Kereta api Bima

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kereta api Bintang Sendja)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Untuk Bima sebagai tokoh Mahabharata, lihat Bima (Mahabharata). Untuk kegunaan lainnya, lihat Bima (disambiguasi).
Kereta api Bima
Plat nama KA Bima.PNG
BimaTrain2019.jpg
Kereta api Bima saat akan memasuki Stasiun Surabaya Gubeng dari Malang
Informasi umum
Jenis layananKereta api ekspres
StatusBeroperasi
Daerah operasiDaerah Operasi I Jakarta
PendahuluKereta api Bintang Sendja
(hingga pertengahan tahun 1960-an)
Mulai beroperasi1 Juni 1967 (1967-06-01) (52 tahun lalu)
Operator saat iniPT Kereta Api Indonesia
Jumlah penumpang800-1.000 penumpang per hari (rata-rata)
Rute
Stasiun awalGambir
Jumlah pemberhentianLihatlah di bawah.
Stasiun akhirMalang
Jarak tempuh907 km
Frekuensi perjalananSatu kali pergi pulang sehari
Jenis relRel berat
Pelayanan
KelasEksekutif
Pengaturan tempat duduk50 tempat duduk disusun 2-2
kursi dapat direbahkan dan diputar
Fasilitas kateringAda
dapat memesan sendiri makanan di kereta makan yang tersedia.
Fasilitas observasiKaca panorama dupleks, dengan blinds, lapisan laminasi isolator panas.
Fasilitas hiburanAda
Fasilitas bagasiAda
Fasilitas lainLampu baca, toilet, alat pemadam api ringan, rem darurat, AC, peredam suara.
Teknis sarana dan prasarana
Bakal pelantingCC206
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasional60 s.d. 100 km/jam
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI
Nomor pada jadwal71-74
Peta rute
Kereta api Bima
ke Jakarta Kota
Jakarta Gambir Roundeltjk2.png
ke Bogor
ke Tanah Abang
Jatinegara KRL Icon Blue.svg KRL Icon Yellow.svg Roundeltjk5.png Roundetjk10.png Roundetjk11.png
Jalan Tol Ir.Wiyoto Wiyono
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jatibarang
Cirebon
ke Semarang
Jawa Barat
Jawa Tengah
ke Tegal
Jembatan Sakalimolas
Purwokerto
Terowongan Notog
Jembatan Kali Serayu
Terowongan Kebasen
Ke Bandung
Terowongan Ijo
Kebumen
Kutoarjo
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Yogyakarta
DI Yogyakarta
Jawa Tengah
Solo Balapan
Ke Semarang
Jembatan Bengawan Solo
Jawa Tengah
Jawa Timur
Madiun
Nganjuk
Kertosono
Ke Malang
Jembatan Kali Brantas
Jombang
Mojokerto
Jembatan Kali Porong
Ke Sidoarjo
Ke Malang
Ke SB
Surabaya Gubeng
ke Yogyakarta
Sidoarjo
ke Jember
Lawang
Malang
ke Kertosono

Keterangan:

Kereta api Bima merupakan kereta api penumpang kelas eksekutif yang dioperasikan oleh PT Kereta api Indonesia (Persero) Daerah Operasi I Jakarta yang melayani lintas Gambir-Malang lewat Surabaya Gubeng-Yogyakarta dan sebaliknya. Kereta api ini tidak melalui jalur utara (Semarang), melainkan melalui jalur selatan (Purwokerto) untuk meningkatkan okupansi penumpang di jalur selatan yang akan menaiki kereta api ini.

Kereta api Bima pertama kali diluncurkan pada tanggal 1 Juni 1967[1]; mengawali sejarah pengoperasian kereta api pendingin ruangan berpengatur (Air Conditioner) di Indonesia. Pada tahun 2002, kereta api Bima dianggap suatu kereta api kelas eksekutif yang sejajar dengan kereta api kelas Argo karena ia menggunakan rangkaian kereta selayaknya kereta Argo—dalam hal ini menggunakan rangkaian bekas kereta api Argo Bromo—hingga kereta api Bima mendapat kereta eksekutif baru keluaran tahun 2016.

