Lompat ke isi

Seruit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Seruit
Sajian seruit khas Lampung dengan ikan bakar, sambal rampai, dan tempoyak.
Nama lainPekhos, Cubik
SajianHidangan Utama
Tempat asalIndonesia
DaerahLampung
Dibuat olehSuku Lampung
Suhu penyajianPanas atau suhu ruangan
Bahan utamaIkan sungai bakar, sambal mentah, rampai, tempoyak, mangga kueni

Seruit adalah makanan khas dari Provinsi Lampung yang menjadi ciri khas unik budaya kuliner masyarakat setempat. Hidangan ini pada dasarnya adalah olahan ikan sungai yang dibakar atau dipanggang, yang kemudian disajikan dan dicampur (dilenyek) dengan sambal mentah beraroma buah rampai, tempoyak (fermentasi durian), dan mangga muda (kueni), serta dikonsumsi bersama aneka lalapan segar. Seruit biasanya disantap dalam kebersamaan, baik dalam acara keluarga maupun pertemuan masyarakat, sehingga turut mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan masyarakat Lampung.[1]

Di wilayah Way Kanan, seruit ditambah sedikit air jeruk lesom (air aren yang digunakan untuk membuat gula aren yang tidak jadi) dan di kebudayaan adat Lampung Pesisir, seruit cenderung lebih berkuah dan sering disebut juga dengan nama Pekhos atau Cubik.[butuh rujukan]

Pada 2015, seruit ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia asal Lampung.[2]

Seruit bukan hanya sekadar makanan khas Lampung, tetapi juga memiliki nilai filosofis yang dalam. Dalam bahasa Lampung, kata nyeruit atau muju sering digunakan sebagai ajakan untuk berkumpul dan menikmati makanan bersama-sama. Ajakan ini mengandung nilai kebersamaan yang kuat, mencerminkan keakraban dan kedekatan di antara keluarga, teman, serta kerabat. Tradisi nyeruit ini tetap melekat kuat pada masyarakat Lampung hingga saat ini dan menjadi simbol persatuan serta solidaritas dalam komunitas. Momen menikmati seruit bersama memperkuat hubungan sosial dan kekeluargaan di tengah-tengah masyarakat Lampung.[3] Seruit juga kerap kali dihidangkan di acara keluarga, pernikahan, keagamaan hingga acara adat.

Ciri Khas

[sunting | sunting sumber]

Sekilas tentang seruit khas Lampung memang terlihat mirip dengan ikan bakar bumbu atau pecel lele. Akan tetapi, pembuatan seruit khas Lampung secara autentik menggunakan ikan sungai atau ikan air tawar endemik, seperti ikan belida, layis, baung, patin, dan gurame. Ikan ini umumnya dibakar di atas bara api, bukan digoreng kering.

Ciri khas utama seruit terletak pada penggunaan sambal mentah dan tempoyak. Sambal seruit tidak ditumis, melainkan diulek mentah menggunakan cabai, bawang merah, terasi bakar, dan tomat kecil khas Sumatra yang disebut rampai. Penggunaan buah rampai memberikan tingkat keasaman segar yang sangat berbeda dari tomat biasa. Setelah itu, sambal mentah dicampur dengan tempoyak (daging durian matang yang difermentasi dan diasamkan) serta cacahan mangga kueni muda.[4]

Pada tahap penyajian akhir, daging ikan bakar disuwir dan dimasukkan ke dalam wadah berisi sambal mentah dan tempoyak tersebut. Seluruh bahan kemudian dilenyek (ditekan-tekan) dan diaduk rata agar daging ikan menyerap cita rasa asam, pedas, dan gurih.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Amalia, R (2020). Warisan Kuliner Nusantara: Eksplorasi Rasa dari Sabang sampai Merauke. Gramedia Pustaka Utama.
  2. Lampung, Dinas Kominfotik Provinsi. "Seruit dan Sulam Usus Lampung Masuk Warisan Budaya Tak Benda". Pemerintah Provinsi Lampung (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-08-27.
  3. Daniswari, Dini (2022-12-12). "Seruit, Makanan Khas Lampung: Pengertian, Filosofi, dan Cara Penyajian". Kompas.com. Diakses tanggal 2024-11-12.
  4. Admin (2021-11-24). "Seruit Khas Lampung, Kuliner Sambal Ikan". JejakPejalanKaki (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-11-12.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]