Marwan bin al-Hakam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Marwan bin al-Hakam
مروان بن الحكم
Khalifah
BerkuasaJuni 684 – 12 April 685
PendahuluMu'awiyah bin Yazid
Penerus'Abdul Malik bin Marwan
Lahir623 atau 626
Wafat685 (sekitar 63 tahun)
Damaskus atau ash-Shinnabra
WangsaUmayyah (Marwani)
Nama lengkap
Abū ʿAbd al-Malik Marwān ibn al-Ḥakam ibn Abiʾl-ʿAs ibn Umayya ibn ʿAbd Shams
Nama dan tanggal periode
Kekhalifahan Umayyah: 661–750
AyahHakam bin Abi al-Ash
IbuAminah binti 'Alqamah al-Kinaniyyah
PasanganRincian
AnakRincian
AgamaIslam

Marwan bin al-Hakam (Arab: مروان بن الحكم‎) atau Marwan I (sekitar 623–626 — April/Mei 685) adalah khalifah yang berkuasa pada 684 sampai 685. Dia mewarisi tampuk kepemimpinan setelah Mu'awiyah bin Yazid tidak meninggalkan putra dan tidak menunjuk penerus. Dia dan keturunannya disebut Marwani, salah satu cabang utama dari Bani Umayyah.

Sepeninggal Mu'awiyah bin Yazid, kawasan Syria terpecah lantaran sebagian gubernur dan tokoh berbalik memihak 'Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya sebagai khalifah dan berpusat di Makkah. Meski tidak memiliki dasar pengaruh yang kuat di wilayah tersebut sebelum menjadi khalifah, Marwan berhasil mengembalikan kawasan Syria dan sekitarnya dalam kendali Umayyah pada masa kekuasaannya yang tidak genap setahun.

Masa Khulafaur Rasyidin[sunting | sunting sumber]

Marwan termasuk salah satu sahabat Nabi. Pada masa kekuasaan Khalifah 'Utsman bin 'Affan yang merupakan sepupunya, Marwan berperan sebagai sekretaris[1] dan tangan kanan khalifah.[2] Marwan juga turut serta dalam peperangan di Afrika Utara dan memperoleh rampasan perang yang besar.[1] Terlihat hal tersebut menjadi sumber kekayaan Marwan dan sebagiannya dipakai untuk membeli properti di Madinah.[1] Dia juga sempat ditunjuk menjadi Gubernur Fars selama beberapa waktu.[1]

Banyak sejarawan percaya bahwa Marwan termasuk yang bertanggung jawab atas kekisruhan di tahun-tahun terakhir masa kekuasaan 'Utsman bin 'Affan yang berujung pada pemberontakan.[3] Istri 'Utsman, Na-ilah, pernah menyatakan pendapatnya terkait Marwan kepada suaminya, "Bila engkau terus-menerus mengikuti Marwan, maka dia akan menjadi sebab kematianmu."[4] Salah satu hal yang kerap dijadikan contoh dalam hal ini adalah kasus pemalsuan surat atas nama 'Utsman yang kerap diduga sebagai pekerjaan Marwan. Surat tersebut berisikan perintah kepada 'Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh untuk membunuh Muhammad bin Abu Bakar, yang baru ditunjuk sebagai Gubernur Mesir, beserta rombongan Mesir yang baru saja kembali dari Madinah untuk melayangkan keberatan secara langsung pada 'Utsman atas beberapa kebijakannya terkait Mesir. Saat rombongan tersebut menangkap pembawa surat dalam perjalanan pulang mereka ke Mesir, mereka marah dan berbalik kembali ke Madinah dan terjadilah huru-hara. Meski begitu, sebagian pendapat menyatakan bahwa surat tersebut dipalsukan oleh salah seorang dari rombongan tersebut sebagai jalan untuk menggantikan 'Utsman dengan 'Ali sebagai khalifah. Terlepas dari segala simpang-siur yang ada, saat gelombang protes berubah menjadi pemberontakan yang berujung pada pengepungan kediaman 'Utsman pada tahun 656, Marwan termasuk yang turut serta melindungi 'Utsman. Marwan terluka parah pada saat kejadian dan 'Utsman sendiri terbunuh.[1][5] Setelahnya, 'Ali dilantik menjadi khalifah yang baru.

