Ibrahim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Nabi Ibrahim)
Lompat ke: navigasi, cari
Ibrahim
alaihissalām (عليه السلام)
Khalilullah
Kaligrafi bertuliskan Ibrahim dalam bahasa Arab.
Nama asli Ibrāhīm - إبراهيم
Tanggal lahir kr. 2510 Sebelum Hijriyah
Ur, Iraq
Meninggal kr. 2329 Sebelum Hijriyah (kira-kira usia 175 tahun)
Hebron, Tepi Barat
Tempat peristirahatan Masjid Ibrahim
Pengganti Ishaq
Ya'qub
Pasangan Hajar
Sarah
Anak Ismail
Ishaq

Ibrahim (bahasa Arab: إبراهيم ) (sekitar 1997-1822 SM) merupakan nabi dalam agama Samawi. Ia bergelar Khalil Allah (خلیلالله, Kesayangan Allah).[1] Ibrahim bersama anaknya, Ismail, terkenal sebagai pendiri Baitullah (Rumah Allah). Ia diangkat menjadi nabi yang diutus kepada kaum Kaldān yang terletak di kota Ur, negeri yang sekarang dikenal sebagai Iraq.

Ibrahim merupakan salah satu dari kelima nabi Ulul Azmi. Nama Ibrahim disebut sebanyak 69 kali dalam Al-Qur'an.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Dalam buku yang berjudul "Muhammad Sang Nabi - Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail," karya Omar Hashem, dikatakan bahwa nama Ibrahim berasal dari dua suku kata, yaitu ib/ab (إب) dan rahim (راهيم). Jika disatukan maka nama itu memiliki arti "ayah yang penyayang."[2][3]

Genealogi[sunting | sunting sumber]

Ibrahim merupakan putra Azar (Tarikh) bin Nahur bin Sarugh bin Ra'u bin Faligh bin Abir bin Shaleh bin Arfakhsad bin Sam bin Nuh. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama Faddam A'ram, yang terletak di wilayah kerajaan Babilonia. Ayah Ibrahim memiliki tiga putra: Ibrahim, Haran, dan Nahor. Haran memiliki seorang putra yakni nabi Luth sementara Ibrahim memiliki dua putra yang termasuk golongan nabi, yaitu Ismail dan Ishaq, sedangkan Yaqub merupakan cucu dari Ibrahim.

Menurut al-Kalbiy, ibu nabi Ibrahim bernama Buna binti Karbina bin Kartsi, yang berasal dari Bani Arfakhsyad, sedangkan dalam kitab at-Tarikh dari Ishaq bin Basyar al-Kahiliy karya Al-Hafidz ibnu Asakir, ibu nabi Ibrahim bernama Amilah. Ibnu Asakir meriwayatkan pula, bahwasanya nabi Ibrahim dijuluki sebagai "Abu adh-Dhaifan."

Para istri Ibrahim[sunting | sunting sumber]

Ketika Sarah ditawan Raja Mesir untuk dijadikan selir, Allah memberikan perlindungan kepada Sarah sehingga Raja Mesir gagal menjadikan Sarah sebagai selir. Setelah mengetahui bahwa Allah telah menimpakan musibah akibat Sarah merupakan istri Ibrahim, Raja Mesir menghadiahkan Hajar kepada Sarah sebagai penebusan dosa serta mengembalikan Sarah kepada Ibrahim. Hajar adalah seorang putri bangsa Mesir.[4]

Para istri Ibrahim dan anak-anak yang dilahirkan oleh mereka adalah sebagai berikut:

  • Sarah: Ishaq
  • Hajar al-Qibthiyah al-Mishtiyah: Ismail
  • Qanthura binti Yaqthan: Zimran, Yaqsyan, Madan, Madyan, Syiyaq dan Syuh.

Mukjizat[sunting | sunting sumber]

Melihat burung dihidupkan kembali[sunting | sunting sumber]

Ibrahim yang sudah bertekad ingin memerangi kesyirikan maupun penyembahan berhala, ingin mempertebal keimanan dan keyakinannya terlebih dahulu, untuk menenteramkan hati serta membersihkan tentang keragu-raguan yang mungkin mengganggu pikiran, Ibrahim memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepada dirinya tentang bagaimana Allah menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.

"...dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap." Allah berfirman, "Ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."'"

Diselamatkan ketika berada di Perapian[sunting | sunting sumber]

Sebagian ulama Salaf menyebutkan bahwa ketika Jibril menampakkan dirinya kepada Ibrahim di udara, ia bertanya kepada Ibrahim apakah Ibrahim memerlukan bantuan, kemudian Ibrahim menjawab tidak perlu bantuan.[5]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sa'id bin Jubair mengisahkan bahwa, Malaikat Ar-Ra'd (malaikat pengatur awan dan hujan) mengatakan, "Kapan saja aku diperintah, maka aku akan menurunkan hujan" namun Firman Allah hadir lebih cepat,

"Kami berfirman, "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim."

Ka'ab al-Ahbar meriwayatkan, "Saat itu seluruh penduduk bumi tidak bisa menyalakan api, sedangkan Ibrahim tidak terbakar sedikitpun selain tali yang mengikat dirinya." Sedangkan menurut As-Suddiy, "Saat itu Ibrahim didampingi oleh Malaikat Azh-Zhil (malaikat pemberi naungan), sehingga saat itu Ibrahim yang berada di kobaran api, sebenarnya ia berada di taman hijau. Orang-orang melihatnya dan tidak mampu mencapai padanya dan ia pun tidak keluar untuk menemui mereka."

