Halaman yang dilindungi semi

KRL Commuter Line

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari KAI Commuter Jabodetabek)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

KRL Commuter Line
Logo KAI Commuter.svg
Info
PemilikPT Kereta Api Indonesia (Persero)
Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (hanya untuk wilayah Jabodetabek)
Wilayah
JenisTransportasi umum, Kereta api komuter
Jumlah jalur7
Jumlah stasiun93
Penumpang harian1.039.303 (Agustus 2019)
1.154.080 (puncak, Juni 2018)[1]
Penumpang tahunan334.102.903 (2019)[2]
Kantor pusatStasiun Juanda, Gambir, Kota Jakarta Pusat
Situs webwww.krl.co.id
Operasi
Dimulai6 April 1925 (sebagai Elektrische Staatsspoorwegen)
April 1999 dibawah nama PT Kereta Api
(sebagai Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek)

15 September 2008 (sebagai KAI Commuter Jabodetabek)
20 September 2017 (sebagai Kereta Commuter Indonesia)
OperatorPT Kereta Commuter Indonesia (KCI)[3]
Panjang kereta8, 10 dan 12 kereta per rangkaian KRL
Waktu antara5-60 menit
Teknis
Panjang sistem418 km (260 mi)[4]
Lebar sepur1.067 mm (ft 6 in) Cape gauge
Listrik1.500 V DC
Kecepatan rata-rata40 km/h (25 mph)
Kecepatan tertinggi70 km/h (43 mph)
Peta rute
(klik gambar untuk memperbesar)

KRL Jabotabek Lines.svg

Commuter Line adalah layanan kereta rel listrik komuter yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter),[3] anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). KRL telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta–Solo.

Layanan ini dahulu dioperasikan dengan nama KRL Jabotabek sejak era 1970-an hingga pemekaran Kota Depok pada 1999 dengan nama alternatif KRL Jabodetabek. Divisi Jabotabek menjadi operator KRL pada masa itu. Pada 2008, layanan KRL dioperasikan oleh perusahaan baru bernama PT KAI Commuter Jabodetabek yang kelak sejak 2017 berubah menjadi Kereta Commuter Indonesia (KCI, kini KAI Commuter).

Perjalanan KRL ini cukup panjang dan berlika-liku. KRL dahulu dihadirkan di Hindia Belanda sejak 1925 untuk memperingati 50 tahun Staatsspoorwegen beroperasi di Jawa. Semenjak 1960-an, transportasi listrik di Jakarta berada pada titik nadirnya karena dicap sebagai penyebab kemacetan sehingga Trem Batavia ditutup dan KRL dibatasi. Memasuki era 1970-an, KRL kemudian mengalami regenerasi dengan hadirnya KRL Rheostatik yang diimpor dari Jepang. Kini KRL didominasi oleh armada KRL bekas Jepang, dan minoritas produksi PT INKA, Madiun.

Sejarah

Elektrifikasi jalur Staatsspoorwegen

Kereta listrik pertama (1925), melayani jalur Tandjong Priok–Meester Cornelis

Wacana elektrifikasi jalur kereta api sudah didengungkan sejak 1917 oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS). Saat itu, elektrifikasi jalur kereta api diprediksi akan menguntungkan secara ekonomi. Elektrifikasi jalur kereta api kemudian dilakukan dari Tanjung Priuk sampai dengan Meester Cornelis (Jatinegara) dimulai pada tahun 1923. Pembangunan ini selesai pada 24 Desember 1924.[5]

Proyek elektrifikasi terus berlanjut. Jalur lingkar Jakarta selesai dielektrifikasi pada 1 Mei 1927 dan pada 1930, elektrifikasi jalur Jakarta–Bogor sudah mulai dioperasikan. Kereta yang digunakan ialah lokomotif listrik seri 3000 buatan pabrik SLM–BBC (Swiss Locomotive and Machine Works–Brown, Boveri, & Cie), lokomotif listrik seri 3100 buatan pabrik AEG (Allgemaine Electricitat Geselischaft) Jerman, lokomotif listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor Belanda serta kereta listrik buatan pabrik Westinghouse dan kereta listrik buatan pabrik General Electric.[5]

Pascakemerdekaan

Jalur kereta yang terelektrifikasi tersebut terus digunakan dan diperluas wilayah operasionalnya sejak kemerdekaan Indonesia. Pengoperasian jalur kereta api di Indonesia dilaksanakan oleh Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKA) hingga era PT Kereta Api Indonesia pada saat ini.

Penghapusan trem Batavia

Pada tahun 1960-an, transportasi di Jakarta berada di titik nadir. Soekarno memerintahkan Gubernur Sudiro untuk menghapus trem listrik karena dianggap menyebabkan kemacetan. Akhirnya pada tahun 1960, trem sepenuhnya berhenti beroperasi di Jakarta.[6] Kereta listrik pun ikut dihentikan operasinya akhir 1965. Selanjutnya pada November 1966, seluruh pengangkutan kereta api jurusan ManggaraiJakarta Kota dibatasi.[7] Hal ini berkaitan dengan merosot tajamnya jumlah penumpang dan kondisi umum kota Jakarta yang tidak kondusif. Biro Pusat Statistik mencatat, jumlah penumpang lokal yang dilayani Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) tahun 1965 merosot 47 persen dibandingkan 1963. Tahun 1965, hanya 16.092 penumpang per hari yang memakai kereta lokal.[7] Semenjak kereta listrik buatan Belanda tidak dapat beroperasi lagi, rute ini terkadang digunakan oleh kereta lokal yang menggunakan lokomotif, biasanya seri BB 200 atau BB 201 digunakan sebagai penariknya.

Regenerasi

Baru pada tahun 1972, kereta listrik mulai muncul kembali. Harian Kompas tanggal 16 Mei 1972 memberitakan bahwa PNKA memesan 10 set kereta listrik dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan Jakarta. Langkah ini untuk meningkatkan penggunaan angkutan umum dan mengurangi kemacetan yang mulai terasa saat itu.[7]

KRL dan kereta rel diesel (KRD) dari Jepang tiba di Jakarta empat tahun kemudian, 1976. KRL-KRL ini akan menggantikan lokomotif listrik lama peninggalan Belanda yang sudah dianggap tidak layak. Tiap rangkaian KRL terdiri atas empat kereta dengan kapasitas angkut 134 penumpang per kereta.[7] KRL generasi pertama ini kemudian dikenal sebagai KRL Rheostatik dan telah melayani masyarakat Jakarta hingga akhir pengoperasian KRL Ekonomi pada tahun 2013.

Pada Mei 2000, pemerintah Jepang melalui JICA dan Pemerintah Kota Tokyo menghibahkan 72 unit KRL bekas yang sebelumnya dioperasikan oleh Biro Transportasi Metropolitan Tokyo. Kereta ini diresmikan pada tanggal 25 Agustus 2000 dan menjadi KRL berpendingin udara (AC) pertama di Indonesia.[8] Sejak saat itu, Indonesia rutin mendatangkan KRL bekas Jepang untuk memperkuat armada KRL di Jakarta.

