Syits

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Syits dalam kaligrafi Arab

Syits adalah seorang nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir. Nabi Syits adalah putra Nabi Adam dan tidak termasuk dalam 25 nabi yang wajib diimani. Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam Qashash al-Anbiyaa yang diterjemahkan oleh Saefullah MS, Syits artinya anugerah Allah. Nama tersebut diberikan karena Nabi Adam AS dan Siti Hawa mendapatkan karunia putra tersebut setelah terbunuhnya Habil di tangan saudaranya sendiri, Qabil.

Taaj Langroodi mengatakan dalam buku Akhlak Para Nabi, Syits lahir lima tahun setelah Habil dibunuh oleh Qabil, yakni 235 tahun setelah Adam diturunkan dari langit ke bumi. Adapun, menurut sebuah riwayat (mutawatir), Syits adalah keturunan Adam, sedangkan Yafith adalah saudara seimannya.[1]

Saat Nabi Syits dilahirkan, Nabi Adam berusia 930 tahun. Wasiat diberikan kepadanya karena beliau memiliki kelebihan dari segi keilmuan, kecerdasan, ketakwaan, dan kepatuhan dibanding anak Nabi Adam yang lain.

Begitu mulia Nabi Syits hingga ia diamanahkan untuk menjaga Nur Rasulullah sampai akhir hayatnya. Allah juga menunjuk Syits sebagai nabi dan menurunkan atasnya lima puluh sahifah (lembaran) yang didalamnya terdapat dalil-dalil, hukum, sunah, fardu, serta syariat-syariat dan batasan hukum Allah.[2]

Kisah[sunting | sunting sumber]

Kisah awal kelahiran Nabi Syits sendiri memang bermula dari peristiwa pembunuhan Qabil terhadap Habil. Qabil bisa disebut sebagai awal mula angkara murka di muka bumi setelah Nabi Adam diturunkan ke dunia.

Setelah Adam mengetahui Habil terbunuh, selama setahun dia tidak tertawa dan tidak bergaul dengan Hawa. Maka, Allah berfirman kepadanya: “Hai Adam, sampai kapan tangisan dan kesedihan ini? Sesungguhnya Aku akan memberikan pengganti dari anak itu untukmu dengan anak yang terpercaya dan akan menjadi nabi, dan dari keturunannya akan Kujadikan para nabi hingga Hari Kiamat.Tandanya adalah dia akan dilahirkan sendirian, tidak mempunyai saudara sekandung. Apabila lahir anak itu, namailah dia Syits.”

Ketika Hawa mengandung sang anak yakni Syits, kandungannya tidak terasa berat dan dia melahirkannya tanpa dengan susah payah. Hawa melahirkan Syits beberapa tahun setelah terjadinya pembunuhan Habil oleh saudaranya sendiri, Qabil.

Dalam Kitab Qasas al-Anbiya sebagaimana diceritakan Salim Umar Alatas disebutkan, Nabi Adam sempat menderita sakit selama 11 hari sebelum wafat. Saat masih sakit, Nabi Adam berwasiat kepada Syits untuk meneruskan wasilah kenabian. Syits menerima beberapa wasiat dari ayahnya termasuk perintah untuk memerangi Qabil yang durjana. Nabi Adam memberitahukan Syits tentang akan terjadinya topan dan kehancuran alam. Selain itu diajarkan pula kepadanya tentang waktu-waktu ibadah dalam sehari semalam.

Dikeluarkan juga seutas tali dari sutera yang memuat gambaran tentang para nabi dan orang-orang yang akan menguasai dunia. Tali tersebut diturunkan kepada Adam dari surga dan diberikannya kepada Syits untuk dilipat dan disimpan di dalam tabut (sejenis peti) yang harus terkunci.

Adam lalu mencabut beberapa lembar rambut dari janggutnya dan meletakkannya ke dalam tabut sambil berkata, “Hai anakku, ambillah rambut-rambut ini, dan bawalah bersamamu ketika menghadapi urusan yang penting. Rambut-rambut ini akan membantumu mengalahkan musuh selama masih ada bersamamu. Apabila engkau melihat rambut-rambut tersebut memutih, maka ketahuilah bahwa ajalmu telah dekat dan engkau akan meninggal pada tahun itu. Kemudian Nabi Adam mencopot cincinnya dan memberikannya kepada Syits serta menyerahkan tabut dan suhuf yang telah diturunkan kepadanya. Adam berkata, “Wahai anakku, perangilah saudaramu, Qabil. Sesungguhnya Allah akan menolongmu untuk mengalahkannya.”