Masa kekuasaan Khalifah 'Ali adalah salah satu masa tersulit dalam sejarah Islam karena pada saat itulah terjadi perang saudara Islam pertama yang pecah lantaran perselisihan mengenai status pembunuh 'Utsman. Sebagian berpendapat bahwa hukuman mati bagi mereka yang terlibat sebaiknya ditunda sampai keadaan negara stabil. 'Ali dan pendukungnya mengambil pendapat ini. Pendapat lain menyatakan bahwa mereka harus segera dihukum mati karena ditakutkan bahwa para pembunuh ini akan berbaur dengan masyarakat dan sulit dilacak. Keluarga besar 'Utsman dan beberapa tokoh mengambil pendapat ini. Perbedaan pendapat ini semakin memanas dan pertempuran tidak bisa dielakkan kembali. Aisyah janda Nabi yang mengambil pendapat terakhir berseteru dengan pihak 'Ali yang berujung pada terjadinya Perang Jamal. Marwan berada di pihak Aisyah pada pertempuran tersebut.[6][1] Thalhah bin 'Ubaidillah yang terlibat dalam pengepungan kediaman 'Utsman awalnya memberikan baiat kepada 'Ali, tetapi kemudian berbalik memihak Aisyah. Pada saat kemenangan tampak berada di pihak 'Ali, Marwan memanah Thalhah demi menuntut balas kematian 'Utsman dan hal tersebut mengantarkan pada kematiannya.[1] Setelah perang, Marwan bersumpah setia kepada 'Ali.[1]

Masa Bani Umayyah[sunting | sunting sumber]

Khalifah 'Ali dibunuh pada tahun 661 dan putranya, Hasan, memegang tampuk kekhalifahan berikutnya. Namun demi alasan persatuan, Hasan akhirnya menyerahkan gelar khalifah kepada Mu'awiyah bin Abu Sufyan yang telah menjadi Gubernur Syria sejak masa 'Umar bin Khattab. Pada masa Mu'awiyah, Marwan menjadi Gubernur Bahrain dan kemudian menjadi Gubernur Madinah pada 661–668 dan 674–677.[7][1] Marwan memperoleh tanah yang luas dari Mu'awiyah di daerah Fadak, Arab Utara.[1] Saat Hasan bin Ali mangkat pada 670, Marwan termasuk salah satu orang yang menolak jenazahnya dikebumikan bersama Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan 'Umar yang dimakamkan di dalam kediaman 'Aisyah.[8]

Di saat-saat terakhirnya, Mu'awiyah menobatkan putranya, Yazid bin Mu'awiyah sebagai putra mahkota. Penetapan ini menjadikan bentuk kekhalifahan berubah menjadi monarki-dinasti dengan Bani Umayyah sebagai dinasti penguasanya. Namun tidak semua pihak mendukung keputusan Mu'awiyah tersebut. Saat Mu'awiyah bin Abu Sufyan benar-benar mangkat pada tahun 680, masyarakat Hijaz tidak mengakui kekuasaan Yazid.[9] Sebagai pemimpin Bani Umayyah di Hijaz,[2] Marwan berusaha membuat agar para penduduk mengakui kekuasaan Yazid,[9] tetapi Marwan dan Bani Umayyah pada akhirnya tersingkir dari Hijaz.[9] Yazid kemudian melancarkan serangan ke kawasan Hijaz dengan pasukan yang dipimpin Muslim bin 'Uqbah pada musim gugur 683 untuk mengambil alih kendali wilayah tersebut. Beberapa anggota Bani Umayyah juga turut serta dalam pasukan tersebut, termasuk Marwan.[9] Meski berhasil mencapai kemenangan pada Pertempuran Al-Harrah, pasukan Umayyah mundur ke Syria lantaran Yazid mangkat pada 683.[2] Pemimpin Hijaz saat itu, 'Abdullah bin Zubair beserta pendukungnya mengambil tanah milik Bani Umayyah di kawasan tersebut.[9]

Putra Yazid yang sebenarnya tidak terlalu tertarik dalam urusan pemerintahan, Mu'awiyah bin Yazid, diangkat sebagai khalifah yang baru. Di Hijaz sendiri, 'Abdullah bin Zubair menyatakan dirinya sebagai khalifah. Hal ini menjadikan gelar khalifah diklaim oleh dua pihak dan kekhalifahan terbelah antara khalifah di Syria dan khalifah di Hijaz.