Dioperasikan oleh anak perusahaan

Logo yang digunakan sampai September 2020

Pada tahun 2008 dibentuk anak perusahaan PT KA, yakni PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), yang fokus pada pengoperasian jalur kereta listrik di wilayah Daerah Operasional (DAOP) 1 Jabotabek, yang saat itu memiliki 37 rute kereta yang melayani wilayah Jakarta Raya. Anak perusahaan baru ini merupakan suksesor dari Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek yang telah berdiri sebelumnya. PT KCJ memulai proyek modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011, dengan menyederhanakan rute yang ada menjadi 5 rute utama, penghapusan KRL komuter ekspres, penerapan gerbong khusus wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi Kereta Commuter. Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta, serta penempatan satuan keamanan pada tiap gerbong. Saat Stasiun Tanjung Priuk diresmikan kembali setelah dilakukan renovasi total pada tahun 2009, jalur kereta listrik bertambah menjadi 6, walaupun belum sepenuhnya beroperasi. Pada Juli 2013, PT KCJ mulai menerapkan sistem tiket elektronik COMMET (Commuter Electronic Ticketing) dan perubahan sistem tarif kereta.[9]

Pada tahun 2017, PT KAI Commuter Jabodetabek berganti nama menjadi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), 3 hari setelah ulang tahun perusahaan tersebut yang ke-9.[10] Perubahan nama ini juga mewadahi penugasan penyelenggaraan kereta api komuter yang lebih luas di seluruh Indonesia,[11] sehingga nantinya jalur KRL Commuter Line di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya bukan lagi satu-satunya jalur kereta api perkotaan yang dioperasikan oleh PT KCI.

Rute

Pada awal perkenalan pola loopline pada tahun 2011, Commuter Line Jabodetabek memiliki 6 jalur dan 8 relasi. Saat ini jumlah tersebut bertambah menjadi 7 jalur dan 17 relasi yang melayani seluruh wilayah Jabodetabek, Lebak, Yogyakarta, dan Surakarta.

Jalur Relasi Jumlah stasiun Jarak Dibuka Dioperasikan sebagai

jalur Commuter Line

C Lin Sentral Jakarta KotaBogor 24 54,8 km 1930 5 Desember 2011[12]
L Lin Lingkar Jatinegara-Bogor 30^ 71,1 km 1987
AngkeNambo 21 50,8 km 2015 1 April 2015 [13]
R Lin Rangkasbitung Tanah AbangRangkasbitung 19 72,8 km 1992 5 Desember 2011[12] (Tanah Abang-Tigaraksa)
1 April 2017 (Tanah Abang-Rangkasbitung)[14]
B Lin Cikarang Jakarta Kota–Cikarang via Manggarai 19 44,0 km 1930 5 Desember 2011[12] (Jakarta Kota-Bekasi (via Manggarai))
1 April 2017 (Jakarta Kota-Bekasi (via Pasar Senen))[15]
8 Oktober 2017 (Jakarta Kota-Cikarang) [16]
Jakarta Kota–Cikarang via Pasar Senen 19^ 43,1 km 1930
T Lin Tangerang DuriTangerang 11 19,3 km 1997 5 Desember 2011[12]
TP Lin Tanjung Priok Jakarta Kota–Tanjung Priuk 4 8,1 km 2015 5 Desember 2011 (sebagian, hanya feeder) [12]

22 Desember 2015 (beroperasi penuh) [17]

Y Lin Yogyakarta YogyakartaPalur 13 65,5 km 2021 10 Februari 2021 (Yogyakarta-Solo Balapan)

TBA (Solo Balapan-Palur)

† Tidak termasuk Stasiun Gambir (tidak melayani Commuter Line)
^ Termasuk Stasiun Pasar Senen. Stasiun ini hanya melayani perjalanan ke arah utara (menuju Kampung Bandan). Perjalanan ke arah selatan (menuju Jatinegara) tidak berhenti di stasiun ini.

Elektrifikasi dan penambahan rute

Perpanjangan elektrifikasi di seluruh wilayah operasional KCI dimulai dari jalur Hijau pada akhir 2009, dengan koridor Serpong-Parungpanjang. KRL pada akhirnya beroperasi sampai Parungpanjang pada tahun 2010. Kemudian, perpanjangan elektrifikasi dilanjutkan ke koridor Parungpanjang-Maja yang mulai beroperasi pada tahun 2013, dan Maja-Rangkasbitung yang mulai beroperasi pada tahun 2017.[18] Proses elektrifikasi ini juga meliputi pembangunan jalur ganda Serpong-Rangkasbitung yang sudah beroperasi pada koridor Serpong-Maja, pembangunan tiang listrik aliran atas dan pembangunan gardu listrik. Pada tahun 2020, wacana penggandaan dan elektrifikasi lanjutan di jalur Hijau kembali muncul dengan wacana elektrifikasi koridor Rangkasbitung-Serang. Tak menutup kemungkinan, koridor Serang-Merak juga akan digandakan dan dielektrifikasi.

Stasiun SerpongStasiun ParungpanjangStasiun TigaraksaStasiun MajaStasiun RangkasbitungStasiun SerangStasiun Merak

Selain di jalur Hijau yang membentang ke barat, jalur Biru yang membentang ke timur juga telah dilanjutkan sampai Stasiun Cikarang. Pengerjaan konstruksi dimulai sejak akhir tahun 2013. Jalur Manggarai-Cikarang akan digandakan menjadi 4 jalur kereta api. Pembangunan elektrifikasi sampai Cikarang selesai pada tahun 2017, sedangkan pembangunan jalur dwiganda diperkirakan akan selesai pada tahun 2021. Di jalur ini pun dibangun empat stasiun baru di mana dua stasiun merupakan stasiun yang benar-benar baru, sedangkan dua stasiun lainnya adalah pembaruan dari stasiun lama.[19] Saat ini, pemerintah sedang mengkaji untuk memperpanjang kembali elektrifikasi di jalur Biru sampai Stasiun Cikampek[20] serta refungsionalisasi Stasiun Gambir sebagai stasiun pemberhentian dan pemberangkatan KRL Commuter Line.