Terdapat riwayat pula bahwa ketika Ibrahim dilemparkan kedalam kobaran api besar; semua hewan di muka bumi berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek yang berusaha membuat api semakin membesar.[6]

Pasir berubah menjadi makanan[sunting | sunting sumber]

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Mu’ammar dari Zaid bin Aslam bahwasanya Namrudz memiliki berbagai makanan, orang-orang berduyun-duyun untuk memperoleh kebutuhan makanan, termasuk Ibrahim datang untuk memperoleh kebutuhan makanan pula. Menurut kitab "Qashash al-Anbiyaa", pada sebuah hari ketika persediaan makanan telah habis, nabi Ibrahim mengambil gundukan pasir, yang kemudian berubah menjadi bahan makanan tatkala ia sampai di rumah.[7]

Kisah[sunting | sunting sumber]

Kelahiran dan masa kecil[sunting | sunting sumber]

Pada 2295 SM. Kerajaan Babilonia waktu itu diperintah oleh Namrudz, seorang raja bengis yang berkuasa secara absolut dan zalim. Kerajaan itu mendapat pertanda langka pada bintang-bintang bahwa akan ada seorang anak laki-laki perkasa lahir dan keturunannya akan memenuhi seisi bumi, dengan salah seorang keturunannya akan membunuh raja Namrudz. Ketakutan dengan kabar ini, maka ada perintah bahwa semua bayi laki-laki yang baru lahir harus dibunuh. Pada waktu yang hampir bersamaan, ayah Ibrahim merasa bahagia sekaligus khawatir karena ia mendengar kabar bahwa istrinya sedang mengandung seorang anak sesaat setelah ia dinobatkan sebagai panglima kerajaan lalu kedua putranya, Nahor dan Haran, memberi pendapat tentang persoalan ini. Haran, sebagai seorang ahli nujum, berpendapat bahwa sang ayah dapat menyerahkan anak itu kepada raja, sebab Haran meyakini bahwa belum ada pertanda di langit yang gagal, sekalipun harus diserahkan ke pedang atau perapian, Haran percaya akan ada keajaiban yang membuat anak itu tetap hidup. Sedangkan Nahor memberi saran supaya sang ibu meninggalkan Babilonia untuk sementara waktu, sementara sang ayah menyerahkan bayi lain sebagai ganti Ibrahim. Sang ayah menerima saran Nahor supaya pergi dari negeri Babilonia.

Ibu Ibrahim ditempatkan di sebuah gua bersama seorang pengasuh sampai hari bersalin; sementara itu sang ayah mengambil seorang bayi dari seorang hambanya untuk diserahkan ke Namrudz. Ketika penyembelihan bayi dilakukan, Namrudz bergembira sebab ia menyangka ancaman bagi kerajaannya telah lenyap. Sementara itu, setelah Ibu Ibrahim mengalami persalinan, ia bersama pengasuh meninggalkan Ibrahim seorang diri di gua sambil menangis dan berdoa "Semoga Sang Pelindung selalu menyertaimu, wahai anakku....." setelah Ibrahim ditinggalkan sendiri, Allah mengutus sesosok malaikat untuk hadir dan merawat Ibrahim.

Setelah berbulan-bulan, Haran masih mempercayai pertanda di langit tentang Ibrahim sehingga ia pergi mendatangi gua di mana Ibrahim ditinggalkan. Haran terkejut ketika mendapati adiknya telah menjadi seorang anak laki-laki yang dapat berbicara. Haran mengajak Ibrahim pulang ke Babilonia, namun Ibrahim sempat menolak seraya menyatakan bahwa ia tidak mempunyai rumah karena ia mengaku telah tersesat di sebuah tempat yang tidak ia kenal. Pada akhirnya Haran berhasil membawa Ibrahim ke rumah sang ayah di Babilonia. Ketika Haran mempertemukan Ibrahim, sang ayah tidak percaya bahwa anak yang diajak Haran itu adalah bayi yang ditinggalkan selama berbulan-bulan di gua. Ketika Ibrahim ditanya siapa yang selama ini memberinya makan, ia menjawab bahwa Yang Maha Pemberi yang menyediakan makanan untuknya, lalu ia kembali ditanya tentang siapa yang merawatnya saat sakit, ia menjawab bahwa Yang Maha Menyembuhkan yang melakukannya, kemudian ketika ditanya tentang siapa yang memberitahunya tentang jawaban-jawaban ini, Ibrahim menjawab bahwa Yang Maha Mengetahui yang mengajarinya. Terkejut dengan jawaban-jawaban ini, sang ayah merasa heran dan takjub terhadap Ibrahim. Untuk menghindari kecurigaan raja Namrudz, Ibrahim diasuh di rumah Haran yang terletak di luar Babilonia. Di sana Ibrahim tinggal bersama anak-anak dari kakaknya yaitu Luth, Sarah dan Milka.

Masa remaja[sunting | sunting sumber]

Mencari Tuhan yang sebenarnya[sunting | sunting sumber]

Ketika Ibrahim telah berusia dua belas tahun, ia merasa kehilangan sosok Allah yang sebelumnya memberi ia makan dan perlindungan. Ibrahim memutuskan untuk pergi ke rumah nabi Nuh untuk mencari Tuhan. Pada zaman Ibrahim, kebanyakan orang di Mesopotamia beragama politeisme dengan menyembah lebih dari satu dewa dan membuat patung sebagai simbol dewa-dewa itu. Setelah berguru di rumah Nuh, Ibrahim memutuskan pergi sebab ia belum mendapat jawaban dari pencariannya. Ibrahim pun kembali ke rumah ayahnya, dan ia sering mendapati ayahnya membuat dan meletakkan makanan di depan patung-patung, lalu ia bertanya-tanya tentang perilaku sang ayah. Mendapati jawaban bahwa sang ayah menyembah patung karena tradisi leluhur, Ibrahim mempertanyakan tindakan ini namun sang ayah membiarkan Ibrahim. Ketika Ibrahim bertanya kepada Nahor tentang Tuhan, kakaknya menjelaskan bahwa di langit ada dewa-dewa, akan tetapi Ibrahim merasa perlu membuktikan ucapan ini.

Pencarian Ibrahim mengenai Tuhannya, tercantum dalam Al-Qur'an, yang berbunyi:

Ketika malam telah gelap, ia melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata: "aku tidak suka kepada yang tenggelam."

Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit ia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, ia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, ia berkata: "Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan."

Inilah daya logika yang dianugerahkan kepada nabi Ibrahim dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya sehingga ia menyadari bahwa Yang Mengendalikan bulan, bintang, matahari, siang, malam serta Yang Menciptakan segala makhluk di bumi adalah Tuhan yang sebenarnya.[8]

Peringatan terhadap para penyembah berhala[sunting | sunting sumber]

Semasa remaja, Ibrahim masih sering bertanya kepada sang ayah tentang Tuhan yang sesungguhnya. Walau demikian, ayahnya tetap tak menghiraukan Ibrahim. Sampai suatu ketika Ibrahim bertanya "Terbuat dari apakah patung-patung ini?" maka ayahnya menunjukkan kayu sebagai bahan pembuatan. Ibrahim pun mempertanyakan "Apakah kayu itu tuhan?, benda yang hangus lenyap di perapian?" untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan lain, Ibrahim diperintah menjual patung-patung buatan ini. Ibrahim berkeliling kota menjajakan patung-patung buatan ayahnya, namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Allah kepada dirinya, ia merasa tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek menawarkan patung-patung itu kepada calon pembeli dengan kata-kata: "Siapakah yang akan membeli patung-patung yang diam dan tidak berguna ini?". Melalui berbagai cara, Ibrahim berusaha menyadarkan dan mengenalkan tentang Tuhan yang sebenarnya kepada banyak orang.

Ibrahim yang mendapati sang ayah tetap tidak mau meninggalkan penyembahan berhala-berhala kayu, merasa sedih dan ingin menyadarkan tentang kekeliruan ini. Berulang-ulang kali ia berusaha memperingatkan, hingga Ibrahim menyatakan "Sekiranya kayu itu memang sembahan, bukankah api dapat menghanguskan kayu, sekalipun api disebut sembahan, maka air dapat memadamkan dan melenyapkan api, meskipun air disebut sebagai sembahan, maka air akan lenyap diserap oleh tanah, sekalipun tanah disebut sebagai sembahan, maka matahari mengeringkan tanah dan menjadikannya tandus. Sekalipun matahari bersinar terang, tidaklah layak dianggap sembahan, sebab ia akan kehilangan cahaya karena awan yang bergumpal-gumpal dan lenyap dalam kegelapan malam lalu tergantikan sinar bulan dan bintang-bintang. Awan-awan dan malam pun tidak pantas dianggap sebagai sembahan sebab apakah sembahan hanya hadir dalam waktu tertentu dan menghilang dalam waktu tertentu, sementara umat manusia dan segala makhluk di bumi selalu hidup dan hadir setiap waktu? Bukankah Yang Menciptakan langit, bumi maupun segala yang di antara keduanya adalah Tuhan yang sebenarnya. Sekiranya kamu mau merenungkan."

Maka Ibrahim berseru kepada kaumnya: " Apapun yang kalian sembah itu adalah segala yang kubenci, selain Tuhan atas segala sesuatu, Dialah yang menciptakan diriku dan membimbing diriku[9] sebab Dia menciptakan sesuatu berdasar tujuanNya dan kehendakNya, Dialah yang menghadirkan kebenaran kepadaku melalui pendengaranku, sebab semula aku hanya ciptaan yang bahkan tidak mengenali diri sendiri, Dialah yang menampakkan cahaya yang menerangi supaya aku tahu jalan apa yang harus kutempuh karena aku hanyalah ciptaan yang tersesat di antara bumi dan langitNya, Dialah yang selalu hadir untukku sebab Dialah yang menyediakan segala hal untuk kumakan dan kuminum, Dialah yang menghidupkan yang mati untukNya dan mematikan yang hidup tanpaNya. Aku sendiri tidak tahu untuk apa aku dihidupkan maka tiada tugas bagiku di dunia selain melaksanakan apapun yang diperintahkan oleh Pencipta yang menghidupkanku, dan aku pun bersedia mati sekiranya Dia pula yang menghendaki itu. Lalu patutkah aku bersujud memuja yang kalian serukan itu daripada Tuhan yang menghidupkan seluruh makhluk di bumi?" Dengan cara demikian, Ibrahim berusaha untuk menyadarkan kaumnya, akan tetapi mereka mengabaikan seruan-seruan Ibrahim dan mereka tetap meneruskan penyembahan berhala.

Berdakwah kepada ayahnya[sunting | sunting sumber]

Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an kisah ketika Ibrahim berkata pada ayahnya, Azar:

"...dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."

Beberapa mufassirin berpendapat bahwa Azar bukan ayahnya namun pamannya. Al-Qur'an hanya menjelaskan bahwa Azar sama sebagaimana kaumnya yang bertuhan dan menyembah berhala, Azar adalah pembuat dan pedagang patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan darinya orang-orang membeli patung yang dipergunakan dalam ucapan persembahan. Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya terlebih dahulu sebagai orang yang terdekat kepadanya juga untuk memperingatan sang ayah bahwa penyembahan kepada berhala-berhala merupakan perbuatan yang sesat dan bodoh. Ibrahim merasakan bahwa kebaktian kepada ayahnya mewajibkan dirinya memberi penerangan agar menyingkirkan kepercayaan yang sesat dan sehingga sang ayah mengikutinya dalam beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.[10]

Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutus oleh Allah sebagai nabi dan rasul serta ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh sang ayah. Ibrahim bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti kaumnya padahal berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun serta tidak dapat mendatangkan keuntungan untuk penyembahnya ataupun tidak mencegah nasib buruk atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu merupakan semata-mata ajaran setan yang memang menjadi musuh terhadap manusia sejak Adam diturunkan ke bumi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakan untuk berpaling dari berhala-berhala dengan kembali menyembah Allah Yang Menciptakan manusia maupun semua makhluk yang hidup, serta Yang Memberi mereka rezeki juga kenikmatan hidup serta Yang Mempercayakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.[11]

