Lompat ke isi

Pengikatan Ishak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Abraham dan Ishak, Rembrandt, 1634
Pengurbanan Ishak karya Caravaggio

Pengikatan Ishak (Ibrani: עֲקֵידַת יִצְחַק‎, romanisasi: ʿAqēḏaṯ Yīṣḥaq), atau hanya "Pengurbanan" (הָעֲקֵידָה‎, hāʿAqēḏā), dan Akedah atau Aqedah,[1][2] adalah sebuah kisah dari bab 22 Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani. Dalam narasi Alkitab, Allah memerintahkan Abraham untuk mengorbankan putranya, Ishak, di gunung yang disebut Jehovah-jireh di wilayah Moria. Ketika Abraham mulai menuruti perintah tersebut, setelah mengikat Ishak di sebuah altar, ia dihentikan oleh Malaikat Tuhan; seekor domba jantan muncul dan disembelih menggantikan Ishak, sebagai tanda pujian Allah atas ketaatan Abraham yang saleh untuk mempersembahkan putranya sebagai kurban manusia.

Terutama dalam seni, episode ini sering disebut Pengorbanan Ishak, meskipun pada akhirnya Ishak tidak dikorbankan. Berbagai cendekiawan berpendapat bahwa kisah asli Abraham dan Ishak mungkin merupakan kisah pengorbanan manusia yang telah selesai, yang kemudian diubah oleh para redaktur untuk menggantikan Ishak dengan seekor domba jantan, dan beberapa tradisi, termasuk beberapa interpretasi Yahudi dan Kristen, menyatakan bahwa Ishak benar-benar dikorbankan. Selain dibahas oleh para cendekiawan modern, episode Alkitab ini telah menjadi fokus banyak komentar dalam sumber-sumber tradisional Yudaisme, Kristen, dan Islam.

Penjelasan Alkitab

[sunting | sunting sumber]
Allah memerintahkan Abraham untuk menjadikan putranya Ishak sebagian kurban, Domenichino

Menurut Alkitab Ibrani, Allah memerintahkan Abraham untuk menjadikan putranya Ishak sebagai kurban (Kejadian 22:2–8). Setelah Ishak diikat di sebuah altar, malaikat Allah menghentikan Abraham pada menit terakhir dan berkata "sekarang Aku tahu kamu takut Allah." Pada saat itu, Abraham melihat seekor domba jantan yang terjerat semak dan mengurbankan domba jantan tersebut menggantikan Ishak.

Kitab Kejadian tidak menyebutkan usia Ishak pada waktu itu. Catatan Talmud mengajarkan bahwa Ishak berusia tiga puluh tujuh tahun, berdasarkan pada cerita Alkitab berikutnya, di mana Sarah meninggal pada usia 127 tahun (Kejadian 23:1), yang berusia 90 tahun ketika Ishak lahir (Kejadian 17:17, Kejadian 17:21).

Kejadian 22:14 menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di "gunung Allah". 2 Tawarikh 3:1; Mazmur 24:3; Yesaya 2:3 & Yesaya 30:29; dan Zakharia 8:3, menyatakan bahwa lokasi peristiwa tersebut berada di bukit di mana Salomo kemudian membangun Bait Allah, yang sekarang dipercaya menjadi Kompleks al-Haram di Yerusalem.

Pandangan Muslim

[sunting | sunting sumber]
Pengorbanan Ibrahim. Timurid Antologi, 1410–11
Abraham dan Ismail, abad ke-19. Museum Brooklyn.

Versi dalam Al-Quran berbeda dari versi dalam Kitab Kejadian dalam dua aspek: identitas anak yang dikorbankan dan reaksi anak tersebut terhadap pengorbanan yang diminta. Dalam sumber-sumber Islam, ketika Abraham menceritakan penglihatan tersebut kepada putranya, putranya setuju untuk dikorbankan demi pemenuhan perintah Allah, dan tidak terjadi pengikatan ke altar. Al-Quran menyatakan bahwa ketika Abraham meminta seorang anak yang saleh, Allah menganugerahkannya seorang anak yang memiliki kesabaran.[3] Putra yang disebutkan di sini secara tradisional dipahami sebagai Ismail. Ketika putranya mampu berjalan dan bekerja bersamanya, Abraham melihat sebuah penglihatan tentang pengorbanannya. Ketika ia menceritakan hal itu kepada putranya, putranya setuju untuk memenuhi perintah Allah dalam penglihatan tersebut. Ketika mereka berdua telah menyerahkan kehendak mereka kepada Allah dan siap untuk pengorbanan, Allah memberi tahu Abraham bahwa Ia telah memenuhi penglihatan itu, dan memberinya seekor domba jantan untuk dikorbankan sebagai gantinya. Allah berjanji untuk memberi pahala kepada Abraham.[4] Ayat-ayat selanjutnya menyatakan bahwa Allah juga menganugerahkan kepada Abraham putra yang saleh Ishak dan menjanjikan pahala yang lebih besar.[5]

Di antara para cendekiawan Muslim awal, terdapat perselisihan mengenai identitas putra tersebut. Satu pihak berpendapat bahwa putra tersebut adalah Ishak, bukan Ismail (terutama Ibnu Qutaibah dan al-Tabari)[6] yang menafsirkan ayat "Sesungguhnya Allah menyempurnakan rahmat-Nya kepada Abraham dan Ishak" sebagai bukti bahwa Ia menjadikan Abraham sebagai orang terdekatnya, dan bahwa Ia menyelamatkan Ishak. Pihak lain berpendapat bahwa janji kepada Sarah adalah tentang seorang putra, Ishak, dan seorang cucu, Yakub (Quran 11:71–74)[butuh sumber yang lebih baik] mengesampingkan kemungkinan kematian dini Ishak. Meskipun demikian, sebagian besar Muslim percaya bahwa yang sebenarnya meninggal adalah Ismail, bukan Ishak, meskipun ada perselisihan.[6]

Ketundukan Abraham dan putranya dirayakan dan diperingati oleh umat Islam pada hari-hari Idul Adha. Selama perayaan ini, mereka yang mampu dan yang sedang berhaji menyembelih seekor domba jantan, sapi, domba, atau unta. Sebagian daging kurban dimakan oleh seluruh penghuni rumah dan sisanya dibagikan kepada tetangga dan yang membutuhkan. Perayaan ini menandai berakhirnya ibadah haji ke Mekah.

Dalam Islam, situs al-Marwah dekat Ka'bah dinyatakan sebagai Moriah yang disebutkan dalam Kejadian 22:2.

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]