Suku Simeon
Artikel ini terlalu bergantung pada referensi dari sumber primer. |
Suku Simeon (bahasa Ibrani: שבט שִׁמְעוֹן Shevet Shim'on, Šḗḇeṭ Šimʻôn; bahasa Inggris: Tribe of Simeon) adalah salah satu dari kedua belas suku Israel, yang berasal dari Simeon, anak kedua Yakub dan Lea. Nama "Simeon" berasal dari akar kata Ibrani "shama", yang berarti "mendengar". Lea memberi nama ini karena ia merasa bahwa Tuhan telah mendengar keluhannya sebagai istri yang kurang dicintai (Kejadian 29:33). Namun, dalam perjalanan sejarah Israel, suku ini justru menjadi salah satu yang paling "senyap" atau kurang menonjol dalam narasi besar bangsa Israel.

Simeon, sang leluhur, dikenal dalam kisah Alkitab karena kemarahannya yang membara. Bersama saudaranya Lewi, ia membalas dendam atas kehormatan saudara perempuannya, Dina, dengan menyerang kota Sikhem secara brutal (Kejadian 34). Akibat dari tindakan ini, Yakub, sebelum wafat, memberikan “berkat” yang lebih mirip dengan teguran: “Aku akan membagi mereka di antara Yakub, dan menyerakkan mereka di antara Israel” (Kejadian 49:7). Nubuat ini menjadi kenyataan dalam sejarah sukunya.
Ketika tanah dibagi-bagikan kepada suku-suku Israel, Suku Simeon menerima bagian di dalam wilayah Suku Yehuda (Yosua 19:1–9). Artinya, mereka tidak mendapat wilayah yang benar-benar mandiri. Seiring waktu, banyak dari mereka menyatu secara kultural dan geografis dengan Yehuda, dan identitas mereka perlahan-lahan memudar. Dalam sejarah kemudian, Suku Simeon jarang disebut, dan kontribusinya terhadap peristiwa besar dalam kehidupan bangsa Israel pun relatif kecil dibandingkan suku-suku lain.
Namun, bukan berarti Suku Simeon sepenuhnya hilang dari catatan rohani. Dalam beberapa bagian Alkitab, mereka tetap tampil, meskipun singkat. Dalam 1 Tawarikh 4, kita menemukan bahwa mereka memiliki keturunan yang berani dan menjadi penakluk daerah-daerah baru di masa Raja Hizkia. Ini menunjukkan bahwa meski kecil dan tersembunyi, mereka tetap memiliki peran dalam pemeliharaan umat Allah.
Wilayah
[sunting | sunting sumber]Suku Simeon menerima daerah kepunyaan mereka menurut undian yang ke-2 pada zaman Yosua. Milik pusaka mereka ada di tengah-tengah milik pusaka bani Yehuda. Sebagai milik warisan mereka menerima: Bersyeba, Syeba, Molada, Hazar-Sual, Bala, Ezem, Eltolad, Betul, Horma, Ziklag, Bet-Hamarkabot, Hazar-Susa, Bet-Lebaot dan Saruhen: tiga belas kota dengan desa-desanya. En-Rimon, Eter, dan Asan: empat kota dengan desa-desanya; juga segala desa di sekeliling kota-kota tadi, sampai ke Baalat-Beer, yakni Rama yang di Tanah Selatan. Itulah milik pusaka suku bani Simeon menurut kaum-kaum mereka. Milik pusaka bani Simeon diambil dari bagian bani Yehuda. Karena bagian bani Yehuda itu terlalu besar bagi mereka, maka bani Simeon menerima milik pusaka di tengah-tengah mereka.[1]
Wasiat Yakub
[sunting | sunting sumber]Kejadian 49:5–7: "Terkutuklah kemarahan mereka (Simeon dan Lewi bersaudara), sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel." Kenyataannya, suku Simeon mendapatkan daerah di dalam wilayah suku Yehuda, kemudian kehilangan identitas daerahnya dan menyebar di antara suku-suku lain sampai termasuk 10 suku Israel yang hilang.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Ketika keluarga-keluarga mereka makin bertambah banyak, mereka pindah ke arah Gedor sampai ke sebelah timur lembah untuk mencari padang rumput bagi kambing domba mereka. Mereka menemui padang rumput yang gemuk dan baik; negeri itu luas, aman dan sentosa. Dalam zaman Hizkia, raja Yehuda, mereka datang memusnahkan kemah-kemah orang Ham dan orang Meunim yang terdapat di sana dan menumpas mereka. Kemudian mereka menduduki tempat orang-orang itu, sebab di sana ada padang rumput bagi kambing domba mereka.[2]
Dan sebagian dari mereka, dari bani Simeon, sebanyak 500 orang, pindah ke pegunungan Seir. Sebagai kepala mereka ialah Pelaca, Nearya, Refaya dan Uziel, anak-anak Yisei. Mereka membinasakan sisa orang Amalek yang telah meluputkan diri. Lalu mereka diam di sana.[3]
Sebagai bagian dari Kerajaan Yehuda, suku Simeon turut dibuang ke Babel. Ketika pembuangan berakhir, suku ini melebur bersama sisa suku-suku lain menjadi orang Yahudi.