Marwan bin al-Hakam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Marwan bin al-Hakam
مروان بن الحكم
Khalifah
BerkuasaJuni 684 – 12 April 685
PendahuluMuawiyah bin Yazid
PenerusAbdul Malik bin Marwan
Lahir623 atau 626
Wafat685 (sekitar 63 tahun)
Damaskus atau ash-Shinnabra
WangsaUmayyah (trah Marwani)
Nama lengkap
Abū ʿAbdul-Malik Marwān ibn al-Ḥakam ibn Abiʾl-ʿAsh ibn Umayyah ibn ʿAbd Syams
Nama dan tanggal periode
Kekhalifahan Umayyah: 661–750
AyahHakam bin Abi al-Ash
IbuAminah binti 'Alqamah al-Kinaniyyah
PasanganLihat Rincian
AnakLihat Rincian
AgamaIslam

Marwan bin al-Hakam bin Abi'l Ash (bahasa Arab: مروان بن الحكم بن أبي العاص‎) atau Marwan I (lahir sekitar 623–626 — meninggal April/Mei 685) adalah khalifah Umayyah keempat, yang berkuasa kurang dari setahun pada 684–685. Ia adalah khalifah pertama dari trah Marwani (keturunan Marwan), yang menjadi penguasa Umayyah hingga 750 menggantikan khalifah-khalifah Sufyani (keturunan Abu Sofyan) yang kekuasaannya runtuh akibat Perang Saudara Islam II.

Pada masa pemerintahan sepupunya, Khalifah Utsman bin Affan (memerintah 644–656), Marwan menjabat sebagai katib (sekretaris) dan menjadi orang kepercayaan Utsman. Ia terluka saat mengahadapi pemberontak yang mengepung rumah Utsman dan membunuh sang khalifah. Untuk membalas kematian Utsman, ia membunuh sahabat Nabi Thalhah bin Ubaidillah (yang ia anggap turut bersalah) dalam Pertempuran Jamal, saat Marwan maupun Thalhah sama-sama bertempur di kubu Aisyah melawan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib (memerintah 656–661). Marwan kemudian menjadi wali negeri Madinah pada masa pemerintahan kerabatnya, pendiri kekhalifahan Umayyah, Muawiyah bin Abi Sofyan (661–680). Pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah (680–683), pecahlah Perang Saudara Islam II dan Marwan memimpin kekuatan Banu Umayyah di Madinah melawan para penentangnya. Pada 683 pemimpin anti-Umayyah di Hijaz, Abdullah bin az-Zubair, berhasil mengusir Marwan dan kabilah Banu Umayyah dari Madinah ke negeri Syam, pusat kekuasaan dinasti tersebut. Khalifah selanjutnya, Muawiyah bin Yazid, meninggal pada 684 dan kekuasaan Umayyah menyusut hanya di sebagian Syam. Banyak wilayah yang menyatakan tunduk kepada Ibnu az-Zubair yang menyatakan diri khalifah setelah meninggalnya Yazid. Marwan mengajukan diri sebagai khalifah pengganti Muawiyah bin Yazid dalam pertemuan kabilah-kabilah pro-Umayyah di Jabiyah di bawah pimpinan Ibnu Bahdal dari Banu Kalb. Para pemuka kabilah ini setuju memilih Marwan dan mereka mengalahkan pasukan Qais yang memihak Ibnu az-Zubair dalam Pertempuran Marj Rahith pada Agustus 684.

Dalam waktu beberapa bulan, Marwan menyusun kekuatan Umayyah dan merebut kembali wilayah Mesir, Palestina, dan Syam Utara, yang sebelumnya telah tunduk pada Ibnu az-Zubair. Ia mengirim pasukan untuk merebut kembali Irak, tetapi ia meninggal saat pasukan tersebut masih dalam perjalanan. Sebelum ia meninggal, ia meninggalkan posisi yang kuat untuk anak-anaknya: Abdul Malik bin Marwan ditunjuk sebagai khalifah penerusnya, Abdul Aziz menjadi wali negeri Mesir, dan Muhammad menjadi panglima di kawasan Mesopotamia Hulu. Anak cucunya akan terus menguasai kekhalifahan hingga digulingkan Dinasti Abbasiyah pada 750. Ia memiliki reputasi beragam: sejarawan Clifford E. Bosworth menyebutnya sebagai panglima dan negarawan yang cerdik, cakap, tegas, dan berhasil melanggengkan kekhalifahan Umayyah, sedangkan riwayat-riwayat anti-Umayyah mengejeknya sebagai "bapak para penguasa zalim".

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Silsilah keturunan tokoh-tokoh penting dinasti Umayyah.

