Alawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Alawi
Alawīyah
Zulfiqar with inscription.png
Pedang Zulfikar yang diyakini sebagai simbol kekuatan dalam ajaran Alawi dan Syiah
Total populasi
Antara 3 hingga 4 juta jiwa[1]
Pendiri
Muhammad bin Nushair[2] dan al-Khashibi[3]
Wilayah dengan populasi signifikan
 SuriahKurang dari 3 juta[4]
 Turki500.000-1 juta[5][6]
 Lebanon100.000[7][8][9]
 Jerman70.000[10][11]
Lebanon/Dataran Tinggi Golan2.200 di Ghajar, dengan kewarganegaraan ganda Suriah dan Israel[12]
 Australia1.500[a][13]
Bahasa
Arab, Turki, dan bahasa lainnya di diaspora

Alawi (bahasa Arab: علويةAlawīyah), atau juga disebut Nushairiyah[14] (bahasa Arab: نصيريةNuṣairīyah) adalah kelompok etnoreligius yang banyak tinggal di Syam dan menganut sekte Alawi yang bercabang dari ajaran Syiah.[15] Alawi mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai Imam Pertama dalam mazhab Syiah Dua Belas Imam. Kelompok ini diyakini dibentuk oleh Muhammad bin Nushair pada abad ke-9. Ibnu Nushair mulanya adalah pengikut imam kesepuluh dari 12 Imam, Ali al-Hadi dan kesebelas, Hasan al-Askari. Dengan demikian, Alawi dijuluki sebagai Nushairi.

Menurut Mehrdad Izady, pengikut Alawi adalah sebesar 17,2% penduduk Suriah, bertambah 11,8% pada 2010,[16] serta menjadi minoritas di Provinsi Hatay, Turki dan Lebanon bagian utara. Populasi Alawi juga ada yang tinggal di pedesaan Ghajar, Dataran Tinggi Golan. Alawi menjadi kelompok agama yang cukup dominan di pantai Suriah dan kota-kota pesisir, yang juga dihuni oleh Sunni, Kekristenan, dan Ismailiyah. Istilah ini sering dikelirukan dengan Alevi yang merupakan sekte agama yang berbeda di Turki.[17][18][19][20]

Alawi mengaku sebagai kelompok etnoreligius yang tersendiri. Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab, dan pemahamannya berbeda dengan pemahaman Syiah tetapi lebih mirip dengan kelompok Batiniyyah dan ghulat. Kelompok ini berpisah dari Syiah arus utama baik secara fikih maupun akidah. Sebagai contoh, kelompok ini menenggak khamr karena mereka berkeyakinan Tuhan mereka berada di dalam khamr;[21] tetapi agama Islam sudah tegas mengharamkan khamr. Mereka meyakini ada reinkarnasi, meski tidak esensial dalam doktrin yang mereka rujuk.[22]

Alawi secara historis menjaga kerahasiaan akidah mereka, sehingga banyak sekali rumor yang berkembang. Catatan bangsa Arab berkaitan dengan keyakinan tersebut cenderung partisan (dapat positif atau negatif).[23] Namun, semenjak 2000-an, agama Alawi mulai mendapatkan perhatian signifikan dari dunia Barat.[24] Inti keyakinan Alawi adalah Tritunggal (meyakini tiga oknum dalam satu Tuhan). Aspek-aspek tersebut muncul dalam siklus kehidupan manusia sepanjang sejarah.

Berdirinya Mandat Prancis di Suriah dan Lebanon menjadi titik balik sejarah Alawi. Hal ini memberikan Prancis kekuatan untuk merekrut warga sipil Suriah ke dalam angkatan bersenjata mereka dalam waktu tak terbatas dan mendirikan daerah khusus untuk minoritas, seperti Negara Alawi. Negara ini kemudian dibubarkan tetapi kelompok ini cukup signifikan karena banyak di antara mereka bergabung dalam Angkatan Bersenjata Suriah. Semenjak Hafez al-Assad berkuasa pada periode Gerakan Perbaikan 1970, jabatan-jabatan di pemerintahan didominasi oleh elite politik yang dipimpin oleh keluarga al-Assad yang Alawi. Selama pemberontakan Islamis Suriah pada 1970- dan 1980-an, terjadi tekanan dalam pemerintahan sehingga meletuslah Perang Saudara Suriah.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal mula Alawi sering diperdebatkan, mereka dikatakan pengikut Imam ke-11, Hasan al-Askari (873 M), dan muridnya Ibnu Nushair.

