Ramadan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ramadhan)
Lompat ke: navigasi, cari
رمضان
Ramadan
Welcome Ramadhan.jpg
Sebuah bulan sabit dapat terlihat diatas pohon kurma saat Matahari terbenam di Manama, menandakan kedatangan bulan suci Muslim Ramadan di Bahrain
Dirayakan oleh Muslim
Jenis Keagamaan
Perayaan Komunitas iftar dan komunitas salat
Kegiatan
Mulai 1 Ramadan
Berakhir 29, atau 30 Ramadan
Tanggal Beragam (mengikuti kalender bulan Islam)
Tahun 2016 6 Juni – 5 Juli (Umm al-Qura)[1]
Tahun 2017 27 Mei – 24 Juni[1]
Tahun 2018 16 Mei – 14 June[1]
Frekuensi setiap 12 bulan (kalender bulan)
Terkait dengan Idulfitri, Lailatul Qadar

Ramadan (/ˌræməˈdɑːn/; bahasa Arab: رمضان Ramaḍān, IPA: [ramaˈdˤaːn];[note 1] juga diromanisasikan sebagai Ramazan, Ramadhan, atau Ramathan) adalah bulan ke sembilan dari kalender Islam,[2] dan dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia dengan puasa (Saum) dan memperingati wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad menurut keyakinan umat Muslim.[3][4] Perayaan tahunan ini dihormati sebagai salah satu dari Rukun Islam.[5] Bulan Ramadan akan berlangsung selama 29–30 hari berdasarkan pengamatan hilal, menurut beberapa aturan yang tercantum dalam Hadits.[6][7]

Kata Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab ramiḍa atau ar-ramaḍ, yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan.[8] Puasa dalam hukumnya merupakan fardu (diwajibkan) untuk Muslim dewasa, kecuali mengalami halangan untuk melakukannya seperti sakit, dalam perjalanan, sudah tua, hamil, menyusui, diabetes atau sedang mengalami menstruasi.[9] Berpuasa pada bulan Ramadan menjadi keharusan (wājib) saat bulan Sya'ban, pada tahun kedua setelah hijrahnya umat Muslim dari Mekkah ke Madinah.[10] Bulan Ramadan diawali dengan penentuan bulan sabit sebagai pertanda bulan baru.[11]

Ketika berpuasa dari pagi hingga petang, Muslim dilarang untuk makan, minum cairan apapun, merokok, dan berhubungan seksual. Muslim juga diperintahkan untuk menghindari perbuatan dosa untuk menyempurnakan pahala puasa, seperti berkata yang jelek (menghina, memfitnah, mengutuk, berbohong, dan lain-lain) dan berkelahi.[12] Makanan dan minuman dapat disediakan setiap hari, yakni ketika sebelum Matahari terbit (Subuh) hingga terbenamnya Matahari (Magrib).[13][14] Pendekatan spiritual (taubat) ketika bulan Ramadan ramai dilakukan.[15] Berpuasa untuk Muslim saat Ramadan biasanya diikuti dengan memperbanyak salat (sembahyang) dan membaca Al-Qur'an.[16][17]

Kekhususan bulan Ramadan ini bagi pemeluk agama Islam tergambar pada Alquran pada surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa"
—(Al-Baqarah 2: 183)

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Ramadan berasal dari akar kata ر م ﺿ , yang berarti panas yang menyengat. Bangsa Babilonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan kesembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis Matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami 'panas'nya Ramadan secara metaphoric (kiasan). Karena di hari-hari Ramadan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadan orang yang berpuasa tak lagi berdosa.

Dari akar kata tersebut kata Ramadan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana Matahari membakar tanah. Namun kata ramadan tidak dapat disamakan artinya dengan ramadan. Ramadan dalam bahasa arab artinya orang yang sakit mata hendak buta. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual dan tingkah lakunya, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.[18]

Masa penting[sunting | sunting sumber]

Awal[sunting | sunting sumber]