Marwan lahir pada tahun 623 atau 626 M. Ayahnya bernama Al-Hakam bin Abi al-Ash dan ibunya bernama Aminah binti Alqamah dari kabilah Banu Kinanah.[1] Ayahnya berasal dari kabilah Banu Umayyah yang merupakan kabilah terkemuka dari suku Quraisy, yang ketika itu menguasai kota Mekkah di barat Semenanjung Arabia.[1][2] Suku Quraisy (yang sebelumnya menganut kepercayaan Arab pra-Islam) sebagian besar memeluk Islam sekitar tahun 630 setelah Penaklukan Mekkah oleh Muhammad, nabi umat Islam yang juga berasal dari suku tersebut. Marwan sempat mengenal Muhammad pada masa hidupnya sehingga ia termasuk golongan sahabat Nabi.[1]

Masa Khulafaur Rasyidin[sunting | sunting sumber]

Kota Madinah, tempat awal Marwan meniti karir sebagai orang kepercayaan Khalifah Utsman, wali negeri Khalifah Muawiyah, dan pemimpin keluarga Umayyah setempat. Foto dari tahun 1940.

Marwan turut serta dalam pemerintahan Khalifah 'Utsman bin 'Affan (berkuasa 644—656 M), yang juga merupakan sepupunya.[1] Ia turut serta dalam perang melawan Kekaisaran Romawi Timur di Ifriqiyah (Afrika Utara bagian tengah), dan mendapat harta rampasan perang yang cukup banyak.[1][3] Inilah modal awal kekayaan Marwan, dan sebagian ia investasikan dalam tanah dan bangunan di Madinah,[1] ibu kota kekhalifahan. Pada tanggal yang tidak diketahui pasti, ia ditunjuk menjadi wali negeri (gubernur) di Fars dan kemudian kembali ke Madinah untuk menjadi katib (sekretaris atau juru tulis khalifah) dan kemungkinan juga sebagai bendahara baitul mal.[1][4] Sejarawan Clifford E. Bosworth menyebut bahwa karena kedudukannya ini Marwan "tak diragukan lagi membantu" dalam penyusunan mushaf Al-Quran di masa Utsman.[1] Sejarawan Hugh N. Kennedy menyatakan bahwa Marwan adalah "tangan kanan" Utsman. Menurut sumber tradisi Muslim, anggota Quraisy yang sebelumnya mendukung Utsman perlahan-lahan menarik dukungannya akibat kedekatannya dengan Marwan, yang dianggap sebagai penyebab keputusan-keputusan kontroversial Utsman.[4][5][6] Sejarawan Fred Donner meragukan versi ini karena ia menganggap tidak mungkin Utsman dipengaruhi begitu saja oleh Marwan yang jauh lebih muda dan karena tidak adanya tuduhan yang bersifat spesifik terhadap Marwan. Donner juga menduga bahwa ada kemungkinan "upaya dari tradisi Muslim zaman selanjutnya untuk menyelamatkan reputasi Utsman sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin dengan menjadikan Marwan ... kambing hitam (the fall guy) atas peristiwa-peristiwa memilukan di akhir dua belas tahun pemerintahan Utsman."[4]

Kekisruhan pada tahun-tahun akhir pemerintahan Utsman akibat kebijakannya yang dianggap nepotisme atau memihak kerabat sendiri, maupun pengambilalihan tanah di Irak memicu perlawanan di kalangan Quraisy dan pihak-pihak yang dirugikan Mesir dan Kufah.[7] Marwan menyarankan tindakan keras terhadap para pemberontak,[8] tetapi Utsman membatalkannya dan menahan diri dari tindakan militer saat para pemberontak mengepung kediamannya pada Juni 656.[9] Bertentangan dengan perintah Utsman, Marwan aktif melindungi Utsman dan sempat terluka parah di lehernya saat ia menantang para pemberontak di depan kediaman Utsman.[1][4][10] Menurut sumber tradisional, ia selamat karena campur tangan ibu susunya, Fatimah binti Aus, dan dibawa ke rumah Fatimah oleh pelayan Marwan yang bernama Abu Hafsah.[10] Tak lama kemudian, Utsman dibunuh oleh para pemberontak dan peristiwa ini memicu Perang Saudara Islam I.

Ali bin Abi Thalib terpilih menjadi khalifah menggantikan Utsman, dan terjadi perlawanan yang dipimpin oleh Aisyah, salah seorang istri Muhammad. Marwan awalnya berada di pihak Aisyah, dan ikut bertempur dalam Pertempuran Jamal pada Desember 656.[1] Dalam pertempuran ini, ia membunuh Thalhah bin Ubaidillah yang juga berada di pihak Aisyah tetapi menurut Marwan ikut bertanggung jawab atas pembunuhan Utsman.[1][11] Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan Ali, dan Marwan pun menyatakan baiat kepada sang khalifah.[1] Marwan dimaafkan oleh Ali dan ia lalu berangkat ke Syam yang dikuasai oleh Muawiyah bin Abi Sofyan, wali negeri Syam yang menolak untuk berbaiat kepada Ali, dan merupakan kerabatnya dari Banu Umayyah.[12] Marwan berada di pihak Muawiyah saat bertempur melawan Ali dalam Pertempuran Shiffin pada tahun 657.[13] Pertempuran ini berakhir tanpa pemenang yang jelas, dan diikuti dengan sebuah tahkim (arbitrase) yang juga gagal menghentikan perselisihan antara kedua pihak.[14]