Di Damaskus, Mu'awiyah sendiri mangkat setelah hanya beberapa bulan berkuasa, tanpa meninggalkan keturunan ataupun menunjuk penerus. Hal ini menjadikan perpecahan di Syria dan sekitarnya yang menjadi pusat kekuatan Bani Umayyah. Beberapa gubernur di kawasan Syria kemudian menyatakan kesetiaan pada 'Abdullah bin Zubair yang berkuasa di Makkah,[2] di antaranya adalah Adh-Dhahhak bin Qais Al-Fihri, gubernur Damaskus sejak masa Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan pendukung lama Umayyah. Marwan sendiri hendak mengakui kekuasaan 'Abdullah bin Zubair. Namun pada pertemuan suku-suku 'Arab di Jabiyah, 'Ubaidillah bin Ziyad yang merupakan mantan gubernur Kufah membujuk Marwan agar mengajukan dirinya sebagai khalifah.[2] Penggagas pertemuan tersebut, Hasan bin Malik bin Bahdal yang merupakan kepala Bani Kalb, sebenarnya mendukung adik Mua'wiyah bin Yazid, Khalid, sebagai khalifah berikutnya.[2] Hasan bin Malik sendiri memiliki hubungan kekerabatan dengan Bani Umayyah lantaran bibinya, Maysun binti Bahdal, adalah istri Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan ibu Yazid. Namun usia Khalid yang masih belia menjadikan kepala suku lain lebih mendukung Marwan. Pada akhirnya pertemuan tersebut menyepakati Marwan untuk menjadi khalifah. Suku-suku pendukung Umayyah, disebut kelompok Yamani, meminta Marwan hak istimewa dalam militer sebagaimana yang mereka terima dari khalifah Bani Umayyah sebelumnya.[10]

Masa kekuasaan[sunting | sunting sumber]

Masa kekuasaan Marwan yang singkat dihabiskan untuk mengembalikan Syria dan sekitarnya ke dalam kendali Umayyah. Berseberangan dengan Bani Kalb, persekutuan beberapa suku-suku Arab yang disebut Qais 'Aylan (kerap hanya disebut Qais) memihak 'Abdullah bin Zubair. Semua distrik militer di kawasan Syria berpihak pada 'Abdullah bin Zubair, kecuali Jund al-Urdunn yang didominasi Bani Kalb. Dengan dukungan Bani Kalb dan suku sekutunya, Marwan melancarkan perang terhadap Adh-Dhahhak bin Qais yang memiliki pasukan lebih besar, sementara di tempat lain, Bani Ghassan membersihkan Damaskus dari para pendukung Adh-Dhahhak, menjadikannya berada dalam kendali pihak Marwan. Pada bulan Juli, Marwan berhasil membunuh Adh-Dhahhak.[2]

Kemenangan telak pihak Umayyah-Yamani menjadi awal perseteruan panjang Yamani-Qais.[2] Meski telah memperoleh kemenangan, Marwan masih menghadapi beberapa penentangan dari wilayah-wilayah yang dulu sempat dikuasai Umayyah. Pada tahun 685, Marwan mengamankan kekuasaannya di Mesir dengan bantuan dari suku bangsawan Fustat. 'Abdurrahman bin 'Utbah yang merupakan pendukung 'Abdullah bin Zubair digulingkan dari kedudukannya sebagai gubernur Mesir dan digantikan oleh 'Abdul 'Aziz, salah satu putra Marwan.[9][11] Pasukan Marwan juga berhasil menghalau pasukan 'Abdullah bin Zubair yang menyerang Palestina. Di tahun itu juga, Marwan mengirimkan pasukan di bawah kepemimpinan 'Ubaidillah untuk merebut Iraq dari kekuasaan 'Abdullah bin Zubair dan dari kelompok anti-Umayyah lain.[9]

Dalam memerintah, Marwan sendiri mengikuti cara administrasi pada masa 'Utsman.[11] Marwan menjadikan keluarganya sebagai landasan kekuatan di pemerintahan, seperti memberikan putranya Muhammad dan 'Abdul 'Aziz kunci komando militer dan mengamankan status putranya yang lain, 'Abdul Malik, sebagai penerusnya.[11] Marwan juga negarawan dan pemimpin militer yang cakap. Meski tidak memiliki pusat kekuatan yang kuat di Syria sebelum menjadi khalifah, Marwan berhasil mengambil alih kawasan yang menjadi pusat kekuasaan Umayyah tersebut dalam kendalinya. Meski begitu, Marwan juga terkenal sebagai pribadi yang keras. Dia tampaknya menderita luka permanen yang didapat dari berbagai pertempuran yang dilaluinya.[9] Meski kerap dipandang negatif oleh beberapa sumber anti-Umayyah, Marwan merupakan sosok pemimpin yang cerdik, cakap, dan tegas, yang berhasil melanggengkan kekuasaan Umayyah untuk enam dekade setelahnya.

