Tahu campur merupakan kuliner otentik yang berasal dari Desa Padenganploso, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Hidangan ini menyajikan perpaduan daging sapi kenyal, kikil, tahu goreng, perkedel singkong, mi kuning, serta sayuran segar seperti taoge dan selada air. Ciri khas utamanya terletak pada penggunaan bumbu petis, bawang goreng, dan sambal yang dicampur dengan kuah sop daging. Meskipun identik dengan kerupuk udang, kini Tahu Campur Lamongan yang banyak dijajakan di kaki lima ini juga sering disajikan dengan variasi kerupuk jenis lain. Tahu campur merupakan hidangan yang tidak hanya populer di Lamongan, namun juga gampang dijumpai di berbagai kota lain, contohnya Surabaya.[1]
Tahu campur merupakan kuliner ikonik Lamongan yang memiliki latar belakang sejarah unik. Asal-usulnya sering dikaitkan dengan koki zaman Belanda atau hasil improvisasi penjual soto yang kehabisan bahan.[2]
Hidangan tahu campur diyakini berasal dari desa Padenganploso, kecamatan Pucuk, yang diperkuat dengan berdirinya gapura berjuluk 'Bumi Tahu Campur' pada tanggal 4 September 2023, yang diresmikan Bupati Lamongan saat itu yaitu Yuhronur Efendi.[3]
Menurut Sekretaris Desa Padenganploso, Mujalal, tahu campur sudah ada di Lamongan sejak zaman kolonial. Makanan ini diperkenalkan oleh seorang warga yang sebelumnya bekerja sebagai juru masak untuk tentara Belanda. Setelah kembali ke desanya, ia mulai mempopulerkan tahu campur kepada masyarakat lokal. Nama tahu campur sendiri digunakan karena bahan utamanya adalah tahu yang dicampurkan dengan berbagai bahan lain.[2]
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan, Siti Rubikah, menceritakan versi lain asal Tahu Campur, yang bermula dari keresahan seorang petani penjual soto. Saat pulang, ia hanya bisa meracik sisa bahan soto, yaitu kuah soto, tahu, kubis, dan taoge. Eksperimen pertamanya kurang berhasil hingga ia menambahkan petis, yang membuat rasanya berubah total menjadi enak. Atas dorongan tetangga, menu ini dijual, dan mengalami evolusi bahan ketika kubis diganti dengan selada, membuat cita rasanya semakin enak. Ketika ditanya pembeli, petani itu bingung menamai makanannya. Nama tahu campur akhirnya muncul secara tidak sengaja dari seruan tetangga, dan nama itulah yang digunakan secara resmi hingga kini.[2]
Desa Padenganploso di Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, kini resmi menyandang julukan Bumi Tahu Campur setelah diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten setempat sebagai sentra kuliner. Peresmian penetapan tersebut dipimpin oleh Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, dan dilaksanakan di Lapangan Desa setempat pada 4 September 2023.[4]
Pemerintah Kabupaten Lamongan meresmikan sentra kuliner tahu campur sebagai bagian dari upaya pelestarian potensi kuliner khas daerah, khususnya hidangan tahu campur yang menjadi salah satu ciri khas kuliner Lamongan.[4]
Desa Padenganploso mendapatkan pengakuan sebagai sentra tahu campur (Bumi Tahu Campur) dikarenakan mayoritas penduduknya (90%) bergerak dalam sektor perdagangan kuliner tersebut. Makanan ini, yang tersusun dari komponen seperti daging sapi, kikil, tahu goreng, perkedel singkong, taoge, selada, mi kuning, dan kerupuk udang, berfungsi sebagai sumber ekonomi utama bagi masyarakat setempat.[4]
Festival Tahu Campur Padenganploso merupakan acara tahunan. Festival Tahu Campur Padenganploso berlangsung selama satu hari dengan menyediakan 3.000 porsi tahu campur gratis untuk masyarakat. Festival Tahu Campur Padenganploso berfungsi sebagai ajang pelestarian kuliner khas Lamongan, sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat dalam memelihara warisan budaya Lamongan.[4]
Mendapatkan tahu campur gratis di Festival Tahu Campur Padenganploso sangatlah mudah, pengunjung cukup mengambil kupon dari panitia penyelenggara dan menukarkannya di stan penjual tahu campur yang tersedia.[4]
