Kiblat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kiblat

Kiblat adalah kata Arab yang merujuk arah yang dituju saat seorang Muslim mendirikan salat. Arah kiblat adalah arah dari suatu tempat (lokasi) ke Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah dengan jarak yang terdekat.

Lokasi kiblat[sunting | sunting sumber]

Mekkah, Madinah, dan Yerusalem

Kakbah, yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram, Mekkah, adalah lokasi kiblat umat Islam. Selain menjadi kiblat, tempat suci umat Islam yang juga disebut Baitullah ("Rumah Allah") ini adalah tempat pelaksanaan tawaf dalam haji dan umrah. Kakbah berbentuk bangunan segi empat, dan keempat temboknya kira-kira searah dengan empat arah mata angin.[1] Umat Islam percaya, sesuai disebutkan Al-Qur'an, bahwa bangunan Kakbah didirikan oleh Ibrahim dan anaknya Ismail (keduanya adalah Nabi dalam Islam).[2]

Status Kakbah atau Masjidil Haram sebagai kiblat umat Islam berasal dari Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 144, 149, dan 150, yang semuanya memuat perintah "palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram" (fawalli wajhaka syathra l-masjidil haram).[3] Menurut tradisi Islam, ayat ini diwahyukan pada bulan Rajab atau Syakban tahun ke-2 Hijriyah, bertepatan sekitar 15 atau 16 bulan setelah hijrahnya Muhammad ke Madinah. Sebelum turunnya ayat ini, diketahui selama di Madinah umat Islam berkiblat ke arah Yerusalem, sama seperti umat Yahudi Madinah ketika itu. Menurut riwayat yang dipercayai umat Islam, saat perintah memindahkan kiblat ini diwahyukan, Muhammad dan para pengikutnya yang sedang salat langsung memutar arah. Tempat peristiwa ini terjadi dikenal dengan nama Masjid Qiblatain ("Masjid Dua Kiblat").[4]

Terdapat beberapa riwayat yang berbeda tentang arah kiblat pada masa Muhammad di Mekkah (sebelum hijrah ke Madinah). Menurut satu riwayat (disebutkan oleh sejarawan Ibnu Jarir ath-Thabari dan ahli tafsir Al-Baidhawi), Muhammad salat menghadap Kakbah, sedangkan riwayat lain (juga disebutkan oleh ath-Thabari serta Ahmad al-Baladzuri) menyebutkan bahwa ketika di Mekkah ia berkiblat ke Yerusalem. Riwayat lain (disebutkan dalam sirah karya Ibnu Hisyam) menyebutkan bahwa pada masa itu, Muhammad selalu salat sedemikian rupa sehingga sekaligus menghadap Kakbah dan Yerusalem.[4] Kini umat Islam, baik Sunni maupun Syiah, semuanya berkiblat ke Kakbah. Satu-satunya pengecualian besar dalam sejarah adalah kaum Qaramithah, sebuah aliran sempalan Syiah pada abad ke-10 M yang tidak mengakui Kakbah sebagai kiblat.[5]

Dalam ibadah dan adab Islam[sunting | sunting sumber]

Para ulama sepakat bahwa dalam keadaan normal, menghadap adalah syarat sahnya salat.[6] Pengecualian untuk syarat ini di antaranya salat dalam keadaan takut atau peperangan, atau salat sunnah dalam perjalanan.[6] Selain arah salat, hadis juga menyebutkan perlunya menghadap kiblat dalam berdoa, saat berihram dalam haji, dan setelah melempar jumratul wustha.[4] Menurut aturan adab, kiblat juga menjadi arah wajah hewan saat disembelih, serta arah wajah jenazah saat dimakamkan.[4] Hadis juga melarang buang air atau membuang dahak ke arah kiblat.[4]

Dalam arsitektur masjid, arah kiblat biasanya ditunjukkan oleh sebuah celah di tembok masjid yang mengarah ke depan. Celah ini disebut mihrab; di sinilah imam berdiri di depan barisan makmum saat memimpin salat berjamaah.[7] Mihrab baru mulai menjadi bagian arsitektur masjid pada masa Umayyah dan bentuknya diseragamkan pada awal masa Abbasiyah. Pada masa sebelum itu, arah kiblat dapat diketahui dari arah salah satu tembok masjid. Kata mihrab tidak muncul di dalam hadis dan di dalam Al-Quran, satu-satunya penyebutan kata ini hanya mengacu pada tempat beribadat kaum Bani Israil.[7][a] Masjid Amr bin al-Ash di Fustat, Mesir, salah satu masjid tertua dalam sejarah Islam, awalnya diketahui dibangun tanpa mihrab walaupun kini telah celah tersebut telah ditambahkan.[8]

Penentuan arah kiblat[sunting | sunting sumber]

Hisab dengan trigonometri bola[sunting | sunting sumber]

