Ibrahim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Nabi Ibrahim)
Lompat ke: navigasi, cari
Ibrahim
alaihissalām (عليه السلام)
Khalilullah
Kaligrafi bertuliskan Ibrahim dalam bahasa Arab.
Nama asli Ibrāhīm - إبراهيم
Tanggal lahir kr. 2510 Sebelum Hijriyah
Ur, Iraq
Meninggal kr. 2329 Sebelum Hijriyah (kira-kira usia 175)
Hebron, Tepi Barat
Tempat peristirahatan Masjid Ibrahim
Pengganti Ishaq
Ya'qub
Agama Islam
Pasangan Hajar
Sarah
Anak Ismail
Ishaq

Ibrahim (bahasa Arab: إبراهيم ) (sekitar 1997-1822 SM) merupakan nabi dalam agama Samawi. Ia mendapat gelar dari Allah dengan gelar Khalil Allah (خلیلالله, Kesayangan Allah).[1] Selain itu ia bersama anaknya, Ismail, terkenal sebagai pendiri baitullah. Ia diangkat menjadi nabi yang diutus untuk kaum Kaldān yang terletak di kota Ur, negeri yang disebut kini sebagai Iraq. Ibrahim merupakan salah satu dari kelima nabi Ulul Azmi. Nama Ibrahim disebut sebanyak 69 kali dalam Al-Qur'an.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Dalam buku yang berjudul "Muhammad Sang Nabi" - Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail, karya Omar Hashem, dikatakan bahwa nama Ibrahim berasal dari dua suku kata, yaitu ib/ab (إب) dan rahim (راهيم). Jika disatukan maka nama itu memiliki arti "ayah yang penyayang."[2]

Genealogi[sunting | sunting sumber]

Ibrahim bin Aazar (Tarikh) bin Nahur bin Sarugh bin Ra'u bin Faligh bin Abir bin Shaleh bin Arfakhsad bin Sam bin Nuh. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama Faddam, A'ram, yang terletak di dalam kawasan kerajaan Babilonia. Kemudian ia memiliki 2 orang putra yang dikemudian hari menjadi seorang nabi pula, yaitu Ismail dan Ishaq, sedangkan Yaqub adalah cucu dari Ibrahim.

Menurut Al-Hafidz ibnu Asakir ibunya bernama Amilah dalam kitab at-Tarikh dari Ishaq bin Basyar al-Kahiliy, penulis kitab al-Mubtadi'. Sedangkan al-Kalbiy berkata, ibunya bernama Buna binti Karbina bin Kartsi yang berasal dari Bani Arfakhsyad bin Sam bin Nuh.

Ibnu Asakir meriwayatkan lebih dari satu jalur dari Ikrimah, bahwasanya ia berkata: "Ibrahim dijuluki dengan gelar Abu adh-Dhaifan."

Ketika ayah Ibrahim, Tarikh berusia enam puluh lima tahun, maka lahirlah Ibrahim, Nahur dan Haran. Haran memiliki anak Luth yang telah meninggal ketika ayahnya masih hidup.

Para istri Ibrahim[sunting | sunting sumber]

Ketika Sarah ditawan Fir’aun untuk dijadikan selir, Allah memberikan pertolongan kepada Sarah sehingga Fir’aun merasa takut, dan gagal menjadikan Sarah sebagai selirnya. Karena gagal menjadikan Sarah sebagai selir, Fir’aun hendak menjadikan Sarah sebagai budak Hajar. Namun, pada akhirnya Hajar pun dihadiahkan kepada Ibrahim setelah sebelumnya Sarah diserahkan kepadanya. Menurut kitab Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir, Hajar adalah seorang putri bangsa Mesir.

Para istri Ibrahim dan keturunannya adalah sebagai berikut:

Mukjizat[sunting | sunting sumber]

Melihat burung dihidupkan kembali[sunting | sunting sumber]

Ibrahim yang sudah bertekad ingin memerangi kesyirikan dan penyembahan berhala yang berlaku di dalam kaumnya ingin mempertebal iman dan keyakinannya lebih dulu, untuk menenteramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin mengganggu pikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.

"...dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap." Allah berfirman, "Ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Diselamatkan ketika dibakar[sunting | sunting sumber]

Sebagian ulama Salaf menyebutkan bahwa ketika Jibril menampakkan dirinya kepada Ibrahim di udara, ia bertanya kepada Ibrahim apakah Ibrahim memerlukan bantuan, kemudian Ibrahim menjawab tidak perlu bantuan.[4]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sa'id bin Jubair mengisahkan bahwa, Malaikat Ar-Ra'd (malaikat pengatur awan dan hujan) mengatakan, "Kapan saja aku diperintah, maka aku akan menurunkan hujan, namun firman Allah lebih cepat,

"Kami berfirman, "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim."

Menurut Ka'ab al-Ahbar mengatakan, "Saat itu seluruh penduduk bumi tidak bisa menyalakan api, sedangkan Ibrahim tidak terbakar sedikitpun selain tali yang mengikat dirinya."

Ad-Dhahak mengatakan, "Diriwayatkan bahwa Jibril mengusap keringat Ibrahim dari wajahnya dan tidak ada yang tersentuh api kecuali keringatnya."