Asal-usul nama[sunting | sunting sumber]

Nama 'Bima' merupakan singkatan dari "Biru Malam" karena rangkaian kereta api ini bercorak biru dan beroperasi pada malam hari pada awal peluncurannya. Selain itu, kata "Bima" berasal dari nama salah satu tokoh Mahabharata, Bima, yang digambarkan memiliki karakter tubuh yang besar, kukuh, kekar, kuat, dan pemberani. Karakter itu dilekatkan pada kereta api ini untuk menggambarkan keandalan perjalanan dan kualitas pelayanannya yang selalu siap dalam berbagai keadaan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kereta tidur (1967-1984)[sunting | sunting sumber]

Kereta api Bima diresmikan pada tanggal 1 Juni 1967 dengan menggunakan kereta tidur berwarna biru buatan pabrik Waggonbau Görlitz, Jerman Timur dan menjadi kereta api pertama yang menggunakan kereta pembangkit (DPW*). Awalnya peta lintas kereta api ini mengikuti arah pendahulunya, Bintang Sendja—melewati Semarang kemudian Kedungjati. Setelah beberapa minggu berikutnya, lintasan kereta api ini diubah melewati Purwokerto dan Yogyakarta hingga sekarang.[1]

Selama tahun 1960-an hingga awal 1980-an, kereta api Bima beroperasi dengan urutan rangkaian: satu buah lokomotif (bercorak hijau-kuning PNKA/PJKA), dua kereta SAGW (kereta tidur kelas I), dua kereta SBGW (kereta tidur kelas II), satu kereta FW (makan), dan satu kereta DPW (pembangkit) ditambah satu kereta bagasi. Kereta SAGW memiliki jendela lebar dengan lorong yang berlekuk-lekuk dan kompartemen yang luas yang diperuntukkan bagi penumpang yang membayar tiket termahal, serta terdapat fasilitas lain seperti lemari pakaian, wastafel, serta tempat tidur yang dapat dilipat menjadi tempat duduk dan menghadap arah perjalanan.[1] Sementara itu, kereta SBGW memiliki kaca jendela agak pendek, fasilitas tempat tidur tiga tingkat, dan tempat merokok di koridor. Pada kereta makan (FW) tersedia makanan dengan sistem tuslah serta bagian dalam yang menyerupai restoran.[1]

Kereta api ini menjadi kereta dengan berpendingin ruangan pertama di Indonesia dan menjadi kereta api yang memiliki kebanggaan tersendiri bagi siapa pun yang pernah menaiki ini. Kualitas pelayanan KA Bima sejajar dengan hotel berbintang sehingga menghemat biaya akomodasi dan transportasi. Pada saat itu pula, kereta api ini sering menghiasi berbagai media.

Kereta tidur dan kereta eksekutif (1984-1995)[sunting | sunting sumber]

Karena alasan sosial, kereta tidur ini (SAGW) dihapus sehingga PJKA mengimpor dua rangkaian kereta eksekutif buatan suatu pabrik di Arad, Rumania dengan nomor seri "K1-847xx" (dibuat tahun 1984, nomor baru: "K1 0 84 xx"[catatan 1]). Rangkaian kereta dengan tempat duduk ini difungsikan untuk mengganti kereta tidur "SAGW" yang berhenti beroperasi. Kereta ini dirangkai bersama kereta "SBGW". Sementara itu, sisa kereta tidur "SAGW" sempat digunakan di layanan PJKA lainnya, seperti kereta api Mutiara Utara, Senja, atau Mutiara Selatan sebelum diistirahatkan dan diubah menjadi kereta eksekutif biasa. Tiga kereta di antaranya menjadi kereta kenegaraan, kini dirubah menjadi kereta pariwisata, antara lain "Nusantara", "Bali", dan "Toraja".

Kereta dengan seri K1-847xx ini diyakini sebagai kereta eksekutif terburuk yang pernah dimiliki oleh PJKA, dengan desain kursi yang tidak nyaman dan tidak dapat diputar dengan model kursi yang berhadapan di tengah kereta ditambah dengan kualitas interior yang kurang begitu baik. Hal ini menimbulkan penurunan kualitas pada pelayanan kereta api ini.

Kereta api Bima tetap menggunakan susunan kereta eksekutif biasa dan "SBGW" (KT-677xx) hingga akhir dekade 1980-an dan setelah awal dekade 1990-an, kereta "SBGW" berhenti beroperasi. Kereta "SAGW" dan "SBGW" diubah menjadi kereta eksekutif dengan menghilangkan tempat tidur dan menggantinya dengan tempat duduk. Sistem penomoran kereta bekas "SAGW" dan "SBGW" diubah menjadi K1-67xxx (nomor baru: K1 0 67 xx).[catatan 1]

Peran kereta "SBGW" kemudian digantikan oleh kereta kuset (couchette). Kereta ini dirubah dari kereta ekonomi buatan pabrik Nippon Sharyo yang sudah ada sejak 1964 dengan menambahkan AC, sekat ruangan, dan memasang tempat tidur paten. Namun pada tahun 1995, kereta api ini dirubah menjadi kereta eksekutif biasa karena ada kebijakan dari Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) yang lebih mengutamakan laba sehingga pelayanan kereta tidur dihapus.

