Cakra Buana No. 179, Blok Gudang Air, Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, mulai dibangun pada Juni 2008. Al-Bahjah memiliki banyak unit usaha; ada minimarket AB Mart, Al-Bahjah Tour & Travel, Sekolah Dasar Islam Qur’ani (SDIQu) Al-Bahjah, SMPIQU al Bahjah, SMAIQu al Bahjah,Al Bahjah TV, Radio QU, Penerbit Pustaka Al-Bahjah dan masih banyak lagi. Berbagai unit usaha tersebut rata-rata digerakkan para santri, yang disebut Santri Khos, atau santri khusus. Santri Khos tak cuma bergerak dalam bidang dakwah maupun sosial, ada juga yang bertugas di dapur umum.[1]

Pesantren ini kental dengan nuansa Nahdiyyin.[2] Meskipun begitu, pesantren ini bukan milik ormas Nahdlatul Ulama (NU).[3]

Salah satu peraturan di Al-Bahjah, para santri diharuskan berbahasa Arab dalam keseharian. Bagi santri baru, diberi waktu tiga bulan untuk beradaptasi.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]