Air minum

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Air minum merupakan air untuk konsumsi makhluk hidup.
Kini air minum dapat disajikan dalam bentuk botol yang dikenal sebagai air mineral.

Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia dan aman diminum. Jumlah air minum yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan yang baik bervariasi, dan tergantung pada tingkat aktivitas fisik, usia, masalah yang berhubungan dengan kesehatan, dan kondisi lingkungan.[1]

Pada 2017, sebanyak 71% penduduk dunia memiliki akses air minum yang tersedia setiap saat dan bebas kontaminasi dan 90% penduduk dunia setidaknya memiliki akses air minum mendasar yang setidaknya dapat dijangkau dalam kurang dari 30 menit.[2] Bahkan, sebanyak 785 juta orang tidak memiliki layanan air minum dasar, termasuk 144 juta orang yang bergantung pada air permukaan. Lebih lanjut berdasarkan data global, setidaknya 2 miliar orang menggunakan sumber air minum yang terkontaminasi tinja. Air yang tercemar ini dapat menularkan penyakit seperti diare, kolera, disentri, tipus, dan polio. Air minum yang terkontaminasi diperkirakan menyebabkan 485.000 kematian akibat diare setiap tahun.[2]

Konsumsi[sunting | sunting sumber]

Kebutuhan minum[sunting | sunting sumber]

Jumlah air minum yang dibutuhkan per hari bervariasi.[1] Kebutuhan ini tergantung pada aktivitas fisik, usia, kesehatan, dan kondisi lingkungan. Di Amerika Serikat, asupan air yang diperlukan berdasarkan asupan rata-rata, adalah 3,7 liter (130 imp fl oz; 130 US fl oz) per hari untuk pria yang berusia lebih dari 18 tahun, dan 2,7 liter (95 imp fl oz; 91 US fl oz) per hari untuk wanita yang berusia lebih dari 18 tahun. Angka kecukupan air tersebut didapatkan dari minuman (80%) dan makanan (20%).[3]

Otoritas Keamanan Makanan Eropa merekomendasikan 2,0 liter (70 imp fl oz; 68 US fl oz) total air per hari untuk wanita dewasa dan 2,5 liter (88 imp fl oz; 85 US fl oz) per hari untuk pria dewasa.[4] Adapun saran yang umum terkait meminum 8 gelas (64 US fl oz (1.900 mL)) air putih per hari tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan. Namun, rasa haus seseorang memberikan panduan yang lebih baik terkait berapa banyak air yang mereka butuhkan daripada jumlah ketetapan tertentu.[5] Aktivitas fisik dan terkena paparan panas dapat menyebabkan hilangnya air dalam tubuh sehingga menyebabkan rasa haus dan kebutuhan asupan air yang lebih banyak.[6] Institut Kedokteran Akademi Nasional Amerika memberikan rekomendasi dalam laporannya bahwa wanita cukup terhidrasi dengan mengkonsumsi rata-rata sekitar 2,7 liter (91 ons) total air yang didapatkan dari semua minuman dan makanan setiap hari. Sementara untuk pria, rata-rata dapat mengonsumsi sekitar 3,7 liter (125 ons) setiap hari. Bahkan, mereka yang sangat aktif secara fisik atau yang tinggal di iklim panas mungkin perlu mengonsumsi lebih banyak air.[6]

Pengaruh air minum terhadap asupan nutrisi mineral juga belum diketahui secara jelas. Mineral anorganik umumnya masuk ke air permukaan dan air tanah melalui limpasan air hujan atau melalui kerak bumi. Proses pengolahan juga mengarah pada keberadaan beberapa mineral. Contohnya termasuk kalsium, seng, mangan, fosfat, fluorida dan senyawa natrium.[7]