Kalender Hijriyah didasarkan pada revolusi bulan mengelilingi bumi dan awal setiap bulan ditetapkan saat terjadinya hilal (bulan sabit). Metode penentuan saat terjadinya hilal yang digunakan saat ini adalah metode penglihatan dengan mata telanjang (dikenal dengan istilah rukyah) serta menggunakan metode perhitungan astronomi (dikenal dengan istilah hisab). Persatuan Islam (persis) dan Majelis Ulama Indonesia (M.U.I)menggunakan kombinasi hisab dan rukyah untuk penentuan hilal. Nahdlatul Ulama (N.U) serta Kementerian Agama RI selaku Pemerintah RI menggunakan metode rukyatul hilal; sementara Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wal wujudul hilal sebagai sandaran penentuan hilal.[19] Perbedaan metode ini menyebabkan adanya kemungkinan perbedaan hasil penetapan kapan awal dan berakhirnya Ramadan sebagaimana sempat terjadi pada tahun 1998 M (1418 H). [20][21]

Malam kekuatan[sunting | sunting sumber]

Lailatul Qadar (malam ketetapan), adalah satu malam yang khusus terjadi di bulan Ramadan. Malam ini dikatakan dalam Alquran pada surah Al-Qadr, lebih baik daripada seribu bulan. [22][23] Saat pasti berlangsungnya malam ini tidak diketahui namun menurut beberapa riwayat, malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadan, tepatnya pada salah satu malam ganjil yakni malam ke-21, 23, 25, 27 atau ke-29. [24] [25] Sebagian Muslim biasanya berusaha tidak melewatkan malam ini dengan menjaga diri tetap terjaga pada malam-malam terakhir Ramadan sembari beribadah sepanjang malam.[26]

Akhir[sunting | sunting sumber]

Akhir dari bulan Ramadan dirayakan dengan sukacita oleh seluruh muslim di seluruh dunia. Pada malam harinya (malam 1 Syawal), yang biasa disebut malam kemenangan, mereka akan mengumandangkan takbir bersama-sama. Di Indonesia sendiri ritual ini menjadi hal yang menarik karena biasanya para penduduk Muslim mengumandangkan takbir sambil berpawai keliling kota dan kampung, kadang-kadang dilengkapi dengan memukul beduk dan menyalakan kembang api.

Esoknya tanggal 1 Syawal, yang dirayakan sebagai hari raya Idul Fitri, baik laki-laki maupun perempuan muslim akan memadati masjid maupun lapangan tempat akan dilakukannya Salat Ied. Salat dilakukan dua raka'at kemudian akan diakhiri oleh dua khotbah mengenai Idul Fitri. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan acara saling memberi maaf di antara para muslim, dan sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian aktivitas keagamaan khusus yang menyertai Ramadan. [27]

Aktivitas keagamaan[sunting | sunting sumber]

Suasana berbuka puasa (iftar) bersama di masjid.

Aktivitas utama dalam bulan Ramadan pastinya diisi dengan kegiatan berpuasa, sahur, berbuka, salat malam, memperbanyak membaca Alquran, merayakan hari turunnya Alquran, serta perbuatan baik lainnya. [28][29][30]

Puasa Ramadan[sunting | sunting sumber]

Saum / Puasa bagi orang islam (bahasa Arab: صوم, transliterasi: Shuwam) adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Berpuasa (saum) merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Saum secara bahasa artinya menahan atau mencegah.[31][32][33][34]

Sahur[sunting | sunting sumber]

Sahur adalah sebuah istilah Islam yang merujuk kepada aktivitas makan oleh umat Islam yang dilakukan pada dini hari[35] bagi yang akan menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan. Sahur sebagai makan pagi cocok dengan Iftar sebagai makan malam, selama Ramadhan, menggantikan makan tiga kali sehari (sarapan, makan siang dan makan malam),[36] meskipun di beberapa tempat makan malam juga dikonsumsi setelah Iftar kemudian pada malam hari.

Iftar[sunting | sunting sumber]

Iftar mengacu pada sebuah perjamuan saat Muslim berbuka puasa selama bulan Ramadan. [37] Iftar adalah salah satu ibadah di bulan Ramadan dan sering dilakukan oleh sebuah komunitas, dan orang-orang berkumpul untuk berbuka puasa bersama-sama. Iftar dilakukan tepat setelah waktu Magrib. Secara tradisional, kurma adalah hal pertama yang harus dikonsumsi ketika berbuka.[38]

Banyak Muslim percaya bahwa memberi makan orang buka puasa sebagai bentuk amal sangat bermanfaat dan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad.[39]

Salat malam[sunting | sunting sumber]

Pada malam harinya, tepatnya setelah salat isya, Kaum Muslimin melanjutkan ibadahnya dengan melaksanakan salat tarawih. Salat khusus yang hanya dilakukan pada bulan Ramadan. Salat tarawih, walaupun dapat dilaksanakan dengan sendiri-sendiri, umumnya dilakukan secara berjama'ah di masjid-masjid. Terkadang sebelum pelaksanaan salat tarawih pada tempat-tempat tertentu, diadakan ceramah singkat untuk membekali para jama'ah dalam menunaikan ibadah pada bulan bersangkutan. Setelah melaksanakan sholat tarawih, biasanya langsung di lanjutkan dengan sholat witir sebanyak 3 rakaat. [40]

Membaca Alquran[sunting | sunting sumber]

Sebagai tambahan amalan dalam berpuasa, kebanyakan umat Muslim mengisi waktu sebelum berbuka puasa dengan membaca Al-Qur'an dengan kadar setiap hari satu juz. Biasanya dibacakan secara khusus dengan berkelompok atau perseorangan, namun ada juga yang menyelesaikan 30 Juz melalui pembacaan surah pada Salat Tarawih.

Turunnya Alquran[sunting | sunting sumber]

Pada bulan ini di Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, (terdapat perbedaan pendapat para ulama mengenai tanggal pasti turunnya Alquran untuk pertama kalinya[41]) diperingati juga sebagai hari turunnya ayat Alquran (Nuzulul Quran) untuk pertama kalinya oleh sebagian muslim. Pada peristiwa tersebut surat Al-'Alaq ayat 1 sampai 5 diturunkan pada saat Nabi Muhammad SAW sedang berada di Gua Hira. Peringatan peristiwa ini biasanya dilakukan dengan acara ceramah di masjid-masjid. Tetapi peringatan ini di anggap bidah, karena Rasulullah tidak mengajarkan, Awal di peringati di Indonesia, ketika Presiden Soekarno mendapat saran dari Hamka untuk memperingati setiap Nuzulul Quran, karena bertepatan dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia, sebagai rasa Syukur kemerdekaan Indonesia.

Umrah[sunting | sunting sumber]

Ibadah umrah jika dilakukan pada bulan ini mempunyai nilai dan pahala yang lebih bila dibandingkan dengan bulan yang lain. Dalam Hadis dikatakan "Umrah di bulan Ramadan sebanding dengan haji atau haji bersamaku." (HR: Bukhari dan Muslim).[42]

Zakat Fitrah[sunting | sunting sumber]

Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan khusus pada bulan Ramadan atau paling lambat sebelum selesainya salat Idul Fitri. Setiap individu muslim yang berkemampuan wajib membayar zakat jenis ini. Besarnya zakat fitrah yang harus dikeluarkan per individu adalah satu sha' makanan pokok di daerah bersangkutan. Jumlah ini bila dikonversikan kira-kira setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras. Penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil) namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah mesti didahulukan kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan bahwa jumlah zakat yang sangat kecil sementara salah satu tujuannya dikeluarkannya zakat fitrah adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut merayakan hari raya.

Aspek ekonomi[sunting | sunting sumber]

Iftar di Masjid Sultan Ahmed di Istanbul, Turki

Bulan Ramadan di Indonesia dan negara dengan penduduk mayoritas Islam pada umumnya dapat dihubungkan dengan meningkatnya daya beli dan perilaku konsumtif masyarakat akan barang dan jasa. Di Indonesia sendiri hal ini terkait erat dengan kebiasaan pemerintah dan perusahaan swasta untuk memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada para pegawainya. Peningkatan ini terjadi di hampir semua sektor dari transportasi, makanan, minuman hingga kebutuhan rumah tangga. Sehingga tidak jarang tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada periode bulan ini.[43] Fenomena ini secara kasat mata terlihat dengan menjamurnya para pedagang musiman yang menjajakan berbagai komoditas mulai dari makanan hingga pakaian, di ruang-ruang publik terutama di pinggir jalanan. Di samping juga maraknya penyelenggaraan bazar baik yang disponsori oleh pemerintah, swasta, organisasi tertentu maupun swadaya masyarakat.

Lain-lain[sunting | sunting sumber]

  • Pada bulan ini pada sebagian daerah di Indonesia, berkembang kebiasaan jalan-jalan sembari menunggu waktu berbuka, di Bandung kebiasaan ini dikenal dengan nama Ngabuburit, di Indramayu dikenal dengan nama Luru Sore (Cari Sore), di (Cilegon) dikenal dengan istilah (Nyenyore) (Menunggu Sore). Biasanya saat ini juga dimanfaatkan untuk membeli makanan dan minuman untuk dipergunakan saat berbuka puasa.
  • Di Indonesia umumnya orang berbuka puasa dengan yang manis-manis, padahal hidangan yang mengadung gula tinggi justru akan mengakibatkan dampak yang buruk bagi kesehatan. Hal ini berasal dari kesimpulan yang tergesa-gesa atas sebuah hadis bahwa Rasulullah berbuka puasa dengan kurma. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa berbuka (disunahkan) dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat.

Durasi waktu berpuasa[sunting | sunting sumber]

Waktu berpuasa ditentukan oleh masa terbit hingga terbenam, maka posisi matahari terhadap bumi berpengaruh dalam lama waktu seseorang menjalankan puasa. Sebagaimana negara-negara beriklim tropis di area khatulistiwa yang memiliki durasi seimbang (sekitar 12 jam masa siang dan sekitar 12 masa malam), maka durasi berpuasa cenderung stabil dari tahun ke tahun. Hal berbeda dialami oleh negara yang berada di belahan bumi utara dan bumi selatan yang mengalami "perubahan ekstrem", yakni ketika musim dingin lama waktu berpuasa menjadi lebih singkat (kurang dari 12 jam) sedangkan ketika musim panas akan bertambah lama (lebih dari 12 jam).

Berikut ini adalah sampel data lama waktu berpuasa ketika di bumi belahan utara mengalami musim panas.

Negara Lama berpuasa (jam)
 Amerika Serikat 15
 Antartika 8
 Argentina 9
 Arab Saudi 14
Arktik 22
 Australia 9 (bagian selatan)
11 (bagian utara)
 Brasil 12
 Britania Raya 18
 Indonesia 13
 Jepang 15
 Jerman 17
 Tiongkok 15
 Swedia 20
 Norwegia 20
 Islandia 21
 Finlandia 20
 Selandia Baru 9
 Rusia 20

Peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadan[sunting | sunting sumber]

  1. Perang Badar: 17 Ramadan 2 AH - Adalah pertempuran pertama yang dilakukan kaum Muslim setelah mereka bermigrasi (hijrah) ke Madinah melawan kaum Quraisy dari Mekkah. Pertempuran berakhir dengan kemenangan pihak Muslim yang berkekuatan 313 orang melawan sekitar 1000 orang dari Mekkah.
  2. Pembunuhan atas Ali bin Abi Thalib: 21 Ramadan 40 H: Khulafaur Rasyidin keempat dan terakhir, dibunuh oleh seorang Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam. Ia meninggal pada tanggal 23 Ramadan tahun itu juga. Kematiannya menandai berakhirnya sistem kekhalifahan Islam, dan kemudian dimulai dengan sistem dinasti.

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dalam pengucapan Arab, kata ini dapat diucapkan menjadi [rɑmɑˈdˤɑːn, ramadˤɑːn, ræmæˈdˤɑːn], tergantung wilayah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "The Umm al-Qura Calendar of Saudi Arabia". Diakses tanggal 9 November 2015. 
  2. ^ BBCReligions Retrieved 25 July 2012
  3. ^ "Muslims worldwide start to observe Ramadan". The Global Times Online. 2012. Diakses tanggal 28 July 2012. 
  4. ^ "The Muslim World Observes Ramadan". Power Text Solutions. 2012. Diakses tanggal 28 July 2012. 
  5. ^ "Schools – Religions". BBC. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  6. ^ Bukhari-Ibn-Ismail, AbdAllah-Muhammad. "Sahih Bukhari – Book 031 (The Book of Fasting), Hadith 124.". hadithcollection.com. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  7. ^ Muslim-Ibn-Habaj, Abul-Hussain. "Sahih Muslim – Book 006 (The Book of Fasting), Hadith 2378.". hadithcollection.com. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  8. ^ Muslim-Ibn-Habaj, Abul-Hussain. "Sahih Muslim – Book 006 (The Book of Fasting), Hadith 2391.". hadithcollection.com. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  9. ^ Fasting (Al Siyam) – الصيام – Page 18, el Bahay el Kholi, 1998
  10. ^ "Saudi Aramco World: Ramadan in the Farthest North". Diakses tanggal 16 June 2015. 
  11. ^ "How to pray and fast in countries where the day or night is continuous". Diakses tanggal 5 February 2017. 
  12. ^ IslamQA, "It is not permissible for one who is fasting to insult anyone", URL: http://islamqa.info/en/37658
  13. ^ Islam, Andrew Egan – 2002 – page 24
  14. ^ Dubai – Page 189, Andrea Schulte-Peevers – 2010
  15. ^ Bukhari-Ibn-Ismail, AbdAllah-Muhammad. "Sahih Bukhari – Book 031 (The Book of Fasting), Hadith 125.". hadithcollection.com. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  16. ^ Abu Dawud-Ibn-Ash'ath-AsSijisstani, Sulayman. "Sunan Abu-Dawud – (The Book of Prayer) – Detailed Injunctions about Ramadan, Hadith 1370". Center for Muslim-Jewish Engagement of The University of Southern California. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  17. ^ Bukhari-Ibn-Ismail, AbdAllah-Muhammad. "Sahih Bukhari – Book 031 (The Book of Fasting), Hadith 199.". hadithcollection.com. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  18. ^ Essentials of Ramadan, The Fasting Month
  19. ^ T Djamaluddin, Fatwa MUI Membuka Jalan: Penyatuan Hari Raya Segera Terwujud [1]
  20. ^ Hilal Sighting & Islamic Dates: Issues and Solution Insha'Allaah. Hilal Sighting Committee of North America (website). Retrieved 19 August 2009.
  21. ^ Bukhari-Ibn-Ismail, AbdAllah-Muhammad. "Sahih Bukhari – Book 031 (The Book of Fasting), Hadith 124". hadithcollection.com. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  22. ^ Robinson, Neal (1999). Islam: A Concise Introduction. Washington: Georgetown University Press. ISBN 0-87840-224-1. 
  23. ^ Ibn-Ismail-Bukhari, AbdAllah-Muhammad. "Sahih Bukhari – Book 031 (The Book of Fasting), Hadith 125". hadithcollection.com. Diakses tanggal 28 July 2012. 
  24. ^ Ibn-Ismail-Bukhari, AbdAllah-Muhammad. "Sahih Bukhari – Book 032 (Praying at Night during Ramadhan), Hadith 238". hadithcollection.com. Diakses tanggal 28 July 2012. 
  25. ^ Muslim-Ibn-Habaj, Abul-Hussain. "Sahih Muslim – Book 006 (The Book of Fasting), Hadith 2632". hadithcollection.com. Diakses tanggal 28 July 2012. 
  26. ^ Hidayatullah: Cara jitu memburu Lailatul Qadar
  27. ^ "Ruling on Voluntary Fasting After The Month Of Ramadan: Eid Day(s) And Ash-Shawaal". EsinIslam, Arab News & Information – By Adil Salahi. 11 September 2010. Diakses tanggal 23 May 2016. 
  28. ^ "Muslims observe Ramadan, clerics explain significance". Guardian News, Nigeria. 4 July 2014. Diakses tanggal 16 July 2014. 
  29. ^ "Sahih Muslim Book 006, Hadith Number 2361.". Hadith Collection. Diakses tanggal 16 June 2015. 
  30. ^ "Book of Fasting – Sahih al-Bukhari – Sunnah.com – Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم)". Diakses tanggal 16 June 2015. 
  31. ^ Why Ramadan brings us together; BBC, 1 September 2008
  32. ^ Help for the Heavy at Ramadan, Washington Post, 27 September 2008
  33. ^ El-Zibdeh, Dr. Nour. "Understanding Muslim Fasting Practices". todaysdietitian.com. Diakses tanggal 25 July 2012. 
  34. ^ Qur'an 2:184
  35. ^ Deskripsi - Sahur
  36. ^ BBC - Schools - Religion - Islam, diakses tanggal 11 April 2010 
  37. ^ Dinner of Abrahamic Traditions
  38. ^ Ramadan in Palestine at the Institute for Middle East Understanding
  39. ^ Virtues of iftar
  40. ^ "Tarawih Prayer a Nafl or Sunnah". Diakses tanggal 16 June 2015. 
  41. ^ Nuzulul Quran Sebagai Peringatan atau Pelajaran
  42. ^ media muslim, umrah di bulan ramadan
  43. ^ Republika: Ekonomi Ramadan, Muhammad Syafi'i Antonio

Pranala luar[sunting | sunting sumber]