Mangkat[sunting | sunting sumber]

Marwan meninggal pada tahun 685 saat belum genap setahun berkuasa. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai tanggal pasti kematiannya. Ibnu Sa'ad, Ibnu Jarir ath-Thabari, dan Khalifah bin Khayyath berpendapat bahwa Marwan meninggal pada tanggal 11 April 685, Al-Mas'udi berpendapat pada tanggal 13 April 685, sedangkan Elias, Uskup Agung Nisibis, berpendapat pada 7 Mei.[9]

Sebagian besar sumber Muslim menyatakan bahwa Marwan meninggal di Damaskus. Al-Mas'udi berpendapat bahwa Marwan meninggal di kediaman musim dinginnya di Ash-Shinnabra, dekat Danau Tiberias.[9]

Marwani[sunting | sunting sumber]

Naiknya Marwan menjadikan tampuk kekhalifahan terlepas dari garis Sufyani (sebutan untuk keturunan Abu Sufyan). Marwan dan keturunannya kemudian dikenal dengan cabang Marwani. Meski begitu, para sejarawan umumnya menyebut kekhalifahan pada masa kekuasaan kelompok Sufyani maupun Marwani sebagai Kekhalifahan Umayyah. Nama Umayyah sendiri diambil dari nama kakek Abu Sufyan dan Al-Hakam (ayah Marwan), Umayyah bin 'Abdu-Syam.

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Orangtua[sunting | sunting sumber]

AyahAl-Hakam bin Abi Al-'Ash bin Umayyah bin 'Abdu-Syam. Al-Hakam diasingkan oleh Nabi Muhammad ke Tha'if karena membocorkan rahasia kepada pembesar Quraisy.[12][13] Menurut Ath-Thabari, Nabi Muhammad kemudian memberikan pengampunan dan Al-Hakam diperbolehkan kembali dari pengasingan.[14] Namun menurut Ahmad Al-Ya'qubi, Al-Hakam baru kembali ke Makkah pada masa Khalifah 'Utsman bin 'Affan setelah dua khalifah pendahulunya, Abu Bakar dan 'Umar bin Khattab, menolak permohonan agar mengakhiri pengasingan Al-Hakam.[15][16]

IbuAminah binti 'Alqamah. Sebelumnya dia adalah istri dari 'Affan bin Abi al-'Ash, ayah Khalifah 'Utsman bin 'Affan. Setelah bercerai, Aminah menikah dengan Al-Hakam.[5]

Pasangan dan anak[sunting | sunting sumber]

  • 'Aisyah binti Mu'awiyah. Dia adalah putri Mu'awiyah bin Al-Mughirah, sepupu Marwan.
    • 'Abdul Malik. Menjadi khalifah sepeninggal Marwan.
    • Mu'awiyah
    • Ummu 'Amr
  • Layla binti Zabban. Berasal dari Bani Kalb.
  • Qutayyah binti Bisyr. Berasal dari Bani Kilab.
  • Ummu Aban. Putri Khalifah 'Utsman bin 'Affan.
    • Aban. Gubernur Palestina.
    • 'Utsman
    • 'Ubaidillah
    • Ayyub
    • Dawud
    • 'Abdullah
  • Zainab binti 'Umar. Berasal dari Bani Makzhum.
    • 'Umar
  • Fakhitah binti Hasyim bin 'Utabah. Dia adalah janda Khalifah Yazid dan ibu Khalid. Pernikahan Fakhitah dan Marwan dimaksudkan untuk mengunci dukungan dari pihak Sufyani.
  • Zainab, seorang budak-selir

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j Bosworth 1991, hlm. 621.
  2. ^ a b c d e f g h Kennedy 2004, hlm. 79.
  3. ^ Al-Ishabah, jld. 6, hlm. 204.
  4. ^ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
  5. ^ a b Donner 2014, hlm. 106.
  6. ^ Al-Imamah wa as-Siyasah, jld. 1, hlm. 73.
  7. ^ Akhbar ath-Thiwal, hlm. 224.
  8. ^ Al-Imamah wa as-Siyasah, jld. 1, hlm. 227.
  9. ^ a b c d e f g h i j Bosworth 1991, hlm. 622.
  10. ^ Rihan 2014, hlm. 103.
  11. ^ a b c Kennedy 2004, hlm. 80.
  12. ^ Usd al-Ghabah, jld. 4, hlm. 368.
  13. ^ Ath-Thabari, ed. Humphreys 1990, hlm. 227, n. 48.
  14. ^ Ath-Thabari, ed. Humphreys 1990, hlm. 227.
  15. ^ Al-Yaqubi, ed. Gordon 2018, hlm. 799.
  16. ^ Al-Isti'ab, jld. 1, hlm. 359 dan 360.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Lihat puka[sunting | sunting sumber]

Marwan bin al-Hakam
Marwani
Cabang kadet Bani Umayyah
Lahir: 623 atau 626 Wafat: 12 April 685
Jabatan Islam Sunni
Didahului oleh:
Mu'awiyah bin Yazid
Khalifah
Juni 684 – 12 April 685
Diteruskan oleh:
'Abdul Malik bin Marwan