Kabupaten Toba Samosir

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kabupaten Toba Samosir
ᯂᯅᯮᯇᯖᯉᯩ᯲ ᯖᯬᯅ ᯘᯔᯬᯘᯒᯪ᯲
Lambang Kabupaten Toba Samosir
Lambang Kabupaten Toba Samosir
ᯂᯅᯮᯇᯖᯉᯩ᯲ ᯖᯬᯅ ᯘᯔᯬᯘᯒᯪ᯲


Moto:
Tampakna do Rantosna, Rimni Tahi do Gogona
(Kebersamaan mencerminkan Kekuatan)


Danau Toba dilihat dari Balige
Danau Toba dilihat dari Balige
Lokasi Sumatera Utara Kabupaten Toba Samosir.svg
Peta lokasi Kabupaten Toba Samosir
ᯂᯅᯮᯇᯖᯉᯩ᯲ ᯖᯬᯅ ᯘᯔᯬᯘᯒᯪ᯲ di Sumatera Utara
Koordinat: 2°03'-2°40' LU 98°56'-99°40' BT
Provinsi Sumatera Utara
Dasar hukum UU No.12 Tahun 1998
Tanggal peresmian 9 Maret 1999
Ibu kota Balige
Pemerintahan
-Bupati
- Wakil
Ir. Darwin Siagian
Ir. Hulman Sitorus
APBD
-DAU Rp. 506.843.572.000,-
Luas 2.021,80 km2
Populasi
-Total 180,694 jiwa (2016)[1]
-Kepadatan 0,09 jiwa/km2
Demografi
-Agama Kristen Protestan 85.42%
Katolik 6.60%
Islam 6.20%
Buddha 0.04%
Hindu 0.02%
Lainnya 1.71% [2]
-Bahasa Batak Toba
-Kode area telepon +62632
Pembagian administratif
-Kecamatan 16
-Kelurahan 13
-Desa 231
Simbol khas daerah
Situs web http://www.tobasamosirkab.go.id/

Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) (Aksara Batak Toba: ᯂᯅᯮᯇᯖᯉᯩ᯲ ᯖᯬᯅ ᯘᯔᯬᯘᯒᯪ᯲) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Ibukotanya adalah Kota Balige. Kabupaten Toba Samosir merupakan satu dari tujuh kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, yaitu danau terluas di Indonesia. Suku yang mendiami kabupaten ini pada umumnya adalah suku Batak Toba.

Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Toba Samosir dan Kabupaten Mandailing Natal, di Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Kabupaten Toba Samosir ini merupakan pemekaran dari daerah tingkat II Kabupaten Tapanuli Utara.

Sejarah Kabupaten Toba Samosir[sunting | sunting sumber]

Pembentukan Kabupaten Toba Samosir[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Toba Samosir dimekarkan dari Kabupaten Daerah Tingkat II setelah menjalani waktu yang cukup lama dan melewati berbagai proses, pada akhirnya terwujud menjadi kabupaten baru dengan Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten DATI II Toba Samosir dan Kabupaten DATI II Mandailing Natal di Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Kabupaten Toba Samosir diresmikan pada tanggal 9 Maret 1999 bertempat di Kantor Gubernur Sumatera Utara oleh Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid atas nama Presiden Republik Indonesia sekaligus melantik Drs. Sahala Tampubolon selaku Penjabat Bupati Toba Samosir. Pada saat itu, sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten adalah Drs. Parlindungan Simbolon. Disusul pada tahun 2000 diadakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Toba Samosir, dengan hasil pemilihan, menetapkan Drs. Sahala Tampubolon sebagai Bupati dan Maripul S. Manurung, SH., sebagai wakil Bupati Toba Samosir, masa bakti 2000 – 2005, pelantikan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2000 di Balige.

Pada awal pembentukannya, kabupaten ini terdiri atas 13 (tiga belas) kecamatan, 5 (lima) kecamatan pembantu, 281 desa dan 19 kelurahan. Seiring dengan perjalanan pemerintahan di kabupaten ini jumlah kecamatan mengalami perubahan secara bertahap. Pada awal tahun 2002 dibentuk 5 kecamatan baru yakni pendefinitifan 4 (empat) kecamatan pembantu mejadi 4 (empat) kecamatan defenitif dan pembentukan 1 (satu) kecamatan baru. Kelima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Ajibata, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kecamatan Uluan, Kecamatan Ronggur Nihuta dan Kecamatan Borbor.

