Perusahaan Jawatan Kereta Api

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Perusahaan Jawatan Kereta api
Logo PJKA.jpg
Wilayah Seluruh Indonesia
Tahun beroperasi 15 September 1971–1 Agustus 1991
Pendahulu Perusahaan Negara Kereta Api (1960-1970)
Penerus Perusahaan Umum Kereta Api (1980-2007)
Pendiri Ismangil dkk. (Tokoh AMKA)
Lebar sepur 1435 (lebar sepur standar)
1067 (lebar sepur utama)
750
Panjang 5.042 kilometer (3132,95 mil)
Kantor pusat Bandung
Induk Departemen Perhubungan
Tokoh penting Ir. Pantiarso

Perusahaan Jawatan Kereta Api didirikan pada 15 September 1971[1]. Pada 1 April 1979 Pegawai Jawatan Kereta Api diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil[2].

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pra-kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1869, untuk pertama kalinya, angkutan trem diperkenalkan oleh perusahaan trem Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM), untuk warga Batavia. Sarana penariknya berupa hewan kuda dengan lebar sepur 1.188 mm.[3]

Pada hari Jumat, tanggal 17 Juni 1864, kereta api pertama di Indonesia lahir. Pembangunan diprakarsai oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan rute Samarang-Tanggung. Pencangkulan tanah pertama dilakukan di Desa Kemijen dan diresmikan oleh Mr. L.A.J.W. Baron Sloet van de Beele. Namun jalur ini dibuka tiga tahun berikutnya, 10 Agustus 1867. Hingga tahun 1873 tiga kota di Jawa Tengah, yaitu Semarang, Solo, dan Yogyakarta sudah berhasil dihubungkan.[4][5][6]

Masa politik kolonial liberal rupanya mengakibatkan Pemerintah Belanda enggan mendirikan perusahaannya dan justru memberikan kesempatan luas bagi perusahaan-perusahaan (KA) swasta. Namun sayangnya, perusahaan swasta itu tidak memberikan keuntungan berarti (apalagi NIS masih membutuhkan bantuan keuangan dari Pemerintah Kolonial), maka Departemen Urusan Koloni mendirikan operator KA lain, Staatsspoorwegen, yang membentang dari Buitenzorg hingga Surabaya. Pertama dibangun di kedua ujungnya, jalur pertama di Surabaya dibuka pada tanggal 16 Mei 1878 dan terhubung pada tahun 1894.

Selain itu, muncul juga lima belas operator KA swasta di Jawa yang menamakan dirinya sebagai "perusahaan trem uap", namun meskipun namanya demikian, perusahaan itu sudah dapat dianggap sebagai operator KA regional.

Sebagai perusahaan kolonial, sebagian besar jalur KA di Indonesia mempunyai dua tujuan: ekonomis dan strategis. Nyatanya, syarat bantuan keuangan NIS antara lain membangun rel KA ke Ambarawa, yang memiliki benteng bernama Willem I (yang diambil dari nama Raja Belanda). Jalur KA negara pertama dibangun melalui pegunungan selatan Jawa, selain daerah datar di wilayah utara Jawa, untuk alasan strategis sama. Jalur KA negara di Jawa menghubungkan Anyer (lintas barat) menuju Banyuwangi (lintas timur).

Selain di Jawa, pembangunan rel KA juga dilakukan di Aceh, menghubungkan Banda Aceh hingga Pelabuhan Uleelhee, dengan lebar sepur 1.067 mm, yang digunakan untuk keperluan militer. Kemudian, lebar sepur yang sebelumnya 1.067 mm kemudian diganti menjadi 750 mm membentang ke selatan. Jalur ini kemudian berpindah kepemilikan dari Departemen Urusan Perang kepada Departemen Urusan Koloni tanggal 1 Januari 1916 menyusul perdamaian relatif di Aceh.

Ada pula jalur kereta api di Ranah Minangkabau (dibangun pada tahun 1891-1894) dan Sumatera Selatan (dibangun tahun 1914-1932). Kedua jalur ini digunakan untuk melintas layanan KA batu bara dari pertambangan bawah tanah menuju pelabuhan.

Di Sumatera Utara, ada perusahaan KA bernama Deli Spoorweg Maatschappij yang banyak mengangkut karet dan tembakau di daerah Deli.

Pembangunan jalur kereta api juga dilangsungkan di Sulawesi Selatan pada bulan Juli 1922 hingga 1930; sebagai bagian dari proyek besar-besaran pembangunan jalur rel di Kalimantan dan Sulawesi, menggabungkan sistem rel KA di Sumatera, serta elektrifikasi jalur KA utama di Jawa. Namun Depresi Besar telah membatalkan upaya ini. Meskipun tidak sempat dibangun, studi pembangunan jalur KA di Kalimantan, Bali, dan Lombok telah selesai dilakukan.

Semasa pendudukan Jepang, seluruh jalur KA (bahkan yang terpisah sekali pun) dikelola sebagai satu kesatuan. Sementara itu, di Sumatera, juga dikelola oleh cabang-cabang Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang, secara terpisah.

Pendudukan Jepang akhirnya mengubah lebar sepur 1.435 mm di Jawa menjadi 1.067 mm, sebagai penyelesaian masalah lebar sepur ganda. Ini bukanlah "permasalahan nyata" karena tidak banyak perubahan materiil di kedua sistem itu, banyak rel 1.435 mm dipasangi rel ketiga pada tahun 1940, menghasilkan rel dengan lebar sepur campuran.

Pasca-kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan perusahaan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari Jepang.

Pada tanggal 28 September 1945, pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya menegaskan bahwa mulai hari itu kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia sehingga Jepang sudah tidak berhak untuk mencampuri urusan perkeretaapian di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya tanggal 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI).