Masa Kekhalifahan Umayyah[sunting | sunting sumber]

Wali negeri Madinah[sunting | sunting sumber]

Khalifah 'Ali dibunuh pada tahun 661 dan putranya, Hasan bin Ali, memegang tampuk kekhalifahan berikutnya. Untuk mencegah berlanjutnya perang saudara, Hasan membuat perjanjian dengan Muawiyah dan menyerahkan posisi khalifah ke tangan wali negeri Syam tersebut. Muawiyah memasuki Kufah, pusat kekuasaan Hasan, pada Juli atau September 661 dan hal ini mengawali berdirinya Kekhalifahan Umayyah.[15][16] Marwan awalanya menjadi wali negeri Umayyah di Arabia Timur (Bahrayn) dan kemudian menjadi wali negeri Madinah pada 661–668 dan 674–677.[1] Di antara dua periode tersebut, posisi wali negeri Madinah dipegang oleh anggota Banu Umayyah yang lain, yaitu Said bin al-Ash dan [[Al-Walid bin Utbah].[1] Madinah sebelumnya adalah ibu kota kekhalifahan hingga kematian Utsman, tetapi pada masa Muawiyah Madinah hanyalah ibu kota wilayah (provinsi) sedangkan ibu kota kekhalifahan berada di Damaskus.[17] Sekalipun tidak lagi menjadi ibu kota negara, Madinah tetap menjadi pusat kebudayaan Arab dan keilmuan Islam, serta tempat tinggal pemuka-pemuka kabilah..[18] Para pemuka kabilah di Madinah, termasuk banyak anggota Banu Umayyah, tidak menyukai turunnya posisi mereka dan naiknya Muawiyah. Menurut sejarawan Julius Wellhausen: "Apalah artinya bagi Marwan, dulunya patih Utsman yang amat berkuasa, jabatan Wali Negeri Madinah! Wajar saja ia iri kepada kerabatnya di Damaskus [Muawiyah] yang berada jauh di atasnya."[19]

Pada masa jabatan pertamanya, Marwan memperoleh tanah yang luas dari Mu'awiyah di daerah Fadak, Arab Utara, yang kemudian ia bagikan kepada anaknya Abdul Malik dan Abdul Aziz.[1] Masa jabatan pertamanya berakhir saat ia dipecat karena menentang pernyataan Muawiyah yang mengangkat Ziyad ibn Abihi, wali negeri Irak yang asal usul keturunannya tidak jelas, sebagai saudaranya sendiri (pernyataan ini ditentang banyak anggota Banu Umayyah), dan karena Marwan menolak membantu putri sang khalifah Ramlah binti Muawiyah dalam masalah rumah tangganya dengan suaminya Amr bin Utsman bin Affan, yang juga merupakan keponakan Marwan.[20] Setelah pencopotan ini, Marwan marah dan menemui Muawiyah di Damaskus dan keduanya bertengkar serta mengeluarkan kata-kata kasar.[20] Saat Hasan bin Ali meninggal pada 670, Marwan termasuk salah satu orang yang menolak jenazahnya dikebumikan bersama Muhammad, Abu Bakar, dan Umar yang dimakamkan di Masjid Nabawi.[21] Akhirnya, Marwan turut serta dalam prosesi pemakaman Hasan dan memujinya sebagai seseorang dengan "kesabaran sebesar gunung-gunung."[22]

Menurut Bosworth, Mu'awiyah mungkin menaruh curiga terhadap ambisi Marwan maupun anggota-anggota Umayyah dari trah Abu al-Ash pada umumnya. Cabang dinasti tersebut jauh lebih besar daripada trah Abu Sofyan seperti Muawiyah.[23] Marwan adalah salah satu anggota Banu Umayyah paling terkemuka ketika itu, sedangkan selain Muawiyah tidak banyak keturunan Abu Sofyan yang berpengalaman cukup.[23] Bosworth menduga, "mungkin saja ada kekhawatiran terhadap trah Abu'l Ash yang memaksa Muawiyah ... mengambil langkah tidak umum yaitu menetapkan anaknya Yazid sebagai pewaris kekhalifahan semasa hidupnya."[23] Sebelumnya, Marwan pernah mendesak Amr bin Utsman (yang juga merupakan keturunan Abu al-Ash) untuk mengklaim jabatan khalifah berdasarkan posisi ayahnya, tetapi Amr tidak tertarik.[24] Marwan dengan berat hati menerima ketetapan Muawiyah ini pada 676, tetapi diam-diam mendorong Said, putra Utsman bin Affan yang lain, untuk menentang keputusan ini.[25] Said sendiri cukup puas ketika Muawiyah mengangkatnya sebagai panglima di Khurasan (wilayah paling timur kekhalifahan masa itu) sehingga tidak berambisi mengambil posisi khalifah.[26]