Kondisi pemekaran kecamatan berlanjut hingga pada akhir tahun 2002, dimana adanya aspirasi masyarakat yang cukup kuat dalam menyuarakan pemekaran Kecamatan Harian menjadi dua kecamatan yakni Kecamatan Harian dan Kecamatan Sitiotio sebagai kecamatan pemekaran baru. Kuatnya aspirasi pembentukan kecamatan ini disikapi dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Toba Samosir karena didukung fakta – fakta permasalahan di masyarakat baik kondisi geografis wilayah dan lain sebagainya, hingga akhirnya Pemerintah Kabupaten Toba Samosir menetapkan Keputusan Bupati Toba Samosir tentang Pembentukan Kecamatan Sitiotio mendahului Peraturan Daerah, setelah mendapatkan izin prinsip dari DPRD Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2002. Keputusan Bupati ini dikuatkan dengan penetapan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kecamatan Sitiotio di Kabupaten Toba Samosir.

Kabupaten Samosir dimekarkan dari Toba Samosir[sunting | sunting sumber]

Perkembangan dan pembentukan wilayah tidak sampai disini saja, perubahan – perubahan lain semakin banyak terjadi seperti isu pemekaran kembali Kabupaten Toba Samosir menjadi 2 (dua) kabupaten. Isu ini berkembang seiring dengan situasi dan kondisi sosial, ekonomi dan politik yang berkembang pada saat itu. Perkembangan kondisi sosial, ekonomi, dan politik dimasyarakat menginginkan Kabupaten Toba Samosir dimekarkan kembali menjadi Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Samosir (meliputi seluruh kecamatan yang ada di Pulau Samosir dan sebagian pinggiran Danau Toba di Daratan Pulau Sumatera) dengan tujuan untuk mempercepat pembangunan guna mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Aspirasi yang berkembang di masyarakat ini tidak menunggu waktu yang begitu lama, hingga pada tahun 2003 Kabupaten Toba Samosir dimekarkan menjadi Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Samosir dan diresmikan pada tanggal 7 Januari 2004.

Sejak peresmian ini Kabupaten Samosir, wilayah Kabupaten Toba Samosir berkurang karena seluruh wilayah kecamatan yang ada di Pulau Samosir dan sekitarnya. Dan sejak tanggal 7 Januari 2004, Kabupaten Toba Samosir dari 20 Kecamatan, 281 Desa dan 19 Kelurahan mengalami perubahan baik jumlah kecamatan, desa dan kelurahan, jumlah penduduk, luas wilayah, dan batas – batas wilayah secara signifikan yakni menjadi 11 Kecamatan 179 Desa dan 13 Kelurahan. Sedangkan Kabupaten Samosir terdiri dari 9 Kecamatan, 102 Desa dan 6 Kelurahan.

Pemekaran kecamatan di Toba Samosir[sunting | sunting sumber]

Pemekaran wilayah selanjutnya terjadi pada Kecamatan Silaen dengan melahirkan Kecamatan Sigumpar. Banyak alasan yang mempengaruhi terjadinya pemekaran wilayah kecamatan di Kabupaten Toba Samosir, antara lain: kondisi luas wilayah, jarak ke ibu kota kabupaten, letak geografis, dikaitkan juga dengan kondisi ketertinggalan dan dorongan keinginan serta tuntutan masyarakat itu sendiri. Ada beberapa hal yang memperlihatkan kuatnya keinginan dan aspirasi masyarakat untuk maju, antara lain terlihat pada masyarakat Kecamatan Borbor dimana permintaan pemekaran diikuti dengan penyerahan lahan lokasi perkantoran dan penyediaan sarana gedung kantor kecamatan baru secara swadaya oleh masyarakat. Kondisi ini dinilai pemerintah sebagai bukti kesungguhan masyarakat yang mendambakan wilayahnya dimekarkan menjadi kecamatan baru.

Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Toba Samosir melaksanakan pemekaran kecamatan. Dari sebelas kecamatan, dimekarkan kecamatan baru yakni Kecamatan Tampahan pemekaran dari Kecamatan Balige, Kecamatan Siantar Narumonda pemekaran dari Kecamatan Porsea, dan Kecamatan Nassau pemekaran dari Kecamatan Habinsaran.

Pada tahun 2008 juga terjadi pemekaran kecamatan karena tingginya aspirasi masyarakat dalam pemerataan pembangunan. Adapun kecamatan yang dimekarkan adalah Kecamatan Parmaksian pemekaran dari Kecamatan Porsea dan Kecamatan Bonatua Lunasi pemekaran dari Kecamatan Lumban Julu. Pada tahun 2008 juga telah dilakukan pemekaran desa sebanyak dua puluh empat desa.

Kondisi saat ini[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 12 Mei 2010 Kabupaten Toba Samosir melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah untuk masa jabatan 2010 – 2015. Dalam Pemilukada yang dilaksanakan secara demokratis tersebut pasangan Pandapotan Kasmin Simanjuntak dan Liberty Pasaribu berhasil meraih suara terbanyak dan memenangkan Pemilukada tersebut.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Pemandangan Danau Toba dari Desa Lumban Gaol, Balige

Kabupaten Toba Samosir memiliki luas wilayah 2.021.80 km²[3] atau 3,19% dari total luas Provinsi Sumatera Utara.[4] Kabupaten Toba Samosir berada pada 2°03' - 2°40' Lintang Utara dan 98°56′ - 99°40′ Bujur Timur. Kabupaten Toba Samosir terletak pada wilayah dataran tinggi dengan ketinggian antara 900 - 2.200 meter diatas permukaan laut, dengan topografi dan kontur tanah yang beraneka ragam, yaitu datar, landai, miring dan terjal. Struktur tanahnya labil dan terletak pada wilayah gempa tektonik dan vulkanik.

Karena terletak dekat Garis Khatulistiwa, Kabupaten Toba Samosir tergolong ke dalam daerah beriklim tropis. Sebagaimana kabupaten lainnya di Indonesia, Kabupaten Toba Samosir mempunyai musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Januari sampai dengan Juli dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Agustus sampai dengan bulan Desember, diantara kedua musim itu terdapat musim pancaroba.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Toba Samosir Memiliki Batas Wilayah Sebagai Berikut:

Utara Kabupaten Simalungun
Selatan Kabupaten Tapanuli Utara
Barat Kabupaten Samosir dan Danau Toba
Timur Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhanbatu Utara

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Wilayah administrasi Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2017 terdiri dari 16 kecamatan dengan 244 desa/kelurahan, yaitu 231 desa dan 13 kelurahan. Kecamatan Balige merupakan kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan terbanyak, yaitu 35 desa/kelurahan. Sedangkan Kecamatan Tampahan merupakan kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan yang paling sedikit, yaitu hanya 6 desa.

Kecamatan Habinsaran merupakan kecamatan dengan wilayah terluas yaitu 408,70 km² atau 20,21% dari total luas Kabupaten Toba Samosir, sementara Kecamatan Siantar Narumonda merupakan wilayah terkecil yaitu 22,19 km² atau 1,10% dari total luas Kabupaten Toba Samosir. Kecamatan Nassau merupakan kecamatan yang paling jauh dari ibukota Toba Samosir yaitu berjarak sekitar 76 kilometer ke ibukota kecamatan.

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Periode Wakil Bupati Ket.
1
Sahala Tampubolon
1999
2005
1
Maripul S. Manurung
2
Monang Sitorus
2005
2010
2
Mindo Tua Siagian
3
Pandapotan Kasmin Simanjuntak
2010
1 April 2015
3
Liberty Pasaribu
Dinonaktifkan karena terkait kasus korupsi[5]
4
Liberty Pasaribu
1 April 2015
2016
5
Darwin siagian.jpg Darwin Siagian
17 Februari 2016
Petahana
4
Hulman Sitorus

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Toba Samosir
2014-2019
Partai Kursi
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 8
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 4
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 4
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 4
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 4
Lambang PKPI PKPI 3
Lambang PDI-P PDI-P 2
Lambang PKB PKB 1
Total 30
Sumber: Kabupaten Toba Samosir dalam angka 2017