Stasiun BekasiStasiun Bekasi TimurStasiun TambunStasiun CibitungStasiun Telaga MurniStasiun CikarangStasiun Lemah AbangStasiun KedunggedehStasiun KarawangStasiun KlariStasiun KosambiStasiun DawuanStasiun Cikampek

Dengan beroperasinya kembali jalur kereta api Citayam-Nambo, ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali pembangunan jalur kereta api baru Parung Panjang–Tanjung Priuk yang merupakan jalur kereta api lingkar luar Jabodetabek. Jalur ini sudah pernah direncanakan oleh pemerintah Orde Baru pada dekade 1990-an, dan sudah terealisasikan sebagian dengan selesainya pembangunan jalur Citayam-Nambo. Pembangunan rute yang belum sempat terbangun antara Parung Panjang-Citayam, Nambo-Cikarang, dan Cikarang-Tanjung Priuk ini sempat dibatalkan karena Krisis finansial Asia 1997 dan jatuhnya Suharto pada tahun 1998, tetapi akhirnya rencana ini dimasukkan ke dalam rencana induk perkeretaapian nasional 2014-2030.[21][22]

Stasiun Parung PanjangStasiun CitayamStasiun NamboStasiun CikarangStasiun Tanjung Priuk

Ekspansi di luar Jabodetabek/Daop I

KRL lintas Yogyakarta–Solo

Selain di Jabodetabek/Daerah Operasi (Daop) I Jakarta, KRL Commuter Line juga dibangun di jalur Yogyakarta–Surakarta. Layanan ini akan menghubungkan kota penting di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kota Yogyakarta dan Surakarta untuk menggantikan tugas KA Prambanan Ekspres dalam melayani koridor tersebut.[23] Sebelumnya, wacana tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas) 2030 yang telah disusun Direktorat Jenderal Perkeretaapian sejak 2011 sebagai sebuah studi kelayakan.[24] Pola operasi Prambanan Ekspres (Prameks) yang masih terbatas dan armada yang sudah tua[25] menyebabkan adanya keluhan dari pengguna jasa kereta api akan kehabisan tiket. Penggantian Prameks dengan KRL Commuter Line diharapkan dapat meningkatkan pergerakan kaum komuter serta mendukung pariwisata yang sinergis di wilayah Yogyakarta–Surakarta.[26] Untuk mewujudkan KRL ini, pada tahun 2016, tiang-tiang listrik aliran atas mulai didatangkan di Stasiun Solo Jebres; dan sejak saat itulah proyek ini menjadi mangkrak selama kurang lebih tiga tahun.[27][28] Mulai Januari–Februari 2020, tiang-tiang tersebut mulai dipancang—pertama kali dilakukan di Stasiun Klaten. Untuk langkah awal, Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui Balai Teknik Perkeretaapian wilayah Jawa bagian Tengah memutuskan untuk memulai operasi KRL Commuter Line di ruas pertama, yaitu Yogyakarta–Klaten.[29][30]

Selain stasiun yang ada di bawah ini, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pembangunan stasiun baru di sepanjang jalur Yogyakarta–Solo Balapan. Meskipun terjadi pandemi koronavirus di Indonesia, proyek KRL Yogyakarta–Solo tetap berjalan hingga KRL beroperasi secara penuh pada 10 Februari 2021.[31][32]

Stasiun YogyakartaStasiun LempuyanganStasiun MaguwoStasiun BrambananStasiun SrowotStasiun KlatenStasiun CeperStasiun DelangguStasiun GawokStasiun PurwosariStasiun Solo Balapan[33]

Tiket elektronik dan tarif

Kartu Multi Trip (hitam) dan Tiket Harian Berjaminan (putih) milik KAI Commuter Jabodetabek.

Multi trip dan single trip

Sebagai tahapan penerapan program e-ticketing, PT Kereta Api Indonesia dan PT KAI Commuter Jabodetabek mulai 2012 mengganti Kartu Trayek Bulanan (KTB)/Kartu Langganan Sekolah (KLS) secara bertahap hingga pada 1 Juli 2013 ditetapkan menjadi Commuter Electronic Ticketing (Commet). Kartu Commet adalah alat pembayaran pengganti uang tunai yang digunakan untuk transaksi perjalanan KA Commuter Line sebagai tiket perjalanan KA, yang disediakan dalam bentuk kartu sekali pakai (Single-Trip) dan prabayar (Multi-Trip). Penumpang diwajibkan untuk melakukan tap-in di gerbang masuk dan memasukkan kartu single-trip ke dalam gerbang keluar atau cukup tap-out bagi pengguna kartu prabayar di gerbang keluar.

Bersamaan dengan pemberlakuan Commet, sistem tarif progresif diberlakukan. Sistem ini menggunakan hitungan jumlah stasiun yang dilewati sebagai dasar perhitungan tarif tiap penumpang. Awalnya berlaku tarif normal, tetapi karena adanya subsidi dana public service obligations (PSO) Kementerian Perhubungan bagi KA Commuter, maka tarif berlaku tarif subsidi.[34]

Mulai 1 April 2015, tarif progresif mengalami perubahan. Sistem tarif progresif baru menghitung tarif berdasarkan jarak.[35] Selain itu, ketentuan uang jaminan untuk THB dan minimal saldo untuk tiket multitrip dan kartu bank berubah

Tiket harian berjaminan (THB)

Karena penerapan tiket single trip mengakibatkan banyaknya kejadian tiket perjalanan single trip hilang, pada tanggal 11 Agustus 2013 KCJ menerapkan sistem ticketing pengganti sistem single trip untuk penumpang KRL Commuter Line tanpa berlangganan. Penghitungan tarif sesuai dengan skema tarif perjalanan single trip, tetapi penumpang diharuskan untuk membayar uang jaminan untuk THB. Uang jaminan dapat diambil kembali di stasiun hingga jangka waktu maksimal 7 hari atau ditukarkan kembali dengan THB baru dengan membayar tarif untuk perjalanan selanjutnya.

Sejak 1 Agustus 2019, khusus Stasiun UI, Sudirman, Palmerah, Cikini, dan Taman Kota, resmi menghapus penjualan kartu THB. Hal ini karena mayoritas penumpang KRL Commuter Line di kelima stasiun tersebut sudah terbiasa menggunakan kartu multi trip maupun uang elektronik. Dengan cara ini, antrean panjang pembelian tiket KRL dapat dipangkas. Namun, pengguna jasa tetap dapat melakukan tap-in/tap-out dengan THB di stasiun tersebut.[36][37]

Kartu multi trip (KMT)

Selain tiket harian berjaminan, penumpang dapat menggunakan Kartu Multi Trip (KMT) berteknologi FeliCa.[38] Kartu Multi Trip adalah kartu prabayar isi ulang yang dapat digunakan penumpang sebagai tiket KRL dengan ketentuan saldo minimum. Kartu tersebut dapat digunakan untuk naik KRL Commuter Line, Transjakarta, MRT Jakarta dan LRT Jakarta.[39] dan dapat di isi ulang di seluruh stasiun Commuter Line di Jabodetabek.

Kartu prabayar (bank)

Sejak 8 Desember 2013, kartu Flazz BCA sudah dapat digunakan di Commuter Line, dan sejak tanggal 16 Juni 2014, kartu e-money (Bank Mandiri), Brizzi (Bank BRI), dan TapCash (Bank BNI kecuali Jak Lingko) juga sudah dapat digunakan di Commuter Line.[40] Cara penggunaan kartu tersebut sama halnya dengan cara penggunaan Kartu Multi Trip, akan tetapi keempat kartu tersebut tidak dapat dibeli dan diisi ulang di seluruh stasiun Commuter Line di Jabodetabek, melainkan di merchant-merchant terkait dan seluruh halte bus Transjakarta (tunai). Pengisian dapat dilakukan secara tunai maupun dengan kartu ATM bank terkait. Beberapa stasiun Commuter Line juga telah melayani pengisian ulang keempat kartu tersebut, seperti Sudirman dan Juanda, tetapi tidak bisa secara tunai dan harus menggunakan kartu ATM bank terkait (kartu debit maupun kredit). Keempat kartu tersebut juga dapat digunakan sebagai tiket Transjakarta, MRT Jakarta dan LRT Jakarta.[41] Berikut ini daftar kartu uang elektronik perbankan yang beredar telah disahkan oleh KAI Commuter.