As-Suddiy mengatakan, "Saat itu Ibrahim didampingi oleh Malaikat Azh-Zhil (malaikat pemberi naungan), sehingga saat itu Ibrahim yang berada di kobaran api, sebenarnya ia berada di taman hijau. Orang-orang melihatnya dan tidak mampu mencapai padanya dan ia pun tidak keluar untuk menemui mereka."

Ketika Ibrahim dilemparkan kedalam kobaran api besar semua hewan dimuka bumi berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek yang berusaha membuat api semakin besar.[5]

Pasir berubah menjadi makanan[sunting | sunting sumber]

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Mu’ammar dari Zaid bin Aslam bahwasanya Namrudz memiliki berbagai makanan, orang-orang berduyun-duyun untuk mendapatkan persediaan makanan, termasuk Ibrahim datang untuk mendapatkannya. Sebelumnya Ibrahim pernah bertemu dengan Namrudz sehingga terjadi perdebatan. Ibrahim tidak diberi bahan makanan, ia keluar tanpa mendapatkan makanan sedikitpun. Ketika telah dekat dengan rumahnya, Ibrahim menghampiri gundukan pasir dan memenuhi kedua kantungnya dengan pasir tersebut seraya berkata: “Bila aku telah sampai kepada keluargaku, maka aku akan menyibukkan keluarga (dengan pasir ini).”

Ketika sampai dirumah dan bertemu dengan keluarganya, Ibrahim kemudian meletakan bawaannya, lalu berbaring dan tidur. Selanjutnya istrinya, Sarah berdiri dan melihat kedua kantung yang dibawa suaminya, ternyata keduanya berisi bahan makanan. Maka ia segera memasaknya dan menyajikannya sebagai makanan.[6]

Kisah[sunting | sunting sumber]

Kelahiran dan masa kecil[sunting | sunting sumber]

Pada 2.295 SM. Kerajaan Babilonia waktu itu diperintah oleh Namrudz, seorang raja bengis yang berkuasa secara absolut dan zalim. Kerajaan itu mendapat petanda langka pada bintang-bintang bahwa akan ada seorang anak laki-laki perkasa lahir dan keturunannya akan memenuhi seisi bumi, dengan salah seorang keturunannya akan membunuh raja Namrudz. Ketakutan dengan kabar ini, maka ada perintah bahwa semua bayi laki-laki yang baru lahir harus dibunuh. Pada waktu yang hampir bersamaan, Ayah Ibrahim merasa bahagia dan amat khawatir karena ia mendengar kabar bahwa istrinya sedang mengandung seorang anak sesaat setelah ia dinobatkan sebagai panglima kerajaan. Dalam kebingungan ini, dua putranya, Nahor dan Haran, memberi pendapat tentang persoalan ini, Haran sebagai seorang ahli nujum berpendapat bahwa sang ayah dapat menyerahkan si bayi kepada raja, sebab Haran meyakini bahwa belum ada pertanda di langit yang gagal, sekalipun harus diserahkan ke pedang atau perapian, Haran percaya akan ada keajaiban yang membuatnya tetap hidup. Sementara itu, Nahor memberi saran supaya sang ibu meninggalkan Babilonia sementara waktu dan menyerahkan bayi lain sebagai ganti bayinya. Sang ayah menerima saran Nahor supaya pergi dari negeri Babilonia.

Ibu Ibrahim ditempatkan di sebuah gua bersama seorang pengasuh sampai hari bersalin. Sementara sang ayah mengambil seorang bayi dari hambanya untuk diserahkan ke Namrudz. Ketika penyembelihan bayi dilakukan, Namrudz bergembira sebab ia menyangka ancaman bagi kerajaannya telah lenyap. Sementara itu, setelah Ibu Ibrahim mengalami persalinan, ia bersama pengasuh meninggalkan Ibrahim seorang diri di gua sambil menangis dan berdoa "Semoga Sang Pelindung selalu menyertaimu wahai anakku....." setelah Ibrahim ditinggalkan sendiri, Allah mengutus sesosok malaikat datang dan merawat Ibrahim.

Setelah berbulan-bulan, Haran yang masih mempercayai pertanda di langit tentang Ibrahim, pergi mendatangi gua dimana Ibrahim ditinggalkan. ia terkejut ketika mendapati Ibrahim telah menjadi seorang anak laki-laki yang dapat berbicara. Haran mengajaknya pulang ke Babilonia, Ibrahim sempat menolak dan menyatakan bahwa ia tidak mempunyai rumah karena ia mengaku telah tersesat di sebuah tempat yang tidak ia kenal. Pada akhirnya Haran berhasil membawa Ibrahim ke rumah ayahnya di Babilonia. Ketika Haran mempertemukan Ibrahim, sang ayah tidak percaya bahwa yang diajak Haran itu adalah bayi yang ditinggalkan selama berbulan-bulan di gua. ketika Ibrahim ditanya siapa yang selama ini memberinya makan, ia menjawab bahwa Yang Maha Pemberi yang menyediakan makanan untuknya, lalu ia kembali ditanya tentang siapa yang merawatnya saat sakit, ia menjawab bahwa Yang Maha Menyembuhkan yang melakukannya kemudian ketika ditanya tentang siapa yang memberitahunya tentang jawaban-jawaban ini, Ibrahim menjawab bahwa Yang Maha Mengetahui yang mengajarinya. Terkejut dengan jawaban ini, sang ayah semakin sulit meyakinkan diri tentang anak ini. Untuk menghindari kecurigaan dari raja Namrudz, Ibrahim diasuh di rumah Haran yang terletak di luar Babilonia. Di sana Ibrahim tinggal bersama anak-anak dari kakaknya yaitu Luth, Sarah dan Milka.

