Sinonggi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Revisi sejak 3 Mei 2013 12.09 oleh Ennio morricone (bicara | kontrib) (buat halaman baru)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Sinonggi
Tempat asalIndonesia
DaerahKendari (Sulawesi Tenggara)
Dibuat olehSeni kuliner Tolaki
Bahan utamasagu

Sinonggi adalah masakan khas kuliner Tolaki dari Kendari yang berbahan dasar sagu. Bagi Suku Tolaki, Sinonggi merupakan makanan sekunder pengganti beras pada masa paceklik.[1] Masakan ini adalah khas dari Kendari, Sulawesi Tenggara.

Deskripsi

Sinonggi adalah makanan pokok Suku Tolaki yang terbuat dari pati sari sagu. Di Sulawesi Selatan, masakan yang serupa dikenal dengan nama kapurung dan di Kepulauan Maluku disebut papeda. Meski masakan-masakan tersebut memiliki kemiripan bahan, namun berbeda pada cara penyajiannya. Untuk sinonggi, tepung sagu yang sudah dimasak tidak dicampurkan dengan sayur, kuah ikan, sambal ("dabu-dabu"), atau bumbu lainnya, namun tergantung selera masing-masing. Bagi suku Tolaki, Sinonggi dahulu merupakan makanan pokok, namun saat ini telah menjadi makanan sekunder pengganti beras pada masa paceklik.

Sejarah

Walaupun merupakan makanan khas Suku Tolaki, belum ada yang mengetahui sejak kapan Suku Tolaki mengonsumsi sinonggi. Namun, makanan ini sudah ada sejak ratusan tahun silam layaknya beras. Mitos Tolaki menyebutkan bahwa pohon sagu bahan baku Sinonggi tumbuh dengan sendirinya di perkampungan Kuko Hulu di Sungai Konaweha, yang kini bernama Latoma Tua. Dalam bahasa Tolaki, ia disebut "sowurere", yang artinya "suatu kampung yang ditumbuhi ribuan pohon sagu". Lokasinya persis di dekat Tongauna, Kecamatan Ulu Iwoi, Kabupaten Kolaka. Versi lain menyebutkan bahwa pohon sagu yang tumbuh di rawa-rawa tersebut, sebetulnya berasal dari Maluku.

Sementara, untuk nama sinonggi diyakini budayawan lokal berasal dari kata "posonggi". "Posonggi" (bahasa Tolaki) merupakan alat mirip sumpit yang digunakan untuk mengambil makanan, terbuat dari bambu yang dihaluskan dengan ukuran panjang kurang dari sepuluh sentimeter. Alat inilah yang kemudian digunakan untuk mengambil sinonggi dari tempat penyajian. Dengan cara digulung, sinonggi diletakkan ke piring yang telah diisi kuah sayur dan ikan serta bumbu lainnya. Dan dengan sumpit itu pula gulungan sinonggi kemudian dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam mulut.

Dahulu orang tua menyimpan sinonggi dalam dulang yg terbuat dari kayu. Dulang dalam bahasa Tolaki adalah "odula". Seiring perubahan zaman, sinonggi mulai tidak disimpan dalam dulang kayu melainkan dalam baskom. Perubahan ini diyakini penikmat sinonggi telah mengurangi kelegitan rasanya yang khas. Begitu pula dengan penggunaan posonggi yang menghilang, saat ini orang lebih banyak langsung menggunakan tangan atau memakai sendok untuk mengkonsumsi sinonggi.

Cara memasak

Sebelum dimasak, pati sagu direndam di dalam baskom, atau sejenisnya, dengan menggunakan air dingin selama satu malam kemudian dibiarkan hingga mengendap. Selanjutnya air dibuang. Ketika akan diolah, sagu dicairkan dengan air dingin secukupnya, lalu, disiram air mendidih sedikit demi sedikit sambil sagu diaduk-aduk hingga mengental.

Umumnya makanan siap saji seperti sayur, kuah ikan, serta sambal sudah disiapkan sebelum sinonggi siap, supaya dapat langsung disantap saat sinonggi masih panas. Sayur dan sambal biasa juga ditambah dengan daun kemangi dan jeruk purut (disebut "jeruk Tolaki" di Kendari).

Referensi

  1. ^ "Sinonggi. Makanan Khas Suku Tolaki" (dalam bahasa Indonesia). kompas.com. 1 Mei 2013. Diakses tanggal 3 Mei 2013.