Pecahnya Perang Saudara Islam II[sunting | sunting sumber]

Muawiyah meninggal pada tahun 680 dan digantikan oleh Yazid. Masyarakat Hijaz (termasuk Mekkah dan Madinah) tidak mengakui kekuasaan Yazid,.[23] dan tokoh-tokoh utama Islam yang memiliki garis keturunan khalifah yaitu Husain bin Ali, Abdullah bin az-Zubair, dan Abdullah bin Umar, semuanya menolak melakukan baiat.[27][28] Marwan sebagai pemuka Banu Umayyah di kawasan Hijaz menganggap Husain dan Ibnu az-Zubair sebagai dua tokoh yang paling berbahaya, dan menyarankan agar Al-Walid bin Utbah, wali negeri Madinah, memaksa keduanya berbaiat.[29][30] Pada 683, penduduk Madinah bergerak menyerang Banu Umayyah di kota tersebut, dan mereka terkepung dan berlindung di kawasan sekitar rumah Marwan.[31] Marwan meminta bantuan dari Damaskus, dan pada akhir 683 ia mengirimkan pasukan yang dipimpin Muslim bin Uqbah untuk menegakkan kekuasaan Umayyah di Hijaz.[31][23] Sementara itu, para anggota Banu Umayyah yang terkepung di Madinah akhirnya terusir, dan sebagian (termasuk Marwan dan anggota trah Abu'l-Ash) bergabung dengan pasukan Ibnu Uqbah.[23] Pasukan Umayyah dan penduduk Madinah bertempur dalam Pertempuran al-Harrah, yang dimenangkan pihak Umayyah setelah Marwan membawa pasukan berkudanya menembus Madinah dan menyerang pasukan penduduk Madinah dari belakang.[32] Meski berhasil mencapai kemenangan, pasukan Umayyah mundur kembali ke Syam karena Yazid meninggal pada 683.[33] Pemimpin kubu Hijaz, Abdullah bin Zubair beserta pendukungnya mengambil tanah milik Bani Umayyah di kawasan tersebut.[23]

Menjadi khalifah[sunting | sunting sumber]

Marwan diangkat sebagai khalifah di negeri Syam, dengan ibu kota Damaskus (gambar tahun 1895)

Putra Yazid yang masih muda, Mu'awiyah bin Yazid (disebut juga Muawiyah II), diangkat sebagai khalifah yang baru. Pada awal tahun 684, Marwan telah berada di Syam, kemungkinan di Tadmur atau di istana sang khalifah di Damaskus.[23] Di Hijaz sendiri, Abdullah bin az-Zubair menyatakan dirinya sebagai khalifah dengan ibu kota Mekkah. Hal ini menjadikan gelar khalifah diklaim oleh dua pihak dan kekhalifahan terbelah antara khalifah di Syam dan khalifah di Hijaz. Muawiyah II meninggal setelah beberapa minggu menjabat khalifah. Para wali negeri di distrik-distrik militer (jund) di Syam, termasuk Filastin (Palestina), Hims, dan Qinnasrin, berpindah ke kubu Ibnu Az-Zubair.[23] Alhasil, Marwan "putus asa akan masa depan dinasti Umayyah sebagai penguasa" (menurut Bosworth), dan hampir saja mengakui kekhalifahan Ibnu az-Zubair. Namun, ia mendapat dukungan dari Ubaidillah bin Ziyad, wali negeri Umayyah yang tersingkir dari Irak, yang membujuknya untuk mengajukan diri sebagai pengganti Muawiyah II dalam pertemuan kabilah-kabilah pendukung Umayyah yang sedang berlangsung di Jabiyah.[23] Pengajuan-pengajuan khalifah yang terjadi menunjukkan keragaman prinsip pergantian kepemimpinan yang ada di kalangan umat Islam pada masa itu.[34] Para pendukung Ibnu az-Zubair mengusung prinsip penunjukan pemimpin yang dianggap paling Islami dan saleh,[34] sedangkan para pendukung Umayyah mempertimbangkan dua calon khalifah dengan prinsipnya masing-masing. Khalid bin Yazid (adik Muawiyah II dan cucu Muawiyah I) diusung berdasarkan prinsip garis keturunan langsung, dan Marwan diusung berdasarkan norma adat yaitu memilih pemimpin yang paling bijaksana, cakap, dan berasal dari garis keturunan terkemuka.[35]