Mazhab tersebut didirikan oleh pengikut Muhammad bin Nushair yang dikenal sebagai al-Khasibi, yang meninggal dunia di Aleppo pada 969. Pada 1032 cucu Al-Khaṣībī dan murid al-Tabarani berpindah ke Latakia, yang ketika itu dikuasai oleh Kekaisaran Bizantium. Al-Tabarani menjadi referensi iman Alawi melalui berbagai tulisan-tulisan dia. Ia berada di Gunung Pantai Suriah dan dataran Cilicia.

Di bawah Utsmaniyah mereka melawan cobaan untuk mengganti mazhab mereka kepada Islam Sunni. Mereka memberontak terhadap Utsmaniyah beberapa kali, dan mempertahankan otonomi terbatas di kawasan gunung.

Setelah kejatuhan Kekaisaran Utsmaniyah, Suriah dan Lebanon berada di bawah kekuasaan Prancis. Prancis menduduki Suriah pada tahun 1920 dan memberi otonomi kepada mereka dan kelompok minoritas yang lain dan menerima mereka bergabung tentara penjajah. Banyak pimpinan Alawi mencoba mengganti otonomi mereka kepada kemerdekaan. Wilayah "Alaouites dimulai pada 1925. Pada Mei 1930, pemerintah Latakia telah didirikan dan bertahan hingga 28 Februari 1937, kemudian wilayah itu dimasukkan ke dalam Suriah.

Pada tahun 1939 bagian barat laut Suriah, yaitu sanjak Alexandretta (kini Hatay) banyak menggunakan istilah Alawis, telah diberikan kepada Turki. Referendum yang dilakukan di bawah seliaan Liga Bangsa Bangsa menemukan mereka mau bergabung Turki. Aksi ini menyebabkan kemarahan masyarakat Alawi dan Suriah secara umum. Pada tahun 1938, tentara Turki pergi ke Alexandretta dan mengusir penduduk Arab dan Armenia. Sebelum ini, Alawi Arab dan Armenia merupakan mayoritas penduduk. Zaki al-Arsuzi, pemimpin muda Alawi dari wilayah Iskandarun dalam sanjak Alexandretta menjadi pendiri Partai Ba'ath bersama-sama dengan Kristen Ortodoks. Selepas Perang Dunia II, Salman Al Murshid memainkan peran penting dalam menyatukan wilayah Alawi dengan Suriah. Suriah baru merdeka pada 12 Desember 1946.

Suriah mencapai kemerdekaan pada 17 April 1946. Menyusul Perang Arab-Israel 1948, Suriah menghadapi kudeta militer 1949, Kebangkitan Partai Ba'ath, dan penyatuan negara dengan Mesir 1958 membentuk UAR (Republik Persatuan Arab) yang bertahan selama tiga tahun dan terpecah pada tahun 1961, ketika satu kelompok perwira merebut kekuasaan dan menyatakan Suriah yang bebas merdeka. Pejabat militer termasuk Hafez al-Assad dan Salah Jadid membantu Partai Ba'ath mengambil kekuasaan pada tahun 1963. 1966, pejabat-pejabat militer berorientasi Alawi memberontak karena menentang pemimpin Kristen Michel Aflaq dan pemimpin Sunni Muslim Salah al-Din al-Bitar. Zaki al-Arsuzi dianggap sebagai "Socrates" Partai Ba'ath.

