Lantaka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Dua lantaka.

Lantaka atau rentaka adalah sejenis meriam putar perunggu yang dipasang di kapal dagang dan kapal perang di Asia Tenggara maritim. Ia biasanya dipasang pada kapal pelaut asli dari Filipina, Indonesia, dan Malaysia. Senjata ini biasanya digunakan untuk bertahan melawan perompak yang meminta upeti bagi kepala daerah atau penguasa. Rentaka dan lela dikenal oleh orang Melayu sebagai meriam kecil,[1][2] perbedaannya adalah rentaka lebih pendek dan lebih kecil kalibernya daripada lela.[3]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Namanya dapat berasal dari kata Melayu lantak, yang berarti memalu atau menabrak,[4] memukul kuat-kuat supaya keras atau padat,[5] merujuk ke proses pemuatan pelurunya (muzzle-loading, pengisian dari depan). Ramrod (batang besi yang digunakan mengisi peluru dari moncong) dalam bahasa Melayu disebut pelantak.[6] Kata Melayu rentak berarti "menginjakkan kaki dalam kemarahan",[6] "entakan kaki bersama-sama".[5]

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Rentaka adalah "adik" dari lela, mereka lebih kecil, dengan panjang kurang dari 100 cm.[3] Biasanya, diameter lubang meriam ini berkisar antara 10-50 mm.[1] Banyak dari senjata tersebut dipasang di garpu putar (disebut cagak dalam bahasa Melayu)[1] dan dikenal sebagai meriam putar. Meriam yang lebih kecil dapat dipasang di mana saja termasuk di tali-temali kapal (rigging). Meriam berukuran sedang sering digunakan dalam soket yang diperkuat pada rel kapal dan kadang-kadang disebut sebagai senjata rel. Meriam putar terberat dipasang pada gerobak meriam (gun carriage) agar lebih mudah dibawa.

Perahu perang Iban di sungai Skerang.

Biasanya meriam awal yang dilengkapi dengan ornamen indah berasal dari wilayah Malaka dan Pahang,[7] dengan model selanjutnya dari Belanda dan Portugal, dan akhirnya dari Brunei dan pengrajin lokal lainnya. Namun, ada juga varian laras ganda yang digunakan secara umum di Filipina. Di Malaysia, varian laras ganda disebut meriam Lela dan berukuran lebih panjang dari Lantaka.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal usul persenjataan berbasis mesiu di kepulauan Nusantara dapat ditelusuri dari akhir abad ke-13. Invasi Mongol ke Jawa (1293) membawa teknologi bubuk mesiu ke Jawa dalam bentuk meriam (Bahasa Cina: Pao).[8]:1–2[9][10] Ini menghasilkan cetbang gaya Timur yang mirip dengan meriam Cina. Namun meriam putar baru berkembang di Nusantara karena hubungan maritim yang erat antara kepulauan Nusantara dengan wilayah India Barat setelah 1460 M, yang membawa senjata mesiu jenis baru ke Nusantara, kemungkinan melalui perantara Arab. Senjata ini tampaknya merupakan meriam dan meriam tradisi Utsmaniyah, misalnya prangi, yaitu meriam putar isian belakang. Jenis cetbang baru, yang disebut cetbang gaya Barat, dikembangkan dari meriam prangi Turki. Sama seperti prangi, cetbang ini adalah meriam putar isian belakang yang terbuat dari perunggu atau besi, menembakkan peluru tunggal atau scattershot (peluru sebar - peluru kecil dalam jumlah banyak).[11]:94-95

Lantaka suku Moro dan baju zirah lamina Moro.

Menurut catatan Portugis yang datang ke Malaka pada abad ke-16, telah terdapat perkampungan besar dari pedagang Jawa yang diketuai oleh seorang kepala Kampung. Orang-orang Jawa di Malaka juga membuat meriam sendiri secara swadaya, dimana meriam pada saat itu sama bergunanya dengan layar pada kapal dagang.[12]

Kebanyakan lantaka terbuat dari perunggu dan yang paling awal diisi dari belakang.[13] Michael Charney (2004) menunjukkan bahwa meriam putar Melayu awal diisi dari bagian belakang.[14]:50 Ini menunjukkan bahwa cetbang adalah pendahulu langsung lantaka. Ada kecenderungan meriam menjadi ke pengisian depan selama masa kolonial.[15] Walau bagaimanapun, ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 M, baik meriam putar yang diisi dari belakang maupun depan ditemukan dan dirampas oleh Portugis.[14]:50

Penduduk setempat tidak takjub dengan kekuatan kapal dagang bersenjata berat Eropa. De Barros menyebutkan bahwa saat jatuhnya Malaka, Albuquerque merebut 3.000 dari 8.000 artileri. Di antaranya, 2.000 terbuat dari kuningan dan sisanya dari besi, dalam gaya meriam Berço (meriam putar isian belakang) Portugis. Semua artileri memiliki pedati meriam yang tepat yang tidak dapat disaingi bahkan oleh Portugal. [7][16][17]:62-64 Meriam yang ditemukan berasal dari berbagai jenis: esmeril (meriam putar 1/4 sampai 1/2 pon,[18] mungkin merujuk pada cetbang atau lantaka), falconet (meriam putar cor perunggu yang lebih besar dari esmeril, 1 sampai 2 pon,[18] mungkin merujuk pada lela), saker berukuran sedang (meriam panjang atau culverin diantara 6-10 pon),[19] dan bombard (meriam yang pendek, gemuk, dan berat).[14]:46 Orang Melayu juga memiliki 1 buah meriam besar yang cantik, dikirim oleh raja Calicut.[14]:47[20]:22 Banyaknya artileri di Malaka berasal dari berbagai sumber di kepulauan Nusantara: Pahang, Jawa, Brunei, Minangkabau, dan Aceh.[7][3][21]