Denda (suplisi) dan free out

Pengguna dapat dikenakan denda (suplisi) jika melakukan perjalanan tanpa tiket (anak berumur 3 tahun ke atas/tinggi badan 90 cm wajib memiliki tiket [42]), menggunakan tiket harian berjaminan yang telah kedaluwarsa atau tiket multitrip yang saldonya kurang dari tarif tertinggi. Pengguna THB yang tidak melakukan tapping in/tapping out dengan benar atau tarif dalam tiketnya kurang (turun di stasiun yang lebih jauh), THB akan diambil dan tidak mendapatkan pengembalian uang jaminan. Sedangkan untuk pengguna multitrip yang tidak melakukan tapping in/tapping out dengan benar, maka pengguna harus menyelesaikan di loket dengan membayar tarif tertinggi.

Pengguna Tiket Harian Berjaminan juga mendapatkan fasilitas free out, fasilitas untuk dapat melakukan sekali tapping out pada stasiun yang sama dengan stasiun tapping in terhitung satu jam dari waktu transaksi pembelian THB di loket. Untuk pengguna tiket multritrip terhitung satu jam dari tapping in. Per tanggal 16 Desember 2015 fasilitas free out ditiadakan. Setiap penumpang yang masuk dan keluar di stasiun yang sama akan dikenankan denda. Untuk pengguna KMT atau Kartu Prabayar Bank dikenakan pemotongan saldo sesuai tarif terendah. Untuk pengguna THB, tarif relasi perjalanan di dalam kartu akan hangus, tetapi refund kartu masih dapat dilakukan.[43]

LinkAja!

LinkAja! mulai diimplementasikan pada stasiun-stasiun KRL Commuter Line sejak 1 Oktober 2019 di 200 mesin tap-in dan tap-out stasiun. Prinsip kerjanya menggunakan kode QR yang diarahkan pada scanner yang ditanam pada mesin tap-in dan tap-out berlogo LinkAja!. Namun, aplikasi LinkAja! hanya bisa digunakan apabila saldo tidak kurang dari Rp13.000,00.[44][45]

Armada KRL Commuter Line[46]

Jalur KA Commuter Jabodetabek dilayani oleh beberapa tipe dan jenis kereta. Sekarang, Jalur ini hanya dilayani oleh KRL AC. KRL Ekonomi non-AC sudah dihentikan operasionalnya pada tahun 2013.

KRL non-AC

KRL Ekonomi adalah unit armada KRL yang ditujukan untuk masyarakat kelas ekonomi menengah dan bawah. Kelas ini menggunakan armada KRL lama yang tidak menggunakan fasilitas pendingin udara (AC). Sejumlah rangkaian dibuat oleh Nippon Sharyo dan Kawasaki, juga Hitachi, Ltd. (Jepang), BN-Holec (Belanda), ABB-Hyundai(Korea) yang bekerjasama dengan PT INKA. KRL jenis ini sudah tidak dioperasikan lagi di semua jalur, dan seluruhnya disimpan di Depo KRL Depok atau Balai Yasa Manggarai. Beberapa rangkaian KRL non-AC tipe Rheostatik telah dikirim ke Stasiun Purwakarta untuk dibesituakan (afkir). Kini, seluruh KRL ekonomi dikirim ke Purwakarta dan Cikaum.

KRL BN-Holec (1994-2001)

KRL BN-Holec adalah unit KRL ekonomi termuda. KRL ini dibuat oleh Bombardier Transportation Belgium (dahulu La Brugeoise et Nivelles) dengan mesin oleh Holland Electric, bekerja sama dengan pabrik PT INKA Madiun. Unit ini dulunya sempat melayani KRL Ekspres dan Ekonomi. Dari seluruh rangkaian ekonomi yang ada, KRL BN-Holec tergolong paling sulit dirawat. Selain karena masalah suku cadang yang susah dicari (pabriknya sudah lama tutup), KRL ini pun juga sering mengalami mogok karena kelebihan beban (overload). Sehingga banyak KRL BN-Holec yang rusak dan mangkrak di Balai Yasa Manggarai, lalu dijadikan KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) yang dioperasikan di beberapa kota di luar Jakarta. "Rekondisi" KRL Holec adalah KRDE yang dioperasikan di rute Kutoarjo-Yogyakarta-Solo (Prameks dan Sriwedari), serta Padalarang-Cicalengka (Baraya Geulis). Selain itu KRL Holec juga direkondisi menjadi KRL Holec AC yang sudah beroperasi di jalur Tangerang. Hampir seluruh KRL Holec telah dikirim ke Purwakarta untuk dirucat.

KRL Ekonomi Rheostatik (1976, 1978 dan 1983-1987)

KRL Rheostatik adalah KRL buatan Jepang yang dibuat dari tahun 1976 sampai tahun 1987 dengan teknologi Rheostat. Umumnya, KRL ini dibuat oleh perusahaan Nippon Sharyo, Hitachi, dan Kawasaki dari Jepang, untuk melayani kelas KRL Ekonomi. KRL Rheostatik buatan pabrik Kawasaki dan Hitachi tahun 1986-1987 dulunya melayani KRL Pakuan Ekspres, Depok Ekspres, dan Bekasi Ekspres pada tahun '90-an. Setelah KRL Hibah (KRL Toei 6000) datang, KRL ini mulai terlupakan dan dijadikan rangkaian KRL Ekonomi. Khusus untuk KRL Rheostatik yang datang pada tahun 1986-1987, bodinya sudah stainless steel dan satu set KRL Rheostatik Stainless merupakan KRL AC pertama di Indonesia.

Untuk KRL buatan Nippon Sharyo tahun 1976, 1978, 1983, dan 1984, kereta ini sudah mengalami banyak perubahan, baik kaca depan maupun skema warna/livery. Semula menggunakan skema PJKA yaitu berwarna merah polos dengan "wajah" kuning terang dari tahun 1976-1990-an, kemudian pada era Perumka diubah menjadi merah dan biru dengan garis putih seperti KA Ekonomi pada era 90-an awal, di mana saat itu, pintu KRL mulai mengalami kerusakan dan pada tahun 1993 yaitu: satu set KRL Rheostatik mild dan stainless mengalami kecelakaan di antara Stasiun Depok dan Citayam.[47] Di era 90-an akhir, tepatnya tahun 1995-2000, KRL ini dicat dengan warna putih-hijau dengan garis biru tua dan biru muda Pada era PT KAI, kemudian diubah menjadi orange dengan garis kuning, dan terakhir putih dengan garis merah. Kedua KRL ini mulanya seperti KRL Ekonomi AC atau Ekspres, yakni pintunya dapat tertutup secara otomatis, dan cukup nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu kondisi kedua KRL ini menurun. Kerusakan pada pintu KRL terjadi disebabkan pengganjalan pintu oleh penumpang.

