Soto kerbau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Soto kerbau adalah makanan khas Kota Kudus, Jawa Tengah. Pasti telinga kita merasa asing dan aneh mendengar menu masakan soto kerbau, karena yang biasa dijajakan adalah Soto Ayam atau Soto Sapi. Semangkuk nasi soto, yang berisi irisan daging kerbau, mie putih, tauge, kol, butiran kacang kedelai, yang ditaburi daun seledri dan bawang goreng, disiram kuah dari kaldu kerbau yang hangat, dengan bumbu dan aroma rempah-rempah yang khas, dijamin sajian ini menggoyang lidah. Bila ingin menikmati secara total cita rasa daging kerbau, kita bisa juga menaruh lauk daging kerbau sebagai tambahan, yang diolah menjadi daging lapis dengan tambahan taburan bawang goreng. Sebagai tambahan disediakan kecap, jeruk limau dan sambal.

Sejarah Soto Kerbau (Pencampuran tradisi Hindu, Jawa, dan Tionghoa)[sunting | sunting sumber]

Sebenarnya, apa yang tersaji di dalam soto kerbau adalah gambaran budaya Kudus yang multiculture, yang diwarnai percampuran tradisi Hindu, Jawa dan Tiongha. Perbedaan budaya yang ada, bila berjalan berdampingan, akan menghasilkan paduan yang unik tiada duanya, termasuk dalam hal masakan.Yang pertama adalah warisan budaya agama Hindu Jawa, dengan simbol berupa daging kerbau. Bagi masyarakat Kudus, yang notabene adalah masyarakat Jawa, hewan sapi dianggap sebagai hewan suci, sebuah larangan besar untuk disembelih dan dimakan. Pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa, khususnya di daerah Kudus, untuk menghargai dan menjunjung tinggi sikap menghormati antar pemeluk agama Hindu dan umat Islam, Sunan Kudus pun “melarang” sapi untuk dijadikan santapan, meski dari sisi syariah Islam dihalalkan. Dan sebagai alternatifnya digantikan dengan hewan kerbau. Sebuah sikap toleransi yang indah. Meski budaya Hindu telah hilang pengaruhnya kurang lebih 700 tahun yang lalu, tetapi kebiasaan yang terlanjur terpatri dalam kehidupan masyarakat Kudus untuk tidak menyantap daging sapi diwariskan sampai sekarang.

Kuah adalah representasi budaya Jawa yang tampak mendominasi dalam semangkuk soto kerbau. Berwarna bening, sedikit berminyak dan tarikan rasa asam Jawa. Bumbu-bumbu yang digunakan pun bercitarasa Jawa, seperti penggunaan kemiri dan perasan jeruk limau. Cara penghidangannya pun bisa dipilih, nasi langsung dicampur dengan kuah sotonya atau terpisah. Penyajian yang asli adalah nasi langsung dicampur dengan soto kerbau, sesuai dengan selera Jawa yang selalu menjadikan nasi sebagai makanan pokok.

Unsur Tiongha secara eksplisit terlihat dari penggunanaan serbuk koya dan bawang putih goreng. Serbuk koya adalah budaya kuliner Tionghoa peranakan. Serbuk ini terbuat dari santan kelapa yang dikeringkan, berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah tekstur. Masakan Jawa biasanya menggunakan bawang merah goreng, bukan bawang putih, untuk digoreng sebagai kodimen. Namun di soto kerbau, bawang putih gorenglah yang dijadikan campuran. Alhasil, dari pertemuan tiga budaya yang saling melengkapi dalam semangkuk soto kerbau inilah, tercipta cita rasa yang khas dan membumi.

Soto kerbau adalah bukti bahwa perbedaan, bila berjalan selaras, akan menghasilkan ‘kreasi baru’ yang indah. Agar bisa selaras, tiap budaya harus diberi kesempatan hidup, berkembang dan berasimilasi dengan budaya lainnya, karena tiap-tiap budaya bisa menyumbangkan nilai-nilai positif untuk masyarakat.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]