Universitas Andalas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Universitas Andalas
Lambang Universitas Andalas
MotoUntuk Kedjajaan Bangsa
JenisPerguruan Tinggi Negeri Badan Hukum
Didirikan23 Desember 1955
KetuaBasuki Hadimuljono (Ketua Dewan Penyantun)
RektorYuliandri
Ketua SenatWerry Darta Taifur
Staf akademik
2.600[1]
Jumlah mahasiswa32.326[2]
Lokasi, ,
KampusLimau Manis
Payakumbuh
Dharmasraya
WarnaHijau tua
AfiliasiASAIHL, AUN, AUAP
Situs webwww.unand.ac.id

Universitas Andalas (biasa disingkat dengan Unand) adalah perguruan tinggi negeri Indonesia yang terletak di Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Universitas ini merupakan universitas tertua di luar Pulau Jawa yang dibuka secara resmi pada tanggal 23 Desember 1955 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pada saat itu, Unand adalah universitas keempat yang diresmikan oleh Pemerintah Indonesia.[3] Universitas Andalas terdiri dari lima belas fakultas dengan kampus utama di Limau Manis, Padang; terdapat pula kampus-kampus lain di Padang, Payakumbuh, dan Dharmasraya.

Berdasarkan Evaluasi dan Klasterisasi Perguruan Tinggi Berbasis Kinerja Penelitian yang diluncurkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional pada November 2019, Universitas Andalas menempati peringkat keempat dari peguruan tinggi se-Indonesia. Sejak 2016, kampus ini telah termasuk dalam perguruan tinggi negeri cluster 1 dari Kemenristekdikti.[4][5] Pada tahun 2021, Unand resmi ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) ke-13 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2021.[6]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Periode awal (1948-58)[sunting | sunting sumber]

Peresmian Universitas Andalas pada tanggal 13 September 1956
Mohammad Hatta, pencetus nama Universitas Andalas

Keinginan masyarakat Sumatra Barat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi sudah ada sejak memasuki abad ke-20. Hal itu dapat dipahami karena pada masa itu sudah muncul golongan intelektual dan cendekiawan yang peduli dengan pendidikan anak bangsa. Namun, Pemerintah Kolonial Belanda tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk mewujudkannya. Gagasan itu kembali mengemuka seiring diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Keinginan untuk mendirikan suatu jenjang pendidikan tinggi di Sumatra Barat baru dapat diwujudkan pada tahun 1948 dengan mendirikan enam akademi, yaitu: Akademi Pamong Praja, Akademi Pendidikan Jasmani, Akademi Kadet, Akta A Bahasa Inggris, dan Sekolah Inspektur Polisi. Keenam akademi tersebut berada di Bukittinggi. Selanjutnya, keberhasilan pendirian akademi ini mendorong sebuah yayasan pendidikan bernama Yayasan Sriwijaya untuk mendirikan Balai Perguruan Tinggi Hukum Pancasila (BPTHP) di Padang pada tanggal 17 Agustus 1951.

Mengikuti langkah Yayasan Sriwijaya tersebut, kemudian pemerintah mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar pada tanggal 23 Oktober 1954, Perguruan Tinggi Negeri Pertanian di Payakumbuh pada tanggal 30 November 1954, dan Fakultas Kedokteran serta Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) di Bukittinggi pada tanggal 7 September 1955. Keempat fakultas tersebut diresmikan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. Seiring dengan itu, Yayasan Sriwijaya pun menyerahkan BPTHP kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Tengah. Dan, sejak itu BPTHP berganti nama menjadi Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat.[7]

Kelima fakultas itu menjadi cikal bakal dalam mendirikan Universitas Andalas. Oleh karena merupakan universitas pertama yang didirikan di Pulau Sumatra, maka Bung Hatta mengusulkan nama Universitas Andalas, dengan merujuk kepada nama Pulau Sumatra yang juga dikenal dengan Pulau Andalas.