Pada 2009, telah dioperasikan KRL Rheostatik dengan kabin masinis yang telah dimodifikasi dan diberi nama "Djoko Lelono". KRL ini adalah hasil modifikasi dari sejumlah unit KRL rheostatik dengan kabin masinis yang menjadi aerodinamis yang konon terinspirasi dari KA Intercity-Express (ICE). Pintu penumpang juga diaktifkan kembali sehingga dapat membuka dan menutup seperti sediakala.

Sejak tak lagi dioperasikannya seluruh KRL ekonomi non-AC, KRL Rheostatik disimpan di Depo KRL Depok dan Balai Yasa Manggarai. KRL Rheostatik dengan bodi mild steel sebagian besar dikirim ke Stasiun Purwakarta untuk dibesituakan (afkir). Sementara KRL Rheostatik Stainless masih ada yang disimpan di Depo KRL Depok atau Balai Yasa Manggarai, mengingat tidak menutup kemungkinan untuk direkondisi menjadi KRL AC atau ikut dirucat ke Purwakarta. Kini, masih ada beberapa rangkaian KRL rheostatik yang bernasib mujur dibandingkan KRL lainnya. Namun, KRL yang masih aktif ini dioperasikan untuk logistik antar depo atau sebagai KRL penolong jika sedang diperlukan.

KRL INKA-Hitachi [Jepang-Indonesia] (1997)

KRL ini dibuat pada tahun 1997 di PT INKA bekerjasama dengan Hitachi, dibuat sebanyak 64 unit (8 set) berteknologi Variable Voltage Variable Frequency-Insulated Gate Bipolar Transistor (VVVF-IGBT). Kereta ini memiliki ciri yang khas yaitu ketika mulai bergerak yang sangat halus dan tidak menyentak. Jenis KRL ini pernah digunakan sebagai KA Pakuan Ekspres kelas bisnis sampai akhirnya turun tingkat ketika era KRL Toei 6000 datang dari Jepang. Saat ini rangkaian KRL Hitachi yang telah dikirim ke Purwakarta untuk ditanahkan.

KRL INKA-Hitachi,2011.

KRL ABB-Hyundai [Korea Selatan-Indonesia] (1985-1992)

KRL ini dibuat atas kerjasama antara PT INKA, ABB, dan Hyundai, dirakit di PT INKA pada tahun 1985-1992 dibuat sebanyak 8 kereta (2 set) berteknologi VVVF-GTO (Gate Turn Off) dan disebut-sebut merupakan prototype kereta MagLev yang dikembangkan Hyundai untuk jalur Seoul-Pusan. KRL Hyundai ini sempat mangkrak dalam waktu yang lama, lalu beroperasi kembali dan kemudian pensiun. Saat ini KRL ABB Hyundai telah dikonversi menjadi KRDE dan beroperasi di jalur Surabaya-Mojokerto sebagai Arek Surokerto.

KRL AC[48]

KRL AC adalah KRL dengan fasilitas AC, sehingga lebih nyaman dari KRL Ekonomi. Era peng-AC-an KRL dimulai tahun 1990-an, ketika diluncurkannya KRL Pakuan Ekspres Utama Jakarta Kota-Bogor. Saat ini, KRL AC di Jabodetabek sudah menjamur, kini semua KRL Commuter Line sudah dipasangi AC.

KRL Hibah eks-Toei

KRL eks Toei 6000

KRL ini adalah KRL yang diimpor dari operator kereta bawah tanah milik Biro Transportasi Pemerintah Daerah Tokyo (Toei Transportation), dalam rangka kerjasama strategis Indonesia-Jepang saat itu. Meramaikan jalur Jabodetabek mulai tahun 2000, Toei 6000 ini dioperasikan di sebagian besar rute untuk layanan ekspres dengan tambahan pendingin udara (AC). Karena berstatus hibah dari Pemerintah Daerah Kota Tokyo, KRL ini sering disebut sebagai KRL hibah.

Pada mulanya, didatangkan 72 unit kereta dari Jepang dengan masing-masing rangkaian terdiri dari 8 kereta. Namun, pada akhirnya hanya sebanyak 3 rangkaian yang memiliki 8 kereta (6121F, 6161F, 6171F), sedangkan sisanya dijadikan 6 kereta per rangkaian. Namun mulai tahun 2012 akhir formasi Toei 6000 banyak diubah karena rangkaian yang memiliki 6 kereta diperpanjang menjadi 8 kereta. Ada 4 rangkaian (sebelumnya 3 rangkaian) menggunakan kabin modifikasi, yang dibuat oleh Balai Yasa Manggarai.

Sejak kedatangan KRL JR 205, KRL Toei 6000 satu persatu mulai dipensiunkan. Pada pertengahan tahun 2014, tersisa 5 rangkaian (6121F, 6161F, 6181F, 6177F, 6227F) yang masih beroperasi. Dari jumlah 5 rangkaian itu berkurang menjadi 3 rangkaian pada akhir 2014 (6121F, 6161F, 6177F). Kini, seluruh KRL Toei 6000 sudah berhenti beroperasi. Rangkaian disimpan atau ditanahkan di Depo Depok dan Stasiun Cikaum, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

KRL eks Tokyu Corporation

KRL eks Tokyu Corporation (atau disebut Tokyu) mulai meramaikan armada komuter Jabodetabek sejak masuknya KRL Tokyu 8000 dan Tokyu 8500. KRL Tokyu 8000 dibuat pada tahun 1969 dan KRL Tokyu 8500 dibuat pada tahun 1975 dan merupakan pengembangan dari Tokyu 8000. Khusus untuk unit bernomor depan 07xx dan 08xx (mis. 0715 dan 0815) adalah unit yang dibuat pada tahun 1985 ke atas.

KRL ini diimpor dari Jepang dengan harga sekitar 800 juta per unit, atau sekitar 6,5 miliar per rangkaian dengan 8 kereta. Berkat perawatan yang baik, KRL Tokyu selama ini jarang bermasalah dan dapat dioperasikan sampai sepuluh tahun mendatang di Jabodetabek.

KRL eks JR East

KRL eks JR East 103

KRL eks East Japan Railway Company seri 103 didatangkan pada 2004. KRL JR 103 ini adalah salah satu rangkaian yang mulanya digunakan untuk layanan Bojonggede Ekspres dan Depok Ekspres. Akibat bertambahnya jumlah penumpang, KRL ini pun diganti dengan rangkaian lain yang memiliki 8 kereta per set.

KRL ini masing-masing rangkaiannya terdiri dari 4 kereta (1 rangkaian), dan pernah menjadi salah satu rangkaian KRL dengan AC terdingin di Jabodetabek. KRL ini berada di bawah alokasi Depo KRL Depok. KRL JR 103 telah berhenti beroperasi sejak 1 Januari 2016.