Hisab atau perhitungan arah kiblat secara geometri dapat dirumuskan dengan trigonometri bola. Trigonometri bola adalah cabang geometri yang menyangkut hubungan antara sudut dan sisi segitiga pada permukaan bola (alih-alih trigonometri biasa yang menyangkut segitiga datar). Dalam gambar bola bumi di bawah ini, lokasi suatu tempat disebut , lokasi kiblat adalah , dan kutub utara adalah , dan ketiga titik tersebut membentuk sebuah segitiga pada permukaan bumi. Arah kiblat adalah arah , atau searah lingkaran besar yang melewati dan . Arah ini dapat juga dinyatakan sebagai sudut terhadap arah utara (inḥiraf al-qiblat) yaitu atau . Arah ini dapat dihitung sebagai fungsi dari posisi lintang setempat , posisi lintang kiblat , serta selisih bujur antara lokasi setempat .[9] Fungsi ini diturunkan dari rumus umum segitiga bola dengan tiga sudut , , dan tiga sisi , , (disebut juga hukum kotangen):

[10]

Dengan menggunakan rumus tersebut terhadap segitiga bola (substitusi )[11] dapat diturunkan:

, atau
[9]

Ilustrasi arah kiblat dari Yogyakarta, Indonesia.

Contoh berikut menghitung arah kiblat dari Yogyakarta (7.801389 LS, 110.364444 BT) dengan lokasi Kakbah diketahui 21.422478 LU, 39.825183 BT. Selisih bujur kedua tempat adalah 110.364444 - 39.825183 = 70.539261. Dengan memasukkan angka-angka ini ke dalam rumus

. sehingga:
,
artinya arah kiblat dari Yogyakarta adalah sekitar 295° (searah jarum jam dari utara), atau miring sekitar 25° dari titik barat ke arah utara.[12]

Rumus ini diturunkan pada masa modern, tetapi metode-metode yang ekivalen dengan rumus ini telah diketahui oleh para ahli falak Muslim sejak abad ke-3 Hijriyah (abad ke-9 Masehi). Ilmuwan-ilmuwan awal yang menemukan cara-cara tersebut diantaranya adalah Habasy al-Hasib (aktif di Damaskus dan Baghdad sekitar 850 M),[13] An-Nayrizi (Baghdad, sekitar 900 M),[14] Ibnu Yunus (abad 10-11 M),[13] Ibnu al-Haitsam (abad ke-11 M),[13] dan Al-Biruni (abad ke-11 M).[15] Penggunaan trigonometri bola menjadi dasar hampir seluruh aplikasi atau situs penghitung arah kiblat.[16]

Pengamatan bayangan[sunting | sunting sumber]

Dua kali setahun, matahari berada tepat di atas Kakbah sehingga bayangan benda tegak menunjukkan arah kiblat.

Dari setiap lokasi di bumi, matahari mengalami gerak semu harian yaitu tampak bergerak dari timur ke barat setiap hari. Pada saat tertentu di tengah hari, terjadi titik kulminasi atas atau transit meridian atas, yaitu saat matahari berada di titik puncaknya dan matahari melalui garis bujur setempat. Namun, matahari juga memiliki gerak semu tahunan yaitu bergerak antara 23,5° lintang utara dan 23,5° lintang selatan (titik balik matahari), sehingga pada saat kulminasi atas matahari tidak selalu berada persis di atas, dan lebih sering berada tepat di utara atau selatannya. Untuk setiap tempat dengan lokasi di bawah 23,5° lintang utara atau selatan, pada saat tertentu dalam setahun posisi lintang matahari akan sama dengan posisi lintang setempat. Hanya pada masa itulah, pada saat kulminasi atas terjadi, matahari berada persis di atas tempat tersebut.[17]

Kota Mekkah termasuk tempat yang mengalami hal ini, karena posisinya berada di sekitar 21°25’ lintang utara. Peristiwa ini terjadi dua kali setahun, pada 28 Mei sekitar pukul 12:18 Waktu Arab Saudi (WAS) atau 9:18 UTC dan 16 Juli pukul 12:27 WAS (9:27 UTC).[18][17] Pada kedua saat tersebut, matahari berada tepat di atas Kakbah sehingga semua benda tegak yang terkena cahaya matahari akan memiliki bayangan yang menunjukkan arah Kakbah (lihat gambar).[17] Dalam ilmu falak, peristiwa ini disebut istiwa a'zham (kulminasi utama), dan metode menemukan arah kiblat ini disebut rasyd al-qiblat ("meluruskan arah kiblat").[19][12] Setengah dari bumi (termasuk Indonesia Timur, Australia, Samudra Pasifik dan kebanyakan Benua Amerika) mengalami malam saat peristiwa ini terjadi sehingga tidak bisa mengamati bayangan.[20] Di belahan bumi tersebut, bayangan yang menunjukkan arah kiblat dapat diamati pada waktu matahari berada tepat di bawah kiblat (atau tepat berada di atas titik antipode dari Kakbah).[21] Arah bayangan yang terbentuk tepat berlawanan dengan arah bayangan pada saat rasyd al-qiblat.[17] Peristiwa ini terjadi pada 14 Januari 00:30 WAS (21:30 UTC di hari sebelumnya) dan 29 November 00:09 WAS (28 November 21:09 UTC).[22] Baik untuk saat rasyd al-qiblat maupun saat sebaliknya, rentang waktu kurang lebih lima menit pada hari yang sama, atau kurang lebih dua hari pada saat yang sama masih menunjukkan pengamatan arah kiblat yang cukup akurat.[17][18]

