Zona bentik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Zona bentik merupakan wilayah ekologi pada bagian terendah atau dasar dari suatu perairan seperti laut atau danau, termasuk permukaan sedimen dan lapisan di bawah permukaan. Organisme yang hidup di zona ini disebut bentos, misalnya kumpulan avertebrata bentik, termasuk krustasea dan polychaetes.[1] Umumnya organisme-organisme ini memiliki hubungan dengan zat-zat yang berada atau secara permanen menempel pada lantai dasar. Lapisan tanah terluar yang dibentuk oleh massa air, lapisan batas bentik, merupakan bagian integral dari zona bentik, karena sangat mempengaruhi aktivitas biologis yang terjadi di sana. Contohnya adalah pasir di dasar, singkapan, terumbu karang dan lumpur.

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Zona bentik dimulai dari garis pantai (zona intertidal atau zona eulitoral) kemudian terus ke bawah di sepanjang permukaan landas benua di laut.[2][tak ada di rujukan] Landas benua merupakan wilayah bentik yang landai memanjang dari daratan. Di ujung landas benua, biasanya sekitar 200 meter, derajat kemiringan akan meningkat dan dikenal sebagai lereng benua. Lereng benua turun hingga ke dasar laut dalam. Dasar laut dalam disebut dataran abisal dengan kedalaman biasanya sekitar 4.000 meter. Dasar laut tidak semua datar tapi memiliki pegunungan bawah laut dan parit laut dalam yang dikenal sebagai zona hadal.

Sebagai perbandingan, zona pelagis adalah istilah deskriptif untuk ekologi wilayah di atas bentos, termasuk kolom air hingga ke permukaan. Tergantung pada besarnya massa air, zona bentik dapat mencakup daerah yang hanya beberapa inci di bawah permukaan, seperti sungai atau kolam dangkal, di ujung spektrum, bentos lautan dalam termasuk pada tingkatan bawah zona abisal.

Hewan pada zona ini umumnya termasuk dalam bentuk-bentuk kehidupan yang mentolerir suhu dan kadar oksigen yang rendah, tetapi hal ini ditentukan oleh kedalaman air.

Organisme[sunting | sunting sumber]

Bentos adalah organisme yang hidup di zona bentik, dan berbeda daripada kehidupan di tempat lain di kolom air.[tak ada di rujukan] Banyak dari jenis ini beradaptasi untuk hidup di dasar (bawah). Pada habitatnya, mereka dapat dianggap sebagai organisme dominan, tetapi mereka sering menjadi sumber makanan utama untuk Charchahinidae seperti lemon shark.[3] Banyak jenis organisme yang dapat beradaptasi di tekanan air di kedalaman namun tidak dapat bertahan pada bagian atas dari kolom air. Perbedaan tekanan dapat menjadi sangat signifikan.

Karena cahaya tidak dapat menembus ke lautan yang sangat dalam, sumber energi pada ekosistem di zona bentik sering kali merupakan bahan organik dari tempat yang lebih tinggi, yang terseret ke kedalaman. Benda yang mati dan terurai ini menjadi penyangga dalam rantai makanan di zona bentik, kebanyakan organisme zona bentik adalah detritivora. Beberapa mikroorganisme menggunakan kemosintesis untuk menghasilkan biomassa.

Organisme di zona bentik dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan letak rumah mereka. Mereka yang hidup pada lantai dasar laut yang dikenal sebagai epifauna.[4] Organisme yang hidup hidup dibawah tanah lantai dasar laut disebut infauna.[5] 

Aliran nutrisi[sunting | sunting sumber]

Sumber-sumber makanan untuk komunitas zona bentik dapat berasal dari bagian atas kolom air dalam bentuk agregasi detritus, anorganik, dan organisme hidup.[tak ada di rujukan] Agregasi ini penting untuk pengendapan bahan organik, dan komunitas bakteri.[6] Jumlah material yang tenggelam ke dasar laut rata-rata mencapai 307,000 agregat per m2 per hari.[7] Jumlah Ini akan bervariasi pada kedalaman bentos, dan tingkatan penghubung bentik-pelagis. Bentos di daerah dangkal akan memiliki makanan yang lebih banyak dibandingkan bentos di laut dalam. Karena ketergantungan itu, mikroorganisme menjadi tergantung secara spasial pada detritus di zona bentik. Mikroorganisme yang ditemukan di zona bentik, khusus dinoflagellata dan foraminifera, berkembang cukup pesat pada detritus, disaat yang bersamaan juga membentuk hubungan simbiosis satu sama lain.[8][9]

