Ghaurats bin Harits

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Ghaurats bin al-Harits (Arab: غورث بن الحارث) adalah seorang suku Arab Baduy dari Bani Muharib yang sangat membenci Muhammad dan ingin sekali membunuhnya. Pada akhirnya Ghaurats pun memeluk Islam. Kisah Ghaurats ini di catat oleh Imam Bukhari.

Kisah[sunting | sunting sumber]

Cerita ini dikisahkan dari jalur Abdullah bin Abu Bakar, Ashim bin Umair bin Qatadah, Mujahid, Abdullah bin Katsir dan Abu Malik. Diketengahkan pula dari Qatadah yang pernah bercerita, telah sampai suatu berita kepada kami, "Ayat ini diturunkan sewaktu rasulullah berada di dalam kebun kurma dalam perang yang ketujuh. Kemudian Bani Tsa'labah dan Bani Muharib yang telah lama bermaksud ingin membunuh nabi, segera mengutus seorang badui. Orang itu disuruh untuk membunuh nabi sewaktu dia sedang tidur-tiduran di salah satu rumah. Sesampainya orang itu kepada Nabi Muhammad, ia segera mengambil pedangnya seraya berkata, "Siapakah yang menghalang-halangiku darimu?" Nabi menjawab, "Hanya Allah yang bisa." Lalu pedang itu terjatuh dari tangannya, akan tetapi nabi tidak membalasnya.

Abu Nu'aim mengetengahkan sebuah hadis dalam kitabnya Dalaailun Nubuwwah (mukjizat-mukjizat kenabian) dari jalur periwayatan Hasan dari Jabir bin Abdullah, bahwa ada seseorang lelaki dari kalangan Bani Muharib yang dikenal dengan nama Ghaurats bin Harits, berkata kepada kaumnya, "Aku akan membunuh Muhammad demi kamu sekalian." Kemudian ia datang menemui Rasulullah saw. yang pada waktu itu sedang duduk-duduk sedangkan pedang dia berada di pangkuan. Lalu Ghaurats berkata, "Hai Muhammad! Lihatlah pedangmu ini!" Nabi menjawab, "Ya." Ia mengambil pedang itu lalu menghunusnya dan langsung mengayunkannya dengan maksud untuk memukulkannya kepada Nabi akan tetapi Allah swt. menggagalkan maksudnya itu.

Ghaurats berkata, "Hai Muhammad! Apakah engkau tidak takut kepadaku?" Nabi menjawab, "Tidak." Ghaurats kembali bertanya, "Tidakkah engkau takut kepadaku sedangkan pedang berada di tanganku?" Nabi menjawab, "Allah tidak akan mencegahku untuk membunuhmu." Kemudian Ghaurats menyarungkan pedang itu dan memberikannya kepada Nabi, lalu turunlah ayat Al-Maidah."

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]