Poso (kota)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Poso
Ibu kota kabupaten
Kota Poso dari udara (2015)
Kota Poso dari udara (2015)
Julukan: Kota Harmoni
Semboyan: Sintuwu Maroso
Poso berlokasi di Sulawesi
Poso
Poso
Lokasi di Pulau Sulawesi
Koordinat: 1°24′LU 120°45′BT / 1,4°LS 120,75°BT / -1.400; 120.750
Negara  Indonesia
Provinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten Kabupaten Poso
Kecamatan 3
Kelurahan 19
Dihuni 1890-an
Ditetapkan 1 Maret 1895
Pendiri A.C. Kruyt
Luas
 • Ibu kota kabupaten 60,46 km2 (2,334 sq mi)
 • Kota 12,8 km2 (49 sq mi)
Populasi (2013)
 • Ibu kota kabupaten 45,389
 • Kepadatan 2,768/km2 (7,170/sq mi)
 • Kota 22,815
 • Kepadatan kota Bad rounding here180/km2 (Bad rounding here460/sq mi)
Demonim Posonese
Zona waktu WITA (UTC+8)
Kode wilayah 452
Situs web http://posokab.go.id/

Poso (IPA: [pɔsɔ]; Tentang suara ini pengejaan), adalah ibu kota Kabupaten Poso. Posisi Kota Poso terletak di tengah pulau Sulawesi, di pesisir Teluk Tomini, dan menjadi kota pelabuhan dan perhentian utama di pesisir tengah bagian selatan Teluk Tomini.[1] Kota Poso dilewati oleh Sungai Poso yang mengalir dari Danau Poso di kecamatan Pamona Puselemba. Kota Poso adalah aglomerasi dari tiga kecamatan, yaitu Poso Kota, Poso Kota Utara dan Poso Kota Selatan. Pada tahun 2016, penduduk Kota Poso dari tiga kecamatan berjumlah 45.389 jiwa.

Posisi Poso yang terletak di tengah, dan dilalui oleh Jalan Nasional Trans Sulawesi yang merupakan jalur strategis yang menghubungkan antar provinsi di pulau Sulawesi, membuat kota ini menjadi pusat perhentian baik dari utara maupun selatan, atau dari barat dan timur Sulawesi. Karena alasan ini pula, masyarakat Poso terdiri dari berbagai jenis suku, agama, dan latar belakang. Sejak zaman kolonial, Poso sebagai salah satu kota tertua di Sulawesi Tengah merupakan salah satu kota penting bagi Belanda. Pada tahun 1948, Poso sempat menjadi ibu kota Sulawesi Tengah, sebelum dipindahkan ke Kota Palu. Masyarakat yang menghuni Poso menyebar dari wilayah pesisir hingga pegunungan, dan mata pencaharian utama mereka berasal dari sektor pertanian dan perikanan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1892, misionaris Belanda bernama Albertus Christiaan Kruyt tiba di Poso untuk menjalankan misinya. Saat itu, penduduk yang telah menetap berada di daerah Sayo (sekarang di Kelurahan Sayo) yang merupakan tempat pendaratan perahu dari muara Sungai Poso. Pada tanggal 5 September 1894, keadaan sempat tidak aman akibat perseteruan antar suku, dan hal ini membuat Kruyt meminta Pemerintah Hindia Belanda untuk mengatasi keadaan dan menempatkan aparatnya di daerah Poso yang dipimpin oleh kontrolir wilayah Teluk Tomini bagian selatan yang berkedudukan di Mapane. Pada tanggal 1 Maret 1895, kedudukan kontrolir dipindahkan ke wilayah kota Poso yang sekarang ini.[2]