Kereta eksekutif (1995-sekarang)[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1995, Perumka mengeluarkan suatu layanan kereta api Argo, yakni Argo Bromo JS-950 dan Argo Gede JB-250 yang dianggap menggeser layanan kereta api Bima dari posisi puncak sebagai kereta unggulan sehingga penumpang lebih banyak memilih kereta api kelas Argo karena waktu tempuh yang lebih cepat dengan lintas Argo Bromo yang melewati jalur utara mengikuti pendahulunya (Mutiara Utara dan Suryajaya). Penyebab lain yang mengakibatkan Argo Bromo lebih cepat adalah penguatan bantalan rel lintas utara yang sudah direncanakan sebelumnya—yang dahulu bertekanan gandar rendah karena sebagian merupakan bekas jalur trem—sehingga KA Argo Bromo bisa dilalui oleh lokomotif besar (CC 203) dengan kecepatan 120 km/jam.

Sejak dihapuskannya kereta kuset, akhirnya kereta api Bima menggunakan kereta eksekutif biasa, yaitu campuran antara kereta eksekutif buatan tahun 60-an yang dulunya merupakan kereta tidur dan juga kereta eksekutif milik KA Bima buatan tahun 1984. Kereta api Bima saat itu mulai ditarik menggunakan lokomotif CC 203.

Kemunculan kereta api Argo Bromo Anggrek dengan rangkaian buatan PT INKA keluaran tahun 1997 dengan bogie berjenis K9 (P/K1/M1 0 97 xx) membuat armada Argo Bromo menjadi berlimpah. Maka rangkaian kereta Argo Bromo (bekas JS-950) sempat dialihkan untuk operasional kereta api ini. Meskipun pada akhirnya, rangkaian kereta Argo Bromo JS-950 ini dipakai apabila kereta api Argo Bromo Anggrek mengalami masalah karena jumlah kereta tersebut sangat terbatas serta mudah rusak apabila kinerja terlalu berlebihan (saat itu kereta api Argo Bromo Anggrek hanya memiliki dua rangkaian kereta, sementara idealnya kereta api Argo Bromo Anggrek memiliki tiga rangkaian kereta seperti saat ini).

Dengan kemunculan rangkaian kereta Argo Bromo Anggrek tahun 2001 dengan bogie berjenis K9 (P/K1/M1 0 01 xx) ditambah dengan kebijakan rasionalisasi yang diterapkan oleh PT KA mengakibatkan layanan kereta api Argo Bromo JS-950 dihapus. Maka mulai tahun 2002, untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang maka rangkaian bekas Argo Bromo JS-950 (P/K1/KM1 0 95 xx) dipakai seterusnya untuk kereta api ini hingga tahun 2016. Rangkaian kereta milik Bima yang lama dihibahkan untuk operasional kereta api lain, seperti kereta api Gumarang dan Sembrani, serta standar pelayanan kereta api ini dinaikkan menjadi standar pelayanan kereta api kelas Argo.

Pada awal tahun 2014, kereta api Bima diperpanjang lintasannya hingga Stasiun Malang. Kemudian pada tanggal 21 Juli 2016, kereta api ini mendapatkan rangkaian kereta eksekutif produksi PT INKA keluaran tahun 2016 (K1 2016) bersamaan dengan rangkaian kereta api Argo Lawu dan Argo Dwipangga dengan bogie berjenis TB-1014 (K10). Sejak kereta api Sembrani menggunakan rangkaian yang sejenis, rangkaian kereta Bima juga seringkali bertukar kereta dengan rangkaian kereta milik Sembrani, maupun Argo Lawu Fakultatif.

Dengan berlakunya grafik perjalanan kereta api (gapeka) mulai tanggal 1 Desember 2019, kereta api ini mengalami perubahan nomor kereta api menjadi KA 71-74.

Lokomotif[sunting | sunting sumber]

Pada masa PNKA hingga PJKA, terdapat beragam lokomotif yang paling sering digunakan kereta api ini, seperti BB 200, BB 201, atau CC 200. Menurut sebagian orang, BB 301 juga digunakan pada awal pengoperasiannya walaupun pada tahun 1977 muncul lokomotif CC201 buatan General Electric sebagai bakal pelanting, tetapi BB301 dan BB304 adalah bekal pelanting yang paling sering digunakan untuk menarik kereta api ini sehingga CC201 menjadi lokomotif utama penarik kereta api Bima seiring menurunnya kemampuan lokomotif BB301.