Pembuatan Tahu CampurIris semua bahan bumbu halus, kemudian masukkan ke dalam blender. Tambahkan sedikit air dan blender hingga benar-benar halus, lalu angkat dan sisihkan.[5]
Geprek bagian putih dari serai, kemudian sobek daun jeruk.[5]
Panaskan minyak goreng dalam panci presto menggunakan api sedang. Setelah panas, masukkan bumbu halus dan tumis hingga mengeluarkan aroma harum serta matang. Tambahkan serai dan daun jeruk, lalu lanjutkan menumis sampai wangi. Satu sendok makan bumbu yang sudah ditumis ini kemudian dipisahkan dan dipindahkan ke dalam mangkuk.[5]
Tumis daging dalam panci presto hingga warnanya berubah. Bumbui dengan garam dan gula. Tambahkan air 1.5 liter, aduk, dan segera tutup panci presto. Masak pada api sedang yang dikecilkan sedikit selama dua puluh menit. Matikan kompor, lalu jangan buka panci sampai suara desisan uapnya benar-benar hilang.[5]
Masukkan seluruh bahan yang diperlukan untuk lentho atau perkedel singkong ke dalam mangkuk yang sudah berisi bumbu halus yang matang (sudah ditumis). Setelah adonan diaduk sampai rata, ambil masing-masing porsi sebanyak 1½ sendok makan dan pipihkan dalam bentuk bulat hingga seluruh adonan siap.[5]
Panaskan minyak goreng dalam wajan menggunakan api sedang. Setelah minyak siap, masukkan lentho dan goreng hingga berwarna cokelat keemasan dengan api sedang ke kecil. Pastikan lentho dibalik sesekali. Angkat, tiriskan, dan ulangi proses ini sampai semua lentho selesai digoreng.[5]
Buat bumbu petis dengan melarutkan 4 sendok makan air dengan campuran tepung beras dan terigu, aduk hingga adonan menjadi halus dan tidak menggumpal. Selanjutnya, siapkan wajan. Masukkan petis, bubuk bawang putih goreng, irisan bawang putih, kecap manis, garam, dan gula. Tambahkan 400 ml air, lalu masak sambil terus diaduk sampai petis larut sempurna dan cairan mendidih. Terakhir, tuang larutan tepung ke dalam wajan sambil terus diaduk hingga bumbu petis mencapai kekentalan yang diinginkan. Setelah mengental, angkat dan sisihkan.[5]
Proses penyajian tahu campur dimulai dengan meletakkan 1½ sendok makan bumbu petis pada piring saji. Kemudian, siapkan dan tata semua isian: irisan selada, potongan lontong, tahu, lentho, mi kuning, kecambah, dan daging. Setelah semua isian lengkap, kuah hangat disiramkan ke atasnya. Akhiri sajian dengan taburan bawang goreng renyah dan sedikit sambal untuk menambah rasa pedas.[5]
Dari perspektif nutrisi, tahu campur memiliki profil gizi yang cukup lengkap dan seimbang. Sebuah porsi standar (sekitar 400 gram) diperkirakan mengandung nutrisi sebagai berikut:[6]
Kalori: 350-450 kkal
Protein: 20-25 gram
Karbohidrat: 40-50 gram
Lemak: 15-20 gram
Serat: 5-7 gram
Nilai gizi dari tahu campur tidak selalu sama, karena sangat bergantung pada jenis bahan dan banyaknya porsi. Makanan ini menawarkan sumber protein yang baik (dari tahu dan daging sapi) dan juga mengandung serat (dari sayuran). Walau demikian, kadar sodium dalam tahu campur patut dipertimbangkan karena biasanya tinggi, akibat penambahan garam dan petis.[6]
Lamongan telah mendaftarkan kuliner khasnya, tahu campur, sebagai kekayaan daerah kepada Dinas Perindustrian Provinsi Jawa Timur, yang selanjutnya akan diajukan ke Kemenkumham. Proses mendapatkan hak paten membutuhkan waktu yang cukup lama karena perlu melalui masa sanggah untuk memastikan tidak ada daerah lain yang memiliki produk kuliner serupa.[7]
Tahu campur akan dipatenkan oleh Pemkab Lamongan, sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Disperindag Lamongan, Anang Taufik. Langkah ini dilakukan untuk menegaskan statusnya sebagai produk khas dan unggulan Lamongan.[7]
Pematenan kuliner khas Lamongan ini adalah upaya untuk menjadikannya produk unggulan yang diakui secara resmi.[7]