Jumlah anggota DPRD Kabupaten Toba Samosir periode 2014 - 2019 terdiri dari 30 orang. Ketua DPRD periode 2014 -1019 adalah Ir. Boyke Pasaribu dan Wakil Ketua DPRD periode 2014 - 2019 adalah Asmadi Lubis dan Tonny Simanjuntak

Daftar Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Pembagian Wilayah Kecamatan di Kabupaten Toba Samosir
Kecamatan Ibukota Jarak Ibukota Kabupaten
ke Ibukota Kecamatan
Camat Luas (km²) /
Rasio Terhadap
Luas Kabupaten
Jumlah penduduk /
Kepadatan (2015)
Desa / Kelurahan
Ajibata Pardamean Ajibata 60 km Tigor Sirait 72,80 km² (3,60%) 7.505 (103,09 jiwa/km²) 9 / 1
Balige Balige 1 km Pantun Josua Pardede 91.05 km² (4,50%) 38.088 (418,32 jiwa/km²) 29 / 6
Bonatua Lunasi Lumban Lobu 24 km Hulman Sitorus 57,74 km² (2,86%) 5.195 (90,58 jiwa/km²) 12 / 0
Borbor Borbor 58 km Sabam Pardosi[6] 176,65 km² (8,74%) 7.035 (39,82 jiwa/km²) 15 / 0
Habinsaran Parsoburan Tengah 52 km Benny Siagian 408,70 km² (20,21%) 16.020 (645,50 jiwa/km²) 21 / 1
Laguboti Laguboti 7 km Pintor Pangaribuan 73,90 km² (3,66%) 19.058 (257,89 jiwa/km²) 22 / 1
Lumban Julu Lumban Julu 40 km Alfaret Manurung 90,90 km² (4,60%) 8.455 (93,01 jiwa/km²) 12 / 0
Nassau Lumban Rau Tengah 76 km Timbul Sipahutar[7] 335,50 km² (16,59%) 7.431 (427,86 jiwa/km²) 10 / 0
Parmaksian Pangombusan 23 km Paiman Butarbutar 45,98 km² (2,27%) 10.663 (231,91 jiwa/km²) 11 / 0
Pintu Pohan Meranti Pintu Pohan 39 km Gibson Sinaga 277,27 km² (13,71%) 7.280 (252,28 jiwa/km²) 7 / 0
Porsea Porsea 19 km Elister Manurung 37,88 km² (1,83%) 13.895 (366,82 jiwa/km²) 14 / 3
Siantar Narumonda Siantar Narumonda I 16 km Lahsa J. Simanullang 22,19 km² (1,10%) 5.928 (267,15 jiwa/km²) 14 / 0
Sigumpar Sigumpar Dangsina 11 km Jaga Situmorang 25,20 km² (1,25%) 7.700 (305,56 jiwa/km²) 9 / 1
Silaen Silaen 15 km Rajiun Tampubolon 172,58 km² (8,54%) 12.546 (72,70 jiwa/km²) 23 / 0
Tampahan Gurgur Aek Raja 10 km Freddy A. Panjaitan 24,45 km² (1,21%) 4.458 (182,33 jiwa/km²) 6 / 0
Uluan Lumban Binanga 24 km Robert Manurung 109,00 km² (5,39%) 8.325 (76,38 jiwa/km²) 17 / 0

Lambang Daerah[sunting | sunting sumber]