Masa remaja[sunting | sunting sumber]

Mencari Tuhan yang sebenarnya[sunting | sunting sumber]

Setelah Ibrahim keluar dari gua kira-kira umurnya sama dengan anak dua belas tahun, ia merasa kehilangan sosok Allah yang sebelumnya memberinya makan dan perlindungan, Ibrahim memutuskan untuk pergi ke rumah nabi Nuh untuk mencari Tuhan. Pada zaman Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme yaitu menyembah lebih dari satu dewa dan membuat patung sebagai simbol dari dewa-dewa itu. Setelah berguru di rumah Nuh, Ibrahim memutuskan pergi sebab ia belum mendapat jawaban dari pencariannya. Ibrahim pun kembali ke rumah ayahnya, ia sering mendapati ayahnya membuat dan meletakkan makanan di depan patung-patung, lalu dia bertanya perilaku sang ayah. Mendapati jawaban bahwa ayahnya menyembah patung karena tradisi leluhur, Ibrahim mempertanyakan tindakan ini namun sang ayah membiarkan Ibrahim. Ketika ia bertanya kepada Nahor tentang Tuhan, kakaknya ini menjelaskan bahwa di langit ada dewa-dewa, akan tetapi Ibrahim merasa perlu membuktikan ucapan ini.

Pencarian Ibrahim mengenai Tuhannya, tercantum dalam Al-Qur'an, yang berbunyi:

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan."

Inilah daya logika yang dianugerahkan kepadanya dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya dan menyadari bahwa yang mengendalikan bulan, bintang, matahari, siang, malam dan yang menciptakan segala makhluk di bumi adalah Tuhan yang sebenarnya.[7]

Peringatan terhadap para penyembah berhala[sunting | sunting sumber]

Semasa remaja, Ibrahim masih sering bertanya kepada sang ayah tentang Tuhan yang sesungguhnya. Walau demikian, ayahnya tetap tak menghiraukan Ibrahim. Sampai suatu ketika Ibrahim bertanya "terbuat dari apakah patung-patung ini?" maka ayahnya menunjukkan kayu sebagai bahan pembuatan. Ibrahim pun mempertanyakan "apakah kayu itu tuhan?, benda yang hangus lenyap di perapian?" untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan lain, Ibrahim diperintah menjual patung-patung buatan ini. Ibrahim berkeliling kota menjajakan patung-patung buatan ayahnya, namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya, ia merasa tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung itu kepada calon pembeli dengan kata-kata: "Siapakah yang akan membeli patung-patung yang diam dan tidak berguna ini?". Melalui berbagai cara, Ibrahim berusaha menyadarkan dan mengenalkan tentang Tuhan yang sebenarnya kepada banyak orang.

Ibrahim yang mendapati sang ayah tetap tidak mau meninggalkan penyembahan berhala-berhala kayu, merasa sedih dan ingin menyadarkan dia tentang kekeliruan ini. Berulang-ulang kali dia berusaha memperingatkan, hingga Ibrahim menyatakan "sekiranya kayu itu memang sembahan, bukankah api dapat menghanguskan kayu,  sekalipun api disebut sembahan, maka air dapat memadamkan dan melenyapkan api, meskipun air disebut sebagai sembahan, maka air akan lenyap diserap oleh tanah, sekalipun tanah disebut sebagai sembahan, maka matahari mengeringkan tanah dan menjadikannya tandus. sekalipun matahari bersinar terang, tidaklah layak dianggap sembahan, sebab ia akan kehilangan cahaya karena awan yang bergumpal-gumpal dan lenyap dalam kegelapan malam lalu tergantikan sinar bulan dan bintang-bintang. awan-awan dan malam pun tidak pantas dianggap sebagai sembahan sebab apakah sembahan hanya hadir dalam waktu tertentu dan menghilang dalam waktu tertentu, sementara umat manusia yang menyembah dan segala makhluk di bumi selalu hidup dan hadir setiap waktu? Bukankah Yang Menciptakan langit, bumi dan segala yang di antara keduanya adalah Tuhan yang sebenarnya. sekiranya kamu mau merenungkan.

Apapun yang kamu sembah itu adalah segala yang ku benci, terkecuali Tuhan atas segala sesuatu, Dialah yang menciptakan diriku dan membimbingku[8] sebab Dia menciptakan sesuatu berdasar tujuanNya dan kehendakNya, Dialah menyerukan kebenaran kepadaku melalui pendengaranku sebab semula aku hanya ciptaan tuli yang bahkan tidak mengenali diri sendiri, Dialah yang menampakkan cahaya yang menerangi supaya aku tahu jalan apa yang harus kutempuh karena aku hanyalah ciptaan yang tersesat di antara bumi dan langitNya, Dialah yang selalu hadir untukku sebab Dia menyediakan segala hal untuk kumakan dan kuminum, Dialah yang menghidupkan yang mati untukNya dan mematikan yang hidup tanpaNya. aku sendiri tidak tahu untuk apa aku dihidupkan maka tiada tugas bagiku di dunia selain melaksanakan apapun yang diperintahkan oleh Pencipta yang menghidupkanku dan aku pun bersedia mati sekiranya Dia pula yang menghendaki itu. lalu patutkah aku bersujud dan memuja yang kalian serukan itu daripada Tuhan yang menghidupkan seluruh makhluk di bumi?" Dengan cara demikian, Ibrahim berusaha untuk menyadarkan kaumnya, akan tetapi mereka mengabaikan seruan-seruan Ibrahim dan tetap meneruskan penyembahan berhala mereka.