Pada tanggal 13 September 1956, Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan pembukaan Universitas Andalas di Bukittinggi. Selanjutnya, pada tahun 1958, untuk pertama kalinya Universitas Andalas mulai memetik hasil dengan lulusnya Mr. Rudito Rachmad sebagai Sarjana Hukum pertama. Satu tahun berikutnya, Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat mewisuda pula empat mahasiswanya, yaitu Mr. Herman Sihombing, Mr. Zawier Zienser, Mr. Eddy Ang Ze Siang, dan Mr. Djalaluddin Ilyas.[8]

Era pergolakan (1958-61)[sunting | sunting sumber]

Beberapa bulan setelah meresmikan Unand, Bung Hatta yang tidak sepaham lagi dengan Presiden Soekarno meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden. Sehingga berakhirlah Dwi Tunggal Soekarno-Hatta. Beberapa tokoh militer dan politik pun kemudian bersepakat untuk "menegur" pusat dengan mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan menjadikan Sumatra Tengah, khususnya Sumatra Barat sebagai basisnya.[9]

Oleh karena itu, banyak dosen dan mahasiswa Unand yang menunjukkan kesepahamannya dengan PRRI. Akibatnya, Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan untuk menumpas PRRI juga memporakporandakan kampus Unand yang tersebar di beberapa kota: Padang, Bukittinggi, Batusangkar, dan Payakumbuh serta juga yang baru dibangun di Baso.

Situasi politik pada waktu itu benar-benar tidak kondusif untuk melaksanakan aktivitas perkuliahan. Dosen-dosen yang didatangkan dari luar negeri, terutama dari Eropa, ada yang pulang ke negaranya masing-masing dan ada pula yang pindah ke Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor. Pada masa PRRI dapat dikatakan sebagai masa kemunduran Universitas Andalas.[10]

Orde Baru dan Reformasi (1961-kini)[sunting | sunting sumber]

Seiring dengan berakhirnya PRRI, Unand kembali menata perkembangannya. Pada tahun 1961, Unand membuka kembali Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan memindahkannya ke Padang. Sedangkan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) baru dapat dibuka setahun kemudian dan itupun cuma dengan satu jurusan, yaitu Biologi. Selanjutnya, Perguruan Tinggi Ekonomi yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Pancasila pada tanggal 7 September 1957 menggabungkan diri dengan Unand. Pada tanggal 9 Oktober 1963, Unand membuka Fakultas Peternakan. Fakultas ini merupakan Fakultas Peternakan pertama yang didirikan di Indonesia. Dengan demikian, sampai tahun 1963 Unand telah memiliki tujuh (7) fakultas, namun pada tahun berikutnya FKIP memisahkan diri dan berkembang menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) dan selanjutnya berubah nama menjadi Universitas Negeri Padang (UNP).[11]

Fakultas Peternakan Unand

Dengan kepindahan kampusnya ke Padang, Unand mulai membenahi diri secara menyeluruh, baik dari segi organisasi, dosen, maupun infrastruktur. Kampus Air Tawar dibangun untuk Fakultas Pertanian, FIPIA, Fakultas Peternakan, dan FKIP (sekarang menjadi kampus UNP). Adapun Fakultas Ekonomi dibangun di kampus Jati, Padang (sekarang kampus Fakultas Ekonomi Program Reguler Mandiri dan STIE Dharma Andalas). Sedangkan Fakultas Kedokteran terdapat di dua lokasi, yaitu Kampus Jati dan Pondok. Fakultas Hukum tetap berada di kampusnya yang lama di Parak Karambia (sekarang kampus Fakultas Hukum Program Reguler Mandiri). Adapun rektorat Unand berada di kampus Jati bersebelahan dengan Fakultas Ekonomi. Pada tahun 1962, jumlah dosen Unand sudah mencapai 261 orang, termasuk 180 orang dosen luar biasa dan "dosen terbang". Adapun jumlah mahasiswanya sudah mencapai 3920 orang.[12]

Pada tahun 1982, Fakultas Sastra didirikan dan mulai menerima mahasiswanya untuk angkatan pertama. Pada awalnya fakultas ini bernama Fakultas Sastra dan Sosial Budaya kemudian berganti nama menjadi Fakultas Sastra karena Jurusan Sosiologi dengan Program Studi Sosiologi dan Antropologi yang juga baru dibuka "dititipkan" di fakultas ini. Kedua program studi tersebut menjadi cikal bakal untuk mendirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada tahun 1993. Fakultas Sastra kemudian juga berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya pada tahun 2011. Kampus kedua fakultas ini terletak di Jl. Situjuh, Jati, Padang, yang sebelumnya merupakan Labor Fisiologi Fakultas Kedokteran (sekarang rumah dinas rektor dan gedung percetakan Unand). Berikutnya, Unand membuka pula dua program studi Teknik Mesin dan Teknik Sipil pada tahun 1985, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Fakultas Teknik. Pada awalnya pengelolaan kedua program studi ini berada di Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA), sedangkan dalam pelaksanaan perkuliahannya Unand bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Pendirian Fakultas Teknik ini baru disetujui oleh Dirjen Dikti pada tanggal 13 Mei 1993.[13]