Lambang Kabupaten Toba Samosir
  • Lambang berbentuk Lonjong dengan satu tangkai kapas disebelah kanan berjumlah 17 kantung dan disebelah kiri satu tangkai padi berjumlah 45 butir melambangkan tanggal dan tahun bersejarah yaitu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia serta menggambarkan tujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila
  • Bulat lonjong merah dan putih bagi dua secara horizontal melambangkan bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia
  • Perisai segi lima melambangkan Pancasila dasar negara Republik Indonesia
  • Rumah adat melambangkan bahwa Kabupaten Toba Samosir merupakan suatu rumah tangga atau suatu daerah otonom yang mempunyai otonom atau hak dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan Peraturan perundangan yang berlaku. Rumah tersebut mempunyai bentuk dan ciri sebagai berikut;
  • Tiang kiri kanan yang menandakan bahwa Pembentukan Kabupaten Toba Samosir ditetapkan dengan Undang-Undang nomor 12 tahun 1998, anak tangga berjumlah lima tingkatan, rusuk tiang tiga dipadu dengan satu helai ulos, yang melengkung rumbai sembilan di kiri dan di kanan sisi bawah menandakan bahwa Kabupaten Toba Samosir diresmikan pada tanggal 9 Maret 1999 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia bertempat di Kantor Gubernur Sumatera Utara di Medan.
  • Ransang (rusuk tiang) terdiri dari tiga jalur melambangkan sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu sebagai salah satu filosofi dalam budaya adat Batak Toba dan secara keseluruhan struktur rumah adat Batak melambangkan norma-norma kehidupan masyarakat Batak yang perlu untuk senantiasa dijaga, dipelihara, dilestarikan dan dikembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu teknologi.
  • Rumah adat dalam perisai segi lima dilatarbelakangi oleh lukisan – lukisan, Bukit Barisan, Danau Toba dan Pulau Samosir menggambarkan bahwa di wilayah Kabupaten Toba Samosir terdapat berbagai potensi alam yang dapat dikembangkan untuk Kemakmuran masyarakat.
  • Pisau Halasan menggambarkan bahwa Toba Samosir adalah termasuk lokasi perjuangan dan Tempat Makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII
  • Hutan dan Lahan Hijau menggambarkan areal pertanian yang subur
  • Tungkot Balehat Raja menggambarkan bahwa masyarakat Toba Samosir selalu mengingingkan pemimpin yang bijaksana dan berwibawa
  • Pustaha dan Sipun melambangkan harapan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan sebagai wujud dari salah satu filosofi masyarakat Batak Toba yaitu Anakhonhi do Hamoraon di Au
  • Bendungan dan busur/air terjun adalah potensi alam yang telah diolah dan siap untuk dikembangkan menuju industri yang tepat guna.
  • Pita tempat tulisan Toba Samosir berwarna kuning melambangkan masyarakat Toba Samosir senantiasa optimis untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.
  • Motto (semboyan) Kabupaten Toba Samosir dalam Bahasa Batak Toba disebut Tampakna do rantosnya, rim ni tahi do gogona, yang mengandung arti bahwa dengan persatuan dan kesatuan yang dilandasi rasa kebersamaan untuk bekerjasama untuk saling membantu maka apa yang diharapkan akan selalu dapat dicapai.

Sosial Budaya[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan perbandingan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 33 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara tahun 2013, Kabupaten Toba Samosir berada di peringkat 5 dengan indeks sebesar 77,49 (level menengah atas). Kota Pematang Siantar berada di urutan 1 dengan indeks sebesar 78.62 persen. (BPS Sumatera Utara, 2014)

Suku[sunting | sunting sumber]

Rumah adat Suku Batak Toba

Suku yang mendiami Kabupaten Toba Samosir pada umumnya adalah Suku Batak dari sub-suku Toba. Selain Toba, etnis Batak lain meliputi Simalungun, Karo, dan Mandailing; juga suku lainnya seperti Melayu dan Nias dan lain sebagainya. Ada juga etnis pendatang seberti Jawa, Minangkabau, dan Tionghoa.

Marga Batak yang mendiami Kabupaten Toba Samosir bervariasi, namun dapat digolongkan kedalam beberapa kelompok, yaitu:

Agama[sunting | sunting sumber]

Gereja HKBP Balige


Circle frame.svg

Komposisi agama di Kabupaten Toba Samosir[8]

  Kristen Protestan (85.42%)
  Kristen Katolik (6.60%)
  Islam (6.20%)
  Budha (0.04%)
  Hindu (0.02%)
  Lainnya (1.71%)

Jumlah rumah ibadah menurut jenis rumah ibadah pada tahun 2016 di Kabupaten Toba Samosir sebagai berikut:

  • Gereja Protestan sebanyak 318 bangunan
  • Gereja Katolik sebanyak 67 bangunan
  • Masjid sebanyak 42 bangunan

Hampir seluruh penduduk Kabupaten Toba Samosir menganut agama Kristen, dengan sebagian besar mengikuti aliran Protestan. Pada umumnya agama Kristen dianut oleh suku Batak (Toba, Simalungun, dan Karo). Sedang agama Islam pada umumnya dianut oleh suku Jawa, Minangkabau, dan Batak Mandailing. Keturunan Tionghoa yang berdomisili di Kabupaten Toba Samosir pada umumnya menganut agama Buddha.