Pada akhir tahun 1940-an, Poso sebagai salah satu afdeling dari Daerah Otonom Sulawesi Tengah direkomendasikan untuk menjadi pusat pemerintahan (ibu kota) Sulawesi Tengah, sesuai keputusan Konfederasi Raja-raja Sulawesi Tengah yang dipelopori oleh Raja (Magau) Kagaua Palu, Tjatjo Idjazah yang diadakan di Parigi pada tanggal 27 November hingga 2 Desember tahun 1948. Keputusan ini diperkuat dengan surat permohonan yang ditujukan kepada Perdana Menteri Negara Indonesia Timur, Ida Anak Agung Gde Agung, yang dikeluarkan pada tanggal 8 Februari 1949.[3]

Hingga tahun 1952, wilayah Sulawesi Tengah masih terbagi dua daerah otonom, yaitu Onderafdeeling Poso yang meliputi Poso, Luwuk Banggai dan Kolonodale yang beribu kota di Poso, dan Onderafdeeling Donggala meliputi Donggala, Palu, Parigi, dan Tolitoli dengan ibu kota yang terletak di Palu. Wilayah tersebut sering disebut pembagian wilayah Sulawesi Tengah bagian Barat dan Timur. Hal ini membuktikan bahwa Poso telah menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan Sulawesi wilayah Timur sejak ratusan tahun yang lalu.[2]

Pada tahun 1955 terjadi perkembangan wilayah menjadi 11 kampung dan sebagian kampung Gorontalo dilebur menjadi kampung Tawongan, kampung Tiongkok dan kampung Arab disatukan dengan kampung Gorontalo ditambah dengan kampung Madale/Karawasa, Buyumboyo dan Ranononcu yang meliputi wilayah Kagila/Lembomawo dan Moengko. Pada tahun 1959, jumlah kampung kembali berkembang menjadi 14 kampung dengan bertambahnya Kampung Kagila, Kampung Tegalrejo dan kampung Gebangrejo sedangkan kampung Lage berubah nama menjadi kampung Lombogia.[2]

2016-sekarang: Pembangunan[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 3 Mei 2016, lokasi Pasar Sentral Poso digusur dengan dibantu ratusan petugas gabungan Satpol PP dan didukung TNI-Polri. Penggusuran ini dilakukan sebagai hasil dari kebijakan relokasi pedagang ke pasar baru yang terletak di Kawua, Poso Kota Selatan. Lokasi pasar lama sendiri akan dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk warga kota Poso.[4]

Poso adalah kota pertama di Sulawesi Tengah yang menjalankan program Smart City (kota cerdas).[5] Pada tanggal 26 Mei 2017, Bupati melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang terletak di jalan lingkar Kelurahan Moengko, Kecamatan Poso Kota. Ini adalah salah satu upaya yang dilakukan pemerintah kabupaten untuk meraih Piala Adipura.[6]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Iklim[sunting | sunting sumber]

Menurut klasifikasi iklim Köppen, wilayah Poso termasuk daerah hujan tropis (Af). Suhu rata-rata tahunan mencapai 25.8℃. Bulan terpanas adalah bulan Oktober, dengan suhu bulanan rata-rata mencapai 26.4℃. Bulan yang paling dingin adalah bulan Juli, dengan suhu rata-rata bulanan mencapai 25.3℃. Curah hujan tahunan rata-rata adalah 1694.2 mm, dan curah hujan maksimum bulan Juli mencapai 182.9 mm. Curah hujan bulanan minimum adalah Januari sampai 111,8 mm. Curah hujan tahunan rata-rata mencapai 160,8 hari, dengan jumlah terbesar hari hujan berada di bulan Januari, yang mencapai 20.0 hari; berbeda dengan bulan September, yang rata-rata curah hujannya hanya selamai 8,1 hari.[7]

