Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin al-Jarraḥ (bahasa Arab:أبو عبيدة عامر بن عبد الله بن الجراحcode: ar is deprecated ) adalah seorang sahabat NabiMuhammad dan termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Harits bin Fihr.[1] Ia lahir di Mekkah pada tahun 584. Abu Ubaidah terkenal dengan gelar yang disematkan Nabi Muhammad sebagai kepercayaan umat (أمين الأمة, aminul ummah).[2]
Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah Muhajirin dari kaum QuraisyMekkah yang termasuk paling awal untuk memeluk agamaIslam. Dia masuk Islam melalui Abu Bakar.[3] Dia memiliki perawakan tinggi, kurus, tipis jenggotnya, berwibawa wajahnya dan dua gigi seri depannya ompong karena mengambil mata rantai pengikat topi besi pelindung yang menancap dipipi Muhammad saat Perang Uhud.
Ia ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian, Ia hijrah ke Madinah dan dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Muadz. Ia mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Saat Perang Badar ia terpaksa membunuh anaknya karena membela diri saat diserang anaknya sendiri. Dalam pertempuran Dzatus Salasil yang diikuti Abu Bakar dan Umar,[3] di mana Abu Ubaidah sebagai komandan dan dikirim Nabi Muhammad untuk membantu pasukan Amr bin Ash.[1]
Ketika Pertempuran Uhud, ia mencabut potongan besi helm yang menancap di pipi Muhammad, karena terkena pukulan musuh, di mana posisi kaum muslimin sudah sangat terdesak, Muhammad dan sahabat dihujani anak panah dari Quraisy Mekah. Beruntung dia memakai pelindung kepala, tetapi dua buah mata rantai pengikat topi besi putus dan menancap ke pipi Muhammad. Maka Abu Ubaidah bin Jarrah pun mengambil potongan besi itu dengan mulutnya hingga membuat dua giginya lepas.[3]
Nabi Muhammad berkata tentang Abu Ubaidah,"Sesungguhnya setiap umat memiliki amin (orang kepercayaan), dan amin umat ini adalah Abu Ubaidah."[4] Setelah wafatnya Nabi Muhammad, Ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.[1]
Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah, Dia ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan Muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi pada bulan Safar tahun 13 H di Syam (Suriah) bersama komandan Yazid bin Abu Sofyan, Syurahbil bin Hasanah dan Amru bin Ash.[5][6] Abu Bakar kemudian menugaskannya sebagai pimpinan kota Homs (Emessa) sementara di sisi utara Damaskus pada Muharam 14 H (Desember 635 M) setelah pertempuran yang menewaskan 200-an muslimin dibantu oleh komandan Muadz bin Jabal.
Semasa Khalifah Umar bin Khathab, Abu Ubaidah ditunjuk sebagai Panglima Utama membebaskan wilayah Suriah (Syam),[3] Saat PengepunganDamaskus, Abu Ubaidah mengambil posisi di gerbang barat Jabiya. Pengepungan ini berhasil diselesaikan dengan damai setelah beberapa kali terjadi pertempuran kecil di depan gerbang benteng.[6] Ia juga membebaskanPalestina dan sekitarnya setelah Pertempuran Ajnadain, serta memimpin perang besar selama 5 hari yang dikenal Perang Yarmuk bersama Khalid bin Walid.
Pengepungan Damaskus.
Setelah pembebasan Damaskus, Umar datang berkunjung ke Syam (Suriah) ditemani Abu Ubaidah yang ditetapkan sebagai Gubernur Damaskus. Rumah tempat tinggal Abu Ubaidah di Damaskus sangat sederhana sehingga Umar menangis saat melihatnya. Suatu hari Khalifah Umar mengirim 400 dinar (sekitar 1,2 Miliar rupiah) kepada Abu Ubaidah dan segera dibagi-bagikan kepada rakyatnya yang membutuhkan.[1]
Dalam Pertempuran Yarmuk, telapak tangan Abu Ubaidah tembus terluka terkena tusukan pedang pasukan Romawi.[1] Menjelang pertempuran Yarmuk juga datang surat dari Umar yang menurunkan pangkat Khalid dari Panglima untuk diserahkan pada Abu Ubaidah, tetapi ia sengaja merahasiakannya. Khalid berkata, “Semoga Allah member! rahmat kepadamu, Abu Ubaidah. Tapi, kenapa kau tidak langsung menyampaikan surat perintah ini kepadaku?” Abu Ubaidah menjawab, Aku tidak mau mengganggu konsentrasi pasukan. Kita tidak sedang berbicara tentang urusan dunia, dan bukan pula karena dunia kita berperang. Kita semua adalah saudara dalam agama Allah.”[7]
Abu Ubaidah meninggalkan Homs mundur jauh puluhan kilometer ke selatan, mengembalikan uang jizyah pada penduduk Homs. Sebelum pecah pertempuran, Jaban panglima pasukan Bizantium mengutus Gregory untuk negosiasi dengan Abu Ubaidah agar mundur kembali ke Arab namun ditolak Abu Ubaidah.[6] Formasi pertempuran disusun dengan posisi Abu Ubaidah sebagai komandan pasukan tengah bagian kiri sementara Syurahbil bagian tengah kanan.