Kecuali DKA, ada operator KA lain yaitu Kereta Api Soematra Oetara Negara Repoeblik Indonesia dan Kereta Api Negara Repoeblik Indonesia (1953-1960), yang semuanya beroperasi di Sumatera.

Nama DKA pun berubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA),[7] semasa Orde Lama. Lalu, pada tanggal 15 September 1971 berubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA)[8]. Pada tanggal 1 Agustus 1990, PJKA berubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka).

Direktur & Kepala Pusat[sunting | sunting sumber]

Direktur & Kepala Pusat pada Perusahaan Jawatan Kereta Api tahun 1980[9] :

Direktur Utama : Ir. Pantiarso

Direktur Instalasi Tetap : Ir. Soeparto

Direktur Traksi & Materiil : Ir. Sandjojo

Direktur Lalu Lintas : Chaidir Nien Latief S.H.

Direktur Keuangan : Imam Rustadi S.H.

Direktur Personalia : Ir. Soeharso

Sekretaris Perusahaan : Hersubno

Kepala Pusat Perencanaan : Ir. Sutijanto

Kepala Pusat Pemeriksaan : Soedharmoen Pintodihardjo

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan : Ir. Partosiswojo

Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan : Asmanu B.E.

Pembantu Khusus Dirutka : Ir. R. Moerhadi

Kereta Api yang beroperasi[sunting | sunting sumber]

Kereta api yang beroperasi mulai 26 Juli 1979[9]

No. KA Nama KA Trayek
Jawa
1 Bima I Surabaya Gubeng Jakarta Kota
2 Bima II Jakarta Kota Surabaya Gubeng
3 Mutiara I Surabaya Pasarturi Jakarta Kota
4 Mutiara I Jakarta Kota Surabaya Pasarturi
5 Mutiara Selatan Surabaya Kota Bandung
6 Mutiara Selatan Bandung Surabaya Kota
7 Gayabaru Malam Utara I Surabaya Pasarturi Pasarsenen
8 Gayabaru Malam Utara II Pasarsenen Surabaya Pasarturi
9 Gayabaru Malam Selatan I Surabaya Kota Gambir
10 Gayabaru Malam Selatan II Gambir Surabaya Kota
11 Espress Siang Surabaya Kota Bandung
12 Espress Siang Bandung Surabaya Kota
13 Senja I Smt Semarang Tawang Pasarsenen
14 Senja I Smt Pasarsenen Semarang Tawang
15 Senja I Smt Semarang Tawang Pasarsenen
16 Senja I Smt Pasarsenen Semarang Tawang
17 Senja Kta Kutoarjo Pasarsenen
18 Senja Kta Pasarsenen Kutoarjo
19 Senja Yk Yogyakarta Gambir
20 Senja Yk Gambir Yogyakarta
21 Senja Mn Madiun Gambir
22 Senja Mn Gambir Madiun
23 Senja Slo Solobalapan Gambir
24 Senja Slo Gambir Solobalapan
25 S.G. Jati I Cirebon Jakarta Kota
26 S.G. Jati II Jakarta Kota Cirebon
27 S.G. Jati III Cirebon Jakarta Kota
28 S.G. Jati IV Jakarta Kota Cirebon
29 S.G. Jati V Cirebon Jakarta Kota
30 S.G. Jati VI Jakarta Kota Cirebon
31 Parahiyangan I Bandung Jakarta Kota
32 Parahiyangan II Jakarta Kota Bandung
33 Parahiyangan III Bandung Jakarta Kota
34 Parahiyangan IV Jakarta Kota Bandung
35 Parahiyangan V Bandung Gambir
36 Parahiyangan VI Jakarta Kota Bandung
37 Parahiyangan VII Bandung Jakarta Kota
38 Parahiyangan VIII Gambir Bandung
39 Parahiyangan IX Bandung Jakarta Kota
40 Parahiyangan X Jakarta Kota Bandung
41 Mutiara Timur Surabaya Kota Banyuwangi
42 Mutiara Timur Banyuwangi Surabaya Kota
43 Mutiara Timur Surabaya Kota Banyuwangi
44 Mutiara Timur Banyuwangi Surabaya Kota
47F Expres. F Surabaya Kota Semarang Tawang
45F Prisendam Surabaya Kota Yogyakarta
61F Transmigrasi Solojebres Jatinegara
204F Transmigrasi Tanahabang Merak
305F Transmigrasi Merak Tanahabang
63 Expres Cileduk Cirebon
64 Expres Cirebon Cileduk
Sumatra Utara
90 Putri Hijau Medan Tanjung Balai
91 Putri Hijau Tanjung Balai Medan
92 Sribilah Medan Rantau Prapat
93 Sribilah Rantau Prapat Medan
94 Lancangkuning Medan Tanjung Balai
95 Lancangkuning Tanjung Balai Medan
96 Ekspress Tebingtinggi Siantar
97 Ekspress Siantar Tebingtinggi

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1971
  2. ^ Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1979
  3. ^ Murti Hariyadi, Ibnu (2016). Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia. Jakarta: PT. Kereta Api Indonesia (Persero). hlm. 1 – 14. ISBN 978-602-18839-3-8.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)
  4. ^ Silakan dilihat di situs web resmi KAI
  5. ^ "Dimanakah Stasiun Kereta Api Pertama di Indonesia? Ini Jawabannya". 1 Maret 2014. 
  6. ^ Hamdani, Sylviana (3 Februari 2010). "Taking a Train Trip Down Memory Lane in Indonesia". Jakarta Globe. Diakses tanggal 3 Februari 2010. 
  7. ^ Perubahan nama berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1963
  8. ^ Perubahan nama berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 1971
  9. ^ a b Agenda Perusahaan Jawatan Kereta Api tahun 1980