Penggagas pertemuan tersebut, Hasan bin Malik bin Bahdal, pemimpin Banu Kalb, mendukung Khalid bin Yazid sebagai khalifah berikutnya.[23][36] Hasan bin Malik sendiri memiliki hubungan kekerabatan dengan Bani Umayyah lantaran bibinya, Maysun binti Bahdal, adalah istri Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan ibu Yazid.[33] Namun usia Khalid yang masih belia menjadikan kepala kabilah lain, seperti Rauh bin Zinba' dari Banu Judzam dan Husain bin Numair dari Banu Kindah lebih mendukung Marwan yang dianggap berpengalaman secara politik dan militer.[23][37] Kesepakatan akhirnya tercapai pada 22 Juni 684 untuk mengangkat Marwan sebagai khalifah.[38] Khalid dan Amr bin Said bin al-Ash, seorang tokoh muda terkemuka Umayyah lainnya, ditetapkan sebagai penerus Marwan.[23] Kabilah-kabilah pendukung Umayyah, yang kemudian disebut kelompok Yamani, dijanjikan bayaran atas dukungan mereka untuk mengangkat Marwan.[36] Pemuka-pemuka (asyraf) mereka meminta Marwan memberikan hak istimewa dalam hal militer dan pemerintahan sebagaimana yang mereka terima dari khalifah Bani Umayyah sebelumnya.[39] Husain bin Numair sebelumnya pernah menawarkan dukungan kepada Ibnu az-Zubair dengan syarat serupa, tetapi Ibnu az-Zubair secara terbuka menolak tawaran tersebut.[40] Menurut sejarawan Mohammad Rihan, Marwan "menyadari pentingnya pasukan Syam dan mengikuti sepenuhnya permintaan mereka", dan menurut Kennedy "Marwan tidak memiliki pengalaman atau jaringan di Syam; ia akan sepenuhnya tergantung pada para asyraf dari kabilah-kabilah Yamani yang telah memilihnya."[41][36]

Masa kekuasaan[sunting | sunting sumber]

Upaya mengembalikan kekuasaan Umayyah[sunting | sunting sumber]

Perpecahan politik umat Islam di tengah Perang Saudara Islam II, sekitar tahun 686. Dalam waktu kurang dari setahun, Marwan mengembalikan kekuasaan Umayyah (yang tadinya hanya di sebagian Syam) ke wilayah berwarna merah.

Masa kekuasaan Marwan yang singkat dihabiskan untuk mengembalikan Syria dan sekitarnya ke dalam kendali Umayyah. Berseberangan dengan Bani Kalb yang mendukung Marwan, persekutuan beberapa suku-suku Arab yang disebut Qais memihak Abdullah bin az-Zubair. Mereka mendorong Adh-Dhahhak bin Qais, pemuka Qais yang menjabat wali negeri Damaskus, untuk mengerahkan pasukan. Alhasil, Adh-Dhahhak dan parsukan Qais berkumpul di dataran Marj Rahith, sebelah utara Damaskus.[36] Semua distrik militer di negeri Syam berpihak pada Abdullah bin az-Zubair, kecuali Jund al-Urdunn yang didominasi Bani Kalb. Dengan dukungan Bani Kalb dan sekutu-sekutunya, Marwan bergerak menuju posisi Adh-Dhahhak bin Qais yang memiliki pasukan lebih besar.[42][36] Sementara itu, di dalam kota Damaskus, seorang pemuka Bani Ghassan membersihkan kota itu dari para pendukung Adh-Dhahhak dan Damaskus pun berada di bawah kendali Umayyah.[36] Dalam pertempuran Marj Rahith yang terjadi pada Agustus 684, pasukan Marwan berhasil mengalahkan pasukan Qais dan Adh-Dhahhak sendiri terbunuh.[23][36]

Kemenangan telak pihak Umayyah dan Yamani menjadi awal perseteruan antarsuku Yamani dan Qais.[43] Kekuasaan Banu Kalb dan sekutu-sekutunya dari kelompok Qudha'ah dikukuhkan oleh kemenangan Marwan.[44] Kaum Qahthan di Hims kemudian bergabung sebagai sekutu mereka, sehingga membentuk persekutuan kabilah yang lebih besar.[45] Sisa-sisa kelompok Qais kemudian dipimpin oleh Zufar bin al-Harits al-Kilabi, merebut benteng Al-Qarqisiya (Circesium) di kawasan Al-Jazirah (Mesopotamia Hulu) dan melanjutkan perlawanan kabilah-kabilah yang menentang kekuasaan Umayyah.[36]

Marwan menerima baiat sebagai khalifah di Damaskus pada bulan Juli atau Agustus.[38] Ia menikahi Umm Hasyim Fakhitah, janda Yazid dan ibu dari Khalid sehingga ia memiliki hubungan perkawinan dengan keluarga khalifah-khalifah sebelumnya.[23] Wellhausen menganggap bahwa pernikahan ini adalah upaya Marwan untuk mengendalikan warisan ditinggalkan Yazid sebagai ayah tiri anak-anaknya.[46] Marwan menunjuk Yahya bin Qais dari Banu Ghassan sebagai kepala syurthah (polisi atau aparat keamanan) dan mawlanya yang bernama Abu Sahl al-Aswad sebagai hajib (pengelola istana).[47]