Data iklim Kota Poso, Sulawesi Tengah, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata harian °C (°F) 25.6
(78.1)
25.7
(78.3)
25.7
(78.3)
26.2
(79.2)
26
(79)
25.7
(78.3)
25.3
(77.5)
25.7
(78.3)
25.6
(78.1)
26.4
(79.5)
25.8
(78.4)
25.7
(78.3)
25.8
(78.4)
Presipitasi mm (inci) 113
(4.45)
127.5
(5.02)
142.7
(5.618)
161
(6.34)
175.2
(6.898)
158.3
(6.232)
181.8
(7.157)
156.6
(6.165)
129.4
(5.094)
111.4
(4.386)
122.8
(4.835)
115.1
(4.531)
1.694,8
(66,724)
Rata-rata hari hujan atau bersalju 20 17.3 16.4 12.7 13 12.3 10.5 9.5 8.1 9.3 12.9 18.8 160.8
 % kelembapan 84.5 84.2 84.1 84.3 83.7 83.2 81.2 78.7 78.2 79.8 82.5 84.4 82.4
Rata-rata sinar matahari harian 12.6 12.5 12.5 12.5 12.4 12.4 12.4 12.4 12.4 12.5 12.5 12.6 12.5
Sumber: Weatherbase[7]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk asli daerah Poso saat ini sudah bercampur dengan para perantau yang telah berada di daerah ini puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Selain suku asli, daerah Poso dan sekitarnya didiami oleh pendatang dari daerah luar. Hal ini juga merupakan salah satu bukti ketenaran daerah Poso dimasa silam. Seiring berkembangnya kota Poso selama rezim Orde Baru, Poso menjadi semakin beragam secara etnis. Penduduk Protestan selain Pamona termasuk orang-orang Minahasa, Bali, dan Tionghoa serta Mori, Napu, Besoa, dan Bada dari wilayah pedalaman kabupaten. Penduduk Muslim termasuk orang-orang Arab, Jawa, Bugis, Makassar, Mandar, Buton, Kaili, Tojo, Togean, dan Bungku dari dalam kabupaten. Kelompok minoritas Katolik terdiri dari orang Minahasa dan Tionghoa, serta para migran dari bekas koloni Portugis seperti Flores. Orang Bali adalah satu-satunya etnis yang memeluk agama Hindu. Secara keseluruhan, pada akhir 1990-an, persentase Muslim dari populasi kota Poso melebihi 50 persen, dan orang Bugis Muslim menguasai banyak perdagangan kota.[8]

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, dalam kunjungannya ke Poso —dalam rangka melepas lomba lari maraton 42 km— pada tanggal 4 November 2016, menyatakan bahwa Poso memiliki potensi untuk menjadi kota olahraga.[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Selayang Pandang Kota Poso". Pemerintah Kabupaten Poso. 8 Februari 2016. Diakses tanggal 10 April 2016. 
  2. ^ a b c "Kecamatan Poso Kota dalam Angka 2016" (PDF). BPS Kabupaten Poso. Diakses tanggal 10 Desember 2016. 
  3. ^ "Poso, Calon Ibu kota Provinsi yang Tereliminasi". Komunitas Historia Sulawesi Tengah. 2 November 2017. Diakses tanggal 8 November 2017. 
  4. ^ "Penggusuran Pasar Diwarnai Bentrokan, Lima Pedagang Diamankan Polisi". Kompas. 3 Mei 2016. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  5. ^ Fauzi (22 Mei 2017). "Telkom Sulteng: Poso Sudah Aplikasikan Smart City". ANTARA News Sulawesi Tengah. Diakses tanggal 21 Oktober 2017. 
  6. ^ Timparosa, Feri (28 Mei 2017). "Poso Bangun TPA Sampah yang Representatif". ANTARA News Sulawesi Tengah. Diakses tanggal 21 Oktober 2017. 
  7. ^ a b "POSO, INDONESIA". Watherbase. Diakses tanggal 21 Juli 2017. 
  8. ^ Aragon 2001, hlm. 57.
  9. ^ "Lepas Marathon 42 km, Menpora Ingin Poso Menjadi Kota Olahraga". Netral News. 5 November 2016. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 

Sumber[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]