Pemberontakan melawan kaum penyembah berhala[sunting | sunting sumber]

Di saat Ibrahim telah menyadarkan bahwa kayu bukanlah Tuhan dan dakwah-dakwahnya telah tersebar ke berbagai negeri, Namrudz yang mendakwakan diri sebagai raja di muka bumi memerintahkan seluruh rakyatnya datang membawa batu dan patung untuk mendirikan sebuah tugu menjulang tinggi di Babilonia sebagai tempat berhala khusus dengan maksud agar Ibrahim merasa dikucilkan dan agar ia berpikir bahwa seluruh kaum di negerinya adalah penyembah berhala sementara hanya Ibrahim seorang yang menyimpang dari kaumnya. Ketika mendapati berbagai patung sebagai simbol penyembahan berhala, justru Ibrahim semakin bersemangat untuk melawan dan ingin membuktikan bahwa patung-patung batu hanyalah benda mati yang tidak dapat bertindak apapun terhadap para penyembahnya.[12][13] Ibrahim datang seorang diri untuk meruntuhkan segala patung batu yang ada di Babilonia selain sebuah patung terbesar yang dianggap sebagai dewa paling hebat oleh kaumnya[14].

Mendapati sebuah kekacauan dan puing reruntuhan di tempat ibadah mereka, para penyembah berhala merasa sangat murka dan mereka hendak menghukum orang yang melakukan tindakan ini.[15] Ibrahim yang dikenal berani menentang penyembahan berhala dipanggil untuk dihakimi. Mereka bertanya, "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap sembahan-sembahan kami, wahai Ibrahim?" ia menjawab, "Sebenarnya patung terbesar itu yang melakukannya, cobalah tanyakan kepada berhala itu, jika memang dapat berbicara." mereka pun mulai tersadar lalu ia mengatakan, "Sesungguhnya kalian itu memang orang-orang yang sewenang-wenang" kemudian dengan kepala tertunduk mereka berkata, "Sesungguhnya kamu telah menyadari bahwa berhala-berhala itu memang tidak dapat berbicara." ia berkata, "Lalu mengapakah kalian menyembah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak menimpakan nasib buruk kepada kalian?[16] jika kalian tidak menghentikan tindakan semacam ini tentulah Tuhanku kelak membakar kalian di Neraka."[17]

Perapian Babilonia[sunting | sunting sumber]

Mendengar pernyataan Ibrahim ini; mereka tidak serta merta menyerah dan mengakui dosa, justru mereka beranggapan bahwa Ibrahim bermaksud membakar seluruh orang yang menyembah berhala. Untuk membalas ini, mereka hendak membunuh dan membakarnya. Secara bergegas kaumnya beramai-ramai mengumpulkan kayu bakar untuk sebuah perapian yang besar.[18]Namrudz sebagai orang yang telah mengajak seluruh penduduk negeri menyembah berhala, menyatakan "Hal ini akan menjadi bukti, siapa raja dan dewa di muka bumi ini dan siapa yang manusia biasa, kalian akan menyaksikan pada hari ini bahwa orang yang berlaku sewenang-wenang itu dilenyapkan di perapian karena berani menyatakan bahwa kita akan dibakar oleh Tuhannya; lalu biarlah Tuhannya sendiri yang menyelamatkan ia, sementara akulah dewa yang menyelamatkan kalian, bukan orang itu!".

Banyak orang dari berbagai negeri hadir untuk menyaksikan peristiwa ini dan hampir mereka semua percaya kepada Namrudz bahwa Ibrahim akan lenyap di perapian. Di antara kerumunan orang itu terdapat kakak Ibrahim, Haran, yang turut dihadirkan karena selama ini menyembunyikan Ibrahim dan tidak menyerahkan kepada raja Namrudz. Ketika Haran ditanya mengapa ia tidak menuruti perintah raja, ia menjawab "Bukankah aku pernah mengatakan bahwa apapun yang kalian lakukan, kalian takkan bisa mengubah segala yang tertulis di langit, sebab kalian sendiri tidak sanggup mengubah langit dan bukanlah kalian yang berkuasa di langit maupun di bumi" kemudian mereka menjawab: "Memang ucapan itu terbukti sampai saat ini, namun lihatlah setelah Ibrahim jatuh ke perapian itu, apakah ucapanmu itu masih tetap berlaku!". Mereka pun bertanya "Apakah kamu percaya pada Tuhannya Ibrahim?" Haran merasakan keraguan dalam benaknya, sebab di malam sebelumnya ia mendapati pertanda di langit bahwa akan ada orang yang terbakar hebat oleh api, sehingga Haran menganggap bahwa adiknya takkan selamat dari perapian. Haran menjawab "Seandainya ibrahim tidak selamat dari perapian tentulah aku akan pergi dan meninggalkan kalian sejauh mungkin bersama aib ini, akan tetapi jika melalui keajaiban dahsyat Ibrahim berhasil selamat maka aku akan datang dan memeluknya."

Ketika Ibrahim hendak dilempar ke perapian, sesosok malaikat hadir untuk menawarkan pembebasan Ibrahim supaya dapat melarikan diri dari hukuman kaumnya, namun Ibrahim berkata: "Cukuplah Yang Maha Melindungi yang memberi keselamatan padaku, sebab selama ini Dialah yang melindungi nyawaku dari Maut; bahwa segala penyelamatan hanya berasal daripada Dia. Sekalipun aku harus mati, maka aku bersedia jika itu yang Dia kehendaki" lalu malaikat itu pergi meninggalkan Ibrahim.[19] Allah turut bersaksi dengan para malaikat ketika mendapati bahwa hampir seluruh manusia di muka bumi pada zaman itu memiliki satu pemikiran dari satu sudut pandang terhadap peristiwa perapian ini, maka Allah hendak mengacaukan pikiran mereka dengan menampakkan hal berbeda dalam penglihatan mereka, supaya satu umat dan satu bangsa di bumi menjadi berbagai bangsa yang memiliki pendirian dan pola pikir yang berbeda. Tatkala Ibrahim melompat ke perapian yang membara, seketika Allah berfirman kepada perapian supaya menjadi keselamatan terhadap Ibrahim, maka api dari Allah hadir untuk melindungi Ibrahim supaya dapat berjalan secara tenang dari tengah-tengah perapian.