Demikianlah wasiat terakhir yang disampaikan oleh Adam kepada anaknya, Syits. Hal itu kemudian berujung pada peperangan pertama di muka bumi setelah Nabi Adam diturunkan ke dunia. Dalam peperangan tersebut, Qabil kalah dan akhirnya menjadi tawanan. Kedua tangan Qabil dibelenggu ke atas pundak dan ia ditahan ditempat yang sangat panas hingga meninggal.[3]

Suhuf[sunting | sunting sumber]

Menurut sebuah riwayat yang berasal dari Abu Dzar, Muhammad bersabda, "Sesungguhnya, Allah menurunkan seratus empat suhuf (lembaran). Sebanyak lima puluh suhuf diturunkan kepada Syits." (HR Ibnu Hibban)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa Muhammad bin Ishaq berkata, "Ketika Adam hendak wafat, beliau berwasiat kepada putranya, Syits, dan mengajarkan kepadanya waktu malam dan siang. Adam juga mengajarinya ibadah pada waktu-waktu tersebut dan memberitahukan kepadanya akan terjadi angin topan setelah itu."

Dalil yang menerangkan tentang turunnya suhuf dan kitab terdahulu ini disebutkan dalam surah Al A'la ayat 18-19. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa."

Isi suhuf Nabi Syits menerangkan seputar dalil-dalil Allah, fardu-fardu, hukum-hukum, sunnah-sunnah, syariat-syariat, dan batasan-batasan hukum-Nya. Nabi Syits kemudian membacakan isi kandungan suhuf yang diterimanya dan mengajarkannya kepada Bani Adam.

Masih merujuk pada buku Akhlak Para Nabi, terdapat 16 nasihat yang diucapkan oleh Syits bin Adam supaya seorang mukmin memiliki kualitas atau keunggulan diri, sebagai berikut:

  • Mengenal Allah, para malaikat-Nya dan menaati-Nya.
  • Mengenali kebaikan dan keburukan. Adapun kebaikan, hendaklah diraih (dicita-citakan), sedangkan keburukan hendaklah menjauh darinya.
  • Mendengarkan dan menaati perintah penguasa (raja) penyayang yang Allah telah diangkat Allah sebagai khalifah di bumi dan menguasakannya untuk memerintah negeri dan hamba-hamba-Nya.
  • Berbuat baik kepada kedua orang tua.
  • Melaksanakan yang ma'ruf berdasarkan kemampuan yang dimiliki.
  • Memperhatikan nasib kaum papa.
  • Intoleransi terhadap orang asing (musuh agama).
  • Berani dalam menaati Allah.
  • Menjaga diri dari melakukan kejahatan.
  • Bersabar karena mempertahankan iman dan keyakinan.
  • Jujur dalam bertutur kata.
  • Berlaku adil.
  • Bersikap warak dalam urusan duniawi.
  • Berkorban dan mendekatkan diri sebagai bukti ucapan terima kasih kepada Allah yang Mahatinggi atas segala pemberian-Nya dari kenikmatan kepada ciptaan-Nya.
  • Berlaku lemah lembut (al-hilm) dan memuji Allah yang Mahatinggi atas segala musibah (cobaan) dunia tanpa harus mempertunjukkan ketidaksabaran diri.
  • Memiliki rasa malu dan sedikit berdebat (berbicara yang menimbulkan emosi).

Selain Nabi Syits, Allah SWT juga menurunkan suhuf kepada Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Ibrahim, dan Nabi Musa. Menurut H. Masan dalam buku Pendidikan Agama Islam: Akidah Aklak, masing-masing menerima 10 suhuf, 30 suhuf, 10 suhuf, dan 10 suhuf.[1]

Kehidupan selanjutnya[sunting | sunting sumber]

Nabi Syits tumbuh sebagai pribadi yang memiliki akhlak mulia. Beliau bahkan diutus menjadi nabi dengan membawa ajaran yang Allah berikan padanya. Hingga Allah mengirimkan sosok bidadari yang cantik dan rupawan kepadanya. Syits pun memilih bertempat tinggal di Mekkah agar bisa melakukan ritual haji dan umrah di sana. Dia membangun kembali Ka'bah dengan lumpur kental dan tumpukan bebatuan.

Mengutip buku Akhlak Para Nabi: Dari Adam Hingga Muhammad oleh Taaj Langroodi, ketika jatuh sakit dan menjelang ajalnya, Syits menetapkan putranya, Anush, sebagai pelaksana wasiatnya. Syits meninggal pada usia 912 tahun dan dikuburkan di samping makam orang tuanya, di dalam Gua Gunung Abu Qubais.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]