Keseimbangan cairan dalam tubuh adalah sebuah hal yang sangat penting. Keringat yang banyak dapat meningkatkan kebutuhan akan penggantian elektrolit (garam). Keracunan air (yang mengakibatkan hiponatremia), proses mengkonsumsi air terlalu banyak terlalu cepat, bisa berakibat fatal.[8] Air membentuk sekitar 60% dari berat badan pada pria dan 55% dari berat pada wanita.[9] Bayi terdiri dari sekitar 70% sampai 80% air sedangkan orang tua terdiri dari sekitar 45%.[10]

Kebutuhan rumah tangga[sunting | sunting sumber]

Kebutuhan air per jiwa setiap harinya menurut SNI 19-6728.1-2002 tentang Penyusunan Neraca Sumber Daya tercantum 150 L/jiwa/hari pada kota berpenduduk 1 juta jiwa. Demikian pula berdasarkan acuan dari Departemen Kesehatan yang menyebutkan bahwa kebutuhan air bersih per jiwa perhari adalah 150 Liter.[11]

Persediaan[sunting | sunting sumber]

Diagram berbagai jenis sumur air

Berdasarkan data yang dirilis WHO, sumber air yang dapat diakses 19% penduduk dunia berada pada kondisi tidak aman. Selain itu 829.000 orang setiap tahun meninggal dikarenakan diare akibat air yang tidak aman dan sanitasi yang buruk. Berdasarkan data Bappenas tahun 2018 akses air minum layak di Indonesia adalah sebesar 87,75% dengan 6,8% adalah akses air minum aman.[12]

Mata air sering digunakan sebagai sumber air minum kemasan. Mata air mengalir secara alami ke permukaan bumi dari formasi bawah tanah. Dengan demikian, sekitar 75 persen dari air kemasan yang dijual di Amerika Serikat berasal dari mata air. Sementara 25 persen lainnya berasal dari pasokan air kota.[13] Air keran, yang disalurkan oleh sistem air domestik mengacu pada air yang disalurkan ke rumah-rumah dan dikirim ke keran atau keran. Agar sumber-sumber air ini dapat dikonsumsi dengan aman, mereka harus mendapatkan pengolahan yang memadai dan memenuhi peraturan air minum. Kini, peraturan yang digagas tidak hanya terkait disinfeksi yang tepat, tetapi juga kontrol yang cermat terhadap produk sampingan disinfeksi.[14]

Akibat investasi awal terlalu tinggi, banyak negara dengan pendapatan rendah tidak mampu mengembangkan atau mempertahankan infrastruktur yang sesuai. Sehingga orang-orang di daerah ini membelanjakan sebagian kecil dari pendapatan mereka untuk mendapat akses terhadap air.[15] Statistik tahun 2003 dari El Salvador menunjukkan bahwa 20% rumah tangga kalangan bawah menghabiskan lebih dari 10% dari total pendapatan mereka untuk air. Sementara itu, pihak berwenang di Inggris Raya mengungkapkan adanya pengeluaran lebih dari 3% dari pendapatan seseorang untuk mendapatkan air karena adanya kesulitan akses.

Kualitas[sunting | sunting sumber]

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2017, air minum yang aman adalah air yang tidak memiliki risiko signifikan terhadap kesehatan yang dikonsumsi seumur hidup, termasuk perbedaan sensitivitas yang mungkin terjadi di antara perubahan tahap kehidupan.[16]

Isu yang muncul akibat perkembangan lingkungan adalah adanya perubahan iklim yang menyangkut media lingkungan berupa air, salah satunya pola curah hujan yang berubah-ubah. Hal ini menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih untuk keperluan higiene sanitasi. Curah hujan yang lebat dan terjadinya banjir memperburuk sistem sanitasi yang belum memadai, sehingga masyarakat rawan terkena penyakit menular melalui air seperti diare dan lain-lain.[17]

Mengonsumsi air bersih sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan makhluk hidup. Dengan demikian, perlu diketahui bagaimana air dikatakan bersih dari segi kualitas dan bisa digunakan dalam jumlah yang memadai dalam kegiatan sehari-hari manusia. Berdasarkan segi kualitasnya, terdapat beberapa persyaratan air minum yang harus dipenuhi, diantaranya kualitas fisik, kualitas kimia, dan kualitas biologi.[18]

Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi meliputi parameter fisik, biologi, dan kimia. Parameter ini dapat bersifat wajib maupun tambahan. Parameter wajib merupakan parameter yang harus diperiksa secara berkala sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, sedangkan parameter tambahan hanya diwajibkan untuk diperiksa jika kondisi geohidrologi mengindikasikan adanya potensi pencemaran berkaitan dengan parameter tambahan.[17]

Kekeruhan merupakan salah satu parameter air.

Pemilihan parameter-parameter penting dalam pengukuran air ini agar dapat memenuhi ketentuan air yang baik yaitu tidak berasa, berbau dan berwarna. Parameter fisika antara lain kekeruhan, suhu, dan TDS. Pada parameter kekeruhan, air yang keruh memiliki nilai total suspended solid (TSS) yang tinggi. Pada parameter suhu, air yang melebihi batas normal menunjukkan indikasi terdapat bahan kimia yang terlarut dalam jumlah yang cukup besar atau sedang terjadi proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme yang berbahaya bagi tubuh.[19]

Selanjutnya, total dissolved solid (TDS) yang tinggi dapat mempengaruhi rasa. Tingginya level TDS memperlihatkan hubungan negatif dengan beberapa parameter lingkungan air yang menyebabkan meningkatnya toksisitas pada organisme didalamnya.[19][20]

Salah satu parameter kimia adalah pH air yang merupakan parameter kimia organik. Nilai pH yang lebih dari 7 menunjukkan sifat korosi yang rendah sebab semakin rendah pH, maka sifat korosinya semakin tinggi.[19]

Parameter kualitas air bersih dalam biologi diindikasikan dengan keberadaan mikroorganisme. Kualitas biologi ini meliputi bakteri coliform, E. coli, dan spesies bakteri patogen tertentu (seperti Vibrio cholerae penyebab kolera), virus, dan parasit protozoa. Awalnya, kontaminasi tinja ditentukan dengan adanya bakteri coliform, penanda yang spesifik untuk kelas patogen tinja yang berbahaya. Kehadiran coliform tinja (seperti E. Coli) berfungsi sebagai indikasi kontaminasi oleh limbah. Kontaminan tambahan termasuk ookista protozoa seperti Cryptosporidium sp., Giardia lamblia, Legionella, dan virus (enteric).[21] Parameter patogen mikroba biasanya menjadi perhatian yang terbesar, hal ini karena risiko kesehatan yang mungkin dapat dirasakan langsung.

Pengolahan[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar air memerlukan beberapa pengolahan dan penanganan sebelum digunakan; bahkan untuk air dari sumur dalam maupun mata air. Tingkat pengolahan yang dilakukan tergantung pada sumber air. Pilihan teknologi yang tepat dalam pengolahan air mencakup desain titik penggunaan (POU) skala komunitas dan skala rumah tangga.[22] Hanya beberapa daerah perkotaan besar seperti Christchurch, Selandia Baru yang memiliki akses ke air murni dengan volume yang cukup sehingga tidak diperlukan pengolahan air baku.[23]

Pemanfaatan tenaga surya sebagai alternatif disinfeksi air di Indonesia

Dalam situasi darurat dimana sistem pengolahan konvensional telah terganggu, patogen yang terbawa air dapat dibunuh atau dinonaktifkan dengan cara direbus.[24] Bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100°C. Namun, hal ini membutuhkan cukup banyak sumber bahan bakar dan dapat memberatkan konsumen, terutama pada tempat yang sulit untuk menyimpan air matang dalam kondisi steril. Teknik lain, seperti filtrasi,, disinfeksi kimia, dan paparan radiasi ultraviolet (termasuk UV matahari) telah ditunjukkan dalam serangkaian uji coba kontrol acak. Adapun tujuannya yakni untuk dapat mengurangi tingkat penyakit secara signifikan yang ditularkan melalui air antar konsumen di negara-negara berpenghasilan rendah,[25] tetapi ini tetap menyebabkan masalah seperti pada teknik perebusan.