Gedung PKM Universitas Andalas

Sementara itu, Pendidikan Ahli Administrasi dan Perusahaan (PAAP) yang dibuka di Fakultas Ekonomi pada tahun 1980 berubah nama menjadi Program Diploma III (DIII) Ekonomi. Unand selanjutnya merintis pula pembukaan dua fakultas nongelar teknologi pada tahun 1982, yaitu Politeknik Teknologi dan Politeknik Pertanian. Kampus Politeknik Teknologi berada di Padang sedangkan kampus Politeknik Pertanian berada di Tanjung Pati, Payakumbuh. Fakultas Kedokteran juga mengembangkan diri dengan membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis pada tahun 1984. Setahun berikutnya, Unand membuka Program Pascasarjana dengan bekerja sama dengan IPB dan baru pada tahun 2000 Program Pascasarjana ini mulai berdiri sendiri serta mulai pula mendirikan Program Doktor (S3). Seiring dengan itu, Fakultas Ekonomi juga mulai menerima mahasiswa S2 untuk program Magister Manajemen. Selanjutnya, pada tahun 2008 Unand mengembangkan dua jurusan menjadi dua fakultas. Kedua fakultas itu adalah: Fakultas Teknologi Pertanian yang dikembangkan dari jurusan Teknologi Pertanian di Fakultas Pertanian dan Fakultas Farmasi yang dikembangkan dari jurusan Farmasi di FMIPA. Berikutnya, pada tanggal 13 Juli 2012 Fakultas Kedokteran dikembangkan lagi menjadi Fakultas Kesehatan Masyarakat, yang menjadi fakultas kedua belas di Universitas Andalas.[13]

Saat terjadinya gempa bumi tanggal 30 September 2009, identifikasi kerusakan yang terjadi di lingkungan kampus Unand memperlihatkan bahwa hampir semua gedung mengalami kerusakan bervariasi. Kerusakan paling berat terjadi di Fakultas Teknik Universitas Andalas. Sebagai respons cepat atas gempa tersebut, maka dibentuk Tim Emergency Response and Recovery untuk membantu masyarakat yang terkena musibah gempa yang diketuai oleh Alfan Miko. Dibentuk pula 2 posko gempa, yaitu di Kampus Limau Manis untuk koordinasi dan penghimpunan mahasiswa untuk jadi relawan dan Posko Kampus Unand di Jalan Perintis Kemerdekaan untuk relawan dan penghimpunan berbagai sumbangan.[14]

Akademik[sunting | sunting sumber]

Fakultas[sunting | sunting sumber]

Fakultas Dies natalis
Hukum 17 Agustus 1951
Pertanian 30 November 1954
Kedokteran 7 September 1955
Matematika dan IPA 7 September 1955
Ekonomi 7 September 1957
Peternakan 9 Oktober 1963
Ilmu Budaya 7 Maret 1982
Program Pascasarjana 17 September 1984
Teknik 13 Mei 1993
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 13 Mei 1993
Farmasi 15 Mei 2008
Teknologi Pertanian 15 Mei 2008
Kesehatan Masyarakat 13 Juli 2012
Teknologi Informasi 13 Juli 2012
Keperawatan 13 Juli 2012
Kedokteran Gigi 13 Juli 2012

Sejak awal berdirinya hingga sekarang ini, Universitas Andalas total telah memiliki lima belas (15) fakultas, dan satu program pascasarjana, dengan rincian 44 program studi sarjana, 41 program studi magister (S2), 13 program studi doktor (S3), 12 program pendidikan dokter spesialis, 5 Profesi dan 4 program studi D3.[15]

Peringkat dan prestasi[sunting | sunting sumber]

Peringkat Universitas Andalas
Versi Peringkat nasional Sumber
2011 2012 2013 2014 2018 2019 2020 2021
Webometrics 8 Penurunan 38 Kenaikan 32 Kenaikan 26 Kenaikan 15 Kenaikan 13 Kenaikan 8 [16]
4ICU 17 Penurunan 27 Penurunan 32 Kenaikan 24 Penurunan 34 Kenaikan 24 Kenaikan 22 [17]
UI Greenmetric 8 Penurunan 47 [18][19]

Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2016 menempatkan Unand di peringkat ke-11 perguruan tinggi terbaik di Indonesia dari 12 besar perguruan tinggi di Indonesia (Cluster 1) atau posisi pertama di Pulau Sumatra dan posisi kedua di luar Pulau Jawa.[20] Selain itu, Majalah Tempo edisi Maret 2006 menempatkan Unand pada posisi ke-14 dalam analisisnya terhadap kapasitas alumninya yang diserap oleh dunia usaha. Sampai posisi ke-13 ditempati oleh perguruan tinggi yang berada di Pulau Jawa. Hal ini berarti Unand menduduki posisi pertama di Sumatra dan bahkan di luar Jawa. Pada bulan Mei 2008, Majalah Tempo kembali menempatkan Unand sebagai salah satu perguruan tinggi, dalam hal ini alumni Fakultas Pertanian dan Sastra, merupakan yang paling diminati oleh berbagai instansi dalam merekrut tenaga kerjanya.[21] Unand juga merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Sumatra yang memperoleh Akreditasi A. Dari laporan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) tahun 2003, Unand menduduki peringkat 11 (peringkat dua di luar Jawa) dari 41 perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Pada bulan Januari 2011, berdasarkan hasil survei halaman situs Webometrics, Unand termasuk dalam 100 perguruan tinggi terbaik di ASEAN (peringkat 26) atau peringkat 8 di Indonesia (terbaik di luar Pulau Jawa), sedangkan menurut survei per Januari 2012, Unand menduduki peringkat 38 di Indonesia.[22] Universitas Andalas juga memiliki 130 Guru Besar/Profesor dan merupakan universitas yang memiliki Guru Besar terbanyak di Sumatra (Per 24 September 2010). Selain itu, Fakultas Kedokteran (FK) Unand merupakan FK pertama di Indonesia yang menjadi pionir dalam melaksanakan pendidikan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang bekerja sama dengan Health Workforce and service (HWS) project dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional dan juga merupakan salah satu dari 13 Fakultas Kedokteran di Indonesia yang diakui/terakreditasi oleh Pemerintah Malaysia.[23]

Pada tahun 2006, Unand berusia 50 tahun. Dalam rangka merayakan ulang tahun emasnya, Unand mengadakan berbagai kegiatan. Di antaranya, pemberian gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Pembangunan Pertanian Berkelanjutan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 September 2006.[24] Di samping itu, Unand juga menerbitkan 52 buku karya dosen-dosennya. Universitas Andalas juga merupakan salah satu perguruan tinggi pionir yang menyelenggarakan kuliah umum kewirausahaan untuk membangkitkan jiwa enterpreunership mahasiswanya yang rutin diadakan setiap hari Jumat sejak tahun akademik 2007/2008.

Pada tahun 2014, Unand mendapat akreditasi A dari BAN PT. Dengan demikian, Unand menjadi universitas keenam di Indonesia yang terakreditasi A setelah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Hasanuddin, atau yang pertama di Sumatra.[25]

Organisasi[sunting | sunting sumber]

Pimpinan[sunting | sunting sumber]


Dewan Penyantun[sunting | sunting sumber]

Dewan Penyantun menjalankan fungsi pertimbangan non-akademik dan membantu pengembangan universitas.[28] Berikut susunan dewan untuk masa jabatan 2016-2020:[29]

Lembaga penelitian[sunting | sunting sumber]

Lembaga-lembaga penelitian yang ada di Unand terdiri dari:

  1. Pusat Studi Keuangan Daerah (PSKD)
  2. Lembaga Penelitian Ekonomi Regional (LPER)
  3. Lembaga Pengkajian Ekonomi dan Pembangunan (LPEP)
  4. Pusat Studi Kependudukan
  5. Pusat Pengembangan Akuntansi (PPA)
  6. Pusat Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSPSDM)
  7. Pusat Studi Wanita
  8. Pusat Studi Irigasi
  9. Pusat Penelitian Pemanfaatan Ilmu dan Teknologi Nuklir
  10. Pusat Penelitian Kehutanan
  11. Pusat Penelitian Pengembangan Hewan dan Sapi
  12. Pusat Studi Otonomi Daerah
  13. Pusat Studi Pengembangan dan Perubahan Sosial Budaya
  14. Pusat Studi Budaya dan Masyarakat Minangkabau
  15. Pusat Kajian Hukum Wilayah Barat
  16. Pusat Studi Konstitusi
  17. Pusat Pengembangan Pariwisata
  18. Pusat Studi Pedesaan
  19. Pusat Kajian Masalah Perkotaan
  20. Pusat Studi Amerika
  21. Pusat Studi Ilmu, Teknologi, dan Budaya Jepang
  22. Pusat Studi Lingkungan Hidup
  23. Pusat Kajian Sumber Daya Alam
  24. Pusat Studi Alam Sumatra
  25. Pusat Studi Tumbuhan Obat
  26. Pusat Kajian Kesehatan
  27. Pusat Studi Energi