Gereja HKBP dan Kabupaten Toba Samosir memiliki hubungan yang sangat erat dalam mengembangkan baik HKBP maupun wilayah Toba Samosir sendiri. Mayoritas penduduk Kabupaten Toba Samosir yang beragama Kristen Protestan adalah jemaat Gereja HKBP. Dalam sejarahnya, Misionaris dan Ephorus HKBP pertama Ludwig Ingwer Nommensen sempat menetap di Sigumpar bertahun lamanya sambil menyebarkan agama Kristen hingga akhir hayatnya, dimana Nommensen juga dikebumikan di Sigumpar.

Misionaris Kristen juga bukan hanya sekedar memperkenalkan agama kepada masyarakat Toba Samosir, namun juga kemajuan dan kesejahteraan melalui peningkatan pendidikan dan kesehatan. Seiring berkembang pesatnya penyabaran agama Kristen melalui HKBP di Tanah Batak terkhusus wilayah Toba Samosir, akses pendidikan juga semakin mudah untuk digapai masyarakat melalui pembangunan sarana pendidikan yang dibangun oleh HKBP sendiri, oleh sebab itu hingga saat ini masih lazim ditemui di wilayah Toba Samosir bangunan Gereja berdampingan dengan bangunan sekolah. Sedang dari sisi kesehatan, Rumah Sakit HKBP Balige merupakan kontribusi Gereja HKBP terhadap peningkatan kesehatan masyarakat di Toba Samosir.

Agama tradisional Suku Batak Toba yaitu Parmalim dipeluk oleh sebagian masyarakat Batak yang berpusat di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti.

Sarana Peribadatan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Menurut BPS Toba Samosir, persentase angka melek huruf di Kabupaten Toba Samosir tahun 2013 adalah sebesar 98,57 persen. Dibandingkan kabupaten lainnya di Provinsi Sumatera Utara, penduduk Toba Samosir bersekolah lebih lama, indikator ini ditunjukkan dengan rata-rata lama sekolah 9,89 tahun, artinya secara rata-rata sudah menyelesaikan pendidikan sampai jenjang kelas SLTA. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Toba Samosir sudah sadar akan pentingnya pendidikan.

Kabupaten Toba Samosir memiliki fasilitas pendidikan yang cukup baik, pada tahun 2017 Kabupaten Toba Samosir memiliki tujuh perguruan tinggi setingkat Akademi yang tersebar di Kecamatan Balige, Laguboti dan Silaen. Jumlah mahasiswa tercatat 1.397 orang dengan jumlah dosen 152 orang. Tersedianya fasilitas pendidikan unggulan seperti SMA Negeri 1 Balige, SMA Negeri 2 Balige, SMA Unggul Del dan Institut Teknologi Del di Laguboti juga menunjang akses pendidikan yang baik di Kabupaten Toba Samosir.

Sarana Pendidikan di Kabupaten Toba Samosir (2016)
Jenjang Pendidikan Jumlah
PAUD 158
SD/MI/SLB 228
SMP/MTs 51
SMA/MA 15
SMK 19
Sumber: Jumlah Sekolah Menurut Tingkat Pendidikan dan Kecamatan[9]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang ditunjang oleh kemudahan dan terjangkaunya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat luas merupakan salah satu pilar pembangunan dibidang kesehatan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir. Dengan tersedianya sarana dan prasarana kesehatan berupa Rumah sakit, Puskesmas, Polindes, Posyandu, apotek, dan lain-lain merupakan sarana dalam meningkatkan dan menunjang kualitas hidup masyarakat.

Kabupaten Toba Samosir memiliki 50 unit sarana kesehatan yang terdiri dari:

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Menurut Statistik Daerah Toba Samosir tahun 2014, selama 3 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi di Toba Samosir selalu positif. PDRB Perkapita merupakan PDRB (atas dasar harga berlaku) dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2013 besaran PDRB Perkapita Kabupaten Toba Samosir mencapai Rp. 28,24 juta dengan laju peningkatan sebesar 12,36 persen dibandingkan dengan PDRB Perkapita tahun 2012 yang berkisar Rp. 25,13 juta. Besaran PDRB perkapita Kabupaten Toba Samosir tahun 2013 menempati urutan ke-7 dari 33 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara setelah Batubara, Medan, Deli Serdang, Labuhan Batu Selatan, Labuhan Batu Utara, dan Binjai.