Habitat[sunting | sunting sumber]

Teknologi pemetaan dasar laut modern telah mengungkapkan hubungan antara geomorfologi dasar laut dan habitat bentik, komunitas bentik seperti apa yang cocok dengan geomorfologi yang spesifik.[10] Contohnya komunitas terumbu karang air dingin yang berhubungan dengan gunung dan lembah bawah laut, hutan kelp terkait dengan terumbu karang lipatan dalam dan rockfish yang berhubungan dengan tebing curam berbatu di lereng benua.[11] Di lingkungan samudera, habitat bentik juga dapat dikategorikan berdasarkan kedalaman. Dari dangkal terdalam adalah: epipelagis (kurang dari 200 meter), mesopelagis (200-1,000 meter), basial (sekitar 1.000–4.000 meter), abisal (lebih 4.000–6.000 meter) dan terdalam, hadal (di bawah 6.000 meter).

Zona yang lebih rendah berada pada kedalaman, memiliki tekanan samudera. Manusia telah meninggalkan dampak pada semua bagian lautan, namun yang paling signifikan berada pada lempeng benua yang dangkal dan habitat lereng.[12] Banyak organisme bentik telah mempertahankan sejarah karakteristik evolusi mereka. Beberapa organisme yang secara signifikan lebih besar dari kerabat mereka yang tinggal di zona dangkal, sebagian besar karena tingginya kadar oksigen di laut dalam.[13]

Tidak mudah untuk memetakan atau mengamati organisme dan habitat mereka, dan pengamatan paling modern yang pernah dibuat adalah dengan menggunakan kendaraan bawah air kontrol jarak jauh (ROVs), dan sangat jarang menggunakan kapal selam.

Penelitian ekologi[sunting | sunting sumber]

Makro avertebrata zona bentik memiliki banyak fungsi ekologis, seperti mengatur aliran bahan dan energi pada ekosistem sungai melalui hubungan . Karena ini korelasi antara aliran energi dan nutrisi, Makro avertebrata zona bentik memiliki kemampuan untuk mempengaruhi sumber makanan pada ikan dan organisme lain dalam ekosistem akuatik. Misalnya, penambahan jumlah nutrisi ke sungai selama beberapa tahun mengakibatkan peningkatan avertebrata, kelebihan, dan biomassa. Ini pada gilirannya akan mengakibatkan peningkatan sumber makanan bagi spesies ikan asli dengan perubahan signifikan struktur komunitas makro avertebrata dan jalur tropis.[14] Adanya makro avertebrata seperti Amphipoda juga mempengaruhi dominasi jenis alga tertentu dalam ekosistem zona bentik.[15] Selain itu, karena bentik zona dipengaruhi oleh aliran detritus, telah dilakukan penelitian mengenai hubungan antara aliran sungai dan  efek yang dihasilkan pada zona bentik. Peristiwa-peristiwa pada aliran rendah menunjukkan pembatasan dalam transportasi nutrisi dari substrat zona bentik ke dalam rantai makanan, dan menyebabkan penurunan biomassa makro avertebrata zona bentik, yang menyebabkan hilangnya sumber makanan ke dalam substrat.[16]

Karena sistem bentik mengatur energi dalam ekosistem perairan, studi tentang mekanisme zona bentik telah dilakukan dalam rangka mendapatkan pemahaman lebih tentang ekosistem. Diatom zona bentik telah digunakan oleh Uni Eropa (WFD) untuk membangun rasio kualitas yang menentukan status ekologis danau-danau di Inggris.[17] Awal penelitian dilakukan pada kumpulan bentik untuk melihat jika mereka dapat digunakan sebagai indikator kesehatan pada ekosistem akuatik. Kumpulan bentik di wilayah pesisir perkotaan secara fungsional tidak setara dengan kumpulan bentik di daerah yang belum tersentuh.[18]

Para ahli ekologi mencoba untuk memahami hubungan antara heterogenitas dan upaya mempertahankan keanekaragaman hayati dalam ekosistem akuatik. Alga bentik telah menjadi hal yang tidak dapat dilepaskan untuk mempelajari perubahan jangka pendek dan tanggapan masyarakat terhadap kondisi heterogen di sungai. Pengertian tentang mekanisme potensial yang melibatkan perifiton bentik dan efek pada heterogenitas dalam aliran memberikan pemahaman yang lebih baik tentang struktur dan fungsi ekosistem sungai.[19] Produksi primerkotor zona bentik dapat menjadi hal yang penting dalam menjaga keanekaragaman hayati di zona pesisir dalam ekosistem danau. Namun, kontribusi relatif dari habitat zona bentik dalam ekosistem tertentu sangat minim pemahaman dan diperlukan penelitian lebih lanjut.[20] 