Akses Dunia[sunting | sunting sumber]

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, akses untuk mendapatkan air minum yang aman sangat penting untuk kesehatan, hak asasi manusia, dan komponen kebijakan yang efektif untuk perlindungan kesehatan.[16]

Sebanyak 1,8 miliar orang masih menggunakan sumber air minum yang tidak aman yang mungkin terkontaminasi oleh kotoran.[2] Hal ini dapat mengakibatkan penyakit menular, seperti gastroenteritis, kolera, tipus, dan lainnya. [2] Pengurangan penyakit yang ditularkan melalui air dan pengembangan sumber daya air yang aman merupakan tujuan utama kesehatan masyarakat di negara berkembang. Air minum dalam kemasan dijual untuk konsumsi publik di sebagian besar belahan dunia.

Sember air yang telah terlindungi dari kontaminasi juga dipantau berdasarkan kebutuhan populasi manusia (5,8 miliar orang), lokasi keberadaannya (5,4 miliar), dan terbebas dari kontaminasi (5,4 miliar).[26]  Sementara sumber air yang lebih baik seperti air perpipaan yang dilindungi lebih mungkin untuk menyediakan air yang aman dan memadai karena dapat mencegah kontak dengan kotoran manusia. Namun, lebih dari seperempat jumlah sampel air terlindungi, masih didapati adanya kontaminasi tinja sebanyak 38% dalam 191 penelitian.[27]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Grandjean, Ann C. "WATER REQUIREMENTS, IMPINGING FACTORS, AND RECOMMENDED INTAKES" (PDF). The Center for Human Nutrition: 25–26. 
  2. ^ a b c d WHO (2019). "Drinking-water". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-02. 
  3. ^ National Academy of Science (2011). "Dietary Reference Intakes: Water, Potassium, Sodium, Chloride, and Sulfate - Institute of Medicine". web.archive.org. Diakses tanggal 2022-01-03. 
  4. ^ EFSA Panel on Dietetic Products, Nutrition, and Allergies (NDA) (2010). "Scientific Opinion on Dietary Reference Values for water". EFSA Journal (dalam bahasa Inggris). 8 (3): 3. doi:10.2903/j.efsa.2010.1459. ISSN 1831-4732. 
  5. ^ Valtin, Heinz; Gorman (2002). ""Drink at least eight glasses of water a day." Really? Is there scientific evidence for "8 × 8"?". American Journal of Physiology-Regulatory, Integrative and Comparative Physiology (dalam bahasa Inggris). 283 (5): R995. doi:10.1152/ajpregu.00365.2002. ISSN 0363-6119. 
  6. ^ a b Appel, Lawrence J; Baker; Bar-Or; Minaker; Morris; Resnick; Sawka; Volpe; Weinberg (2004). "Report Sets Dietary Intake Levels for Water, Salt, and Potassium To Maintain Health and Reduce Chronic Disease Risk". www.nationalacademies.org. Diakses tanggal 2022-01-03. 
  7. ^ Donohue, Joyce Morrissey (2004). "The Contribution of Drinking Water to Total Daily Dietary Intakes of Selected Trace Mineral Nutrients in the United States" (PDF). Rolling Revision of the WHO Guidelines for Drinking-Water Quality: 2–3. 
  8. ^ Noakes, Timothy D. (2005). "Water Intoxication: A Possible Complication During Endurance Exercise". Wilderness and Environmental Medicine. 16 (4): 221–222. 
  9. ^ Water Science School (2019). "The Water in You: Water and the Human Body | U.S. Geological Survey". www.usgs.gov. Diakses tanggal 2022-01-06. 