KRL ini dapat dioperasikan dalam formasi 8 kereta, dengan menggabungkan masing-masing dua rangkaian 4 kereta menjadi satu. KRL ini memiliki beberapa skema warna. Skema pertama yang digunakan adalah warna asli Jepang, skema kedua adalah skema asli Jepang ditambah warna kuning di bagian jendela, skema ketiga adalah warna biru, skema keempat adalah skema warna putih, dan skema terakhir adalah skema seperti pada KRL milik PT KCJ yang berwarna merah-kuning.

Kini, seluruh rangkaian KRL seri 103 tidak beroperasi dan ditanahkan di Stasiun Cikaum.

KRL eks JR East 203

KRL eks East Japan Railway Company seri 203, tiba di Indonesia pada tanggal 2 Agustus 2011. Di Indonesia, KRL ini dioperasikan dalam 3 jenis formasi sejak pengaturan ulang formasi KRL seri 203 yang dilakukan bulan Desember 2016,[49] yaitu 8, 10, dan 12 kereta.

KRL eks JR East 205

KRL eks East Japan Railway Company 205, tiba di Indonesia pada tanggal 3 November 2013. KRL ini dulunya beroperasi di jalur Saikyo dan dimiliki oleh Depo Kawagoe sebanyak 18 rangkaian (180 unit). Sebanyak 3 rangkaian pengiriman kelompok pertama tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada tanggal 10 November 2013 dengan nomor rangkaian HaE 7, 11, dan 15, dan 2 rangkaian pengiriman kelompok kedua pada tanggal 16 November 2013 dengan nomor rangkaian HaE 14 dan 25. Selanjutnya KRL ini datang secara bertahap dengan jumlah per kedatangan sebanyak 2-3 rangkaian. KRL ini digunakan untuk menggantikan KRL yang AC-nya akan diperbaiki.

KRL ini juga dikenal karena memiliki unit dengan 6 pintu per sisinya. Unit ini merupakan kereta dengan bangku yang bisa dilipat untuk memaksimalkan kapasitas saat jam sibuk. Namun ada juga rangkaian standar dengan seluruh unit dengan 4 pintu per sisi.

Pada tanggal 6 Februari 2014, rangkaian HaE 15 telah menjalani ujicoba operasional, dan menjadi rangkaian JR 205 pertama yang dipakai untuk mengangkut penumpang. Sejak 5 Maret 2014, KRL JR 205 resmi berdinas reguler di jalur Jakarta-Bogor.[50]

Mulai bulan Mei 2014, didatangkan juga KRL JR 205 dari jalur Yokohama yang dulunya dimiliki oleh Depo Kamakura sebanyak 22 rangkaian (176 unit). Rangkaian KRL JR 205 dari Yokohama ini terdiri dari 8 kereta dengan 1 unit kereta yang memiliki 6 pasang pintu.

Mulai bulan Juli 2015, didatangkan juga KRL JR 205 dari jalur Nambu yang dulunya dimiliki oleh Depo Nakahara sebanyak 20 rangkaian (120 unit). Rangkaian KRL JR 205 dari Nambu ini terdiri dari 6 kereta dan akan dioperasikan sepanjang 12 kereta dengan menggabungkan 2 rangkaian KRL.

Mulai Maret 2018, 336 unit lainnya dari jalur Musashino akan didatangkan oleh KCI secara bertahap hingga tahun 2020.[51]

Keseluruhan rangkaian seri 205 ini formasinya diacak-acak mulai awal tahun 2016 yang lalu,[52] sehingga mengakibatkan tercampurnya kereta-kereta dari rangkaian Saikyo, Yokohama, Nambu, dan Musashino.

Selain beroperasi di Jabodetabek, KRL seri 205 juga beroperasi di Yogyakarta.

KRL eks Toyo Rapid

KRL eks Toyo Rapid 1000

KRL eks Toyo Rapid 1000 (1061F, 1081F, 1091F) didatangkan dengan masing-masing 10 kereta per set, pada awalnya hanya dioperasikan dengan 8 kereta per set akibat terbatasnya panjang peron dan kurangnya daya pada saat itu. Namun rangkaian 1081F dikembalikan menjadi 10 kereta pada tahun 2017. Seluruh rangkaian KRL Toyo Rapid 1000, baik yang dikirim ke Indonesia maupun yang tidak, merupakan modifikasi dari KRL Tokyo Metro (saat itu Eidan) 5000 pada tahun 1995.

KRL eks Tokyo Metro

KRL eks Tokyo Metro 05

KRL eks Tokyo Metro 05 mulai tiba di Jakarta pada bulan Agustus 2010, diawali dengan rangkaian 05-02F dan 05-07F. Total keseluruhan ada 8 rangkaian KRL seri 05 yang telah tiba di Indonesia.

KRL eks Tokyo Metro 5000

KRL eks Tokyo Metro 5000 (5809F/59F, 5816F/66F, 5817F/67F) didatangkan dengan masing-masing 10 kereta per set, tetapi hanya dioperasikan dengan 8 kereta akibat terbatasnya panjang peron dan kurangnya daya pada saat itu. Namun rangkaian 5817F dikembalikan menjadi 10 kereta pada tahun 2017.

KRL eks Tokyo Metro 6000

KRL eks Tokyo Metro 6000 kedatangan 2011-2013 (6105F, 06F, 07F, 11F, 12F, 13F, 15F, 23F, 25F, 26F, 27F, 33F, dan 34F) didatangkan dengan masing-masing 10 kereta, tetapi hanya dioperasikan dengan 8 kereta akibat terbatasnya panjang peron dan kurangnya daya pada saat itu. Namun untuk kedatangan 2016 (6101F, 08F, 16F, 17F, 18F, 31F) dan 2017 (6119F, 20F, 21F, 24F, 29F, 32F) dioperasikan dengan formasi 10 kereta.

KRL eks Tokyo Metro 7000

KRL eks Tokyo Metro 7000, (7117F, 21F, 22F, 23F) didatangkan dengan masing-masing 10 kereta per set, tetapi hanya dioperasikan dengan 8 kereta akibat terbatasnya panjang peron dan kurangnya daya pada saat itu.

Saat ini rangkaian 7121F tidak bisa dioperasikan karena mengalami tabrakan dengan truk pengangkut bahan bakar di pintu perlintasan Pondok Betung, Jakarta Selatan pada tanggal 9 Desember 2013.[53] Akibat kecelakaan tersebut, kereta KuHa 7121 (K1 1 10 11) mengalami kerusakan berat pada struktur badan kereta, yang sebagian besar terbuat dari bahan alumunium alloy. Bagian kabin masinis penyok dan meleleh akibat benturan dan kobaran api yang berasal dari truk pengangkut bahan bakar setelah kejadian.

KRL INKA

KRL-I Prajayana

KRL-I dibuat tahun 2001, sebagai hasil produk PT INKA yang merupakan pabrik kereta api nasional. Dengan alasan biaya pengadaan yang terlalu tinggi dan sering bermasalah, KRL-I jarang digunakan. KRL ini disebut sebagai KRL Prajayana. KRL-I yang digunakan oleh PT KAI pada awalnya terdiri dari 2 rangkaian, masing-masing dengan 4 kereta. Terakhir, KRL-I dicat dengan striping biru. Saat ini KRL-I sudah tidak beroperasi dan ditanahkan di Stasiun Cikaum.

