Lompat ke isi

Siagian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Siagian
Aksara Batakᯘᯪᯀᯎᯪᯀᯉ᯲
(Surat Batak Toba)
Nama margaSiagian
Nama/penulisan alternatifPohan Siagian
Artisi + agian
(si paling adik)
Silsilah
Generasi dari Si Raja Batak
1Si Raja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadibanua
(Nai Suanon)
5Sibagot ni Pohan
6Tuan Dibangarna
7Raja Siagian
Nama lengkap tokohRaja Siagian
Nama istriBoru Sibarani
Nama anak (putra)Raja Partano
Nama boru (putri)Pinta Omas
(Dinikahi oleh Puraja Hutahaean)
Kekerabatan
Induk margaTuan Dibangarna
Persatuan margaTuan Dibangarna
Marga sekerabat
Turunan
Mataniari binsarSibarani
Asal
SukuBatak
Etnis
Daerah asalBalige, Toba
Persebaran dengan populasi signifikan
Monumen
Lokasi tuguSihobuk, Bonan Dolok III, Balige, Toba
2°19′27″N 99°07′36″E / 2.3240947290195573°N 99.12662781157972°E / 2.3240947290195573; 99.12662781157972

Siagian (Surat Batak: ᯘᯪᯀᯎᯪᯀᯉ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari daerah Balige, Toba. Pada tahun 2013, tugu persatuan marga Siagian diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara: Gatot Pujo Nugroho di desa Sihobuk, Bonan Dolok III, Balige.[1]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Nama Siagian dalam Bahasa Batak Toba secara harfiah merujuk kepada kata si dan anggian yang memiliki arti sebagai seorang anak bungsu. Hal tersebut mengacu kepada:

  • Kata si dalam Bahasa Batak Toba merupakan prefiks yang dipakai sebagai penunjuk nama,
  • Kata anggian dalam Bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai lebih muda di antara yang bersaudara atau anak bungsu.

Namun dalam kenyataannya Raja Siagian bukanlah anak bungsu dari Tuan Dibangarna. Menurut kisah yang diceritakan turun-temurun dari keturunan Tuan Dibangarna, Raja Siagian sebenarnya adalah anak bungsu Tuan Dibangarna dari istri pertama. Kemudian Tuan Dibangarna menikah lagi dengan seorang perempuan boru Pasaribu dan melahirkan anak yang kemudian diberi nama Sianipar. Raja Sianipar lahir setelah ketiga abangnya, Raja Panjaitan, Raja Silitonga, dan Raja Siagian telah dewasa.

Menurut silsilah garis keturunan Suku Batak (tarombo), Raja Siagian adalah generasi ketujuh dari Si Raja Batak dan anak ketiga dari Tuan Dibangarna.[2]

Dalam perkembangannya, Keturunan Raja Siagian mengklasifikasikan diri ke dalam dua kelompok dan satu sub-marga:

  • Papaga Lote
  • Pandean Duri (sebagian menggunakan marga Pardosi)

Menurut kisah yang diceritakan turun-temurun dari keturunan Raja Siagian, cicit Pandean Duri yang bernama Raja Mardongan mengalami konflik dengan saudara-saudaranya yang menyebabkan Raja Mardongan pergi meninggalkan kampung Halamannya di Balige dan menetap di wilayah Habinsaran, akibat kekesalan terhadap saudaranya, keturunan Raja Mardongan tidak menggunakan marga Siagian, melainkan marga Pardosi.

Kekerabatan

[sunting | sunting sumber]

Keturunan Raja Siagian memiliki hubungan erat dengan marga-marga keturunan Tuan Dibangarna lainnya; keempat marga tersebut (Panjaitan, Silitonga, Siagian, dan Sianipar) memegang teguh ikatan persaudaraan untuk tidak menikah antar satu dengan yang lain. Namun di beberapa daerah seperti Balige, ditemukan juga praktik di mana marga Siagian telah saling menikah dengan marga turunan Tuan Dibangarna lainnya dikarenakan keterbatasan marga-marga asing yang mendiami wilayah tersebut. Namun dewasa ini, praktik pernikahan antar sesama marga turunan Tuan Dibangarna tersebut sudah mulai ditinggalkan dan dianggap tabu.

Dikarenakan Raja Siagian merupakan anak ketiga dari Tuan Dibangarna, maka seluruh marga Siagian dianggap lebih muda oleh marga Panjaitan dan Silitonga, dan juga dituakan oleh marga Sianipar. Oleh sebab itu setiap keturunan dari marga Siagian harus memanggil abang/kakak ketika bertemu dengan marga Panjaitan dan Silitonga dan memanggil adik ketika bertemu dengan marga Sianipar tanpa memperhatikan usia.

Raja Siagian menikah dengan Boru Sibarani, oleh sebab itu hula-hula (mataniari binsar) dari seluruh marga Siagian adalah marga Sibarani.

Keturunan Raja Siagian yang terkhusus berasal dari kelompok Pandean Duri keturunan Raja Situtu (Siagian Huta Gurgur) memiliki ikatan Padan (ikrar janji) dengan marga Marpaung. Bagi keturunan Siagian Huta Gurgur memegang teguh padan dengan tidak menikah dengan marga Marpaung. Padan di antara Keturunan Raja Marpaung dikarenakan peperangan pada zaman dahulu antara sesama marga yang mengakibatkan Keturunan Raja Marpaung mendapatkan pertolongan dari Keturunan Raja Siagian dari kelompok Pandean Duri keturunan Raja Situtu/Siagian Huta Gurgur.

Beberapa tokoh yang bermarga Siagian, di antaranya adalah:

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. http://www.globalsumut.com/2013/07/gubsu-h-gatot-pujo-nugroho-resmikan.html
  2. Hutagalung, W. M. (1991). Pustaha Batak: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak (dalam bahasa Batak). Medan: Tulus Jaya. hlm. 229–230. OCLC 33133368. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Hutagalung, W.M. (1991), Pustaha Batak Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak, hlm. 229–230
  • Siahaan, Amanihut N.; Pardede, H. (1957), Sejarah perkembangan Marga - Marga Batak

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]