Haran yang mendapati Ibrahim selamat dari perapian bergegas mendekat untuk memeluknya, akan tetapi Haran seketika mati disambar oleh kobaran api dari Allah, sebab ia mendekat tanpa memiliki keimanan kepada Allah. Di saat semacam ini, Allah menimbulkan pandangan yang bermacam-macam dalam pengamatan orang-orang yang menyaksikan, sebagian mengatakan, "Dewa itu adalah api sebab api yang telah menyelamatkan Ibrahim" sebagian lain mengatakan. "Dewa itu adalah kayu, oleh karena kayu itu, Ibrahim selamat" sebagian lain mengatakan, "Dewa itu adalah angin, sebab angin yang menghindarkan Ibrahim" dan muncul berbagai pendapat berbeda-beda terhadap kejadian ini. Orang-orang yang saling bersepakat tentang pandangan yang sama membentuk sebuah kelompok tersendiri untuk membantah serta berselisih dengan pihak berseberangan pandangan oleh sebab mereka saling berkeras pada pendapat masing-masing dan mereka menolak menerima kebenaran dari pihak lain,[20][21] termasuk pendapat Ibrahim bahwa Allah yang telah menyelamatkan dirinya dari Perapian. Kebanyakan umat manusia berpegang pada pendapat masing-masing, tidak mengakui satu sama lain bahkan tidak mau mengakui Allah, sejak saat itulah umat manusia saling menjauh berpencar dari tempat perapian bersejarah ini untuk membentuk bangsa, bahasa, agama, dan budaya yang masing-masing anggap sebagai yang paling benar.[22] Dari banyak umat yang menghendaki kepercayaan masing-masing, Ibrahim maju seraya menyatakan bahwa ia hanya percaya dan berserah diri kepada Allah,[23][24][25] sehingga Allah memberkati Ibrahim beserta golongan yang mengikuti Ibrahim.[26] Setelah itu, Ibrahim mengatakan kepada orang-orang yang saling berselisih, "Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini; kelak di hari kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian lain dan sebagian kalian mengutuki sebagian lain, dan tempat kembali kalian memang neraka, dan takkan ada seorang pun yang membela kalian."[27][28][29]

Perdebatan dengan Namrudz dan hijrah dari tanah leluhur[sunting | sunting sumber]

Setelah menyaksikan Ibrahim yang diselamatkan oleh Allah dari perapian, Namrudz beserta para pengikutnya merasa dipermalukan dan merasa takut bahwa lebih banyak orang yang percaya kepada Ibrahim dibanding kepada kerajaannya. Oleh sebab telah mendakwakan diri sebagai raja dan dewa atas umat manusia, Namrudz berupaya mengalahkan Ibrahim dengan memberikan pertanyaan sebagai tantangan: “kami sadari bahwa kamu memang tetap hidup dari perapian tetapi kamu tidak menghadirkan sembahanmu di hadapan kami, maka kami takkan percaya kepadamu” Ibrahim mengatakan, "Tuhankulah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan manusia yang Dia kehendaki, sebab Dialah yang Berkuasa atas segala yang di langit maupun di bumi," seketika Namrudz memanggil dua orang budak lalu membunuh salah seorang dan membiarkan seorang yang lain tetap hidup, Namrudz pun mengatakan, "aku pun memiliki kuasa di bumi terhadap orang-orang itu, sebab akulah raja, dan aku pun dewa yang sanggup menghidupkan dan mematikan; aku bertaruh dengan seluruh budak yang kumiliki bahwa kamu takkan bisa menunjukkan kepadaku bukti-bukti tentang Tuhanmu itu" Ibrahim berkata, "Sekalipun kamu memberi seisi bumi kepadaku, ketahuilah bahwasanya segala yang di bumi beserta yang di langit adalah Milik Allah; maka lihatlah ke arah matahari yang terbit itu, sesungguhnya Allah adalah Yang Menerbitkan Matahari dari arah timur, jika memang terdapat kuasa padamu terhadap matahari itu maka terbitkanlah ia dari arah barat," seketika Namrudz tertegun dan menjadi bisu di hadapan Ibrahim[30] lalu banyak orang yang meninggalkan dan memisahkan diri dari kepemimpinan Namrudz dengan mendirikan kekuasaan mereka sendiri.

Dengan diiringi banyak pengikut, Ibrahim meninggalkan Babilonia karena ayah Ibrahim memanggilnya hadir di rumah Haran untuk pembagian warisan. Kedua anak perempuan Haran masing-masing dijadikan istri bagi dua saudaranya, Nahor dan Ibrahim, sedangkan anak laki-laki Haran, Luth, memilih ikut bersama Ibrahim sebab Ibrahim telah tinggal bertahun-tahun di rumah Haran. Ibrahim pun sempat mengajak sang ayah untuk meninggalkan berhala supaya pergi bersamanya mengikut kepada Allah. Akan tetapi ayahnya yang merasa lelah terhadap seruan-seruan ini, lalu menghendaki Ibrahim pergi meninggalkannya untuk waktu yang lama. Meski dimusuhi oleh ayahnya, Ibrahim masih berdoa memohonkan ampun bagi ayahnya sebagai janji dan wujud anak yang berbakti terhadap orang tua.[31] Walaupun demikian, peringatan Allah datang untuk menyadarkan nabi Ibrahim supaya tidak lagi mendoakan bapaknya yang terang-terangan menolak penyembahan terhadap Allah.[32][33]