  10. ^ Smith, Mike; Caroline, Nancy L. (2012). Nancy Caroline's Emergency Care in the Streets (dalam bahasa Inggris). Jones & Bartlett Publishers. hlm. 340. ISBN 978-1-4496-4586-1. 
  11. ^ Suoth, Alfrida E.; Purwati, Sri Unon; Andiri, Yuriska (2018). "POLA KONSUMSI AIR PADA PERUMAHAN TERATUR: STUDI KASUS KONSUMSI AIR DI PERUMAHAN GRIYA SERPONG TANGERANG SELATAN" (PDF). Ecolab. 12 (2): 64. 
  12. ^ Permana, Adi (2020). "Urgensi Menjaga Ketersediaan Air Bersih yang Aman di Indonesia -". Institut Teknologi Bandung (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-06. 
  13. ^ Schardt, David (2000). "Nutrition Action Healthletter - Water, Water Everywhere". web.archive.org. Diakses tanggal 2022-01-06. 
  14. ^ Hall, Ellen L; Dietrich (2015). "A Brief History of Drinking Water" (PDF). web.archive.org. Diakses tanggal 2022-01-06. 
  15. ^ Walker, Andrew (2009). "The water vendors of Nigeria" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-06. 
  16. ^ a b WHO (2017). Guidelines for Drinking‑water Quality. hlm. 1–2. ISBN 978-92-4-154995-0. 
  17. ^ a b Kementerian Kesehatan (2017). PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2017 (PDF). hlm. 10. 
  18. ^ Dinas PUPKP Pemkab Bantul (2016). "Syarat Air Minum". Dinas PUPKP Pemkab Bantul. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  19. ^ a b c Amani, Fauzi; Prawiroredjo, Kiki (2016). "ALAT UKUR KUALITAS AIR MINUM DENGAN PARAMETER PH, SUHU, TINGKAT KEKERUHAN, DAN JUMLAH PADATAN TERLARUT". Jetri : Jurnal Ilmiah Teknik Elektro. 14 (1): 50. doi:10.25105/jetri.v14i1.821. ISSN 2541-089X. 
  20. ^ Emilia, Ita; Mutiara, Dian (2019). "PARAMETER FISIKA, KIMIA DAN BAKTERIOLOGI AIR MINUM ALKALI TERIONISASI YANG DIPRODUKSI MESIN KANGEN WATER LeveLuk SD 501". Sainmatika: Jurnal Ilmiah Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. 16 (1): 68. doi:10.31851/sainmatika.v16i1.2845. 
  21. ^ United States Environmental Protection Agency (2015). "Drinking Water Contaminants | Drinking Water Contaminants | US EPA". web.archive.org. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  22. ^ CAWST (2008). "HOUSEHOLD WATER TREATMENT MANUAL" (PDF). web.archive.org. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  23. ^ Christschurch City Council (2015). "Our water - 'No water' notification form - Christchurch City Council". web.archive.org. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  24. ^ WHO (2004). Guidelines for Drinking-Water Quality THIRD EDITION Volume 1 (PDF). Geneva: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data. hlm. 9. ISBN 9241546387. 
  25. ^ Clasen, Thomas; Schmidt; Rabie; Robert; Cairncross (2007). "Interventions to improve water quality for preventing diarrhoea: systematic review and meta-analysis" (PDF). BMJ: 2–3. doi:10.1136/bmj.39118.489931.BE. 
  26. ^ WHO; UNICEF (2017). Progress on Drinking Water, Sanitation and Hygiene (PDF). hlm. 3. ISBN 978-92-4-151289-3. 
  27. ^ Bain, Robert; Cronk; Wright; Yang; Slaymaker (2014). "Fecal Contamination of Drinking-Water in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review and Meta-Analysis" (PDF). PLoS Medicine. 11 (5): 7. doi:10.1371/journal.pmed.1001644. 

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • Media terkait Air minum di Wikimedia Commons