Perlu dicatat bahwa, meskipun memiliki banyak artileri dan senjata api, senjata kesultanan Malaka umumnya dan sebagian besarnya dibeli dari orang Jawa dan Gujarat, di mana orang Jawa dan Gujarat bertugas sebagai operator senjata. Pada awal abad ke-16, sebelum kedatangan Portugis, orang Melayu adalah orang-orang tanpa senjata bubuk mesiu. Sejarah Melayu menyebutkan bahwa pada tahun 1509 mereka tidak mengerti "mengapa peluru membunuh", menunjukkan ketidakbiasaan mereka menggunakan senjata api dalam pertempuran, jika tidak dalam upacara.[22]:3 Sebagaimana dicatat Sejarah Melayu:

Setelah datang ke Melaka, maka bertemu, ditembaknya dengan meriam. Maka segala orang Melaka pun hairan, terkejut menengar bunyi meriam itu. Katanya, "Bunyi apa ini, sepert guruh ini?". Maka meriam itu pun datanglah mengenai orang Melaka, ada yang putus lehernya, ada yang putus tangannya, ada yang panggal pahanya. Maka bertambahlah hairannya orang Melaka melihat hal bedil itu. Katanya: "Apa namanya senjata yang bulat itu maka dengan tajamnya maka ia membunuh?" [23]:254-255

Portugal dan Belanda cepat menyadari bahwa mereka bisa menukar meriam tidak hanya untuk rempah-rempah dan porselen, tetapi juga untuk dijaminnya perjalanan yang aman di perairan yang dipenuhi bajak laut. Pabrik lokal terus memproduksi senjata, menggunakan pola lokal dan desain dari kuningan dan perunggu. Corak buaya, lumba-lumba, burung dan naga merupakan motif umum.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

  • Cetbang, meriam yang digunakan Majapahit dari abad ke-14
  • Lela, versi lebih besar dari rentaka
  • Meriam kecil miniatur, versi lebih kecil (10-60 cm) dari lantaka dan meriam lainnya, berfungsi sebagai alat tukar

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Cannons of the Malay Archipelago". www.acant.org.au. Diakses tanggal 2020-01-25. 
  2. ^ Teoh, Alex Eng Kean (2005). The Might of the Miniature Cannon A treasure of Borneo and the Malay Archipelago. Asean Heritage. 
  3. ^ a b c Ismail, Norain B.T. (2012). Peperangan dalam Historiografi Johor: Kajian Terhadap Tuhfat Al-Nafis. Kuala Lumpur: Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya. 
  4. ^ Wilkinson, Richard James (1908). An Abridged Malay-English Dictionary (Romanised). Kuala Lumpur: F.M.S Government Press. 
  5. ^ a b Departemen Pendidikan Nasional (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 
  6. ^ a b Wilkinson, Richard James (1901). A Malay-English dictionary. Hongkong: Kelly & Walsh, limited.  Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  7. ^ a b c A History of Greek Fire and Gunpowder. Diakses tanggal 12 December 2014. 
  8. ^ Schlegel, Gustaaf (1902). "On the Invention and Use of Fire-Arms and Gunpowder in China, Prior to the Arrival of European". T'oung Pao. 3: 1–11.
  9. ^ Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 208.
  10. ^ Reid, Anthony (2011). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal. 255.
  11. ^ Averoes, Muhammad (2020). Antara Cerita dan Sejarah: Meriam Cetbang Majapahit. Jurnal Sejarah, 3(2), 89 - 100.
  12. ^ Furnivall, J.S (2010). Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge University Press. Halaman 9: "when Portuguese first came to Malacca they noticed a large colony of Javanese merchants under its own headman; the Javanese even founded their own cannon, which then, and for long after, were as necessary to merchant ships as sails."
  13. ^ Ooi, Keat Gin (2004). Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor. ABC-CLIO. ISBN 9781576077702. 
  14. ^ a b c d Charney, Michael (2004). Southeast Asian Warfare, 1300-1900. BRILL. ISBN 9789047406921. 
  15. ^ Hamid, Rahimah A. (2015). Kearifan Tempatan: Pandainya Melayu Dalam Karya Sastera. Penerbit USM. ISBN 9789838619332. 
  16. ^ A Descriptive Dictionary of the Indian Islands & Adjacent Countries. Diakses tanggal 12 December 2014. 
  17. ^ Albuquerque, Afonso de (1875). The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque, Second Viceroy of India, translated from the Portuguese edition of 1774. London: The Hakluyt society. 
  18. ^ a b Manucy, Albert C. (1949). Artillery Through the Ages: A Short Illustrated History of the Cannon, Emphasizing Types Used in America. U.S. Department of the Interior Washington. hlm. 34. 
  19. ^ Lettera di Giovanni Da Empoli, with introduction and notes by A. Bausani, Rome, 1970, page 138.
  20. ^ Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. 
  21. ^ Ayob, Yusman (1995). Senjata dan Alat Tradisional. Selangor: Penerbit Prisma Sdn Bhd. 
  22. ^ Charney, Michael (2012). Iberians and Southeast Asians at War: the Violent First Encounter at Melaka in 1511 and After. Di Waffen Wissen Wandel: Anpassung und Lernen in transkulturellen Erstkonflikten. Hamburger Edition.
  23. ^ Kheng, Cheah Boon (1998). Sejarah Melayu The Malay Annals MS RAFFLES No. 18 Edisi Rumi Baru/New Romanised Edition. Academic Art & Printing Services Sdn. Bhd.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • The Sea Research Society has a collection of over sixty of these guns, most dating from the 17th and 18th centuries.