Kereta rel listrik JR East seri 103

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari JR East seri 103)
Lompat ke: navigasi, cari
KRL JR East 103
KRL JR East 103
Perusahaan yang memproduksi Hitachi, Ltd.
Kawasaki Heavy Industries
Kinki Sharyo
Nippon Sharyo
Tokyu Car Corporation
Formasi 8 kereta per set (4+4)
Operator JR East
PT KAI Commuter Jabodetabek
Jalur KA Commuter Jabodetabek
Data teknis
Bodi gerbong Mild Steel
Panjang gerbong 20.000 mm
Lebar 2.800 mm
Tinggi 3.935 mm
Pintu 4 pintu di setiap sisi
Kecepatan maksimum 100 km/jam
Percepatan 2,0 - 3,3 km/jam/sekon
Perlambatan

3,5 km/jam/sekon (regular)

5,0 km/jam/sekon (darurat)
Sistem traksi Resistor control
Daya mesin MT55 440 kW per kereta penggerak
Transmisi Rheostat
Pasokan tenaga Listrik Aliran Atas (LAA)
Metode pengambilan arus Pantograf
Bogie DT33, TR201
Rem kereta Dynamic Brake, Rem Electropneumatic, Rem tangan
Sistem keselamatan ATS-B, ATS-P, ATS-SK, ATS-SW, ATC-3, ATC-4, ATC-6, ATC-9
Alat perangkai Tipe Shibata
Kerja majemuk Sesama KRL JR East 103
Lebar sepur 1,067 mm (3 ft 6 in)

Kereta rel listrik JR East seri 103 (国鉄103系電車 Kokutetsu 103-kei densha?) adalah unit kereta rel listrik buatan Jepang tahun 1965 yang beroperasi di lintas Jabodetabek. KRL ini pernah menjadi KRL dengan populasi terbanyak di Jepang, dan masih merupakan rekor selama ini. KRL ini berteknologi rheostat; dan bahkan jika diperhatikan, KRL ini sangat menyerupai KRL Rheostatik.[1]

Sejarah

KRL ini adalah unit kereta rel listrik buatan Jepang tahun 1965 yang beroperasi di lintas Jabodetabek. KRL ini pernah menjadi KRL dengan populasi terbanyak di Jepang, dan masih merupakan rekor selama ini. KRL ini berteknologi rheostat, yaitu teknologi yang saat itu masih umum, karena belum ada teknologi Chopper serta VVVF-GTO ataupun VVVF- IGBT.

Tahun 2000-an awal, pada saat itu tiba KRL AC pertama kali dari Jepang, dan KRL Express AC ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat, setelah sebelumnya KRL non-AC banyak yang mulai menurun kondisinya dan lekat dengan kondisi yang buruk, seperti banyaknya penumpang di atap. Setelah kedatangan KRL Toei 6000, PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang sedang membutuhkan lebih banyak KRL AC pun mengimpor KRL ini dari JR East, tepatnya pada tahun 2004, sebanyak 16 kereta dengan 4 kereta per setnya. KRL JR 103 merupakan KRL tertua yang dimiliki Jepang (pada saat itu) pertama kali dibuat pada tahun 1965, sehingga pembelian KRL ini tidak banyak, karena terlalu kuno dan tidak efisien jika membeli KRL berbodi Mild Steel, sehingga berikutnya KRL yang dibeli adalah KRL Tokyu. Pada masa dinasnya, sudah beberapa kali JR 103 mengalami perubahan secara fisik.

Indonesia membeli kereta ini untuk melayani beberapa rute Jabotabek. Mulanya pada tahun 2004 digunakan untuk layanan Bojonggede Ekspres dan Depok Ekspres, juga di jalur Tangerang sebagai Benteng Ekspres. Namun, akibat bertambahnya penumpang, KRL ini pun diganti dengan unit Tōkyū seri 8000 saat itu yang memiliki 8 kereta mulai tahun 2005, lalu KRL ini pun difungsikan sepenuhnya di rute Tangerang yang jumlah penumpangnya tidak terlalu banyak.

Selain itu, KRL ini berada di bawah alokasi depo Depok, dan sempat dioperasikan untuk layanan Ekonomi AC Tanahabang - Depok untuk rangkaian kaca tinggi dengan 2 set digabung menjadi satu, dan rangkaian kaca rendah beroperasi sebagai KRL Ekspres di jalur Tangerang dengan stamformasi 1 set, juga terkadang KRL ini dioperasikan di Jalur Bekasi/Bogor. KRL ini masing-masing rangkaiannya terdiri dari 4 kereta (1 set), dan menjadi salah satu set KRL dengan AC terdingin di Jabodetabek, meskipun kenyataannya KRL ini tidak sedingin dulu lagi saat pertama datang, bahkan seringkali panas, dan dinginnya KRL ini masih kalah dari banyak jenis KRL, seperti JR seri 205. Usia KRL yang tua juga membuat rangkaian ini kadang bermasalah, seperti AC panas atau kereta yang mogok.

Namun saat ini 1 set terdiri dari 2 set KRL sehingga 1 set terdapat 8 kereta. KRL ini pernah beroperasi di semua jalur di Jabodetabek.

KRL ini mengalami berbagai perubahan warna. Pertama, adalah warna bawaan dari JR East, lalu orange-kuning, biru tua-biru muda, skema warna "JR Central" (putih dengan garis orange dan hijau), lalu skema warna KCJ dengan logo PT KAI.

Saat ini, karena kesulitan suku cadang, rangkaian E20 dan E27 tidak bisa dioperasikan, sehingga kereta yang tersisa hanya 2 set, dan kini hanya 1 set gabungan yang beroperasi, yaitu rangkaian E21 dan E22. (1 kaca rendah dan 1 kaca tinggi) Saat ini rangkaian ini beroperasi di semua lintas Jabodetabek maupun sebagai KRL feeder, dan lintasan yang dilaluinya dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan yang ada. KRL ini berada dalam perawatan Dipo Depok.

Daftar rangkaian

Unit yang masuk ke Indonesia sebanyak 4 set, masing-masing dengan 4 kereta. Rincian:[1]

  • 103-815F/E20 (103-815, 103-752, 102-2009, 103-822) Set ini mangkrak karena kesulitan suku cadang. Set ini adalah rangkaian kaca tinggi.
  • 103-105F/E21 (103-105, 102-321, 103-246, 103-597) Set ini telah menggunakan penomoran baru dengan nomor K1 1 04 01 sampai dengan K1 1 04 04. Set ini adalah rangkaian kaca rendah.
  • 103-359F/E22 (103-359, 103-654, 102-810, 103-384) Set ini telah menggunakan penomoran baru dengan nomor K1 1 04 09 sampai dengan K1 1 04 12. Set ini adalah rangkaian kaca tinggi.
  • 103-153F/E27 (103-153, 102-231, 103-210, 103-632) Set ini mangkrak karena kesulitan suku cadang. Set ini adalah rangkaian kaca rendah.

Set 103-359F dan 103-105F digabung menjadi 1 rangkaian.

Formasi set 103-815F dan 103-359F adalah sebagai berikut.

Nomor 1 2 3 4
Penomoran KuHa 103 MoHa 103 MoHa 102 KuHa 103
Kodifikasi TC1 M1 M2 TC2

Di lain pihak, formasi set 103-105F dan 103-153F adalah sebagai berikut.

Nomor 1 2 3 4
Penomoran KuMoHa 103 MoHa 102 SaHa 103 KuHa 103
Kodifikasi MC1 M2 T TC

Referensi

  1. ^ a b Majalah KA Edisi Juni 2014

Pranala luar