Salat Isya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Isya atau salat Isya[1] adalah salah satu salat dari salat lima waktu yang dilakukan setelah awan merah di ufuk barat menghilang sampai menjelang terbitnya matahari.[2] Salat ini terdiri dari 4 rakaat. Salat Isya ialah salat harian ke-5 dalam Islam, dilakukan setelah awan merah di ufuk barat menghilang sampai menjelang terbitnya matahari.[2]

Salat rawatib[sunting | sunting sumber]

Salat Isya sebagai salah satu salat wajib memiliki salat sunah pengiring atau rawatib sebanyak dua rakaat setelah Salat Isya dilaksanakan. Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan bahwa Salat Sunah Rawatib setelah Salat Isya adalah salat sunnah muakad yang berarti salat sunah ini sering dilaksanakan dan sangat dianjurkan pelaksanaannya oleh Nabi Muhammad SAW.[3]

Waktu pelaksanaan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan perintah Quran, hadits Nabi Muhammad SAW, dan kesepakatan jumhur ulama, waktu pelaksanaan Salat Isya dimulai ketika mega merah mulai menghilang di ufuk barat.[4] Ketentuan mengenai awal waktu Isya terdapat beragam pendapat dari tiap-tiap otoritas agama Islam di pelbagai negara dan para ulama. Beberapa Lembaga keislaman seperti Liga Dunia Islam, Diyanet (otoritas keagamaan Islam di Turki bersepakat bahwa waktu Isya dimulai ketika matahari berada pada posisi 17° di bawah ufuk barat. Sementara itu, Kemenag RI, Majelis Tarjih Muhammadiyah, Jakim (otoritas keagamaan Islam di Malaysia), Universitas Ilmu Islam Karachi dan Majelis Ulama Singapura menyepakati bahwa awal waktu Isya adalah ketika matahari berada pada 18° di bawah ufuk barat. Selain itu, terdapat beberapa pandangan lain seperti Otoritas Umum Mesir yang berpandangan bahwa awal waktu Isya adalah ketika matahari berada pada posisi 17,5° di bawah ufuk barat, Organisasi ISNA di Amerika Utara yang menetapkan bahwa awal waktu Isya bermula ketika matahari berada pada posisi 15° di bawah ufuk barat, dan Organisasi Muslim Perancis yang menetapkan bahwa awal waktu Isya bermula saat matahari berada pada posisi 12° di bawah ufuk barat.

Perhitungan waktu[sunting | sunting sumber]

Berikut merupakan contoh dari penghitungan awal waktu Salat Isya di wilayah DKI Jakarta pada tanggal 31 Januari 2020 dengan data diketahui adalah

  • lintang (φ) = -6,167 (6°10' LS)
  • bujur (λ) = 106,833 (106°50')
  • zona waktu (Z) = UTC+7 (WIB)
  • deklinasi matahari (δ) = -18,5341 atau -18°32'02,76"[a]
  • perata waktu (Δt) = 0,225362 atau 0°13'31,30"[a]
  • waktu zenit atau transit matahari () = 12,103162 atau 12°06'11,38"[a]
  • waktu ihtiyat (WI) = 2 menit
  • perhitungan awal waktu Isya berdasarkan ketetapan Kemenag RI yaitu 18° di bawah ufuk barat.

Data-data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung awal waktu Salat Isya. Namun sebelum menghitung awal waktu Subuh, perlu diketahui waktu ketika matahari berada di posisi 18° di bawah ufuk barat dengan rumus perhitungan berikut:

yang bila dikonversi ke derajat, menit, dan detik menghasilkan 7°25'23,36".

Dengan hasil tersebut, maka awal waktu Salat Isya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

yang bila dikonversikan ke derajat, menit, dan detik menghasilkan 19°31'34,74".

Setelah memperoleh hasil perhitungan tersebut, waktu ihtiyat sebanyak 2 menit (0°02'00") ditambahkan guna kehati-hatian. Oleh karenanya, diperoleh hasil akhir yaitu 19°33'34,74" yang dibulatkan menjadi 19.34. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa awal waktu Salat Isya di DKI Jakarta pada tanggal 31 Januari 2020 adalah pukul 19.34 WIB. [b]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Data ini merupakan hasil perhitungan deklinasi matahari, perata waktu (equation of time), dan waktu zenit hanya untuk tanggal 31 Januari 2020 dan data ini selalu berubah setiap tanggalnya
  2. ^ Harap diingat bahwa hasil perhitungan ini bukan merupakan hasil perhitungan resmi dari suatu lembaga atau otoritas keagamaan manapun sehingga hasil perhitungan ini dapat memiliki selisih satu hingga dua menit dengan jadwal salat resmi yang telah ditetapkan oleh Kemenag RI atau otoritas keagamaan lainnya.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nama salat ini disebut dengan Isya
  2. ^ a b Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia "Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-27. Diakses tanggal 2024-02-19. 
  3. ^ "Salat Sunnah yang Utama". Redaksi Muhammadiyah. 2020. 
  4. ^ "Buku Saku Hisab & Rukyat" (PDF). Kementerian Agama Republik Indonesia. 2013.