Tahu sumedang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Tahu Sumedang)
Lompat ke: navigasi, cari
Tahu Sumedang
Tahu sumedang dalam keranjang.jpg
Tahu Sumedang dalam keranjang bambunya yang khas.
Informasi
Asal Indonesia
Daerah Sumedang
Pencipta Ong Kino
Penyajian dan bahan
Bahan utama kedelai
Energi
(per 100 g penyajian)
113 kkal[1]

Tahu Sumedang adalah tahu khas daerah Sumedang, Jawa Barat. Jika dibeli dalam jumlah banyak, umumnya menggunakan bongsang, anyaman bambu yang dapat memuat 25–100 buah tahu goreng.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal kata[sunting | sunting sumber]

Menurut Ong Yoe Kim, tokoh tahu Sumedang, "tahu" berasal dari bahasa Mandarin dòufu (豆腐) dibaca tou-fu atau tāu-hū oleh orang Hokkian.[3]

Kreativitas[sunting | sunting sumber]

Bermula dari kreativitas yang dimiliki oleh imigran Cina, Ong Kino dan istrinya yang menjadi perintis untuk memproduksi tahu di Sumedang yang awalnya dibuat dari kedelai lurik yang mirip telur puyuh. Tahun demi tahun, Ong Kino beserta istrinya terus menggeluti usaha mereka hingga sekitar tahun 1917, dan anak tunggal mereka bernama Ong Bung Keng untuk melanjutkannya. Ong Bung Keng kemudian melanjutkan usaha keduaorangtuanya yang memilih kembali ke tanah kelahiran mereka di Hokkian, Republik Rakyat Tiongkok.

Melalui generasi Ong Bung Keng yang terus melanjutkan usaha yang diwariskan dari kedua orang tuanya hingga akhir hayatnya di usia 92 tahun. Di balik kemasyhuran tahu Sumedang ada pula kisah seperti yang diceritakan cucu dari Ong Kino, Suryadi. Sekitar tahun 1928, konon suatu hari tempat usaha sang kakek buyutnya, Ong Bung Keng, didatangi oleh Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja yang kebetulan tengah melintas dengan menggunakan dokar dalam perjalanan menuju Situraja, Sumedang. Kebetulan, sang pangeran melihat seorang kakek sedang menggoreng sesuatu. Pangeran Soeria Atmadja langsung turun begitu melihat bentuk makanan yang amat unik serta baunya yang harum.[3] Sang bupati, Pangeran Soeria Atmadja kemudian bertanya kepada sang kakek, "Maneh keur ngagoreng naon? (Kamu sedang menggoreng apa?)". Sang kakek berusaha menjawab sebisanya dan menjelaskan bahwa makanan yang ia goreng berasal dari tahu. Karena penasaran, sang bupati langsung mencicip satu. Setelah mencicipi, bupati secara spontan berkata dengan wajah puas, "Enak benar masakan ini! Coba kalau kamu jual, pasti laris!". Tak lama setelah kejadian ini, tahu digemari oleh penduduk Sumedang dan kemudian sampai ke seluruh Indonesia.[2]

Berbeda dengan tahu biasa[sunting | sunting sumber]

Tahu ini setelah digoreng dengan bumbu yang sama, menghasilkan bentuk yang berbeda dari tahu goreng biasanya. Koagulan yang dipakai adalah sisa dari penggumpalan tahu, disebut larutan biang yang disimpan selama 2–3 hari, yang prosesnya menggunakan asam cuka.[2] Tahu ini bisa mengalami perubahan rasa setelah beberapa jam dibeli jika dibuat secara tradisional, kedelai asli tanpa pengawet. Rasa gurih berubah menjadi asam, kulit yang garing menjadi liat. Tapi ini dapat disiasati dengan penyimpanan di kulkas. Penggorengan yang tepat yaitu dalam minyak yang panas / menguap, api besar, daya muat penggorengan, serta jumlah tahunya.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Daftar Tabel Kalori". http://www.academia.edu. Academia. Diakses 2015-01-23. 
  2. ^ a b c Ukim, Suriadi; Susanti, Erni. Membuat Tahu Sumedang ala Bungkeng. AgroMedia. ISBN 9789793702643. 
  3. ^ a b Redaksi Sumedangkab.go.id. "Legenda "Bun Keng" Tahu Sumedang". http://www.sumedangkab.go.id. Diakses 2015-01-23. 
  4. ^ Hapsari, Endah (27 Desember 2013). "3 Tips Sukses Goreng Tahu Sumedang Sendiri". Republika Online. Diakses 2015-01-23.