KRL-I Prajayana yang ditanahkan di Stasiun Cikaum.

KRL i9000 KfW - INKA/Bombardier

KRL i9000 (KfW) mulai diproduksi pada tahun 2010 dan diresmikan bersamaan dengan kereta api Gajah Wong pada hari Rabu tanggal 24 Agustus 2011. KRL ini dibuat sebanyak 40 unit (10 set), dengan setiap rangkaian terdiri dari 4 kereta dengan kodefikasi baru (K3 1 11 xx). Mulai bulan Oktober 2015 hingga pertengahan 2019, KRL KfW dihentikan operasionalnya secara bertahap dan mulai dikembalikan ke PT INKA untuk perbaikan. Istilah KfW berasal dari nama bank milik Pemerintah Jerman, yakni "Kreditanstalt für Wiederaufbau".

KRL ini sebelumnya dioperasikan di rute feeder di Jakarta di mana KRL ini dioperasikan dengan 1 rangkaian saja. Kini, KRL ini beroperasi di Lin Yogyakarta.

KRL KfW i9000 di Stasiun Maguwo, 2020

New KRL Holec AC (Woojin, Korea)

KRL Holec AC adalah hasil modifikasi dan peremajaan dari KRL Holec non-AC yang beroperasi di Jabotabek. Modifikasi dilakukan di lingkungan PT INKA, pabrik yang juga membuat KRL Holec non AC medio 1994-2001.

Modifikasi meliputi penggantian material kursi, penggantian mesin KRL (dari Bombardier menjadi Woojin), kabin masinis, pemasangan GPS dan TMS (Train Monnitoring System), serta pemasangan AC. Rangkaian ini telah beroperasi secara resmi pada tanggal 29 Maret 2014 di jalur Duri–Tangerang. Namun operasional KRL Holec AC ini terbilang sebentar, karena pada kuartal ketiga 2014 KRL Holec AC dikembalikan ke PT INKA untuk perbaikan. Hingga saat ini, KRL Holec AC masih berada di PT INKA, Madiun.

Meskipun tidak lagi menggunakan komponen dari BN-Holec dan Bombardier, KRL ini tetap disebut KRL Holec AC.

Insiden

Seorang penumpang menunggu KRL di Stasiun Juanda. Pada September 2015. Di stasiun inilah terjadi kecelakaan yang melibatkan 2 set KRL JR 205.
  • 2 November 1993, KRL Ekonomi Rheostatik Stainless bertabrakan dengan KRL Ekonomi Rheostatik Mild Steel di Ratujaya, Depok. Akibatnya, 17 orang tewas dan 2 kereta dari masing-masing rangkaian hancur dan tidak bisa dipakai lagi. Sementara sisa 2 kereta lainnya dari masing-masing rangkaian digabung menjadi satu.
  • 4 Oktober 2012, KRL Commuter Line dengan nomor perjalanan 435 (Bogor-Jakarta Kota) anjlok dan menabrak peron di Stasiun Cilebut, menyebabkan perjalanan kereta dari Jakarta hanya sampai Stasiun Bojong Gede. Rangkaian yang terlibat dalam insiden ini adalah KRL TM 05-007F dengan rangkaian yang anjlok adalah gerbong ketiga bernomor rangkaian 05-307.[54]
  • 9 Desember 2013, KRL Commuter Line dengan nomor perjalanan 1131 (Maja-Tanah Abang) menabrak truk tangki Pertamina hingga meledak dan terbakar. Rangkaian yang terlibat dalam insiden ini adalah KRL TM 7121F.[55]
  • 23 September 2015, pukul 15.25 WIB, terjadi kecelakaan yang melibatkan dua KRL JR 205 SF 10 (rangkaian 205-54F dan 205-123F) di Stasiun Juanda. Kondisi kedua kabin KRL JR 205 (KuHa 204 / 205) tersebut rusak berat. Kondisi kereta nomor 1-9 pada kedua rangkaian kereta tersebut juga mengalami kerusakan yang cukup berat, terutama di bagian persambungannya yang seluruhnya juga mengalami kerusakan berat dan remuk. Empat puluh dua orang luka-luka akibat kecelakaan tersebut.[56][57] Kejadian ini mengakibatkan sang masinis KRL 1156, Gustian, terluka parah dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.[58]