Kepercayaan[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya Alawi dipanggil sebagai Syiah saja. Ulama Syiah Lubnan Musa al-Sadr Lubnan menjadi rujukan mereka. Sebaliknya, Sunni konservatif sentiasa tidak mengiktiraf Alawi sebagai orang Islam. Bagi sunni, Syiah Alawi sebagai kuffar,orang-orang kafir,mushrikun atau orang-orang musyrik. Sebaliknya Mufti Jerusalem, Mohammad Amin al-Husayni mengeluarkan fatwa yang mengiktiraf mereka sebagai sebagian dari masyarakat Islam.

Ali Sulayman al-Ahmad, ketua hakim negara Alawi menyatakan "Kami Alawi umat Islam. KItab suci kami adalah Al-Quran. Nabi kita Muhammad. Ka'bah adalah kiblat kami, dan agama kita adalah Islam."

Populasi[sunting | sunting sumber]

Suriah[sunting | sunting sumber]

Secara tradisional Alawi tinggal di Pegunungan Alawite sepanjang pantai Laut Mediterania berbatasan dengan Suriah. Mereka tinggal di kota-kota utama seperti Latakia dan Tartous, sekeliling kota Hama dan Homs. Jumlah mereka 15% dari penduduk Suriah atau 3.5 juta rakyat dari 23,1 juta penduduk di Suriah (sensus 2011).

Ada empat Konfederasi Alawi yaitu - Kalbiyah, Khaiyatin, Haddadin, dan Matawirah. Masing-masing dibagi menurut puak-puak di sekitar Latakia, Suriah hingga ke Antioch (Antakya), Turki, dan Homs dan Hama. Sebelum 1953, mereka memiliki kursi di Parlemen Suriah, seperti semua masyarakat agama lain. Setelah Sensus 1960, hanya ada kursi Islam dan Kristen.

Lebanon[sunting | sunting sumber]

Terdapat sekitar 40.000 sampai 100.000 pengikut Alawi di Lebanon dan mereka diakui sebagai satu dari 18 kelompok di Libanon. Pemimpin mereka Ali Eid berhasil menandatangani Perjanjian Taif 1989 yang memberi mereka dua kursi Parlemen. Alawis Libanon menetap di Jabal Mohsen Tripoli dan Akkar. Mereka diwakili oleh Partai Demokratik Arab.

Turki[sunting | sunting sumber]

Mereka menyebut diri mereka sebagai "Arab Alevis" di Turki. Di Çukurova, mereka disebut sebagai Fellah dan Arabuşağı. Istilah kedua sangat menyakitkan hati pada orang Alawi, oleh itu penduduk Sunni. Tahun 1930-an, otoritas Turki menamakan mereka Eti Türkleri ("Het Turks"), untuk menyembunyikan asal usul Arab mereka. Istilah ini hampir usang tetapi masih digunakan oleh beberapa orang generasi yang lebih tua sebagai satu eufemisme.

Jumlah sebenarnya Alawi di Turki diperkirakan 185.000 pada 1970. Kemudian 400.000 pada tahun 2009. Bahasa yang digunakan mereka adalah bahasa Arab.

Pengikut Alawi tradisional berbicara dialek yang sama dengan Bahasa Arab dan Alawis Suriah. Golongan muda di kota-kota Çukurova dan di Iskenderun cenderung untuk berbicara bahasa Turki. Pengetahuan abjad Arab adalah terbatas kepada pemimpin-pemimpin agama dan orang-orang yang telah bekerja atau belajar di negara-negara Arab.

Sehingga tahun 1960-an, kaum alawi adalah yang paling miskin di Çukurova. Kini dalam hal perekonomian mereka terlibat dalam sektor transportasi dan perdagangan. Mereka juga mengamalkan eksogami, terutama di kalangan pria yang belajar di universitas. Perkawinan ini adalah sangat berkompromi. Alawi, seperti Alevis dianggap berhaluan kiri. Ada juga yang mendukung pihak konservatif sekuler. Kebanyakan Alawit merasa didiskriminasikan.