Meski telah menang di Marj Rahith, Marwan masih menghadapi beberapa tantangan dari wilayah-wilayah bekas kekhalifahan Umayyah lainnya. Pada sisa masa kekuasaannya, ia berusaha memperluas kembali kekuasaan Umayyah dengan menggunakan kekuatan militer dan bantuan Ibnu Ziyad serta Ibnu Bahdal.[43][23] Ia mengirimkan Rauh bin Zinba' ke Palestina, yang berhasil mengusir Natil bin Qais, wali negeri Palestina yang mendukung Ibnu az-Zubair dan merupakan saingan Rauh untuk kepemimpinan Banu Judzam.[48] Marwan juga mengukuhkan kendali Umayyah di kawasan utara Syam.[23] Pada Februari atau Maret 685, Marwan mengambil kendali Mesir dengan bantuan kabilah-kabilah terkemuka di ibu kota Mesir saat itu yaitu Fustat.[43] Abdurrahman bin Utbah, wali negeri Mesir pendukung Abdullah ibn az-Zubair, digulingkan dan digantikan oleh Abdul Aziz, salah satu putra Marwan.[23][43] Selanjutnya, pasukan pro-Marwan di bawah pimpinan Amr bin Said menghalau serangan yang dilancarkan Mush'ab bin az-Zubair (adik dari Abdullah bin az-Zubair) ke Palestina.[23][49] Marwan juga mengirimkan pasukan ke Hijaz di bawah pimpinan Hubaisy bin Duljah, pasukan ini dikalahkan di Ar-Rabadzah di timur Madinah.[23][48] Marwan juga mengirim putranya Muhammad untuk menghadap kabilah-kabilah Qais di kawasan tengah lembah Sungai Efrat.[43] Masih di awal tahun 685, ia mengirimkan pasukan di bawah kepemimpinan 'Ubaidillah bin Ziyad untuk merebut Irak dari kekuasaan Abdullah bin az-Zubair dan maupun kelompok penentang Umayyah yang lain.[23]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Marwan meninggal pada awal tahun 685 saat belum genap setahun berkuasa. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai tanggal pasti kematiannya. Ibnu Sa'ad, Ibnu Jarir ath-Thabari, dan Khalifah bin Khayyath berpendapat bahwa Marwan meninggal pada tanggal 11 April 685, Al-Mas'udi berpendapat pada tanggal 13 April, sedangkan Elias, Uskup Agung Nisibis, berpendapat kematian sang khalifah terjadi pada pada 7 Mei.[23] Sebagian besar sumber Muslim menyatakan bahwa Marwan meninggal di Damaskus, sedangkan Al-Mas'udi berpendapat bahwa Marwan meninggal di kediaman musim dinginnya di Ash-Shinnabra, dekat Danau Tiberias.[23] Sejarawan-sejarawan Muslim awal menukil riwayat (dengan isnad yang baik) bahwa Marwan dibunuh saat ia tidur oleh istrinya Umm Hasyim Fakhitah akibat hinaan kasar yang sebelumnya diucapkan Marwan kepadanya, tetapi kisah ini ditolak atau diabaikan oleh kebanyakan sejarawan Barat modern.[50] Bosworth menduga bahwa Marwan meninggal akibat wabah penyakit yang menimpa negeri Syam pada saat kematiannya.[23]

Sebelum Marwan meninggal, sekembalinya ia ke Syam dari Mesir pada tahun 685, ia sempat menunjuk putra-putranya Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai penerusnya, sekalipun hasil pertemuan di Jabiyah menetapkan Khalid bin Yazid dan Amr bin Said sebagai khalifah selanjutnya. Ia melakukannya setelah ia mendengar bahwa Ibnu Bahdal mendukung Amr sebagai calon penerus Marwan.[51][46] Ia memanggil dan mencecar Ibnu Bahdal, dan akhirnya memintanya menyatakan baiat terhadap Abdul Malik sebagai putra mahkota.[51] Setelah meninggalnya Marwan, Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah tanpa pertentangan dari Khalid maupun Amr.[23] Dengan ini, keputusan pertemuan Jabiyah telah dibatalkan dan prinsip pemilihan khalifah berdasarkan garis keturunan langsung kembali berlaku.[23][52]