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "What Are Benthos?". Baybenthos.versar.com. 2006-01-23. Diakses tanggal 2013-11-24. 
  2. ^ Angelo Mark P. Walag; Mae Oljae P. Canencia (2016). "Physico-chemical Parameters and Macrobenthic Invertebrates of the Intertidal Zone of Gusa, Cagayan de Oro City, Philippines". Advances in Environmental Sciences - International Journal of the Bioflux Society. 8 (1): 71–82. Diakses tanggal 2015-12-08. 
  3. ^ Bright, Michael (2000). The private life of sharks: the truth behind the myth. Mechanicsburg, Pennsylvania: Stackpole Books. ISBN 0-8117-2875-7. 
  4. ^ "Epifaunal - Definition and More from the Free Merriam-Webster Dictionary". Merriam-webster.com. 2012-08-31. Diakses tanggal 2013-11-24. 
  5. ^ "Infauna - Definition and More from the Free Merriam-Webster Dictionary". Merriam-webster.com. 2012-08-31. Diakses tanggal 2013-11-24. 
  6. ^ Alldredge, Alice; Silver, Mary W. (1988). "Characteristics, dynamics and significance of marine snow". Progress in Oceanography. 20: 41–82. doi:10.1016/0079-6611(88)90053-5. 
  7. ^ Shanks, Alan; Trent, Jonathan D. (1980). "Marine snow: sinking rates and potential role in vertical flux". Deep-Sea Research. 27A (2): 137–143. doi:10.1016/0198-0149(80)90092-8. 
  8. ^ "Foraminifera". Diakses tanggal 7 December 2014. 
  9. ^ "foraminifera". Diakses tanggal 7 December 2014. 
  10. ^ Harris, P. T.; Baker, E. K. 2012.
  11. ^ Harris, P. T.; Baker, E. K.; 2012.
  12. ^ Harris, P. T., 2012.
  13. ^ Royal Belgian Institute of Natural Sciences, news item March 2005 Archived September 28, 2011, at the Wayback Machine.
  14. ^ Minshall, Wayne; Shafii, Bahman; Price, William J.; Holderman, Charlie; Anders, Paul J.; Lester, Gary; Barrett, Pat. "Effects of nutrient replacement on benthic macroinvertebrates in an ultraoligotrophic reach of the Kootenai River, 2003–2010". Freshwater Science. doi:10.1086/677900. JSTOR 10.1086/677900. 
  15. ^ Duffy, J. Emmett; Hay, Mark E. (2000-05-01). "Strong impacts of grazing amphipods on the organization of a benthic community". Ecological Monographs. 70 (2): 237–263. doi:10.1890/0012-9615(2000)070[0237:SIOGAO]2.0.CO;2. ISSN 0012-9615. 
  16. ^ Rolls, Robert; Leigh, Catherine; Sheldon, Fran (2012). "Mechanistic effects of low-flow hydrology on riverine ecosystems: ecological principles and consequences of alteration". Freshwater Science. 31 (4): 1163–1186. doi:10.1899/12-002.1. JSTOR 10.1899/12-002.1. 
  17. ^ Bennion, Helen; Kelly, Martyn G.; Juggins, Steve; Yallop, Marian L.; Burgess, Amy; Jamieson, Jane; Krokowski, Jan (2014). "Assessment of Ecological Status in UK lakes using benthic diatoms". Freshwater Science. 33 (2): 639–654. doi:10.1086/675447. JSTOR 10.1086/675447. 
  18. ^ Lowe, Michael; Peterson, Mark S. (2014). "Effects of Coastal Urbanization on Salt-Marsh Faunal Assemblages in the Northern Gulf of Mexico". Marine and Coastal Fisheries: Dynamics, Management, and Ecosystem Science. 6: 89–107. doi:10.1080/19425120.2014.893467. 
  19. ^ Wellnitz, Todd; Rader, Russell B. (2003). "Mechanisms influencing community composition and succession in mountain stream periphyton: interactions between scouring history, grazing, and irradiance". Journal of the North American Benthological Society. 22 (4): 528–541. doi:10.2307/1468350. JSTOR 1468350. 
  20. ^ Althouse, Bryan; Higgins, Scott; Vander Zanden, Jake M. (2014). "Benthic and Planktonic primary production along a nutrient gradient in Green Bay, Lake Michigan, USA". Freshwater Science. 33 (2): 487–498. doi:10.1086/676314. JSTOR 10.1086/676314. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]