Berdakwah kepada ayahnya[sunting | sunting sumber]

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dengan sanad shahih dari Jarikh pada firman Allah, ketika Ibrahim berkata pada ayahnya, Azar:

"...dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaum-mu dalam kesesatan yang nyata."

Beberapa mufassirin berpendapat bahwa azar bukan ayahnya namun pamannya. Al-Qur'an hanya menjelaskan bahwa Ibrahim adalah putra Aazar, ayah Ibrahim sama sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala, ia adalah pembuat dan pedagang patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan darinya orang-orang membeli patung yang dipergunakan dalam persembahan. Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya terlebih dahulu sebagai orang yang terdekat kepadanya juga peringatan kepercayaan dan persembahan sang ayah kepada berhala-berhala itu sebagai perbuatan yang sesat dan bodoh. Ia merasakan bahwa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahwa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran setan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasehat dan ajakannya untuk berpaling dari berhala-berhala dengan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang hidup, serta yang memberi mereka rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Pemberontakan melawan kaum penyembah berhala[sunting | sunting sumber]

Di saat Ibrahim telah menyadarkan bahwa kayu bukanlah Tuhan dan dakwah-dakwahnya sebagai tersebar ke berbagai negeri, Namrudz yang mendakwakan diri sebagai raja di muka bumi memerintahkan seluruh rakyatnya datang membawa batu dan patung untuk mendirikan sebuah tugu menjulang tinggi di Babilonia sebagai tempat berhala khusus dengan maksud agar Ibrahim merasa dikucilkan dan agar dia berpikir bahwa seluruh kaum di negerinya adalah penyembah berhala sementara hanya dia seorang yang menyimpang dari kaumnya. ketika di Babilonia telah dipenuhi berbagai patung sebagai simbol penyembahan berhala, justru Ibrahim semakin bersemangat dan ingin membuktikan bahwa patung-patung batu hanyalah benda mati yang tidak  dapat bertindak apapun terhadap para penyembahnya. Ibrahim pun datang dan meruntuhkan segala patung batu yang ada di Babilonia selain sebuah patung terbesar yang dianggap sebagai dewa paling hebat oleh kaumnya[9].

Mendapati sebuah kekacauan dan puing reruntuhan di tempat ibadah mereka, para penyembah berhala merasa sangat murka dan hendak menghukum orang melakukan tindakan ini.[10] Ibrahim yang dikenal berani menentang penyembahan berhala dipanggil untuk dihakimi. Mereka bertanya, "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap sembahan-sembahan kami, wahai Ibrahim?" dia menjawab, "Sebenarnya patung terbesar itu yang melakukannya, cobalah tanyakan kepada berhala itu, jika memang dapat berbicara." mereka pun mulai tersadar lalu dia mengatakan, "Sesungguhnya kalian itu memang orang-orang yang sewenang-wenang", kemudian dengan kepala tertunduk mereka berkata, "Sesungguhnya kamu telah menyadari bahwa berhala-berhala itu memang tidak dapat berbicara." dia berkata, "lalu mengapakah kalian menyembah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun dan tidak menimpakan nasib buruk kepada kalian?[11] jika kalian tidak menghentikan tindakan semacam ini tentulah Tuhanku kelak membakar kalian di neraka."

Perapian Babilonia[sunting | sunting sumber]

Mendengar pernyataan Ibrahim ini; mereka tidak serta merta menyerah dan mengakui dosa, justru mereka beranggapan bahwa Ibrahim bermaksud membakar seluruh orang yang menyembah berhala. Untuk membalas ini, mereka mengatakan : "jika orang itu mengatakan bahwa kita akan dibakar, maka bunuh saja orang yang mengancam nyawa banyak orang atau bakar saja orang yang melecehkan dan mencemarkan sembahan-sembahan kita", secara bergegas kaumnya beramai-ramai mengumpulkan kayu bakar untuk sebuah perapian yang besar.[12] Namrudz sebagai orang yang mengajak seluruh penduduk negeri untuk menyembah berhala, menyatakan "Hal ini akan menjadi bukti, siapa raja dan dewa di muka bumi ini dan siapa yang manusia biasa, kalian akan menyaksikan pada hari ini bahwa orang yang berlaku sewenang-wenang itu dilenyapkan di perapian karena dia berani menyatakan bahwa kita akan dibakar oleh Tuhannya lalu biarlah Tuhannya sendiri yang menyelamatkan dia sementara akulah dewa yang menyelamatkan kalian, bukan orang itu!".