Ibrahim bersama Sarah, Luth[34] juga para pengikutnya meninggalkan rumah Haran untuk pergi ke manapun Allah perintahkan yang Ibrahim imani.[35] Oleh karena Ibrahim telah berjihad dan berhijrah karena Allah,[36][37][38][39] maka Allah berjanji akan menghadiahi Ibrahim beserta keturunannya maupun kaum pengikutnya berupa pewarisan "Negeri yang diberkahi atas semesta alam."[40][41][42][43] Tatkala menjadi pendatang di negeri Mesir, Ibrahim disambut sebagai tamu kehormatan yang diberi berbagai pemberian sebab Sarah hendak dijadikan istri oleh raja Mesir, lantaran sebelumnya Ibrahim memperkenalkan Sarah sebagai saudara. Semenjak di tinggal di rumah Haran, Ibrahim telah menganggap anak perempuan kakaknya ini sebagai saudaranya sendiri dan sebagai saudara dalam keimanan.[44] Pada akhirnya raja Mesir ditimpa berbagai kemalangan dan tersadar bahwa Sarah adalah istri Ibrahim. Fir'aun merasa bersalah karena hendak menikahi perempuan yang telah bersuami dan merasa takut terhadap Ibrahim. Sebagai tanda permintaan maaf, raja memberi banyak hadiah kepada Ibrahim juga sebuah tanah milik di Mesir agar Ibrahim tetap tinggal di Mesir, terlebih anak perempuan raja Mesir, Hajar, diserahkan sebagai budak untuk Sarah sebagai penebusan atas kesalahan yang diperbuat.

Tamu Ibrahim[sunting | sunting sumber]

Walaupun mendapat ajakan untuk menetap di Mesir; atas keimanannya, Ibrahim tetap pergi menuju negeri yang diwariskan oleh Allah untuknya, yang membuktikan bahwa Ibrahim lebih menaruh kepercayaan terhadap janji Allah dibanding kepada janji manusia. Ketika menetap di negeri Palestina, Ibrahim menjadi sosok yang terhormat dan dikenal luas di berbagai negeri oleh karena Ibrahim berlaku dermawan terhadap penduduk Kana’an maupun orang-orang asing. Sekalipun Allah berjanji bahwa seluruh negeri Palestina diwariskan untuknya dan keturunannya sebagai tanah milik, Ibrahim tidak mengusir atau menyingkirkan penduduk yang tinggal di sekitar wilayahnya karena Ibrahim mengaku bahwa dirinya hanya pendatang di bumi yang diterima secara baik oleh Allah, sehingga Ibrahim menjadi sosok yang amat ramah menyambut para pendatang serta para pengembara yang singgah di rumahnya. Ibrahim juga mengenalkan ajaran iman kepada Allah ketika menerima para tamu dari berbagai negeri.

Allah tidak memerintahkan Ibrahim untuk menguasai negeri Palestina karena sosoknya yang memiliki kesetiaan sejati pada Allah disertai keimanan kuat sehingga ia mampu mempengaruhi penduduk negerinya dengan tidak sedikitpun mengalami pengurangan atau pelemahan iman akibat hidup di tengah-tengah mereka.

Setelah dianugerahi seorang putra dari Hajar, yakni Ismail, Ibrahim menerima perintah sunat sebagai jaminan bahwa ia akan memperoleh keturunan dari Sarah. Beberapa waktu setelah bersunat, Ibrahim menerima tamu istimewa tiga sosok malaikat berwujud tiga laki-laki, akan tetapi wujud ketiga malaikat ini berbeda dengan manusia yang selama ini ditemui Ibrahim, ia pun merasa asing dan bersegera mempersiapkan jamuan khusus bagi ketiganya. Ibrahim menghidangkan daging anak sapi yang dipanggang untuk mereka lalu para malaikat ini menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim bahwa Ishaq akan lahir untuknya dan Ya’qub disebut sebagai penerus Ishaq.[45] Ibrahim terkejut dengan kabar ini namun ia menyatakan tetap yakin terhadap janji Allah sementara Sarah merasa heran dan tertawa mendengar hal ini karena menganggap lucu bagi seorang wanita yang telah berumur tua untuk menimang seorang bayi.[46]

Ketika salah satu malaikat menyampaikan kabar bahwa ada bencana dahsyat yang segera menimpa kaum Luth; Ibrahim, yang menaruh belas kasihan terhadap kehidupan banyak orang walaupun mereka berdosa, menahan malaikat ini beranjak dari rumahnya seraya memohonkan supaya Allah memberi kesempatan bertobat untuk orang-orang berdosa sebelum ditumpas.[47] Malaikat itu menjawab bahwa keputusan ini telah mutlak bagi Allah oleh karena orang-orang berdosa itu telah diperingatkan oleh Luth[48] namun mereka tidak mengubah perilaku mereka yang keji bagi Allah.[49] Lalu Ibrahim memohonkan keselamatan bagi Luth beserta orang-orang yang beriman supaya mereka diluputkan ketika azab terjadi. Hal ini dikabulkan bagi seluruh pengikut Luth, terkecuali istri Luth.

Setelah Ishaq lahir, Ibrahim menyayangi dan mengistimewakan Ishaq, anak yang telah lama Allah janjikan sebagai penerusnya. Hajar dan Ismail yang merasa cemburu dengan perhatian Ibrahim terhadap Ishaq, berakibat Ibrahim memutuskan agar keduanya tinggal terpisah dengan Ishaq supaya tidak ada pertengkaran antara kedua putra Ibrahim; terlebih Allah telah menyatakan jauh sebelum Ismail dilahirkan, bahwa Ishaq telah tertulis sebagai penerus dan pewaris Ibrahim.

