Jabodetabek

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Jabotabek)
Lompat ke: navigasi, cari

Jabodetabek adalah sebuah akronim dari Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, yaitu sebuah kawasan megapolitan Jakarta dan sekitarnya. Sebelum dibentuknya Kota Depok sebagai pemekaran dari Kabupaten Bogor, akronimnya adalah Jabotabek.

Definisi[sunting | sunting sumber]

Kawasan Jabodetabek mencakup wilayah administrasi:

Demografi[sunting | sunting sumber]

Dari seluruh penghuninya diperkiran sebesar 17,9 juta orang tinggal di Jakarta, 10,7 juta orang di Bekasi, 10,4 juta orang di Tangerang, dan 10,6 juta orang di Bogor. Populasi ini meningkat setiap tahunnya dikarenakan besarnya urbanisasi dari seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah Indonesia memproyeksikan bahwa populasi Jabodetabek akan mencapai 40 juta orang pada tahun 2016. Menurut statistik tersebut, Jakarta akan memiliki 18 juta orang dan daerah-daerah penyangganya memiliki 25 juta orang.

Pembagian Administratif Wilayah (km²) Populasi (2007 Untuk Jawa Barat) Penduduk (/km²)
DKI Jakarta 664 17,765,600 13,100
Kota Bogor, Jawa Barat 118.50 900,034 40,168
Kota Depok, Jawa Barat 200.29 6,689,772 7,053
Kota Bekasi, Jawa Barat 210.49 6,840,831 9,904.6
Kota Tangerang, Banten 164.5 5,753,249 9,342
Kota Tangerang Selatan, Banten 210 3,455,037 4,600
Kabupaten Bogor, Jawa Barat 3,440.71 6,816,236 1,254.4
Kabupaten Tangerang, Banten 1,110 5,746,205 3,094
Kabupaten Bekasi, Jawa Barat 1,484.37 4,242,999 1,368.9
Wilayah Metropolitan Jabodetabek 7,392

Padanan istilahnya dalam bahasa Inggris adalah Greater Jakarta yang berarti kawasan perkotaan yang terintegrasi dengan Jakarta. Populasinya pada tahun 2005 diperkirakan 18,5 juta orang, menempatkannya sebagai salah satu sepuluh besar wilayah metropolitan di dunia dan di Indonesia. Dan juga merupakan wilayah metropolitan terbesar di Asia Tenggara.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2000, jumlah perjalanan di Jabotabek sebanyak 29,2 juta perjalanan/hari. Persentase moda angkutan yang digunakan: bus 52,7%; mobil pribadi 30,8%; sepeda motor 14,2%; dan kereta api 2%. Gejala komuter dari Botabek ke Jakarta sangat bergantung pada fasilitas kereta rel listrik dan jaringan jalan tol. Saat ini antara Jakarta dengan wilayah Botabek telah dihubungkan oleh beberapa jaringan jalan tol, antara lain :

Peruntukan Wilayah[sunting | sunting sumber]

Sejak tahun 1977, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan bahwa wilayah Bodetabek sebagai wilayah penyangga kota Jakarta. Hal ini disebabkan karena terlalu padatnya kota Jakarta untuk menampung semua aktivitas pemerintahan, perdagangan, dan industri. Berdasarkan hal tersebut pemerintah mulai mengatur pembangunan dan peruntukan wilayah di Jabotabek. Untuk aktivitas pemerintahan, tetap dikonsentrasikan di wilayah Jakarta Pusat. Pada tahun 1995, Presiden Soeharto pernah berencana untuk memindahkan pusat pemerintahan negara ke daerah Jonggol[butuh rujukan] di kabupaten Bogor. Tetapi ide tersebut tidak dapat terlaksana dikarenakan krisis keuangan yang melanda Indonesia pada tahun 1997.

Untuk industri, pengembangan dikonsentrasikan di kawasan Cibitung dan Cikarang (Kab. Bekasi) serta Cikupa (Kab. Tangerang). Untuk permukiman, pengembang-pengembang besar banyak membangun kota-kota satelit yang dilengkapi dengan sarana pendukung kota seperti sekolah, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan tempat hiburan. Kota-kota satelit ini banyak berkembang di Kota Bekasi, Kota Tangerang, Serpong (Kota Tangerang Selatan),Kota Depok dan Kawasan Cibubur meliputi: DKI Jakarta dan sebagian Jawa Barat, yang meliputi: Kota Depok, Bekasi, Kabupaten Bogor, Bekasi, sebagian Kotamadya Jakarta Timur, Kabupaten Karawang, Purwakarta dan Cianjur.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]