Banyak orang dari berbagai negeri hadir untuk menyaksikan peristiwa ini dan mereka semua percaya kepada Namrudz bahwa Ibrahim akan lenyap di perapian. Di antara kerumunan orang itu terdapat kakak Ibrahim, Haran, yang turut dihadirkan karena selama ini menyembunyikan Ibrahim dan tidak menyerahkan kepada raja Namrudz. Ketika Haran ditanya mengapa dia tidak menuruti perintah raja, ia menjawab "bukankah aku pernah mengatakan bahwa apapun yang kalian lakukan, kalian takkan bisa mengubah segala yang tertulis di langit, sebab kalian sendiri tidak sanggup mengubah langit dan bukanlah kalian yang berkuasa di langit maupun di bumi" kemudian mereka menjawab "memang ucapan itu terbukti sampai saat ini, namun lihatlah setelah Ibrahim jatuh ke perapian itu, apakah ucapanmu itu masih tetap berlaku!". mereka pun bertanya "apakah kamu percaya pada Tuhannya Ibrahim?" Haran merasakan keraguan dalam benaknya, sebab di malam sebelumnya ia mendapati pertanda di langit bahwa akan ada orang yang terbakar hebat oleh api, sehingga Haran menganggap bahwa adiknya takkan selamat dari perapian. Haran menjawab " jika ibrahim tidak selamat dari perapian tentulah aku akan pergi dan meninggalkan kalian sejauh mungkin bersama aib ini, akan tetapi jika melalui keajaiban dahsyat Ibrahim berhasil selamat maka aku akan datang dan memeluknya."

Ketika Ibrahim hendak dilempar ke perapian, sesosok malaikat hadir untuk menawarkan pembebasan Ibrahim supaya ia dapat melarikan diri dari hukuman kaumnya, namun Ibrahim berkata "Cukuplah Yang Maha Melindungi yang memberi keselamatan padaku, sebab selama ini Dialah yang melindungi nyawaku dari Maut dan segala penyelamatan hanya berasal daripadaNya. Sekiranya aku harus mati, maka aku bersedia jika itu yang Dia kehendaki" lalu malaikat itu pergi meninggalkan Ibrahim. Allah turut bersaksi dengan para malaikat ketika mendapati bahwa hampir seluruh manusia di muka bumi pada zaman itu memiliki satu pemikiran dari satu sudut pandang terhadap peristiwa perapian ini, maka Allah hendak mengacaukan pemikiran mereka dengan menampakkan hal berbeda di mata mereka, supaya satu umat dan satu bangsa di bumi menjadi berbagai umat dan bangsa-bangsa yang memiliki pendirian dan pola peikir yang berbeda. Ketika Ibrahim melompat ke perapian yang membara, seketika Allah berfirman kepada perapian supaya menjadi keselamatan terhadap Ibrahim, maka api dari Allah hadir dan Ibrahim berjalan secara tenang dari tengah-tengah perapian.

Haran yang mendapati Ibrahim selamat dari perapian bergegas mendekat untuk memeluknya, akan tetapi, ia yang mendekat tanpa memiliki keimanan kepada Allah seketika mati disambar oleh kobaran api dari Allah. Di saat semacam ini, Allah menimbulkan pandangan yang bermacam-macam dalam pengamatan orang-orang menyaksikan, sebagian mengatakan, "dewa itu adalah api sebab api yang menyelamatkan Ibrahim" sebagian lain mengatakan. "dewa itu adalah kayu sebab akibat kayu itu, Ibrahim selamat" sebagian lain mengatakan, "dewa itu adalah angin sebab angin yang menghindarkan Ibrahim" dan muncul berbagai pendapat berbeda-beda dari kejadian ini. orang-orang yang saling bersepakat tentang pandangan yang sama membentuk sebuah kelompok tersendiri untuk membantah pihak yang berbeda atau berseberangan pandangan, akibat mereka saling berkeras pada pendapat masing-masing sebagai kebenaran dan menolak menerima kebenaran dari pihak lain, termasuk pendapat Ibrahim bahwa Allah yang telah menyelamatkannya dari perapian, kebanyakan mereka berpegang pada pendapat masing-masing, tidak mengakui satu sama lain bahkan tidak mau mengakui Allah, sejak saat itulah umat manusia saling menjauh berpencar dari tempat perapian bersejarah ini untuk membentuk bangsa, bahasa, dewa-dewa, dan budaya yang masing-masing anggap sebagai yang paling benar. Maka Ibrahim mengatakan, "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian lain dan sebagian kalian mengutuki sebagian lain, dan tempat kembali kalian memang neraka, dan takkan ada seorang pun yang membela kalian."[13]

Perdebatan dengan Namrudz dan hijrah dari tanah leluhur[sunting | sunting sumber]

Setelah menyaksikan Ibrahim yang diselamatkan oleh Allah dari perapian, Namrudz dan para pengikutnya merasa dipermalukan dan merasa takut bahwa lebih banyak orang yang percaya kepada Ibrahim dibanding kepada kerajaannya. Oleh sebab telah mendakwakan diri sebagai raja dan dewa atas umat manusia, Namrudz berupaya mengalahkan Ibrahim dengan memberikan pertanyaan sebagai tantangan “kami sadari bahwa kamu memang tetap hidup dari perapian tetapi kamu tidak menghadirkan sembahanmu itu di hadapan kami, maka kami takkan percaya kepadamu” Ibrahim mengatakan, "Tuhankulah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan manusia yang Dia kehendaki, sebab Dialah yang Berkuasa atas segala yang di langit dan di bumi," seketika Namrudz memanggil dua orang budaknya lalu membunuh salah seorang dan membiarkan yang lain tetap hidup, dia pun mengatakan, "aku pun memiliki kuasa di bumi terhadap orang-orang itu, sebab akulah raja, dan aku pun dewa yang sanggup menghidupkan dan mematikan; aku bertaruh dengan seluruh budak yang kumiliki bahwa kamu takkan bisa menunjukkan kepadaku bukti-bukti tentang Tuhanmu itu" Ibrahim berkata, "Sekalipun kamu memberi seisi bumi kepadaku, sesungguhnya segala yang di bumi beserta yang di langit adalah milikNya; lihatlah ke arah matahari yang terbit itu, sesungguhnya Allah adalah Yang Menerbitkan Matahari dari arah timur, jika memang terdapat kuasa padamu terhadap matahari itu maka terbitkanlah ia dari arah barat," seketika Namrudz tertegun dan menjadi bisu di hadapannya[14] lalu banyak orang yang meninggalkan dan memisahkan diri dari kepemimpinan Namrudz dengan mendirikan kekuasaan mereka sendiri.

Dengan diiringi banyak pengikut, Ibrahim meninggalkan Babilonia setelah ayah Ibrahim memanggilnya hadir di rumah Haran untuk pembagian warisan yang ditinggalkan kakaknya. Kedua anak perempuan Haran masing-masing dijadikan istri bagi dua saudaranya, Nahor dan Ibrahim, sedangkan Luth memilih ikut bersama Ibrahim sebab Ibrahim telah tinggal bertahun-tahun di rumah Haran. Ibrahim pun sempat mengajak sang ayah untuk meninggalkan berhala dan pergi bersamanya untuk mengikut kepada Allah. Akan tetapi ayahnya yang lelah dengan seruan-seruan Ibrahim menjadi marah dan menghendaki Ibrahim pergi meninggalkannya untuk waktu yang lama. Meski dimusuhi oleh ayahnya, Ibrahim masih berdoa memohonkan ampun bagi ayahnya sebagai janji dan wujud anak yang berbakti terhadap ayah.[15]

Ibrahim bersama Sarah, Luth[16] juga para pengikutnya meninggalkan rumah Haran untuk pergi ke manapun yang Allah perintahkan yang Ibrahim imani.[17] ketika menjadi pendatang di negeri Mesir, Ibrahim disambut sebagai tamu kehormatan yang diberi berbagai pemberian sebab Sarah hendak djadikan istri oleh raja Fir’aun lantaran Ibrahim menyebut Sarah sebagai saudara. Semenjak di tinggal di rumah Haran, Ibrahim telah menganggap anak perempuan kakaknya ini sebagai saudaranya sendiri dan sebagai saudara dalam keimanan.[18] Pada akhirnya Fir’aun yang tersadar bahwa Sarah adalah istri Ibrahim, merasa bersalah dan takut terhadapnya dan sebagai tanda permintaan maaf dia memberi banyak hadiah kepada Ibrahim juga sebuah tanah milik di Mesir agar Ibrahim tetap tinggal di Mesir, terlebih anak perempuan Fir’aun, Hajar, diserahkan sebagai budak untuk Sarah sebagai penebusan atas kesalahan yang diperbuat.

Tamu Ibrahim[sunting | sunting sumber]

Walaupun mendapat ajakan untuk menetap di Mesir; atas keimanannya, Ibrahim tetap pergi menuju negeri yang diberikan oleh Allah untuknya, yang membuktikan bahwa Ibrahim lebih menaruh kepercayaan terhadap janji Allah dibanding kepada janji manusia. Ketika menetap di negeri Palestina, Ibrahim menjadi sosok yang terhormat dan dikenal luas di berbagai negeri oleh karena Ibrahim berlaku dermawan terhadap penduduk Kana’an dan orang-orang asing. Sekalipun Allah berjanji bahwa seluruh negeri Palestina diberikan untuknya dan keturunannya sebagai tanah milik, Ibrahim tidak mengusir atau menyingkirkan penduduk yang tinggal di sekitar wilayahnya karena Ibrahim mengaku bahwa dirinya hanya pendatang di bumi yang diterima secara baik oleh Allah, sehingga Ibrahim menjadi sosok yang amat ramah menyambut para pendatang serta para pengembara yang singgah di rumahnya. Ibrahim juga mengenalkan ajaran iman kepada Allah ketika menerima para tamu dari berbagai negeri.

Allah tidak memerintahkan Ibrahim untuk menguasai atau negeri Palestina karena sosoknya yang memiliki kesetiaan sejati pada Allah disertai keimanan kuat sehingga dia mampu mempengaruhi penduduk negerinya dan tidak sedikitpun mengalami pengurangan atau pelemahan iman akibat hidup di tengah-tengah mereka.

