Nasi krawu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Nasi Krawu Gresik

Nasi krawu (Hanacaraka:ꦱꦼꦒ​ꦏꦿꦮꦸ, Jawa: Sega krawu) merupakan makanan khas dari daerah Gresik, Jawa Timur. Ciri khasnya adalah nasinya yang pulen dan disajikan dengan daun pisang. Lauknya dapat berupa sayatan daging sapi, semur daging, jeroan sapi, sambal petis dan serundeng. Sambal terasi yang disajikan bersama dengan nasi krawu memiliki rasa pedas yang khas.

Nasi krawu sebenarnya merupakan makanan yang berasal dari Madura, tetapi bila dilihat sangat jauh berbeda dengan nasi krawu yang ada di pulau Madura, hal itu karena Nasi Krawu di Gresik mengalami banyak perkembangan.

Awal Mula[sunting | sunting sumber]

Masakan ini bermula pada saat Gresik diserang oleh Cakraningrat Sampang. Ketika Bupati Gresik dan Jawa hadir dalam pertemuan besar di Mataram, Yogyakarta, melihat Gresik yang kosong dan minim penjagaan maka Cakraningrat merebut Gresik, harta benda, beserta istri dan anak pejabat Gresik, hingga kabar direbutnya Gresik yang memiliki Bandar pelabuhan terbesar di Jawa dikuasai Madura sampai tiba di Yogyakarta, tetapi tidak ada bupati yang berani menghadapi Madura kecuali bupati Ponorogo, maka diutuslah Bupati Ponorogo oleh Raja Mataram untuk membantu Gresik menghadapi serangan Madura.[1][2]

Alhasil, perang dimenangkan oleh pasukan Gresik dan Ponorogo, para istri, anak dan harta bupati dan pejabat Gresik dikembalikan, akan tetapi sisa pasukan Madura yang berada di Gresik tidak dapat kembali ke Madura karena perahu-perahu Madura dibakar dan mereka dijadikan sebagai tawanan perang seumur hidup. Sisa-sisa pasukan Madura ini baik pria dan wanita ditempatkan di suatu kamp tahanan tawanan yang kini dikenal dengan dusun Maduran desa Roomo. Disana tawanan dari Madura disolasikan untuk tidak berhubungan langsung dengan tuannya di pulau Madura.[3]

Dengan berjalannya waktu, ketika dilaksanakannya kongres Sarekat Islam dipimpin oleh HOS Cokroaminoto tahun 1913 di Surabaya, yang menjunjung persatuan umat Islam di Nusantara, maka atas saran Sarekat Islam Afdeling Grisse untuk membebaskan para tawanan kamp pasukan Madura ratusan tahun hingga beranak-pinak di dusun Maduran. Sejak saat itulah orang-orang dusun Maduran mulai bersosialisasi ke masyarakat Gresik yang kemudian sebagian berkerja di pesisir Gresik menjadi buruh dan penjual Nasi Madura. karena cara pengambilan nasi Madura ini dilakukan dengan cara menggunakan tangan, maka oleh masyarakat Gresik disebut dengan Krawukan (dalam bahasa Jawa berarti mengambil menggunakan tangan).

Sementara itu, dalam Babad Sumenep juga menyebutkan bahwa Gresik pernah diperintah oleh Jaka Wedi (Agus Wedi) yang merupakan saudara Jaka Tole (Arya Kuda Panole) dari Madura. Yang setelahnya penguasa Gresik memiliki hubungan dengan Madura terutama dengan dinasti Cakraningrat di Madura Barat. Selain itu juga jarak selat antara Madura dan Gresik yang sangat dekat. Sehingga pengaruh Madura di Gresik sangat kental.

Pengaruh Madura tersebut berdampak pada budaya khususnya kuliner. Diaspora orang-orang Madura pasti juga membawa budaya mereka khususnya ke Gresik. Nasi Krawu merupakan varian nasi campur yang memiliki bumbu khas Madura. Dalam kultur Madura, Nasi Campur dalam budaya turun temurun Suku Madura biasanya ada pada saat tertentu seperti saat malam 27 Ramadhan (petto' lekoran) dan juga pada acara tertentu seperti sajian pernikahan hingga tasyakuran. Nasi Campur di Pulau Madura memiliki ciri khas di masing-masing kabupaten. Nasi Krawu ditengarai berasal dari Pulau Madura yang dibawa oleh leluhur Suku Madura. Mayoritas pedagang Nasi Krawu merupakan keturunan Suku Madura. Hal ini diperjelas oleh Eni Harmayani dkk dalam Buku Makanan Tradisional Indonesia: seri 2. Krawu sendiri bagi masyarakat Madura berarti serundeng/ abon kelapa yang ditaburkan pada nasi campur tersebut.

Banyak rumah makan yang menjual nasi krawu sebagai menu utamanya, yang banyak dikenal di antaranya adalah Nasi Krawu Buk Tiban, Nasi Krawu Bu Azza, Nasi Krawu Bu Timan dan Nasi Krawu Mbuk Su.

Jadi dapat disimpulkan Nasi Krawu merupakan masakan dengan bumbu khas Madura yang berkembang di Gresik dan menjadi makanan khas Gresik. Ini sebagaimana juga Nasi Jagal makanan khas Tangerang.

Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Desember 2020, Nasi Krawu de;lah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemenristek RI sebagai Kuliner Asli Gresik. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara langsung menyerahkan sertifikat penetapan nasi krawu WBTB kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik, Saifuddin Ghozali di Surabaya.[1][2]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Akasah, Hany (2022-12-12). "Nasi Krawu Resmi Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Gresik". Radar Gresik. Diakses tanggal 2023-01-10. 
  2. ^ Nasi Krawu Khas Gresik Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda, diakses tanggal 2023-01-10