Galeri

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "Pertumbuhan Penumpang KRL di Bodetabek Meningkat Pesat".  Teks "https://www.beritasatu.com/megapolitan/586288/pertumbuhan-penumpang-krl-di-bodetabek-meningkat-pesat" akan diabaikan (bantuan);
  2. ^ Buku Statistik Bidang Perkeretaapian Tahun 2019 (PDF). Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. 
  3. ^ a b http://www.tribunnews.com/bisnis/2017/09/20/kcj-berubah-nama-jadi-kereta-commuter-indonesia
  4. ^ "Tahun Ini, KRL Commuter Line Bidik 1,2 Penumpang/Hari".  Teks "https://www.cnbcindonesia.com/news/20190310144514-4-59728/tahun-ini-krl-commuter-line-bidik-12-penumpang-hari" akan diabaikan (bantuan);
  5. ^ a b "Hikayat Jalur Kereta Api Listrik di Indonesia". CNN Indonesia. Diakses tanggal 2017-07-13. 
  6. ^ Media, Kompas Cyber. "Merindu Trem di Jakarta". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-24. 
  7. ^ a b c d Media, Kompas Cyber. "Putaran Roda KRL, Bonbon, hingga KfW". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-24. 
  8. ^ Fadhli, Faris (2016-01-17). "Perjalanan KRL Seri 6000 Hibah eks-Toei, Setelah 15 Tahun - KAORI Nusantara". KAORI Nusantara (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-07-13. 
  9. ^ "Sejarah Kereta Rel Listrik". PT KAI Commuter Jabodetabek. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-08-06. Diakses tanggal 20 September 2015. 
  10. ^ State Run Commuter Line Operator PT KCJ Transform Into PT KCI The Jakarta Post, 20 September 2017
  11. ^ Tugas Lebih Luas, PT KCJ Berubah Nama Menjadi PT KCI
  12. ^ a b c d e Afifah, Riana. "5 Desember, Pola Jalur Melingkar KRL Beroperasi". Kompas.com (dalam bahasa Inggris). KG Media. Diakses tanggal 2017-10-14. 
  13. ^ Ronald. "Jalur Nambo resmi beroperasi, penumpang masih sepi". Merdeka.com (dalam bahasa Inggris). KapanLagi Youniverse. Diakses tanggal 2017-10-14. 
  14. ^ "KRL Rangkasbitung - TanahAbang Beroperasi Penuh Mulai 1 April 2017". KRL (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-10-14. 
  15. ^ Kusuma, Hendra. "Rute KRL Bekasi-Jakarta Kota via Senen Beroperasi 1 April". Detik.com. Trans Media. Diakses tanggal 30 Maret 2017. 
  16. ^ Idris, Muhammad. "Pengumuman! KRL Cikarang Mulai Beroperasi 8 Oktober". Detik.com. Trans Media. Diakses tanggal 2017-10-14. 
  17. ^ Fadhli, Faris (2015-12-22). "Lintas Jakarta Kota - Tanjung Priuk Dibuka, KRL Mulai Beroperasi". KAORI Nusantara (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-10-14. 
  18. ^ https://m.tempo.co/read/news/2016/12/19/090829016/kai-januari-2017-krl-beroperasi-sampai-rangkasbitung
  19. ^ KRL Beroperasi dari Stasiun Cikarang Mulai 8 Oktober 2017
  20. ^ Dari Cikarang, KRL Kemungkinan Diperpanjang Sampai Cikampek
  21. ^ Kebutuhan Bogor Akan KRL Citayam-Parungpanjang Mendesak
  22. ^ Asik, Jalur KRL Parung Panjang-Citayam Akan Segera Dibangun
  23. ^ "Tak Hanya Jakarta, Solo-Jogja Juga Bakal Punya Kereta Listrik". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-12. 
  24. ^ Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2030 (PDF). Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 2011. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-03-31. Diakses tanggal 2020-04-04. 
  25. ^ "Akhir Tahun Ini, Yogyakarta Operasikan KRL". Republika Online. 2016-04-10. Diakses tanggal 2020-02-12. 
  26. ^ Rusqiyati, Eka Arifa. "Daop VI bersiap realisasikan KRL Yogyakarta-Solo". ANTARA DI Yogyakarta. Diakses tanggal 2020-02-12. 
  27. ^ JawaPos.com (2018-03-30). "Proyek KRL Molor, Tiang Mangkrak di Stasiun Solo Jebres". radarsolo.jawapos.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-20. Diakses tanggal 2020-02-12. 
  28. ^ Media, Harian Jogja Digital (2019-08-22). "KRL Solo-Jogja Ditarget Beroperasi 2020, Saat Ini Masuk Tahap Lelang Elektrifikasi". Harianjogja.com. Diakses tanggal 2020-02-12. 
  29. ^ Media, Rohmah Ermawati-Solopos Digital (2019-10-16). "Jaringan Listrik KRL Solo–Jogja Dibangun Akhir Tahun 2019". SOLOPOS.com. Diakses tanggal 2020-02-12. 
  30. ^ JawaPos.com (2020-02-12). "Proyek KRL Solo-Jogja Masih Tahap Konstruksi". radarsolo.jawapos.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-20. Diakses tanggal 2020-02-12. 
  31. ^ "Proyek KRL Solo-Jogja Terhambat Wabah Covid-19: Pekerja Minim, Material Susah Didapat". Solopos.com. 2020-04-19. Diakses tanggal 2020-05-25. 
  32. ^ "KRL Yogyakarta-Solo Mulai Beroperasi Penuh 10 Februari 2021". KAI Commuter. Diakses tanggal 12 Februari 2021
  33. ^ "Cara Bikin Kartu Multi Trip untuk Naik KRL Solo-Yogyakarta". Kompas. Diakses tanggal 4 Februari 2021
  34. ^ http://news.liputan6.com/read/632722/berlakukan-tarif-progresif-krl-commuter-pt-kai-merugi
  35. ^ http://www.merdeka.com/uang/mulai-1-april-2015-tarif-krl-jabodetabek-tergantung-jarak.html
  36. ^ "KCI Hapus Kartu THB Di Lima Stasiun Ini Mulai 1 Agustus 2019". Warta Kota. Diakses tanggal 2019-08-02. 
  37. ^ Media, Kompas Cyber. "PT KCI Bakal Hapus Pembelian Tiket Harian KRL di 5 Stasiun". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-08-02. 
  38. ^ Hakim, Adli. "Dukung Integrasi Antarmoda, KCJ Ajak Pemilik Tiket KMT Tukar Kartu Dengan KMT Teknologi Terbaru Secara Gratis". KRL (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-03-22. 
  39. ^ Sulistyo, Bayu Tri (2021-10-12). "Sekarang Bisa Naik MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan TransJakarta Pakai KMT". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2021-10-13. 
  40. ^ "Brizzi, E-money, dan Tap Cash bisa bayar KRL". Kontan.co.id. Diakses tanggal 2019-03-22. 
  41. ^ http://nasional.kompas.com/read/2014/08/11/13275481/Tiket.Elektronik.Transjakarta.Bisa.Digunakan.untuk.KRL
  42. ^ Anak Bertinggi Badan Lebih dari 90 Cm Wajib Beli Tiket KRL
  43. ^ Fasilitas Free Out akan Ditiadakan, diakses 14 Desember 2015
  44. ^ Liputan6.com (2019-10-27). "Naik KRL Commuter Line Kini Bisa Bayar Pakai LinkAja, Begini Caranya". liputan6.com. Diakses tanggal 2020-10-09. 
  45. ^ "Ini Cara Pakai Aplikasi LinkAja saat Naik KRL". kumparan. Diakses tanggal 2020-10-09. 
  46. ^ Majalah KA Edisi Juni 2014
  47. ^ Liputan 6: 5 Kecelakaan Maut di Rel Jabodetabek
  48. ^ Litbang KRL - Gerakan Muda Penggemar Kereta Api
  49. ^ http://www.re-digest.web.id/2016/12/rangkaian-205-15f-203-2f-dan-6131f.html
  50. ^ http://news.detik.com/read/2014/03/05/101530/2515745/10/pt-kcj-operasikan-kereta-terpanjang-seri-205
  51. ^ JR???,??????205??????????? [JR East Akan Lepas KRL Seri 205 ke Indonesia]. Japan Railfan Magazine Online (dalam bahasa Japanese). Japan: Koyusha Co., Ltd. 1 Maret 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 Maret 2018. Diakses tanggal 1 Maret 2018. 
  52. ^ Pemanjangan Formasi KRL Seri 205 Eks Jalur Yokohama Sudah Rampung
  53. ^ http://news.detik.com/read/2013/12/09/114115/2436228/10/krl-vs-tangki-di-bintaro-picu-kebakaran-besar-lebih-10-damkar-dikerahkan
  54. ^ http://charleskkb.blogspot.com/2011/11/renungan-kecelakaan-ka-ratujaya-2.html
  55. ^ http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/12/131209_krlaccident.shtml Kereta Komuter tabrak Truk Tangki
  56. ^ MetroTVNews.com: KRL Tabrak KRL di Stasiun Juanda, Korban Berjatuhan[pranala nonaktif permanen]
  57. ^ Tempo: Ini 42 Korban Luka Kecelakaan KRL di Stasiun Juanda
  58. ^ "MetroTVNews.com: Humas KCJ: Masinis Gustian Luka Parah". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-09-25. Diakses tanggal 2015-09-27. 

Pranala luar

(Indonesia) Situs web resmi