Penyembelihan Ismail[sunting | sunting sumber]

Ketika seorang putra Ibrahim telah mencapai usia dewasa, Allah hendak menguji kesetiaan Ibrahim terhadap perintah-perintahNya melalui sebuah mimpi tentang penyembelihan anak. Keimanan Ibrahim yang berhasil melaksanakan ujian-ujian sebelumnya sama sekali tidak berubah ketika menerima perintah ini. Ibrahim mengajak putranya pergi untuk melaksanakan perintah Allah, ia tidak sedikitpun mengeluh atau meminta keringanan dari Allah tentang perintah ini melainkan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan. Ketika Ibrahim membaringkan sang anak untuk perintah Allah, ia terlebih dahulu meminta tanggapan dan persetujuan dari sang anak. Ibrahim berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka sampaikanlah apa pendapatmu!" putranya menjawab, "Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; dengan perkenan Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."[50] di saat putranya telah merelakan diri dan Ibrahim bersiap mengulurkan tangan untuk menyembelih putranya, seketika Allah memanggil Ibrahim supaya menahan tangannya, sebab tindakan ini membuktikan bahwa Ibrahim bersedia melaksanakan apapun untuk Allah sebagai wujud hamba yang berbakti dan benar-benar terpercaya bagi Allah.[51] Ibrahim pun mendapati seekor domba besar sebagai kurban pengganti putranya.

Atas pengabdian yang sepenuhnya ini, maka Allah memberkahi Ibrahim dan Ishaq termasuk golongan nabi yang saleh; demikian pula Ya'qub sebagai penerus, sehingga ketiga sosok ini diistimewakan oleh Allah dengan buah tutur dan gelar yang terbaik di antara umat manusia yang pernah ada.[52] Ibrahim pun masih hidup untuk mendidik cucunya, Ya’qub, dan memberkahinya; sebelum meninggal dunia, Ibrahim juga mewariskan agama kepada putra-putranya beserta Ya’qub.[53]

Doa[sunting | sunting sumber]

Terdapat doa-doa yang dipanjatkan Ibrahim tercantum dalam Al-Qur’an, salah satunya ketika Ibrahim mendirikan Baitullah bersama Ismail, yang ditujukan untuk nasib generasi-generasi penerus mereka:[54]

...dan, ketika Ibrahim berdo'a, "Wahai Tuhanku, jadikan negeri ini negeri yang aman sentosa, dan karuniakan rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah maupun hari Akhir." Allah berfirman, "Dan kepada orang yang kafir pun Aku berikan kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani malapetaka Neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," dan ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo'a): "Wahai Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Wahai Tuhan kami, jadikan kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau
dan kiranya Engkau tunjukkan kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
Wahai Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Utusan dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Demikian pula doa Ibrahim di Surah Ibrahim:

Wahai Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Wahai Tuhanku, jadikan aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, Wahai Tuhan kami, perkenankan doaku.

Teladan[sunting | sunting sumber]

Nabi Ibrahim merupakan sosok teladan utama[55][56] bagi umat Islam dalam hal keimanan, pengabdian dan ketauhidan pada Allah. Nabi Muhammad juga mendapat anjuran melalui Firman Allah untuk mengikuti pribadi Ibrahim:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan yang patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali ia bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan[57]
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan ia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari kalian dan telah nyata antara kami dan kalian terdapat permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja." kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan untuk kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari Allah terhadap dirimu." (Ibrahim berkata): "Wahai Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Wahai Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Sesungguhnya pada mereka itu ada teladan yang baik untuk kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya, Maha Terpuji.[58]
Dan ketika Ibrahim menyatakan kepada bapaknya beserta kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak peduli terhadap yang kalian sembah, terkecuali Tuhan Yang Merancang diriku, Dialah yang akan menuntun diriku". dan ia menjadikan ini sebagai pedoman dasar pada penerusnya, supaya mereka berpulang.[59]
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah dituntun oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim bukanlah termasuk orang-orang musyrik".
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhannya semesta alam.
Tiada sekutu terhadap Dia; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".[60]

Perjalanan ibadah Haji dan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha yang dirayakan setiap tahun, merupakan bentuk penghormatan umat Muslim[61] di seluruh dunia terhadap pengabdian nabi Ibrahim dan nabi Ismail:

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir."[62]

Julukan[sunting | sunting sumber]

Khalilullah ( خلیلالله) adalah julukan istimewa yang diberikan oleh Allah untuk Ibrahim yang bermakna Kesayangan Allah:[63]

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. "

Dalam Al-Qur'an pula, Nabi Ibrahim disebut sebagai "Bapak Umat Muslim":[64]

Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian, agama sebagai suatu kesempitan. (Ikutilah) agama bapak leluhur kalian; Ibrahim. Dia telah menamai kalian sebagai golongan muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi terhadap dirimu dan supaya kalian menjadi saksi terhadap segenap manusia, maka dirikan sembahyang, tunaikan zakat dan berpeganglah kalian pada tali Allah; Dialah Pelindung kalian, maka Dialah sebaik-baik Pelindung serta sebaik-baik Penolong.

Shuhuf[sunting | sunting sumber]

Dalam Al-Qur’an disebutkan tentang lembaran-lembaran (shuhuf) Ibrahim yang setara dengan lembaran-lembaran Musa.[65]