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Primer on the Alawites in Syria - Foreign Policy Research Institute". www.fpri.org. Diakses tanggal 13 April 2021. 
  2. ^ "MOḤAMMAD B. NOṢAYR". Encyclopaedia Iranica. electricpulp.com. 
  3. ^ "ḴAṢIBI". Encyclopaedia Iranica. electricpulp.com. 
  4. ^ "The 'secretive sect' in charge of Syria". BBC News. 17 May 2012. Diakses tanggal 13 April 2021. 
  5. ^ Cassel, Matthew. "Syria strife tests Turkish Alawites". 
  6. ^ Spencer, Richard (3 April 2016). "Who are the Alawites?". The Telegraph. 
  7. ^ [1] Diarsipkan 6 August 2012 di Wayback Machine.
  8. ^ "Lebanese Allawites welcome Syria's withdrawal as 'necessary'". The Daily Star. 30 April 2005. 
  9. ^ "Lebanon's Alawi: A Minority Struggles in a 'Nation' of Sects". Al Akhbar English. 8 November 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 March 2016. Diakses tanggal 6 July 2012. 
  10. ^ "Mitgliederzahlen: Islam", in: Religionswissenschaftlicher Medien- und Informationsdienst|Religionswissenschaftliche Medien- und Informationsdienst e. V. (Abbreviation: REMID), Retrieved 13 February 2017
  11. ^ "Anzahl der Muslime in Deutschland nach Glaubensrichtung im Jahr 2015* (in 1.000)", in: Statista GmbH, Retrieved 13 February 2017
  12. ^ UNIFIL Press Kit Diarsipkan 2021-08-14 di Wayback Machine. p.6
  13. ^ Ghassan Hage (2002). Arab-Australians today: citizenship and belonging (edisi ke-Paperback). Melbourne University Publishing. hlm. 40. ISBN 0-522-84979-2. 
  14. ^ Gisela Procházka-Eisl; Stephan Procházka (2010). The Plain of Saints and Prophets: The Nusayri-Alawi Community of Cilicia (Southern Turkey) and Its Sacred Places. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 20. ISBN 978-3-447-06178-0. ...for nearly a millennium the term by far most often used in both Oriental and Western sources for this group has been 'Nusayri'. 
  15. ^ Madeleine Pelner Cosman; Linda Gale Jones (2009). Handbook to Life in the Medieval World, 3-Volume Set. Infobase Publishing. hlm. 407. ISBN 978-1-4381-0907-7. 
  16. ^ Izady, Michael. "Syria: Ethnic Shift, 2010-mid 2018". gulf2000.columbia.edu. 
  17. ^ Zhigulskaya, Darya. "Alevis vs. Alawites in Turkey: From the General to the Specific". International Journal of Humanities and Education (IJHE). 5 (10): 195–206. 
  18. ^ Aringberg-Laanatza, Marianne. “Alevis in Turkey–Alawites in Syria: Similarities and Differences.” In Alevi Identity: Cultural, Religious and Social Perspectives. Edited by Tord Olsson, Elisabeth Özdalga, and Catharina Raudvere, 181–199. Richmond, UK: Curzon, 1998.
  19. ^ "Erdogan, Iran, Syrian Alawites, and Turkish Alevis". The Weekly Standard. 29 March 2012. Diakses tanggal 6 July 2012. 
  20. ^ Gisela Procházka-Eisl; Stephan Procházka (2010). The Plain of Saints and Prophets: The Nusayri-Alawi Community of Cilicia (Southern Turkey) and Its Sacred Places. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 20. ISBN 978-3-447-06178-0. 
  21. ^ Michael Knight (10 December 2009). Journey to the End of Islam. Soft Skull Press. hlm. 128. ISBN 978-1-59376-552-1. 
  22. ^ Abdel Bari Atwan (2015). Islamic State: The Digital Caliphate. Saqi. hlm. 58. ISBN 978-0-86356-101-6. 
  23. ^ Friedman, Nuṣayrī-ʿAlawīs, 2010: p.68
  24. ^ Friedman, Nuṣayrī-ʿAlawīs, 2010: p.67

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • "Lebanon’s Alawi: A Minority Struggles in a ‘Nation’ of Sects". Al Akhbar English. 2011-11-08.
  • The New Encyclopedia of Islam by Cyril Glasse, Altamira, 2001


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tag <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan