Sedekah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sedekah (Bahasa Arab transliterasi: sadakah) adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah lebih luas dari sekadar zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun, sedekah mencakup segala amal, atau perbuatan baik. Dalam sebuah hadist digambarkan, “Memberikan senyuman kepada saudaramu adalah sedekah.”

Pengertian Sedekah[sunting | sunting sumber]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sedekah adalah pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi. Berbuat baik tidak pernah rugi karena keutamaan sedekah bukan hanya tentang pahala, tetapi juga meraih kebahagiaan untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Mengacu dari tafsir Kementerian Agama Palembang, kata shodaqoh secara etimologi berasal dari bahasa Arab ash-shadaqah yang artinya “pemberian sunah”. Lalu, kata shadaqah secara terminologi adalah memberikan sesuatu tanpa mengharapkan balasan dari manusia karena Allah SWT yang akan membalas berupa pahala.

Pahala saat mengeluarkan sedekah dapat dibalas langsung oleh Allah SWT atau pada masa depan. Allah SWT pasti tidak pernah mengingkari janji-Nya karena sudah tertulis di dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 261.

Artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, di tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allah SWT melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah ayat 261).

Tafsir Ringkas Kemenag RI:

Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya menghidupkan makhluk yang telah mati, Allah SWT beralih menjelaskan permisalan terkait balasan yang berlipat ganda bagi orang yang berinfak di jalan Allah SWT. Perumpamaan keadaan yang sangat mengagumkan dari orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT dengan tulus untuk ketaatan dan kebaikan, seperti keadaan seorang petani yang menabur benih. Sebutir biji yang ditanam di tanah yang subur menumbuhkan tujuh tangkai, di setiap tangkai ada 100 biji, sehingga jumlah keseluruhannya menjadi tujuh ratus.

Allah SWT terus melipatgandakan pahala kebaikan sampai 700 kali lipat atau lebih bagi siapa pun yang Dia kehendaki sesuai tingkat keimanan dan keikhlasan hati yang berinfak. Jangan menduga Allah SWT tidak mampu memberi sebanyak mungkin, sebab Allah Maha Luas karunia-Nya. Jangan pernah menduga juga jika Dia tidak tahu siapa yang berinfak di jalan-Nya dengan tulus, sebab Dia Maha Mengetahui siapa yang berhak menerima karunia tersebut, dan Maha Mengetahui atas segala niat hamba-Nya.

Macam-Macam Sedekah[sunting | sunting sumber]

Seperti yang telah disebutkan di atas, sedekah tidak harus berupa uang karena ada jenis dan macam-macamnya, yaitu:

1. Sedekah Materi[sunting | sunting sumber]

Sedekah dapat dilakukan dalam bentuk materi, yaitu:

a. Uang[sunting | sunting sumber]

Bersedekah dengan memakai uang memang sering dilakukan oleh siapa saja. Tidak perlu dalam jumlah banyak karena yang paling penting adalah niat untuk berbuat baik. Contohnya adalah bersedekah saat bulan Ramadan atau membeli makanan dari pedagang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak pandemi Covid-19.

b. Barang[sunting | sunting sumber]

Memberi barang yang berguna dan dapat dipakai terus-menerus juga salah satu bentuk sedekah. Contohnya adalah membelikan anak yatim seragam dan baju baru yang awet. Ingat, memberikan sesuatu kepada orang lain harus dengan barang layak pakai, bukan asal jadi.

Selain itu, memberikan hadiah juga dapat memperkuat hubungan antara pemberi dan penerima. Dalam sebuah hadis Aisyah berkata, “Rasulullah Saw dulu menerima hadiah dan membalas mereka yang memberi”. Hadis tersebut menunjukkan jika hadiah dapat mendekatkan kita dengan orang terkasih di sekitar.

c. Memberi Makan Sesama Manusia[sunting | sunting sumber]

Mengurus hingga memberi makan kepada sesama manusia adalah salah satu bentuk sedekah. Ini dikarenakan mereka juga akan mendoakanmu tanpa mengharapkan imbalan apa pun sebagai sesama manusia.

2. Sedekah Non-Materi[sunting | sunting sumber]

Sedekah juga bisa dalam bentuk non-materi yang manfaatnya berkepanjangan, yaitu:

a. Ilmu Pengetahuan[sunting | sunting sumber]

Memberi dan menyebarkan ilmu yang kalian miliki kepada orang lain termasuk amal jariah, serta termasuk investasi berharga untuk akhirat. Artinya, ilmu yang kalian berikan kepada orang lain dapat bermanfaat hingga akhir hayat. Alangkah lebih baik kalau pengetahuan tidak disimpan sendiri, melainkan dibagikan antara satu sama lain agar sama-sama tumbuh, berkembang, dan produktif.

Salah satu contohnya adalah membuat knowledge management platform untuk para tenaga pendidik di Indonesia. Adanya platform yang rapi memudahkan para guru untuk mengakses materi pelatihan secara berkelanjutan. Ilmu adalah investasi paling mahal di dunia ini dan harus dijaga agar kebaikan terus mengalir serta konversinya terlihat nyata.

Selain itu, mengajar juga membuat kalian pintar karena terus mengingat ilmu tersebut. Secara tidak langsung, kalian mendorong diri sendiri dan orang-orang di sekitar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi serta berkembang menjadi pribadi yang bermanfaat. Jadi, jangan pelit dan kikir karena satu ilmu pengetahuan adalah satu kebaikan sedekah yang pahalanya abadi hingga akhirat.

b. Meringankan Masalah Orang Lain[sunting | sunting sumber]

Sedekah bukan hanya tentang give (memberi) dan take (mengambil), tetapi juga upaya untuk melungkan waktu menolong orang lain. Meringankan masalah orang lain dengan tenaga dan pikiran sudah termasuk bentuk sedekah. Hal ini dilakukan agar kehidupan seseorang berubah menjadi lebih baik.

Keutamaan[sunting | sunting sumber]

Menghapus dosa[sunting | sunting sumber]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar dosa yang dilakukan sebelumnya, sudah dipandang bukan dosa lagi. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari azab Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi".

Mendapatkan naungan pada hari akhir[sunting | sunting sumber]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu hari, yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)

Mendapatkan keberkahan harta[sunting | sunting sumber]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, "Para ulama menyebutkan bahwa keberkahan harta bagi seseorang yang bersedekah di sini mencakup dua hal. Pertama, hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Pengurangan harta menjadi impas tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indra dan kebiasaan. Kedua, jika harta tersebut berkurang secara zat, pengurangan tersebut impas tertutupi pahala yang didapat dan pahala ini dilipatgandakan sampai berkali-kali lipat”.

Dilipatgandakan pahalanya[sunting | sunting sumber]

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid: 18)

Pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah[sunting | sunting sumber]

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang (yang) memberikan dan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan sholat, ia akan dipanggil dari pintu sholat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim No. 1027)

Bukti keimanan seseorang[sunting | sunting sumber]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

والصدقة برهان

“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim No.223)

An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu sedekah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”

Membebaskan diri dari siksa kubur[sunting | sunting sumber]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور

“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

Mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli[sunting | sunting sumber]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة

“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi No. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)

Memperoleh kelapangan hati[sunting | sunting sumber]

Rasulullah Saw memberikan perbandingan orang yang dermawan dengan orang yang pelit:

مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق: فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل: فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع

“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)

Dan hal ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada rasa senang, bangga, dada yang lapang setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah. Tidakkah hati kita terpanggil?

Pahala sedekah terus berkembang[sunting | sunting sumber]

Pahala sedekah walaupun hanya sedikit itu akan terus berkembang pahalanya hingga menjadi besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ يقبلُ الصدقةَ ، ويأخذُها بيمينِه ، فيُرَبِّيها لِأَحَدِكم ، كما يُرَبِّي أحدُكم مُهْرَه ، حتى إنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ

“Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud ” (HR. At Tirmidzi 662, ia berkata: “hasan shahih”)

Menjauhkan diri dari api neraka[sunting | sunting sumber]

Sesungguhnya sedekah itu walaupun sedikit, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

اتَّقوا النَّارَ ولو بشقِّ تمرةٍ ، فمن لم يجِدْ فبكلمةٍ طيِّبةٍ

“Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah" (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016).

Boleh iri kepada orang yang dermawan[sunting | sunting sumber]

Iri atau hasad adalah akhlak yang tercela, tetapi iri kepada orang yang suka bersedekah, ingin menyaingi kedermawanan dia, ini adalah akhlak yang terpuji. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لا حسدَ إلا في اثنتين: رجلٌ آتاه اللهُ مالًا؛ فسلَّطَ على هَلَكَتِه في الحقِّ ، ورجلٌ آتاه اللهُ الحكمةَ؛ فهو يَقضي بها ويُعلمُها

“Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang diberikan harta oleh Allah, kemudian ia belanjakan di jalan yang haq, dan seseorang yang diberikan oleh Allah ilmu dan ia mengamalkannya dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 73, Muslim 816).

Mengalirkan pahala[sunting | sunting sumber]

Rosulullah bersabda : "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Macam-macam sedekah 1. Tasbih, Tahlil dan Tahmid. 2. Amar ma'ruf nahi munkar 3. Bekerja dan memberi nafkah pada sanak keluarganya 4. Membantu urusan orang lain 5. Mendamaikan dua pihak yang berselisih 6. Menjenguk orang sakit 7. Berwajah manis atau memberikan senyuman 8. Berlomba-lomba dalam amalan baik sehari-hari.

Terhindar dari kesulitan hidup[sunting | sunting sumber]

Di dunia ini siapa yang tidak ingin hidup tenang dan terhindar dari kesulitan? Dengan bersedekah pada saat sedang mengalami kesulitan, maka kita juga akan diberikan kemudan karena telah memberikan jalan bagi orang lain untuk keluar dari kesulitan hidupnya [1].

Sebagaimana ada dalam hadist berikut

“Bersegeralah dalam bersedekah, karena bala bencana tak pernah dapat mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah..”

(HR Baihaqi dan Thabrani).

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "5 Keajaiban Sedekah di Masa Sulit". Blog Insan Bumi Mandiri (dalam bahasa Inggris). 2020-10-21. Diakses tanggal 2021-12-01. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]