PDRB Kabupaten Toba Samosir menyumbang sebesar 1.24 persen terhadap pembentukan PDRB Sumatera Utara tahun 2013.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Petani di Toba

Sebagian besar penduduk Kabupaten Toba Samosir menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat dari luas lahan pertanian, khususnya lahan persawahan. Pertanian menjadi sektor andalan bagi Kabupaten Toba Samosir dalam menggerakan perekonomian daerah. Tahun 2016 sektor ini memberi kontribusi yang cukup besar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Toba Samosir, yaitu sekitar 34,93 persen terhadap total PDRB.[10]

Kabupaten Toba Samosir merupakan salah satu sentra penghasil padi dan jagung di Sumatera Utara. Jika dibandingkan dengan kabupaten lain, produksi padi di Toba Samosir mencapai 3,81 persen dari seluruh produksi padi di Sumatera Utara dan masuk pada peringkat ke delapan. Selain padi dan jagung, hasil pertanian Kabupaten Toba Samosir adalah cabai, bawang merah, bawang putih, bawang daun, ubi kayu, andaliman, kacang tanah, sayur mayur dan sebagainya. Selain itu, untuk tanaman buah-buahan yang cukup potensial di Kabupaten Toba Samosir adalah buah mangga, apokat, durian, pisang, jeruk dan nenas.

Perkebunan[sunting | sunting sumber]

Tanaman perkebunan umumnya merupakan usaha yang dikelola secara swadaya oleh rakyat. Tanaman perkebunan yang dikelola oleh perusahaan perkebunan masih relatif kecil. Kopi merupakan komoditi andalan tanaman perkebunan rakyat yang mempunyai prospek yang baik. Dilihat dari luas tanam, tanaman kopi merupakan tanaman perkebunan rakyat dengan luas tanam terluas dibanding dengan tanaman perkebunan lainnya. Luas tanaman kopi tahun 2016 sebesar 3.558,83 Ha. Tidak seperti tanaman perkebunan rakyat lainnya, tanaman kopi tersebar di seluruh kecamatan, Kecamatan Habinsaran merupakan daerah yang mempunyai areal tanaman kopi terluas dibanding kecamatan lainnya di Kabupaten Toba Samosir. Selain kopi, komoditi perkebunan lainnya adalah karet, kemenyan, cengkeh, dan aren.

Peternakan[sunting | sunting sumber]

Usaha peternakan umumnya juga dikelola dan diusahakan oleh masyarakat sebagai usaha rumah tangga. Ternak dapat dikelompokkan menjadi ternak besar, ternak kecil dan unggas. Ternak besar terdiri dari sapi, kerbau dan kuda. Ternak kecil meliputi kambing, domba dan babi. Sedangkan ternak unggas meliputi ayam dan itik.

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Usaha perikanan pada umumnya juga dikelola sebagai usaha rumah tangga, baik sebagai kegiatan budidaya maupun kegiatan penangkapan ikan. Budidaya perikanan dilakukan di kolam, sawah, jaring apung, kolam air deras dan pembenihan, sedangkan usaha penangkapan dilakukan di danau, sungai dan rawa. Produksi ikan Kabupaten Toba Samosir menurut BPS Toba Samosir pada tahun 2013 sebesar 11.174,6 ton yang terdiri dari 1.052,9 ton hasil penangkapan dan 10.121,7 ton hasil budidaya. Hasil dari komoditi perikanan adalah ikan mas, ikan nila, ikan mujair, ikan lele, ikan gabus, dan ikan pora-pora.

Kehutanan[sunting | sunting sumber]

Produksi hasil hutan yang terbesar tercatat adalah Eucalyptus dan Pulp masing-masing sebanyak 37.228,42 ton dan 178.676,11 m3. Hasil hutan lainnya adalah kayu bakar, rotan, dan getah tusam.

