Badik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Badik adalah senjata tradisional yang berasal dari masyarakat etnis Suku Makassar di Sulawesi Selatan, hampir menyerupai di masyarakat Bugis yang bernama Gecong, Kawali oleh orang Luwu ataupun Rencong oleh orang Aceh. Bersisi tajam tunggal atau ganda, dengan panjang mencapai sekitar setengah 20-30 Cm.

Pada masa Raja Gowa ke-10 Daeng Bonto Karaeng Tunipallangga (1546-1565) kegiatan Padeddeq Bassi (Pandai Besi) benar-benar di akomodir oleh pemerintahan Kerajaan Gowa, hal ini untuk keperluan Perang dalam ekspansi perluasan wilayah kerajaan Gowa. Dimana pada masa ini, bukan hanya Badik namun juga pistol, Keris, Meriam dan jenis kapal Perang di perairan semacam Perahu Palari.


[1]

Badik Pada Masyarakat Sulawesi Selatan[sunting | sunting sumber]

Badik sebagai salah satu jenis benda hasil dari suatu proses kegiatan teknologi menempa logam adalah perwujudan dari kebudayaan materil masyarakat Sulawesi Selatan. Badik sebagai benda budaya, dipahami dan dipercaya oleh masyarakat memiliki berbagai fungsi dan kegunaan yang tidak terbatas hanya sebagai senjata tajam, masyarakat percaya bahwa badik mempunyai nilai dan makna tertentu.

Badik memiliki 4 (empat) fungsi dalam kehidupan masyarakat, yaitu:

  • Fungsi badik dalam Perang masa kerajaan
  • Fungsi badik dalam keluarga
  • Fungsi badik dalam kegiatan ekonomi
  • fungsi badik sebagai pembela diri[2]

Badik Dedde Taeng[sunting | sunting sumber]

Jenis Badik Makassar, koleksi ~~~~

Badik Makassar memiliki kale (bilah) yang pipih, battang (perut) buncit dan tajam serta cappa’ (ujung) yang runcing. Badik yang berbentuk seperti ini disebut Badik Sari. Badik Sari terdiri atas bagian pangulu (gagang badik), sumpa’ kale (tubuh badik) dan banoang (sarung badik). Lain Makassar lain pula Bugis, di daerah ini senjata tradisionalnya disebut dengan Gecong (Bugis) dan Kawali oleh orang Luwu di Sulawesi Selatan.

Kawali Luwu[sunting | sunting sumber]

Kawali Luwu memiliki besi atau bilah yang pipih, ujung runcing dan bentuk agak melebar pada bagian ujung, sedangkan kawali Luwu memiliki bessi pipih dan berbentuk lurus. Kawali pun memiliki bagian-bagian, seperti pangulu (hulu), bessi (bilah) dan wanua (sarung). Seperti pada senjata tradisional lainnya, kawali juga dipercaya memiliki kekuatan sakti, baik itu yang dapat membawa keberuntungan ataupun kesialan.

Kawali adalah senjata tradisional jenis Pisau yang mempunyai motif kaitan pada bilahnya dan dipercaya sebagai senjata yang akan memberikan kekayaan bagi pemiliknya. Mempunyai motif berupa tiga noktah dalam posisi tungku dipercaya akan membawa keberuntungan bagi pemiliknya berupa tidak akan kekurangan makanan dan tidak akan mengalami duka nestapa. Itulah sebabnya, badik ini paling cocok digunakan bagi mereka yang berusaha di sektor pertanian.

Cara Memegang Badik[sunting | sunting sumber]

Badik dipegang seperti memegang senjata api (pistol) hanya saja ini bukan senjata api. Badik dipegang dengan satu tangan dengan ke - empat jari (jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking) di bagian depan pegangannya dan jari jempol di bagian belakang pegangannya menyentuh jari telunjuk dan jari tengah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/sekelumit-tentang-badik-lampung/
  2. ^ Diambil dari informasi di Museum La Galigo Makssar

Panre Beddu, sang pembuat badik dari Segeri