Penggunaan peta datar[sunting | sunting sumber]

Proyeksi Mercator
Bumi diproyeksikan dalam lingkaran
Penggunaan peta bumi datar dapat menghasilkan arah yang berbeda dengan arah kiblat yang umum diikuti Muslim berdasarkan bumi yang berbentuk bola. Misalnya, dalam proyeksi Mercator (kiri) Mekkah terlihat berada di arah tenggara Amerika Utara, sedangkan dengan menarik garis lurus di sebuah bola, kiblat berada di arah timur laut (kanan).

Metode trigonometri bola menghasilkan garis lurus terdekat yang mengubungkan Kakbah dengan lokasi apa pun di dunia, tetapi arah ini kadang terasa aneh jika membayangkan bumi dalam bentuk peta datar. Contohnya, arah kiblat Alaska (dekat kutub utara) justru hampir lurus ke utara.[16] Garis lurus antara dua tempat dalam peta dunia berproyeksi Merkator (disebut loksodrom atau rhumb line) sering berbeda dengan arah kiblat yang ditunjukkan kalkulasi (ortodrom atau great circle).[23] Perbedaan ini tampak di lokasi seperti sebagian Amerika Utara (peta datar menunjukkan Mekkah di arah tenggara sedangkan perhitungan kiblat menunjukkan timur laut)[16] atau Jepang (peta datar menunjukkan barat daya sedangkan kalkukasi menunjukkan barat laut).[24] Kebanyakan umat Muslim mengikuti arah ortodrom (sesuai hasil kalkulasi) dan hanya sebagian kecil yang mengikuti arah loksodrom (garis lurus peta bumi datar).[16]

Isu kontemporer[sunting | sunting sumber]

Kiblat dari luar angkasa[sunting | sunting sumber]

Penentuan kiblat dari luar angkasa pertama kali mengemuka menjelang misi Sheikh Muszaphar Shukor, seorang dokter bedah Malaysia yang beragama Islam, ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Oktober 2007.[25] ISS mengorbit di atas permukaan bumi dengan kecepatan tinggi sehingga arah Kakbah berubah dari detik ke detik.[26] Sebelum berangkat Sheikh Muszaphar meminta panduan dari ulama Malaysia mengenai cara menentukan arah kiblat dan aspek-aspek ibadah Islam lainnya seperti penentuan waktu salat dan puasa. Mengenai arah kiblat, Majlis Fatwa Kebangsaan Malaysia berpendapat bahwa penentuan arah kiblat haruslah berdasarkan "apa yang memungkinkan" bagi seorang antariksawan, dan menyebutkan urutan prioritas sebagai berikut: 1) Kakbah 2) proyeksi Kakbah 3) Bumi 4) "ke mana saja" (wherever).[26] Sebelum Sheikh Muszaphar, telah ada paling tidak delapan orang Muslim yang berangkat ke luar angkasa, tetapi mereka tidak membicarakan isu-isu terkait menjalankan ibadah di luar angkasa secara terbuka.[27]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Catatan penjelas[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Penyebutan ini berada dalam Surat Maryam, 19:11

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wensinck 1978, hlm. 317.
  2. ^ Wensinck 1978, hlm. 318.
  3. ^ Hadi Bashori 2015, hlm. 97–98.
  4. ^ a b c d e Wensinck 1986, hlm. 82.
  5. ^ Wensinck 1978, hlm. 321.
  6. ^ a b Hadi Bashori 2015, hlm. 91.
  7. ^ a b Kuban 1974, hlm. 3.
  8. ^ Kuban 1974, hlm. 4.
  9. ^ a b King 1986, hlm. 83.
  10. ^ Rumus ekivalen terdapat dalam Hadi Bashori 2015, hlm. 119
  11. ^ Hadi Bashori 2015, hlm. 119.
  12. ^ a b Hadi Bashori 2015, hlm. 123.
  13. ^ a b c King 1986, hlm. 85.
  14. ^ King 1986, hlm. 85–86.
  15. ^ King 1986, hlm. 86.
  16. ^ a b c d Di Justo 2007.
  17. ^ a b c d e Raharto & Surya 2011, hlm. 25.
  18. ^ a b Hadi Bashori 2015, hlm. 125.
  19. ^ Raharto & Surya 2011, hlm. 24.
  20. ^ Hadi Bashori 2015, hlm. 125–126.
  21. ^ Hadi Bashori 2015, hlm. 126–127.
  22. ^ Hadi Bashori 2015, hlm. 127.
  23. ^ Almakky & Snyder 1996, hlm. 31–32.
  24. ^ Hadi Bashori 2015, hlm. 110.
  25. ^ Lewis 2013, hlm. 114.
  26. ^ a b Di Justo 2017.
  27. ^ Lewis 2013, hlm. 109.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]