Metode pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Marwan menjadikan keluarga dan kerabatnya sebagai landasan kekuatan di pemerintahan, seperti yang pernah dilakukan Khalifah Utsman, dan bertentangan dengan gaya Muawiyah yang menjaga jarak dari kerabat-kerabatnya.[53] Ia memberikan posisi militer penting kepada putranya Muhammad dan Abdul Aziz, dan memastikan putranya Abdul Malik sebagai khalifah selanjutnya.[53] Walaupun awalnya dipenuhi tantangan, trah "Marwani" (keturunan Marwan) menjadi wangsa penguasa Kekhalifahan Umayyah selanjutnya menggantikan trah "Sufyani" (keturunan Abu Sofyan) seperti khalifah-khalifah sebelumnya.[44][53]

Menurut penilaian Bosworth, Marwan "jelas sekali adalah pemimpin militer dan negarawan yang memiliki kecakapan dan ketegasan, dipenuhi dengan sifat ḥilm [kesabaran] dan dahiya [kecerdikan], seperti tokoh-tokoh Umayyah terkemuka lainnya."[23] Meski ia tidak memiliki basis kekuatan di Syam sebelum menjadi khalifah dan wilayah tersebut cukup asing baginya, ia berhasil mengambil kendali. Kukuhnya kekuasaan Umayyah di Syam menjadi landasan bagi anaknya, Abdul Malik, yang kelak akan berhasil menyatukan kembali kekhalifahan di bawah dinasti Umayyah. Kekhalifahan Umayyah akan berlanjut selama sekitar 65 tahun selanjutnya, hingga digulingkan Dinasti Abbasiyah pada 750.[23] Menurut sejarawan Wilferd Madelung, naiknya Marwan ke posisi khalifah adalah sebuah "politik tingkat tinggi", puncak dari intrik-intrik yang dimulai dari awal karirnya.[54] Menurut Madelung, intrik ini termasuk menempatkan diri sebagai "pembalas pertama" kematian Utsman dengan membunuh Thalhah dalam Pertempuran Jamal, serta upaya diam-diam melemahkan kekuasaan para khalifah Sufyani walaupun secara terbuka mendukungnya.[54]

Dalam riwayat, Marwan dikenal sebagai pribadi yang kasar (fāḥisy) dan kurang memiliki adab. Luka-luka yang ia derita dalam pertempuran tampaknya cukup mempengaruhi kondisi fisiknya. Ia memiliki tubuh kurus dan tinggi sehingga dijuluki khayṭ bāṭil (benang tipis). Riwayat-riwayat anti-Umayyah memberinya julukan ṭarid ibn ṭarid ("sang terusir, putra dari sang terusir") karna ia diusir dari Madinah oleh Ibnu az-Zubair, dan ayahnya al-Hakam juga konon pernah diusir Muhammad ke Thaif. Pihak anti-Umayyah juga menjulukinya abūʾl-jabābirah (bapak dari para penguasa bengis) karena anaknya dan cucu-cucunya kelak berturut-turut menguasai kekhalifahan.[23]

Pasangan dan anak[sunting | sunting sumber]

Dinar emas yang dicetak Khalifah Abdul Malik, putra Marwan yang kelak berhasil menyatukan kembali kekhalifahan dibawah dinasti Umayyah.