Pada hari ke 3 Pertempuran Yarmuk, Ikrimah bin Abu Jahal maju bertekad mati melawan Bizantium, ia berkata kepada Abu Ubaidah,
Formasi dan Medan Pertempuran Yarmuk
“Aku sudah bertekad mati (syahid), apakah anda mempunyai pesan penting pada Rasulullah, bila aku menemuinya nanti?”
“Ya, katakanlah pada dia, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya kami telah menemukan bahwa apa yang dijanjikan Allah kepada kami memang benar!’.” Jawab Abu Ubaidah.
“Baiklah.” Ikrimah kemudian berteriak lantang kepada muslimin di sekitarnya. “Sungguh aku telah lama memerangi Rasulullah di masa lalu sebelum aku mendapatkan hidayah Islam, apakah pantas aku lari dari musuh- musuh Allah hari ini? Siapakah yang bersedia dan berjanji untuk mati?!” Ia pun terbunuh di tengah medan perang.[6]
Selesai Pertempuran Yarmuk yang dimenangkan muslimin setelah 5 hari pertempuran, Abu Ubaidah mendapatkan instruksi Umar untuk membebaskan Palestina, maka pasukannya mengepung selama 4 bulan sehingga terjadi penyerahan damai dengan syarat Khalifah Umar datang sendiri untuk menerima kunci kota oleh Sophronius.[6] Selanjutnya Abu Ubaidah fokus pada wilayah utara Syam (Suriah) bersama komandannya Khalid bin Walid.
Abu Ubaidah kemudian mengirimkan Malik al-Asytar untuk bergerak ke arah utara Aleppo sampai ke daerah timur pegunungan Taurus. Mereka melakukan kesepakatan politik dengan masyarakat setempat sekaligus mengetahui apakah ada pasukan Bizantium yang berada di sana. Hal ini dilakukan untuk melakukan pengamanan yang dikhawatirkan adanya serangan tak terduga dari pihak Bizantium saat pasukan muslimin hendak menaklukan Antiokia.[6]
Abu Ubaidah memerintahkan untuk menaklukkan Antiokia, sebuah kota di tepi pantai yang berada di sebelah barat Aleppo. Antiokia merupakan kota terbesar Bizantium di Suriah setelah Damaskus. Kedatangan pasukan muslimin ini disambut oleh pasukan kuat Bizantium di sungai Orontes, 12 mil sebelah timur Antiokia, sehingga terjadi pertempuran di dekat sebuah jembatan besi (iron bridge) sehingga dinamakan Pertempuran Iron Bridge yang terjadi pada bulan Oktober 637 M dengan kemenangan di pihak muslim.[5] Lalu pada tahun 638, Abu Ubaidah mengutus Khalid dan Iyadh bin Ghanim membebaskan wilayah Marash dan Tarsus (Taurus).
Umar berkata ketika menjelang datang ajalnya,"Seandainya Abu Ubaidah bin Jarrah masih hidup, ia pasti menjadi bagian di antara orang-orang yang akan saya angkat sebagai penggantiku. Sehingga jika Rabb-Ku menanyakan hal itu, aku akan menjawab, "Saya telah mengangkat orang kepercayaan Allah dan kepercayaan Rosul-Nya."[3]
Abu Ubaidah meninggal di Damaskus disebabkan oleh wabah penyakit. Dan diimakamkan di Deir Alla, Yordania pada 18 H diusia 58 tahun tanpa meninggalkan keturunan.[8] Puluhan anaknya ikut meninggal karena wabah, termasuk para komandan tempurnya seperti Khalid bin Walid, Yazid, Syurahbil dan Dhirar.[6]
Makam Abu Ubaidah bin Al-Jarrah di Deir Alla, Yordania
Abu Ubaidah bin al-Jarrah memiliki beberapa keutamaan dalam Islam, di antaranya adalah:
Diutus Muhammad ke Najran, Yaman untuk berdakwah, mengajar Al-Qur'an, As Sunnah dan Islam. Ketika penduduk Najran datang kepada Muhammad untuk meminta pengajar, Muhammad bersabda, "Sungguh aku akan mengirimkan bersama kalian seorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya". Dan orang dimaksud Muhammad tersebut tidak lain adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.[3]
Diberi gelar Amirul Umara, pemimpinnya pemimpin. Meski demikian dia tetap Rendah hati dan berkata, "Wahai umat manusia, saya ini adalah seorang muslim dari suku Quraisy. Siapa saja di antara kailan baik ia berkulit merah atau hitam, yang lebih bertaqwa daripada diri saya, hati saya ingin sekali berada dalam bimbingannya".[3]
Sangat tawadhu meskipun memiliki jabatan yang tinggi. Suatu ketika Umar berkunjung ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, sedang saat itu Abu Ubaidah telah menjadi pemimpin Syam. ternyata dirumahnya tidak ditemukan satupun perabot rumah tangga, kecuali hanya pedang, tameng dan pelana binatang tunggangannya. Umar bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak mengambil bagian untuk dirimu sendiri, sebagaimana yang dilakukan orang lain,?" Abu Ubaidah menjawab, "Wahai amirul mukminin, keadaan ini telah menyebabkan hatiku lega dan merasa tenang".[3][7]
↑Shahih Bukhari, Kitab Fadhail As-Shahabah, Bab fi Manaqib Abu Ubaidah
12Tabari, Imam (1993). Tarikh of al-Tabari. New York: State University of New York Press. hlm.81. ISBN0-7914-0851-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)