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Staf & Mahasiswa[pranala nonaktif permanen]
  2. ^ Dikti
  3. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-08-17. Diakses tanggal 2013-09-19. 
  4. ^ "Universitas Andalas - Unand Peringkat 11 PT Tahun 2016". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-25. Diakses tanggal 2016-08-25. 
  5. ^ Idham, Addhi M. (19 November 2019). "Daftar 10 Besar Kampus Terbaik di Indonesia Berdasar Kinerja Riset". Tirto.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-01. Diakses tanggal 25 November 2019. 
  6. ^ "Unand Ditetapkan sebagai PTN-BH ke-13". Harian Singgalang. Diakses tanggal 06 September 2021. 
  7. ^ Salingka Unand. Unand Publisher. 2010. ISBN 0-465-02328-2.  hal. 6
  8. ^ Zulqayyim, hal. 6.
  9. ^ Asnan, Gusti, (2007), Memikir ulang regionalisme: Sumatra Barat tahun 1950-an, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 978-979-461-640-6.
  10. ^ Zulqayyim, hal. 8.
  11. ^ Sejarah UNP Diarsipkan 2021-01-14 di Wayback Machine..
  12. ^ Zulqayyim, hal. 9.
  13. ^ a b Zulqayyim, hal. 10.
  14. ^ Gempa[pranala nonaktif permanen]
  15. ^ [1] Diarsipkan 2015-06-01 di Wayback Machine..
  16. ^ Indonesia University Ranking Diarsipkan 2014-06-25 di Wayback Machine.. Webometrics. Diakses 7 September 2019.
  17. ^ Peringkat Universitas Indonesia di 4ICU Diarsipkan 2014-05-29 di Wayback Machine.. Diakses 7 September 2019.
  18. ^ Unand Menempati Peringkat Kedelapan UI GreenMetric World University Ranking Diarsipkan 2014-05-25 di Wayback Machine.. Diakses Mei 2014
  19. ^ https://greenmetric.ui.ac.id/rankings/ranking-by-country-2020/Indonesia
  20. ^ "Universitas Andalas - Unand Peringkat 11 PT Tahun 2016". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-25. Diakses tanggal 2016-08-25. 
  21. ^ https://web.archive.org/web/20111121052953/https://www.gatra.com/universitas-andalas
  22. ^ Unand di webometrics Diarsipkan 2012-06-21 di Wayback Machine. Diakses 17 Juli 2012.
  23. ^ "FK Unand profil". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-11-20. Diakses tanggal 2021-05-08. 
  24. ^ https://news.detik.com/berita/d-679961/sby-dianugerahi-doktor-hc-mahasiswa-unand-menentang-
  25. ^ "Unand Raih Akreditasi A". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-02-03. Diakses tanggal 2014-02-03. 
  26. ^ M R Denya Utama, Tafdil Husni Terpilih sebagai Rektor Unand 2015–2019, sumbar.antaranews.com, diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-10-28, diakses tanggal 27 Agustus 2015 
  27. ^ Joni Abdul Kasir, Prof. Yuliandri Dilantik Sebagai Rektor Unand Sore Ini di Kemedikbud, Klikpositif.com, diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-11-28, diakses tanggal 25 November 2019 
  28. ^ "PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS ANDALAS" (PDF). 11 April 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2021-05-06. Diakses tanggal 2 Agustus 2020. 
  29. ^ "Dewan Penyantun Unand, dari Wapres Hingga Pengusaha". Singgalang. 23 Juli 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-07-24. Diakses tanggal 2 Agustus 2020. 
  30. ^ "Pimpinan Unand Paparkan Program Prioritas Universitas Andalas Dihadapan Dewan Penyantun Di Kantor Wakil Presiden RI". unand.ac.id. 26 Januari 2017. Diakses tanggal 2 Agustus 2020. 
  31. ^ "Dewan Penyantun Respons Program Prioritas Unand". unand.ac.id. 27 Januari 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-03-22. Diakses tanggal 2 Agustus 2020. 
  32. ^ "Mendikbud RI Nadiem Makarim Resmi Lantik Rektor Universitas Andalas Periode 2019-2023". unand.ac.id. 25 November 2019. Diakses tanggal 2 Agustus 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]