Marwan memiliki paling tidak lima istri dan seorang ummu walad ("ibu dari anak", selir, budak yang dijadikan pasangan dan melahirkan anaknya), dan paling tidak enam belas anak.[55] Dari istrinya Aisyah, putri dari sepupunya Muawiyah bin al-Mughirah, lahir Abdul Malik (putra tertuanya, penerusnya sebagai khalifah dan ayah dari beberapa khalifah selanjutnya), Muawiyah, dan seorang putri bernama Ummu Amr.[55][56] Dari istrinya Laila binti Zabban dari Banu Kalb, lahir Abdul Aziz (ayah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz) dan seorang putri Ummu Utsman.[55][56] Istrinya yang lain, Qutayyah binti Bisyr dari Banu Kilab, melahirkan Bisyr, serta Abdurrahman yang meninggal di usia muda.[55][56] Istri Marwan yang lain, Ummu Aban, adalah putri dari sepupunya, Khalifah Utsman bin Affan, dan melahirkan enam anak: Aban, Utsman, Ubaidillah, Ayyub, Daud, dan Abdullah, tetapi Abdullah meninggal saat masih anak-anak.[55][57] Marwan juga menikahi Zainab binti Umar, seorang wanita Banu Makhzum, yang melahirkan seorang anak bernama Umar.[55][58] Ummu walad atau selir Marwan juga bernama Zainab, dan ia melahirkan seorang putra yaitu Muhammad, ayah dari Khalifah Marwan bin Muhammad.[55] Abdul Malik dan cucu-cucu Marwan menjadi penerusnya sebagai Khalifah Umayyah.[55] Dari sepuluh orang saudara lelakinya, ia adalah 'amm (paman melalui jalur ayah) dari setidaknya sepuluh keponakan.[23]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Bosworth 1991, hlm. 621.
  2. ^ Della Vida 2000, hlm. 838.
  3. ^ Madelung 1997, hlm. 81.
  4. ^ a b c d Donner 2014, hlm. 106.
  5. ^ Madelung 1997, hlm. 92.
  6. ^ Della Vida 2000, hlm. 947.
  7. ^ Madelung 1997, hlm. 86–89.
  8. ^ Madelung 1997, hlm. 127, 135.
  9. ^ Madelung 1997, hlm. 133, 135–136.
  10. ^ a b Madelung 1997, hlm. 137.
  11. ^ Madelung 1997, hlm. 171.
  12. ^ Madelung 1997, hlm. 181, 190, 192 note 232, 196.
  13. ^ Madelung 1997, hlm. 235–236.
  14. ^ Kennedy 2004, hlm. 77–80.
  15. ^ Hinds 1993, hlm. 265.
  16. ^ Wellhausen 1927, hlm. 104, 111.
  17. ^ Wellhausen 1927, hlm. 59–60, 161.
  18. ^ Wellhausen 1927, hlm. 136, 161.
  19. ^ Wellhausen 1927, hlm. 136.
  20. ^ a b Madelung 1997, hlm. 343–345.
  21. ^ Madelung 1997, hlm. 332.
  22. ^ Madelung 1997, hlm. 333.
  23. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad Bosworth 1991, hlm. 622.
  24. ^ Madelung 1997, hlm. 341–342.
  25. ^ Madelung 1997, hlm. 342–343.
  26. ^ Madelung 1997, hlm. 343.
  27. ^ Howard 1990, hlm. 2, note 11.
  28. ^ Wellhausen 1927, hlm. 142, 144–145.
  29. ^ Wellhausen 1927, hlm. 145–146.
  30. ^ Howard 1990, hlm. 3–6.
  31. ^ a b Wellhausen 1927, hlm. 154.
  32. ^ Wellhausen 1927, hlm. 156.
  33. ^ a b Kennedy 2004, hlm. 90.
  34. ^ a b Duri 2011, hlm. 23–24.
  35. ^ Duri 2011, hlm. 23–25.
  36. ^ a b c d e f g h Kennedy 2004, hlm. 91.
  37. ^ Duri 2011, hlm. 24–25.
  38. ^ a b Wellhausen 1927, hlm. 182.
  39. ^ Rihan 2014, hlm. 103.
  40. ^ Rihan 2014, hlm. 103–104.
  41. ^ Rihan 2014, hlm. 104.
  42. ^ Rihan 2014, hlm. 105.
  43. ^ a b c d e Kennedy 2004, hlm. 92.
  44. ^ a b Cobb 2001, hlm. 69.
  45. ^ Cobb 2001, hlm. 69–70.
  46. ^ a b Madelung 1997, hlm. 349.
  47. ^ Biesterfeldt & Günther 2018, hlm. 954.
  48. ^ a b Biesterfeldt & Günther 2018, hlm. 953.
  49. ^ Wellhausen 1927, hlm. 185.
  50. ^ Madelung 1997, hlm. 351.
  51. ^ a b Mayer 1952, hlm. 185.
  52. ^ Duri 2011, hlm. 25.
  53. ^ a b c Kennedy 2004, hlm. 93.
  54. ^ a b Madelung 1997, hlm. 348–349.
  55. ^ a b c d e f g h Donner 2014, hlm. 110.
  56. ^ a b c Ahmed 2010, hlm. 111.
  57. ^ Ahmed 2010, hlm. 114.
  58. ^ Ahmed 2010, hlm. 90.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Al-Isti'āb fi Ma'rifah al-Ashāb, Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Barr, tahkik: Ali Muhammad Bijawi, Beirut, Dar al-Jail, cet. 1, 1412/1992.
  • Al-Akhbār al-Thiwāl, Abu Hanidah Ahmad bin Dawud Dainawari (w. 282), tahkik Abdul Mun'im Amir Jamaluddin Syaya, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 S.
  • Ishābah fi Tamiz al-Sahābah, Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, (w. 852), tahkik Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu'awwidh, Beirut, Dar al-Kitab Ilmiyah, cet. 1, 1415/1995.
  • Al-Imāmah wa al-Siyāsah al-Ma'ruf bitarikh al-Khulafā, Abu Muhammad Abdullah bin Muslim Ibnu Qutaibah al-Dainawari (w. 276), Tahkik Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa, cet. 1, 1990/1910.
  • Usdul Ghābah fi Ma'rifah al-Sahābah, Izauddin bin Atsir Abul Hasan Ali bin Muhammad al-Jaziri (w. 630), Beirut, Dar al-Fikr, 1409/1989.
Marwan bin al-Hakam
Lahir: 623 atau 626 Wafat: 12 April 685
Didahului oleh:
Mu'awiyah bin Yazid
Khalifah
Juni 684 – 12 April 685
Diteruskan oleh:
'Abdul Malik bin Marwan