Pada tahun 1995, lokomotif CC 203 didatangkan sebagai bakal pelanting beberapa kereta api eksekutif menggantikan CC 201 kemudian CC 203 dan CC 204 secara bersamaan menjadi bakal pelanting kereta api ini. Akhirnya mulai tahun 2013, lokomotif CC 206 didatangkan untuk menggantikan CC 203 dan CC 204 yang dimutasi ke Sumatra Selatan dan menjadi bakal pelanting andalan kereta api ini.

Data teknis[sunting | sunting sumber]

Lintasan perjalanan Gambir-Malang pp.
Lokomotif CC206
Rangkaian satu kereta pembangkit (P 2016 JAKK) + empat kereta eksekutif (K1 2016 JAKK) + satu kereta makan (M1 2016 JAKK) + empat kereta eksekutif (K1 2016 JAKK)
Jumlah tempat duduk 400 tempat duduk

Tarif[sunting | sunting sumber]

Tarif kereta api ini adalah antara Rp265.000,00 - Rp700.000,00, bergantung pada jarak yang ditempuh penumpang, subkelas/posisi tempat duduk dalam rangkaian kereta, serta hari-hari tertentu seperti akhir pekan dan libur nasional. Selain itu, berlaku pula tarif khusus yang dapat dipesan pemesanan bisa dilakukan di loket stasiun maupun KAI Access mulai :

Tiga puluh hari sebelum keberangkatan (H-30) :

Dua jam sebelum keberangkatan :

Jadwal perjalanan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini jadwal perjalanan kereta api Bima per 1 Desember 2019 (berdasarkan Gapeka 2019).

KA 74/71 (Malang-Gambir)
Stasiun Datang Berangkat
Malang - 14.25
Lawang 14.48 14.52
Sidoarjo 15.52 15.56
Waru 16.09 16.11
Surabaya Gubeng 16.23 17.00
Mojokerto 17.36 17.40
Jombang 18.02 18.05
Kertosono 18.21 18.24
Nganjuk 18.44 18.46
Madiun 19.26 19.40
Solo Balapan 20.56 21.01
Yogyakarta 21.49 22.00
Kebumen 23.20 23.32
Purwokerto 00.35 00.42
Cirebon 02.35 02.43
Jatibarang 03.13 03.15
Jatinegara 05.26 05.28
Gambir 05.43 -
KA 72/73 (Gambir-Malang)
Gambir - 16.40
Jatibarang 19.05 19.07
Cirebon 19.39 19.46
Purwokerto 21.41 21.51
Kroya 22.18 22.21
Ijo 22.41 22.50
Gombong 22.58 23.06
Kutoarjo 00.06 00.10
Yogyakarta 00.59 01.09
Solo Balapan 01.56 02.01
Madiun 03.19 03.27
Nganjuk 04.06 04.08
Kertosono 04.28 04.31
Jombang 04.47 04.50
Mojokerto 05.13 05.17
Surabaya Gubeng 05.54 06.25
Waru 06.37 06.39
Sidoarjo 06.52 06.56
Lawang 08.00 08.03
Malang 08.27 -

Antarmoda pendukung[sunting | sunting sumber]

Menuju Bali dari arah Malang[sunting | sunting sumber]

Kereta api Bima juga dapat dipakai sebagai moda transportasi penghubung dari Malang ke objek wisata yang ada di Pulau Bali dan sebaliknya. Setiba di Surabaya, penumpang singgah di ruang VIP Stasiun Surabaya Gubeng untuk meneruskan perjalalan ke Banyuwangi dengan Mutiara Timur malam dan sampai di Banyuwangi pada pagi hari. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Denpasar. Demikian juga sebaliknya, berangkat dari Banyuwangi dengan menggunakan KA Mutiara Timur malam untuk sampai di Surabaya Gubeng, kemudian singgah di ruang tunggu Stasiun Surabaya Gubeng dan meneruskan perjalanan menuju Sidoarjo, Lawang, maupun Malang menggunakan KA Bima.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Insiden[sunting | sunting sumber]

  1. Pada bulan Oktober 2010, kereta api Bima bersinggungan dengan kereta api Gaya Baru Malam Selatan paling belakang di Stasiun Purwosari karena kereta api Gaya Baru Malam belum terparkir penuh.[2]
  2. Pada tanggal 8 September 2015 pukul 05.20 WIB, kereta api Bima menabrak mobil bak terbuka yang menerobos pintu perlintasan di Cipinang, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Akibatnya, jadwal kereta api jarak jauh dan KRL menjadi terganggu.[3]
  3. Pada tanggal 10 November 2015, seorang ibu beserta anaknya tewas tertabrak KA Bima pada perlintasan tanpa palang pintu di Kramatjegu, Taman, Sidoarjo setelah pulang dari pasar.[4]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 45 tahun 2010.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]