Setelah dianugerahi seorang putra dari Hajar, yakni Ismail, Ibrahim menerima perintah sunat sebagai jaminan bahwa ia akan memperoleh keturunan dari Sarah. Beberapa waktu setelah bersunat, Ibrahim menerima tamu istimewa tiga sosok malaikat berwujud tiga laki-laki, akan tetapi wujud ketiga malaikat ini berbeda dengan manusia yang selama ini ditemui Ibrahim, dia pun merasa asing dan bersegera mempersiapkan jamuan khusus bagi ketiganya. Ibrahim menghidangkan daging anak sapi yang dipanggang untuk mereka lalu para malaikat ini menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim bahwa Ishaq akan lahir untuknya dan Ya’qub disebut sebagai penerus Ishaq.[19] Ibrahim terkejut dengan kabar ini namun dia menyatakan tetap yakin terhadap janji Allah sementara Sarah merasa heran dan tertawa mendengar hal ini karena menganggap lucu bagi seseorang yang telah berumur tua untuk menimang seorang bayi.[20]

Salah satu malaikat menyampaikan bahwa ada azab yang segera menimpa kaum Luth. Mendengar hal ini, Ibrahim yang menaruh belas kasihan terhadap kehidupan banyak orang sekalipun jahat, menahan malaikat ini beranjak dari rumahnya dengan memohonkan supaya Allah memberi kesempatan bertobat bagi orang-orang berdosa sebelum ditumpas.[21] Malaikat itu menjawab bahwa keputusan ini telah mutlak bagi Allah oleh karena orang-orang itu telah diperingatkan oleh Luth[22] namun mereka tidak mengubah perilaku mereka yang keji di mata Allah.[23] Lalu Ibrahim memohonkan keselamatan bagi Luth beserta orang-orang yang beriman supaya mereka diluputkan ketika azab terjadi. Hal ini dikabulkan bagi seluruh keluarga Luth, terkecuali istrinya.

Setelah Ishaq lahir, Ibrahim menyayangi dan mengistimewakan Ishaq, anak yang telah lama Allah janjikan sebagai penerusnya. Hajar dan Ismail yang merasa cemburu dengan perhatian Ibrahim terhadap Ishaq, berakibat Ibrahim memutuskan agar keduanya tinggal terpisah dengan Ishaq supaya tidak ada pertengkaran antara dua putra Ibrahim, terlebih Allah telah menyatakan jauh sebelum Ismail dilahirkan, bahwa Ishaq telah tertulis sebagai penerus dan pewaris Ibrahim.

Penyembelihan Ismail[sunting | sunting sumber]

Ketika seorang putra Ibrahim telah mencapai usia dewasa. Allah hendak menguji kesetiaan Ibrahim terhadap perintah-perintahNya melalui sebuah mimpi tentang penyembelihan anak. Keimanan Ibrahim yang berhasil melaksanakan ujian-ujian sebelumnya sama sekali tidak berubah ketika menerima perintah ini. Ibrahim mengajak putranya pergi untuk melaksanakan perintah Allah, dia tidak sedikitpun mengeluh atau meminta keringanan dari Allah tentang perintah ini melainkan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan.  Ketika Ibrahim membaringkan sang anak untuk perintah Allah, dia terlebih dahulu meminta tanggapan dan persetujuan dari sang anak. Ibrahim berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. maka sampaikanlah apa pendapatmu!" putranya menjawab, "wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; dengan perkenan Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."[24] di saat putranya telah merelakan diri dan Ibrahim bersiap mengulurkan tangan untuk menyembelih putranya, seketika Allah memanggil Ibrahim supaya menahan tangannya, sebab tindakan ini membuktikan bahwa Ibrahim bersedia melaksanakan apapun untuk Allah sebagai hamba yang berbakti dan benar-benar terpercaya bagi Allah. Ibrahim pun mendapati seekor domba besar sebagai kurban pengganti putranya.

Atas pengabdian yang sepenuhnya ini, maka Allah memberkahi Ibrahim dan Ishaq termasuk golongan nabi yang saleh demikian pula Ya'qub sebagai penerus, sehingga ketiga sosok ini diistimewakan oleh Allah dengan buah tutur dan gelar yang terbaik di antara manusia-manusia yang pernah ada.[25] Ibrahim pun masih hidup untuk mendidik cucunya, Ya’qub, dan memberkahinya juga mewariskan agama kepada putra-putranya beserta Ya’qub sebelum wafat.[26]

Doa[sunting | sunting sumber]

Terdapat doa-doa yang dipanjatkan Ibrahim tercantum dalam Al-Qur’an, salah satunya ketika Ibrahim mendirikan Baitullah bersama Ismail, yang ditujukan bagi nasib generasi-generasi penerus mereka:[27]

...dan, ketika Ibrahim berdo'a, "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian." Allah berfirman, "dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," dan ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo'a), "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Utusan dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Demikian pula doa Ibrahim di Surah Ibrahim:

Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Teladan[sunting | sunting sumber]

Nabi Ibrahim merupakan sosok teladan utama[28][29] bagi umat Islam dalam hal keimanan, pengabdian dan ketauhidan pada Allah SWT. Nabi Muhammad juga mendapat anjuran melalui Firman Allah untuk mengikuti pribadi Ibrahim:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan[30]
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim bukanlah termasuk orang-orang musyrik".
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".[31]

Perjalanan ibadah Haji dan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha yang dirayakan setiap tahun, merupakan bentuk penghormatan umat Muslim[32] di seluruh dunia terhadap pengabdian nabi Ibrahim dan nabi Ismail:

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.[33]

Julukan[sunting | sunting sumber]

Khalilullah ( خلیلالله) adalah julukan istimewa yang diberikan oleh Allah untuk Ibrahim yang bermakna kesayangan Allah:[34]

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. "

Dalam Al-Qur'an pula, Nabi Ibrahim disebut sebagai "Bapak Umat Muslim":[35]

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Shuhuf[sunting | sunting sumber]

Dalam Al-Qur’an disebutkan tentang lembaran-lembaran (shuhuf) Ibrahim yang setara dengan lembaran-lembaran Musa.[36]

6 Kami akan membacakan kepadamu maka kamu tidak akan lupa,
7 kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.
8 dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah,
9 oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,
10 orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran,
11 orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.
12 (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).
13 Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.
14 Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
15 dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.
14 Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.
17 Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
18 Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Lembaran yang dahulu,
19 (yaitu) Lembaran Ibrahim dan Musa.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tercantum dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa:125 "...dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. "
  2. ^ "Muhammad Sang Nabi" - Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail, karya Omar Hashem, Bab 1. Kondisi Geografis - Kafilah Nabi Ibrahim, Hal.9.
  3. ^ Kitab at-Ta'rif wa Al-I'lam karya Abu al-Qasim as-Suhailiy.
  4. ^ Kitab as-Silsilatu adh-Dhaifah.
  5. ^ Imam Ahmad berkata, Afwan telah menceritakan kepada kami, Jarir telah menceritakan kepada kami, Sumamah, pelayan Abu Fakah bin al-Mughirah telah menceritakan kepadaku, ia berkata: "Saya pernah menemui Aisyah. Saya melihat ada sebuah tombak yang bersandar di dalam rumahnya, maka aku bertanya: "Wahai Ummul Mukminin, Apa yang engkau perbuat dengan tombak ini?" Aisyah menjawab: "Tombak ini untuk membunuh tokek-tokek, sebab rasulallah telah menyampaikan hadist kepada kami: "Ketika Ibrahim dilemparkan kedalam api, maka semua hewan dimuka bumi ini berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek yang berusaha meniupnya. Maka rasulallah memerintahkan kepada kami untuk membunuhnya." Hadits riwayat Ibnu Majah dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Yunus dari Muhammad dari Jarir bin Hazim.
  6. ^ Kisah ini ditulis pada kitab "Qashash al-Anbiyaa" (Kisah Para Nabi dan Rasul), Kisah Nabi Ibrahim Al-Khalil, Perdebatan Ibrahim al-Khalil dengan Orang yang berusaha Merampas Izari al-Adhamah (Pakaian Keagungan) dan Rida’ al-Kibriya’ (Selendang Kesombongan) dari al-Adhim al-Jalil, hal. 204-205. Karya Ibnu Katsir, tahqiq hadits Syekh Al-Albani.
  7. ^ Surah Al-A'raf : 54 Surah Ibrahim : 33 Surah An-Nahl : 12 Surah Luqman : 20 Surah Fatir : 13 Surah Al-Jasiyah : 13
  8. ^ Surah Asy-Syu'ara: 78
  9. ^ Surah Al-Anbiya' : 57-58
  10. ^ Surah Al-Anbiya' : 59-60
  11. ^ Surah Al-Anbiya' : 62-67
  12. ^ Surah As-Saffat : 97-98 Surah Al-Ankabut : 24 Surah Al-Anbiya' : 68
  13. ^ Surah Al-'Ankabut : 25
  14. ^ Surah Al-Baqarah : 260
  15. ^ Surah Maryam : 42-48
  16. ^ Surah Al-'Ankabut : 26 Surah Al-Anbiya' : 71
  17. ^ Surah Az-Zukhruf : 27 Surah Al-Mumtahanah : 4-6
  18. ^ Surah Al-Hujurat : 10
  19. ^ Surah Hud : 69-70 Surah Al-Hijr : 51-56 Surah Az-Zariyat : 24-28
  20. ^ Surah Hud : 71-73 Surah Az-Zariyat : 29-30
  21. ^ Surah Hud : 74-76
  22. ^ Surah Al-Ankabut : 28-30
  23. ^ Surah Al-Ankabut : 31-32
  24. ^ Surah As-Saffat : 102-105
  25. ^ Surah Shaad : 45-47 Surah As-Saffat : 112-113 Surah Al-An'am : 84 Surah Maryam : 49-50 Surah Al-Anbiya : 72-73 Surah Al-Ankabut : 27
  26. ^ Surah Al-Baqarah : 132
  27. ^ Surah Al-Baqarah : 126-129
  28. ^ Surah Al-Baqarah : 135 Surah Al-'Imran : 95 Surah An-Nahl : 123 Surah Al-Mumtahanah : 4-6
  29. ^ Surah Al-Baqarah : 124
  30. ^ Surah An-Nahl : 120
  31. ^ Surah Al-An'am : 161-163
  32. ^ Surah Al-'Imran : 95-97
  33. ^ Surah Al-Hajj : 26-30
  34. ^ Surah An-Nisa' : 125
  35. ^ Surah Al-Hajj : 78
  36. ^ Surah Al-A'la : 9 - 19

Pranala luar[sunting | sunting sumber]