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Pasar Balige, atau yang sering disebut dengan Balerong Onan Balige

Jumlah pekan/pasar yang ada di Kabupaten Toba Samosir tersebar hampir di semua kecamatan kecuali Kecamatan Tampahan dan Siantar Narumonda, masing-masing pekan juga memiliki hari yang berbeda. Jumlah pasar yang terdapat di kabupaten toba samosir sebanyak 13 pasar dan 354 kios yang ditempati oleh pedangang untuk berjualan.

Sarana pekan/pasar di Kabupaten Toba Samosir[sunting | sunting sumber]

Industri[sunting | sunting sumber]

Jumlah usaha industri kecil di Kabupaten Toba Samosir tahun 2016 sebanyak 814 usaha dengan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 1.534 orang. Dari jumlah usaha tersebut, industri sandang dan kulit merupakan industri kecil dengan jumlah usaha terbanyak, yaitu: 514 usaha (63,14 persen) dengan tenaga kerja sebanyak 860 orang. Berdasarkan kecamatan, industri sandang dan kulit terbanyak berada di Kecamatan Uluan dengan 219 usaha dengan 219 tenaga kerja dan Tampahan dengan 75 usaha dengan 75 tenaga kerja.

Industri Pangan menempati urutan kedua terbanyak setelah industri sandang dan kulit dengan 108 usaha dan 250 tenaga kerja. Industri ini paling banyak terdapat di Kecamatan Balige dengan 25 usaha yang menyerap 50 orang tenaga kerja serta Kecamatan Habinsaran dengan 10 usaha dan 38 tenaga kerja.

PLTA Asahan I yang dioperasikan oleh PT. Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan perusahaan pulp PT. Toba Pulp Lestari (TPL) terdapat di kabupaten ini.

Sarana & Prasarana[sunting | sunting sumber]



Circle frame.svg

Kondisi jalan di Kabupaten Toba Samosir (2016)

  Baik (29%)
  Sedang (10%)
  Rusak (14%)
  Rusak berat (47%)

Listrik & air minum[sunting | sunting sumber]

Air yang bersih merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kebutuhan manusia. Kebutuhan akan air bersih terutama untuk keperluan air minum. Sampai tahun 2016 baru enam kecamatan di Kabupaten Toba Samosir yang menikmati air bersih yang dikelola oleh PDAM Tirtanadi Cabang Toba Samosir yang tersebar di 49 desa/kelurahan dengan jumlah pelanggan sebanyak 5.913. Kelima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Balige, Laguboti , Porsea, Pintu Pohan Meranti, Ajibata dan Parmaksian.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Dermaga Ajibata

Jalan di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2016 mencapai 1.006,49 km yang terbagi atas jalan negara sepanjang 60,89 Km, jalan provinsi sepanjang 199,50 Km dan jalan kabupaten sepanjang 746,10 Km. Kecamatan Habinsaran merupakan kecamatan yang memiliki jalan terpanjang sekitar 15,36% dan kecamatan Ajibata merupakan kecamatan yang memiliki terpendek sekitar 1,53% dari total jalan di Kabupaten Toba Samosir.

Perairan Danau Toba juga berfungsi sebagai prasarana transportasi air yang menghubungkan antar daerah, khususnya menghubungkan antara Pulau Samosir dengan daerah Toba. Dermaga Ajibata merupakan dermaga yang paling sibuk, dengan jumlah kunjungan kapal penumpang dan barang di dermaga tersebut tahun 2016 masing-masing mencapai 6.956 kunjungan kapal, 196.069 penumpang dan 3.910,4 ton barang.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Hotel Tiara Bunga di Balige

Didukung oleh sumber daya alam dan keindahan Danau Toba, sektor pariwisata merupakan sektor potensial yang dapat menjadi andalan di Kabupaten Toba Samosir. Jumlah Wisatawan Datang Ke Toba Samosir tahun 2015 terhitung 114.594 wisatawan, terdiri dari 11.828 wisatawan mancanegera, dan 102.766 wisatawan domestik. Jumlah hotel di Kabupaten Toba Samosir tahun 2016 sebanyak 26 hotel, dengan 591 kamar.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Beberapa tokoh yang berasal dari Kabupaten Toba Samosir, yaitu:

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]