6 Kami akan membacakan kepadamu maka kamu tidak akan lupa,
7 kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.
8 dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah,
9 oleh sebab itu berikan peringatan karena peringatan itu bermanfaat,
10 orang yang takut akan mendapat pelajaran,
11 sedangkan golongan yang celaka akan menjauhinya
12 yakni yang akan memasuki api yang besar,
13 kemudian ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.
14 Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri,
15 dan ia ingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang,
14 Tetapi kalian lebih memilih kehidupan duniawi,
17 Sedang kehidupan Akhirat adalah yang lebih baik serta abadi.
18 Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Lembaran-Lembaran terdahulu,
19 (yaitu) Lembaran-Lembaran Ibrahim dan Musa.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tercantum dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa:125 "...dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya."
  2. ^ Surah At-Taubah : 114
  3. ^ "Muhammad Sang Nabi" - Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail, karya Omar Hashem, Bab 1. Kondisi Geografis - Kafilah Nabi Ibrahim, Hal.9.
  4. ^ Kitab Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir
  5. ^ Kitab as-Silsilatu adh-Dhaifah.
  6. ^ Imam Ahmad berkata, Afwan telah menceritakan kepada kami, Jarir telah menceritakan kepada kami, Sumamah, pelayan Abu Fakah bin al-Mughirah telah menceritakan kepadaku, ia berkata: "Saya pernah menemui Aisyah. Saya melihat ada sebuah tombak yang bersandar di dalam rumahnya, maka aku bertanya: "Wahai Ummul Mukminin, Apa yang engkau perbuat dengan tombak ini?" Aisyah menjawab: "Tombak ini untuk membunuh tokek-tokek, sebab rasulallah telah menyampaikan hadist kepada kami: "Ketika Ibrahim dilemparkan kedalam api, maka semua hewan dimuka bumi ini berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek yang berusaha meniupnya. Maka rasulallah memerintahkan kepada kami untuk membunuhnya." Hadits riwayat Ibnu Majah dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Yunus dari Muhammad dari Jarir bin Hazim.
  7. ^ Suatu hari ketika Ibrahim telah dekat dengan rumahnya, ia mendapati gundukan pasir dan memenuhi kedua kantungnya dengan pasir tersebut seraya berkata: “Bila aku telah sampai kepada keluargaku, maka aku akan menghiburkan mereka (dengan pasir ini).” Ketika sampai di rumah dan bertemu dengan keluarganya, Ibrahim kemudian meletakan barang bawaan, lalu berbaring dan tidur. Selanjutnya istrinya, Sarah berdiri dan melihat kedua kantung yang dibawa suaminya, ternyata keduanya berisi bahan makanan. maka ia segera memasaknya dan menyajikannya sebagai makanan. Kisah ini ditulis pada kitab "Qashash al-Anbiyaa" (Kisah Para Nabi dan Rasul), Kisah Nabi Ibrahim Al-Khalil, Perdebatan Ibrahim al-Khalil dengan Orang yang berusaha Merampas Izari al-Adhamah (Pakaian Keagungan) dan Rida’ al-Kibriya’ (Selendang Kesombongan) dari al-Adhim al-Jalil, hal. 204-205. Karya Ibnu Katsir, tahqiq hadits Syekh Al-Albani.
  8. ^ Surah Al-A'raf : 54, Surah Ibrahim : 33, Surah An-Nahl : 12, Surah Luqman : 20, Surah Fatir : 13 Surah Al-Jasiyah : 13
  9. ^ Surah Asy-Syu'ara: 78
  10. ^ Surah Al-Ankabut: 8
  11. ^ Surah Al-Baqarah: 30
  12. ^ Surah At-Tahrim: 9
  13. ^ Surah Al-Maidah: 54
  14. ^ Surah Al-Anbiya' : 57-58
  15. ^ Surah Al-Anbiya' : 59-60
  16. ^ Surah Al-Anbiya' : 62-67
  17. ^ Surah Al-A'raf: 179
  18. ^ Surah As-Saffat : 97-98. Surah Al-'Ankabut|Surah Al-Ankabut : 24 Surah Al-Anbiya' : 68
  19. ^ Surah Al-Imran: 173
  20. ^ Surah Asy-Syura: 8
  21. ^ Surah Yunus: 19
  22. ^ Surah Asy-Syura: 21
  23. ^ Surah Al-Baqarah: 131
  24. ^ Surah Al-Baqarah: 213
  25. ^ Surah Hud: 118-119
  26. ^ Surah Az-Zukhruf: 26-28
  27. ^ Surah Al-'Ankabut : 25
  28. ^ Surah Az-Zukhruf : 26-30
  29. ^ Surah Al-Mumtahanah : 3-6
  30. ^ Surah Al-Baqarah : 260
  31. ^ Surah Maryam : 42-48
  32. ^ Surah Al-Mumtahanah : 3-4
  33. ^ Surah At-Taubah : 113-114
  34. ^ Surah Al-'Ankabut : 26, Surah Al-Anbiya' : 71
  35. ^ Surah Az-Zukhruf : 27, Surah Al-Mumtahanah : 4-6
  36. ^ Surah Al-Ankabut: 69
  37. ^ Surah At-Taubah: 20
  38. ^ Surah Al Imran: 195
  39. ^ Surah An-Nahl: 110
  40. ^ Surah Al-Anbiya : 105
  41. ^ Surah Al-Anbiya: 71
  42. ^ Surah Al-Hajj: 58
  43. ^ Surah An-Nahl: 41
  44. ^ Surah Al-Hujurat : 10
  45. ^ Surah Hud : 69-70, Surah Al-Hijr : 51-56, Surah Az-Zariyat : 24-28
  46. ^ Surah Hud : 71-73, Surah Az-Zariyat : 29-30
  47. ^ Surah Hud : 74-76
  48. ^ Surah Al-Ankabut : 28-30
  49. ^ Surah Al-Ankabut : 31-32
  50. ^ Surah As-Saffat : 102-105
  51. ^ Surah Al-At-Taubah: 24
  52. ^ Surah Shaad : 45-47, Surah As-Saffat : 112-113, Surah Al-An'am : 84, Surah Maryam : 49-50, Surah Al-Anbiya' : 72-73, Surah Al-'Ankabut : 27
  53. ^ Surah Al-Baqarah : 132
  54. ^ Surah Al-Baqarah : 126-129
  55. ^ Surah Al-Baqarah : 135, Surah Al-'Imran : 95, Surah An-Nahl : 123, Surah Al-Mumtahanah : 4-6
  56. ^ Surah Al-Baqarah : 124
  57. ^ Surah An-Nahl : 120
  58. ^ Surah Al-Mumtahanah : 4-6
  59. ^ Surah Az-Zukhruf: 26-28
  60. ^ Surah Al-An'am : 161-163
  61. ^ Surah Al-'Imran : 95-97
  62. ^ Surah Al-Hajj : 26-30
  63. ^ Surah An-Nisa' : 125
  64. ^ Surah Al-Hajj : 78
  65. ^ Surah Al-A'la : 6 - 19

Pranala luar[sunting | sunting sumber]